Bakteri dan Jamur Alternatif Pengendalian Hama Pertanian

ilustrasi | net

Bidang pertanian merupakan salah faktor utama yang mendukung perekonomian di indonesia selain dari bidang industri dan teknologi yang terus berkembang dengan sangan cepat.

Pertanian masih menjadi sangat krusial karena jumlah penduduk indonesia yang sangat banyak mencapai lebih dari 200 juta jiwa yang membutuhkan pasokan pangan yang tinggi setiap harinya, di mana pasokan pangan tersebut sebagian besar berasal dari pertanian dan perkebunan. Masalah yang marak terjadi di indonesia pada saat sekarang ini adalah berkurangnya luas lahan pertanian dikarenakan alih fungsi lahan menjadi kawasan industri dan kawasan pemukiman penduduk.

Read More

Berkurangnya luas lahan pertanian yang dapat digunakan tentu saja akan berdampak pada berkurangnya produktifitas hasil pertanian, oleh karena itu sekarang orang-orang mulai berusaha mengembangkan berbagai inovasi dalam bidang pertanian untuk mendapatkan produk hasil pertanian yang melimpah dengan memanfaatkan lahan yang ada semaksimal mungkin.

Dalam pengembangan untuk meningkatkan produktifitas pertanian ini tentu terdapat berbagai macam kendala yang dihadapi salah satunya adalah maraknya hama tanaman atau organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat mengurangi produktifitas lahan pertanian. Terdapat berbagai macam jenis organisme yang bersifat hama bagi tanaman seperti jamur patogen penyebab penyakit tanaman yang menghambat pertumbuhan tanaman, serta serangga pemakan daun tanaman dan lain sebagainya.

Sekarang ini kebanyakan orang menggunakan pestisida, insectisida kimia ataupun bahan-bahan berbahan kimia lainnya dalam menangani masalah ini. Penggunaan bahan-bahan kimia ini sebenarnya memiliki efek samping yang kurang baik di antaranya yaitu, sisa-sisa bahan kimia yang menempel pada produk hasil pertanian kemungkinan besar dapat termakan oleh manusia apabila proses pembersiahan kurang sempurna yang nantinya apabila terakumulasi dalam jumlah tertentu didalam tubuh dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, selain itu akumulasi zat kimia berbahaya pada tanah lahan pertanian dalam jangka panjang nantinya juga akan berdampak pada kelangsungan hidup biota-biota tanah di mana biota-biota tanah ini memiliki peran yang penting dalam meningkatkan kesuburan tanah pada lahan pertanian yang juga menjadi salah satu faktor berpengaruh terhadap produktifitas pertanian.

Kekurangan lainnya dari penggunaan pestisida kimia adalah kemungkinan terjadinya resisitensi oleh organisme pengganggu tanaman terhadap pestisida kimia yang diberikan terus menerus akibat adanya adaptasi berupa perubahan-perubahan fisiologis tubuh pada hama maupun mutasi genetik pada organisme tersebut. Apabila resistensi ini terjadi tentu pestisida maupun insektisida kimia yang biasa digunakan tidak akan mampu lagi menjadi solusi dalam penanganan hama tanaman ini karena tingkat efektifitasnya yang telah menurun bahkan kemungkinan dapat tidak memberikan efek sama sekali terhadap hama tanaman yang dituju. Oleh sebab itu penting untuk mencari solusi lain dalam penanganan hama tanaman ini. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan agen penegendali hayati atau biasa disebut juga sebagai agen biokontrol dalam mengendalikan pertumbuhan hama tanaman ini.

Terdapat berbagai jenis agen pengendali hayati yang dapat dimanfaatkan dalam penanganan ini yaitu, jamur entomopatogen  seperti Beauveria bassiana dan Metarizium anisopale yang dapat membunuh serangga hama tanaman, selain jamur entomopatogen juga terdapat bakteri entomopatogen yang juga memiliki kemampuan membunuh serangga hama tanaman salah satu contonya Bacillus thuringiensis.

Bakteri dan jamur merupakan salah satu agen pengendali hayati yang sangat potensial untuk digunakan dalam pemberantasan hama hal ini dikarenakan bakteri dan jamur merupakan organisme yang memiliki pertumbuhan sangat cepat yaitu hanya dalam hitungan jam dan mudah untuk dibiakkan. Selain itu kemepuan bakteri dan jamur dalam membasmi serangga juga telah teruji dalam berbagai penelitian yang menyatakan bahwa jamur entomopatogen menghasilkan enzim yang dapat menghidrolisis atau merusak kutikula serangga seperti enzim selulase dan citinase di mana kerusakan kutikula serangga akan berpengaruh pada kemampuan serangga hama dalam bertahan hidup dan dapat menyebabkan kematian pada serangga, sedangkan bakteri  entomopatogen khususnya Bacillus thuringiensis telah terbukti memproduksi kristal yang bersifat toksik atau racun yang apabila masuk ke saluran pencernaan serangga akan dapat menyebabkan kematian pada serangga hama tersebut.

Dari berbagai pemaparan tersebut kita dapat melihat bahwa pemanfaatan bakteri dan jamur merupakan salah satu alternatif yang menjanjikan dalam pengendalian hama tanaman yang  patut untuk dicoba dan dikembangkan lebih lanjut.

Pada saat sekarang ini sebenarnya telah banyak orang yang mulai menyadari manfaat dari bakteri dan jamur dalam pemberantasan hama tanaman. Oleh karena itu saat sekarang ini telah bermunculan beberapa produk komersial bakteri dan jamur sebagai pestisida hayati yang siap diaplikasikan pada tanaman dipasaran, hanya saja produk ini masih kalah pamor dibandingkan  berbagai produk pestisida berbahan kimia lainnya yang dijual dipasaran. Dari ulasan ini diharapkan para pembaca dapat lebih mengenal tentang pemanfaatan bakteri dan jamur dalam pengendalian hama tanaman yang lebih aman dan ramah lingkungan dibandingkan dengan menggunakan produk pengendali hama berbahan kimia lainnya yang memberikan berbagai efek samping baik bagi kesehatan maupun lingkungan yang marak digunakan pada saat sekarang ini.

Riri Kurnia Ilahi
Latest posts by Riri Kurnia Ilahi (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *