Baayun Mulud; Akulturasi Antara Budaya dan Agama

  • Whatsapp
Baayun Mulud; Akulturasi antara Budaya dan Agama
Baayun Mulud | Sirajuddin

SETELAH Islam masuk ke Kalimantan Selatan sekitar 5 abad yang lalu, banyak tradisi budaya masyarakat lokal yang diakulturasi dengan ajaran agama Islam. Hal ini merupakan salah satu cara penyebaran Islam agar lebih mudah diterima oleh masyarakat secara luas–seperti dakwah Wali Songo yang menggunakan metode wayang di Pulau Jawa. Di Kalimantan Selatan sendiri juga terdapat banyak sekali budaya yang dipadupadankan dengan Islam, salah satunya adalah Baayun Mulud.

Bayaun Mulud merupakan upacara mengayun anak yang biasanya dilakukan bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw atau di hari-hari lain di bulan Rabiul Awal.

Read More

SEJARAH BAAYUN MULUD

Tradisi Baayun Mulud berasal dari Desa Banua Halat, Tapin. Menurut sejarahnya, Baayun Mulud adalah sejenis upacara dari Kaharingan–kepercayaan suku Dayak Kalimantan.

Baayun pada dasarnya merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Suku Dayak ketika aruh ganal atau selamatan besar. Dalam Aruh Ganal itulah biasanya anak-anak diayun dalam ayunan khusus yang dihias dengan berbagai perlengkapan sebagai ungkapan syukur atas karunia yang didapat.

Setelah Islam masuk, terjadilah akulturasi budaya tersebut sebagai bentuk penyesuaian terhadap masyarakat lokal. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini menjadi populer dan dinamakan menjadi upacara baayun mulud oleh orang-orang Dayak Desa Banua Halat yang telah memeluk agama Islam.

PELAKSANAAN BAAYUN MULUD

Seperti yang telah ditulis di atas, Baayun Mulud umumnya dilakukan pada bulan Rabiul Awal, terutama pada tanggal 12 dalam penanggalan hijriah, hal itu bertepatan dengan lahirnya Nabi Muhammad Saw.

Baayun Mulud dikhususkan untuk anak-anak menjelang dewasa (0-5 tahun). Sebelum melakukan acara tersebut, ada beberapa perlengkapan yang mesti disiapkan, di antaranya ayunan yang dibuat dengan tiga kain berbeda: kain sarigading di lapisan pertama, kain kucing di lapisan ke dua, dan kain bahalai pada lapisan ketiga. Untuk tali ayunannya, umumnya dibuat penuh hiasan dari janur berbentuk burung, ular, ketupat, bunga, dan hiasan-hiasan lainnya.

Ritual dimulai dengan membaca syair Maulid Al Habsy, Maulid Ad Diba’I, atau Maulid Al Barzanji. Kemudian anak-anak yang akan diayun dalam upacara tersebut dibawa masuk ketika pembacaan Asyrakal dan mulai diayun selama pembacaannya itu secara perlahan. Fungsi diayun tersebut adalah untuk mengambil keberkahan atas kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Setelah dilakukan kegiatan mengayun, dilanjutkan dengan ceramah dan ditutup dengan do’a. Setelah itu para Ulama dan Umara yang hadir akan memberkati anak tersebut sambil membacakan Shalawat Badar.

NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM BAAYUN MULUD

Dikutip dari Civic Edu Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Nilai-nilai Tradisi Baayun Mulud Sebagai Kearifan Lokal di Banjarmasin Kalimantan Selatan oleh Wardiani Hiliadi, Universitas Lambung Mangkurat. Tradisi Baayun Mulud mengandung banyak nilai yang melingkupi berbagai aspek kehidupan, dari aspek budaya, religi, sampai ekonomi.

Secara singkat, Wadiani Hiliadi mengatakan nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan baayun Mulud meliputi; musyawarah, gotong royong, solidaritas, ketaatan dan religi, budaya, serta nilai ekonomi.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Baayun Mulud memiliki tujuan dan motivasi dari peserta di antaranya; adanya kepercayaan akan terkabulnya segala hajat atau keinginan, mendapatkan berkah, kesehatan, keselamatan, sembuh dari sakit, agar anak tidak nakal dan mencontoh teladan Rasulullah, rajin beribadah, dan sebagainya.

Museum Lambung Mangkurat

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *