Alat Musik Kalsel, Warisan Bunyi Masa Silam

  • Whatsapp
Alat Musik Kalsel, Warisan Bunyi Masa Silam
Ilustrasi | indonesiakaya.com

MUSIK tradisional, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti adalah musik yang hidup di masyarakat tertentu secara turun-temurun. Musik tradisional pada mulanya digunakan untuk upacara adat atau hal-hal yang berbau mistis. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, musik tradisional berubah fungsi menjadi hiburan yang bernilai budaya.

Berbicara tentang musik, tentu tak lepas dari alat yang menghasilkan musik tersebut.

Read More

Di Kalimantan Selatan sendiri, musik tradisional umumnya terbagi menjadi: musik petik, musik tiup, musik pukul, musik tumbuk dan hentak, musik tiup dan tarik.

Beberapa alat musik Kalsel tersebut antara lain;

 

Panting

Berasal dari Suku Banjar, Panting merupakan alat musik yang serupa gambus arab. Untuk memainkan panting, biasanya memerlukan alat musik tambahan berupa babun, gong, suling, ketipak dan lain-lain.

Panting memiliki arti petik. Panting terbuat dari kayu, senar dan kulit hewan. Senar panting sendiri terdiri dari enam helai yang terdiri atas tiga nada.

Panting awalnya merupakan alat musik tradisional yang dibunyikan dengan cara disentil senarnya atau talinya agar berbunyi melenting. Perkembangan selanjutnya, panting tidak lagi menjadi alat musik semata, melainkan dalam bentuk kreasi baru seperti orkes panting atau dimainkan sebagai pengiring tari bajapen.

 

Kintung

Alat musik yang berasal dari desa Sungai Alat, Astambul, Martapura ini mempunyai bentuk serupa angklung. Untuk mengatur bunyi tergantung pada rautan bagian atasnya hingga melebihi dari seperdua lingkaran bambu.

Makin ke atas, rautan semakin mengecil dan berfungsi sebagai pegangannya. Sedangkan bagian bawahnya tetap seperti biasa.

Panjangnya biasanya dua ruas, dan buku yang ada di bagian tengahnya (dalam) dibuang agar menghasilkan bunyi. Pengaturan bunyi biasanya tergantung pada rautan bagian atasnya. Semakin dibuang atasnya itu akan menimbulkan nada yang lebih tinggi.

Musik Kintung yang merupakan musik yang bersifat instrumentalia dapat mengiringi lagu atau nyanyian Banjar umumnya yang berjenis lagu-lagu tirik dan japin.

 

Kalangkupak

Kalangkupak merupakan alat musik tradisional Suku Bukit, Kalimantan Selatan. Sama seperti Kintung, bahan dasar alat musik ini adalah bambu.

Kalangkupak terdiri dari 8 ruas bambu yang masing-masing dipotong setengahnya dan meruncing di bagian ujung.

Ruas bambu tersebut kemudian disatukan dengan serat rotan hingga berbentuk serupa calung dari Jawa Barat.

Sebagai pembawa melodi, kalangkupak bisa dimainkan bersama alat musik lain seperti gong, babun, gendang, dan kecapi.

Biasanya, alat musik ini dimainkan untuk mengiringi upacara adat Balian.

 

Kalampat

Kalampat adalah alat musik sejenis gendang yang berkepala tunggal. Bada gendang terbuat dari batang batung atau bambu tebal berdiameter besar. Alat musik pukul ini biasanya dimainkan dengan gong untuk penggiring acara Bawanang (Panen padi), babalin (upacara pengobatan), dan upacara-upacara lain masyarakat Suku Dayak di daerah Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

 

Bumbung

Alat musik yang satu ini sebenarnya merupakan modifikasi dari bumbung lamang (makanan khas Kalsel berupa beras ketan yang dibakar dalam bambu hingga masak) dengan 7 tangga nada dasar.

Alat musik yang satu ini berasal dari desa Barikin, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

 

Kuriding

Alat musik kuriding terbuat dari pelepah enau, bambu, atau kayu berbentuk kecil dan memiliki alat getar serta tali penarik.

Cara memainkan alat musik tiup ini adalah dengan menempelkannya di bibir sambil menarik gagang tali getar yang akan menghasilkan bunyi dengan ritme tertentu.

 

Kurung-kurung

Kurung-kurung berasal dari Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Alat musik ini terbuat dari kayu panjang yang dipadu dengan bambu di bagian bawahnya.

Alat musik ini mulanya merupakan alat untuk bertanian di gunung. Ia berfungsi melubangi tanah untuk menanam bibit padi.

Cara memainkan alat musik ini adalah dengan cara menghentakkannya ke tanah, nantinya ia akan mengeluarkan bunyi yang berbeda antara satu dengan yang lain, sehingga bila pemainnya ingin menciptakan irama, maka caranya menghentakan alat itu secara bergantian sesuai irama yang dikehendaki.

 

Tarbang Madihin

Ciri alat musik yang satu ini adalah badannya yang memiliki bentuk mengerucut ke bawah. Alat musik yang satu ini dimainkan sebagai penggiring kesenian madihin—sastra lisan yang disertai syair menarik hati.

Bahan pembuatan alat musik terbang mahidin ini dari kulit kambing yang telah dibersihkan lalu dikeringkan. Kulit kambing yang dipakai diberi kerangka kayu dengan garis tengah sekitar 28 cm hingga 30 cm dan bagian bawahnya 25 cm.

Sarunai Banjar

Alat musik tiup yang satu ini biasanya dimainkan saat pentas seni bakuntau—seni bela diri dari Banjar—atau tari kuda gipang.

Sarunai berbentuk seperti terompet. Bagian ujung alat musik ini terdapat lidah-;idah ganda yang terbuat dari daun kelapa kering, berfungsi sebagai tempat tiup yang langsung mengenai bibir pemain.

Gemelan Banjar

Gamelan Banjar meruapakan seni karawitan dengan alat-alat musik gamelan yang berkembang dalam masyarakat suku Banjar, Kalimantan Selatan.

Di masyarakat, dikenal 2 jenis gamelan, yaitu gamelan versi keraton dan versi kerakyatan. Namun begitu, dalam perkembangannya, musik gamelan Banjar versi keraton sudah kian punah, berbeda dengan versi kerakyatan yang masih eksis hingga sekarang.

Dalam sejarahnya, gamelan Banjar sudah ada sejak zaman Kerajaan Negara Dipa di abad ke-14. Kesenian ini pertama kali diperkenalkan oleh Pangeran Suryanata ke Kalimantan Selatan bersamaan dengan kesenian Wayang Kulit Banjar dan senjata keris sebagai hadiah dari kerajaan Majapahit.

 

Sumber: Wikipidea.org | gasbanter.com | wadaya.rey1024.com

Museum Lambung Mangkurat

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *