Bagaimana Rasanya Mencintai Lelaki Berbeda Agama

  • Whatsapp
Bagaimana Rasanya Mencintai Lelaki Berbeda Agama

Tidak ada yang salah dari mencintai orang yang berbeda agama. Justru, menurut saya, kepada mereka yang berbeda dengan kita, entah itu agama, ras atau perbedaan lain, kita memang harus mencintai mereka supaya tidak menciptakan gesekan yang berakibat pada permusuhan.

Mencintai tentu berbeda dengan kehendak untuk memiliki.  Di salah satu artikel, saya pernah membaca, cinta tidak hanya bisa diberikan kepada seorang kekasih, cinta, secara lebih luas, adalah perasaan yang bisa kita bagikan kepada sesiapa pun di dunia ini.

Read More

Masalahnya, begitu kata teman saya, saya mencintai lelaki itu dan ingin memilikinya.

Teman saya itu bernama Bunga, nama samaran, seorang mahasiswi semester 3 yang pernah (dan masih) mencintai laki-laki yang berbeda agama dengan dirinya.

Di Indonesia, mencintai seseorang yang berbeda agama merupakan kesalahan fatal dari sebuah perasaan manusia. Jangankan untuk sampai pada jenjang pernikahan, untuk berpacaran saja sudah merupakan cobaan yang kalau tak kuat-kuat hati lebih baik jangan dilakukan.

Permasalahan cinta beda agama bukan sekadar persinggungan dua agama semata, tetapi juga masalah lain yang menyangkut keluarga, ribetnya mengurus pernikahan serta sulitnya hidup di tengah masyarakat yang menganggap tabu hal tersebut—yang lebih sering menentang konsep cinta seperti itu. Sebab itulah, cinta beda agama yang menyangkut soal keyakinan (agama) dan perasaan (cinta) selalu tak pernah mudah dijalani.

Di Indonesia, ada beberapa film yang mengisahkan kisah cinta ini, salah satunya Cinta Tapi Beda. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra ini mengisahkan tentang Cahyo, seorang chef dari keluarga muslim taat yang punya hubungan dengan Diana, mahasiswi seni tari penganut Katolik. Masalah timbul ketika keduanya hendak melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius—kedua orangtuanya tidak saling merestui.

Mudah untuk menolak konsep cinta beda agama jika kita adalah penonton, setidaknya itu yang diyakini Bunga, teman saya itu.

Menurut Bunga, jarak terjauh dari hubungan long distance relationship bukan jarak antar pulau atau antar negara, melainkan perbedaan keyakinan.

Lebih jauh Bunga menuturkan, kendati hubungan keduanya tidak sampai pada tahap serius, namun keduanya sudah sama-sama terbuka tentang perasaan masing-masing.

“Sampai sekarang, hubungan kami masih temenan, alasannya karena ketakutan beda agama itu,” ujarnya yang memilih untuk tidak mengambil resiko sama sekali daripada harus mendapatkan masalah di kemudian hari.

Jauh dalam hati, Bunga berucap, dia tahu memiliki lelaki itu adalah sesuatu yang mustahil.

”Mencintai orang yang berbeda agama dengan kita adalah tabungan untuk sakit hati yang panjang,” kata Bunga.

Sama seperti Bunga, ada banyak kisah cinta beda agama semacam itu di dunia ini.  Dari artis, pejabat, hingga orang-orang biasa yang tidak pernah kita kenal.

Mempertanyakan benar tidaknya hal tersebut jelas bukan pilihan tepat. Satu orang bisa saja menjawab tidak boleh dengan dasar kepercayaan, sementara yang lain membenarkan konsep cinta itu dengan dasar perasaan manusia.

Untuk menutup tulisan singkat ini, saya ingin mengutip apa yang pernah dikatakan Marcell Siahaan dalam lagunya yang berjudul Peri Cintaku;

Aku untuk kamu, kamu untuk aku

Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda

Tuhan memang satu, kita yang tak sama

haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Avatar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *