Antologi Penulis Muda Kalsel: Sebuah Ajakan Mengarungi Sastra Secara Kolektif

  • Whatsapp
Antologi Penulis Muda Kalsel: Sebuah Ajakan Mengarungi Sastra Secara Kolektif

SELAMA pandemi, yang saya lakukan saban minggu adalah melihat lalu-lintas media sosial yang  mengabarkan karya teman-teman saya diterbitkan di berbagai media. Saya selalu kagum terhadap nama-nama semisal: Muhammad Nor Fadillah, Muhammad Daffa, Muhammad Irwan Aprialdy, Rizky Burmin, Gio Pratama dan nama-nama penulis muda Kalsel lainnya (selain saya) yang begitu produktif.

Meski tentu saja, bersamaan dengan rasa kagum melihat produktivitas mereka yang tak jadi biru lebam dihajar pandemi covid-19 itu, ada perasaan cemburu dan marah terhadap kemalasan yang berkembangbiak begitu subur di dalam diri saya. Sialan!

Read More

Setelahnya, sambil mengumpat kepada diri sendiri, saya membayangkan bagaimana jika nama-nama itu tergabung dalam satu buku: sebuah antologi bersama yang memuat puisi dan cerpen.

“Itu ide yang jelek jika tak direalisasikan,” begitu jawab H.E Benyamine ketika saya menanyai perihal gagasan itu.

Dan begitulah hal ini terjadi: saya bertanya pada Daffa dan Gio, mereka berdua setuju. Kami membuat satu group, berbagi tugas untuk menulis semacam siaran pers di media. Gio menulis untuk Asyikasyik.com dan saya untuk BanaranMedia.com. Lalu–sebagaimana pembaca mengenal kemalasan saya yang ampun-ampunan–saya menulis sampai di sini saja, selebihnya biar Gio yang menjelaskan ckckck…

“Perkembangan sastra belakangan kian tak terbendung seiring dengan banyaknya media, terutama online, yang memfasilitasi penerbitan karya (cerpen dan puisi) setiap minggunya. Mudahnya  menerbitkan  karya tersebut  berdampak pula pada pertumbuhan penulis sastra itu sendiri. Seorang kawan suatu hari mengatakan: bahkan jika penulis tinggal di tengah hutan dan hanya mengakses dunia luar sehari setiap bulannya, ia masih punya kesempatan untuk menerbitkan karya ke media massa dengan hanya satu syarat: karyanya layak dimuat.

Di Kalimantan Selatan, pertumbuhan penulis, terutama sastra, berkembang cukup baik. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir tercatat ada dua nama penulis muda Kalsel yang menghiasi halaman sastra Kompas dan termasuk dalam cerpen terbaik yang dibukukan: Meutia Swarna Maharani dan Miranda Seftiana. Selain dua nama itu tentu banyak sekali penulis-penulis “baru” yang menghiasi dunia kesusastraan kita, baik lokal atau bahkan nasional.

Dalam rangka melanjutkan tren positif di atas, kami mengundang para penulis generasi baru itu untuk tergabung dalam satu buku antologi puisi dan cerpen generasi baru Kalsel. Sungguh, tidak ada alasan yang lebih baik untuk pengumpulan karya ini selain untuk mengumpulkan para penulis muda dalam satu tempat—dan tentu saja untuk terhubung satu sama lain.

Jika kamu tertarik, berikut beberapa syarat dan ketentuan untuk pengirimannya:

  1. Pengumpulan karya ini bersifat gratis.
  2. Penulis berdomisili di Kalsel, dibuktikan dengan kartu identitas.
  3. Berusia 17-30 tahun.
  4. Karya bersifat perorangan.
  5. Tema karya bebas.
  6. Karya yang dikirim belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun (media cetak atau media digital).
  7. Penulis mengirimkan 3-5 puisi atau 1 cerpen.
  8. Tidak ada batasan jumlah kata atau gaya bercerita.
  9. Setiap karya yang dikirim adalah karya orisinal.
  10. Setiap penulis wajib menyertakan foto, nomor WhatsApp, dan biodatanya di akhir naskah.
  11. Karya yang masuk akan melewati tahap seleksi.
  12. Naskah dan foto/scan kartu identitas dikirimkan ke: generasibarukalsel@gmail.com dengan subjek GENERASI BARU KALSEL.
  13. Batas akhir pengumpulan karya tanggal 25 Desember 2020.
  14. Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi +62815-2765-5650 (Rafii Syihab)

Demikianlah kabar gembira ini kami sampaikan. Besar harapan agar para pembaca—yang berusia muda—dapat berpartisipasi di dalam buku ini. Generasi baru, bersatulah!”

Avatar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *