4 Pahlawan Nasional yang Berasal dari Kalimantan Selatan

  • Whatsapp
4 Pahlawan Nasional yang Berasal dari Kalimantan Selatan
Martapura tempo dulu | Wikipedia.org

SEBELUM merdeka, Indonesia mengalami penjajahan dalam kurun waktu yang lama, yakni kurang lebih 3,5 abad. Selama itu, rakyat Indonesia mengalami penderitaan dan penyiksaan.

Setelah lama menderita, akhirnya rakyat Indonesia bangkit dan berjuang melawan kelaliman para penjajah untuk merdeka dan memiliki tanah air sendiri.

Read More

Proses Kemerdekaan Indonesia sendiri tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para pahlawan kemerdekaan dalam mengusir penjajah dari tanah air tercinta.

Kalimantan Selatan menjadi salah satu provinsi yang memiliki peranan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Banyak pejuang yang berasal dari Banjar yang turut serta dalam pengusiran para penjajah dari Nusantara. Bahkan 4 pahlawan asal Kalimantan Selatan dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional. Keempat pahlawan tersebut adalah;

 

Pangeran Antasari

Pangeran Antasari adalah seorang Sultan dari Kerajaan Banjar dan pemimpin Perang Banjar melawan pasukan kolonial Belanda. Ia diangkat sebagai pahlawan nasional pada 27 Maret 1968.

Pada Perang Banjar pada 25 April 1859, Pangeran Antasari dan 300 orang prajurit menyerang tambang batu bara Belanda di Pengaron (Oranje Nassau) kemudian perlawan tersebut berlanjut di seluruh wilayah Kerajaan Banjar seperti Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang Sungai Barito hingga ke Puruk Cahu.

Selain itu, Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin suku Banjar tetapi juga dianggap sebagai pemimpin oleh suku Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Ngaju, Maanyan, Siang, Bakumpai dan suku–suku lain yang mendiami kawasan pedalaman dan sepanjang sungai Barito.

Pangeran Antasari dilahirkan di Kayu Tangi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pada 1797 atau 1809 dan wafat di Bayan Begok pada 11 Oktober 1862. Nama kecilnya adalah Gusti Inu Kertapati, dari ibuu Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman dan ayahnya Pangeran Masohut bin Pangeran Amir. Ayahnya adalah cucu dari Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang tidak dapat naik tahta pada 1785 karena diusir oleh Pangeran Nata, Walinya yang kemudian mengangkat dirinya menjadi Sultan Tahmidullah II dengan bantuan Belanda.

Pada usia 75 tahun, Pangeran Antasari menghembuskan napas terakhir akibat dari penyakit paru-paru dan cacar yang diderita. Perjuangannya pun dilanjutkan oleh anaknya, Muhammad Seman.

Brigjen Hasan Basry

Brigjen Hasan Basry lahir di Kandangan, Hulu Sungai Selatan, pada 17 Juni 1923 dan wafat di Jakarta pada 15 Juli 1984. Ia merupakan salah satu tokoh militer yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia terutama di daerah asalnya yakni Kalimantan Selatan. Ia sendiri adalah pendiri Batalyon ALRI Divisi IV di Kalsel dan disebut sebagai Bapak Gerilya Kalimantan oleh Ketetapan DPRGR Tingkat II Hulu Sungai Utara pada 20 Mei 1962.

Kariernya sebagai tentara dan pejuang dimulai ketika ia aktif dalam organisasi pemuda yang berpusat di Surabaya. Pada 30 Oktober 1945, Hasan Basry berhasil menyusup pulang ke Kalimantan Selatan untuk memberitahukan tentang kemerdekaan Indonesia kepada rakyat Kalimantan Selatan. Kemudian pada 5 Mei 1946, ia diangkat menjadi pemimpin Laskar Syaifullah.

Setelah banyak anggota dari Laskar Syaifullah ditangkap Belanda, Hasan Basry mereorganisir anggota yang tersisa membentuk Banteng Indonesia hingga mendirikan Batalyon ALRI Divisi IV di Kalimantan Selatan yang bermarkas di Haruyan.

Sayang, perkembangan politik di tingkat pemerintah pusat di Jawa menyebabkan posisi Hasan Basry dan pasukannya menjadi sulit. Sesuai dengan Perjanjian Linggarjati (25 Maret 1947), Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto RI atas Jawa, Madura dan Sumatra. Berarti Kalimantan merupakan wilayah yang ada di bawah kekuasaan Belanda. Juga Perjanjian Renville (17 Januari 1948) yang memerintahkan untuk memindahkan pasukan Hasan Basry ke daerah yang masih dikuasai RI, yakni ke Jawa. Akan tetapi, Hasan Basry tidak terpengaruh oleh kedua perjanjian tersebut, ia tetap melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Puncaknya pada 17 Mei 1949, ia berhasil memproklamasikan kedudukan Kalimantan sebagai bagian dari RI. ALRI kemudian dilebur ke dalam TNI AD Divisi Lambung Mangkurat dan ia diangkat sebagai Letnan Kolonel. Pada 3 November 2001 beliau diberikan gelar pahlawan nasional dari Banjarmasin oleh pemerintah.

KH Idham Chalid

Lahir di Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921 dan meninggal di Jakarta, 11 Juli 2010 pada umur 88 tahun. Idham Chalid merupakan salah satu politisi Indonesia yang berpengaruh pada masanya. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR. Selain sebagai politikus ia aktif dalam kegiatan keagamaan dan ia pernah menjabat Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1956–1984.

Ketika Jepang kalah perang dan Sekutu masuk Indonesia, Idham Chalid bergabung ke dalam badan-badan perjuangan. Menjelang kemerdekaan, ia aktif dalam Panitia Kemerdekaan Indonesia Daerah di kota Amuntai. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia bergabung dengan Persatuan Rakyat Indonesia, partai lokal, kemudian pindah ke Serikat Muslim Indonesia.

Idham Chalid diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011.

Ir. Pangeran H. Mohammad Noor

Ia merupakan keturunan keluarga bangsawan Banjar, lahir pada 24 Juni 1901 di Martapura dan meninggal di Jakarta, 15 Januari 1979 pada umur 77 tahun. Ia adalah cicit dari Ratu Anom Mangkubumi Kentjana bin Sultan Adam al-Watsik Billah.

Pada saat itu Kesultanan Banjar sudah dihapuskan secara sepihak oleh Belanda dan menjelang akhir Perang Banjar. Sehingga keluarga Kesultanan yang tidak lagi memiliki hak-hak istimewa terpencar di mana-mana dan jatuh miskin. Ia dapat bersekolah di HIS, MULO, HBS lalu Techniche HoogeSchool (ITB) hingga mendapatkan gelar Insinyur pada 1927, setahun setelah Soekarno.

Ia merupakan tokoh pejuang yang berhasil mempersatukan pasukan pejuang kemerdekaan di Kalimantan ke dalam basis perjuangan yang diberi nama Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan di bawah pimpinan Hassan Basry (1945-1949) dan juga sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Pada periode 24 Maret 1956 – 10 Juli 1959, ia ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Pekerjaan Umum. Ketika menjabat Menteri Pekerjaan Umum, ia mencanangkan sejumlah proyek, seperti Proyek Waduk Riam Kanan di Kalimantan Selatan dan Proyek Waduk Karangkates di Jawa Timur. Ia juga menggagas Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Barito yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu PLTA Riam Kanan dan Pengerukan Muara/Ambang Sungai Barito yang dilaksanakan pada akhir tahun 1970.

Ia juga diangkat menjadi Gubernur Kalimantan pertama berkedudukan di Yogyakarta saat Agresi Militer Belanda I dan II, kemudian membantu Idham Chalid serta rekan – rekannya untuk bertemu dengan Mohammad Hatta yang meminta agar Kalimantan terus berjuang secara militer dan politik walaupun belum dapat dibantu oleh Pusat.

Pada tanggal 8 November 2018, sesuai dengan jasanya, Ir Pangeran H. Mohammad Noor diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

Begitulah sejarah singkat para pahlawan asal Kalimantan Selatan yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Sebenarnya masih banyak pahlawan dari Kalimantan Selatan yang belum dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, semoga kedepannya akan ada lagi Pahlawan Nasional yang berasal dari Kalimantan Selatan.

Museum Lambung Mangkurat

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *