Balada Informasi non-Kredibilitas dan Skripsi

  • Whatsapp

Di semesta medsos, seperti YouTube, grup-grup WhatsApp, Facebook, dan konco-konconya, lazim dijumpai beragam video maupun broadcast nirfaedah yang membikin persaingan Tuan Krab dan Plankton semakin jauh dari konsiliasi.

“Woi, penulis abal-abal! Sampean itu kalau membuat pernyataan yang seimbang dong. Di medsos itu, juga ada pengetahuan yang bermanfaat seperti balita hijrah, balon halal, atau workshop sukses berpoligami”.

Read More

Tenang sodara-sodara yang berbahagia. Selow, jangan ngegas, sabar. Oke, mari kita lanjutkan. Saya juga tidak menutup mata dari hal demikian, mungkin di tulisan lainnya nanti akan dibahas tentang wajah mulia dari dunia medsos kita. HeuHeuHeu.

Kembali ke paragraf awal sodara-sodara. Bagi kaum-kaum yang menggadaikan pikiran kritisnya, atau menjual suaranya ketika Pemilu, upss kecoplosan. Maaf yaa. Mereka akan menelan begitu saja potongan-potongan informasi yang tersaji tersebut, bahkan menjadikannya sebagai argumen atau Way of Life.

Yang teramat memprihatinkan, tidak sedikit dari teman-teman saya, hmm yang telah  berhasil memenangkan pergulatan dengan skripsi juga ikut menyebarkan informasi non kredibilitas. Seketika, sebagai mahasiswa yang bermazhab malas-malasan dan hobi membobol password wifi, saya pun terdiam dan menggigil. Seperti seseorang yang menghadiri pesta perkawinan mantannya #Nyanyi lagu Armada-Harusnya Aku.

Air mata pun membanjir. Tentu dalam konteks ini bukan bulir-bulir basah yang mengeluarkan kegalauan level makrifat, tetapi sebagai simbol dari ketidakpercayaan bahwa mereka juga bisa terjebak dengan isu-isu yang bersumber dari negeri antah-berantah. Yah sebut saja, balada kebangkitan PKI, misalnya.

Ada yang tiba-tiba bergejolak, berdebar, dan berdenyut di dalam dada. Melahirkan rasa skeptis, meskipun dengan sekuat tenaga, saya coba mengahalau rasa tersebut, tapi berakhir pada kegagalan membendungnya. Ya Tuhan, sungguh hamba tidak sanggup mengatakannya (pencitraan sebagai makhluk teis).

Gerimis yang terlahir dari kelopak mata itu pun membasahi layar smartphone, tempat menuliskan artikel abal-abal ini. Dan dengan suasana yang begitu khusyuk, saya kirimkan doa kepada Paman Larry Tesler, sosok yang menemukan copy paste.

Copy Paste. Hmm, pastinya sodara-sodara tidak asing lagi dengan dua kata tersebut. Mengingatkan kita kepada makalah atau skripsi. Dan sepertinya asyik juga deh kalau kita menggibah yang terakhir ini.

Berbicara perihal skripsi, tentunya juga kita mesti berbincang tentang ketahanan fisik maupun psikologi untuk segera menuntaskannya. Saya akui, bukan perkara yang mudah untuk menuntaskan laku dari perjalanan akhir akademik tersebut. Wabil khusus bagi mahasiswa yang berkawan akrab dengan rasa malas dan kantuk ketika berhadapan dengan layar komputer atau PC.

“Ya ealah, ngeles aja neh orang. Alasan yang dibuat-buat, toeh ketika nonton drakor atau Dora the Explorer melek?”

Kalau yang itu beda lagi servernya sodara-sodara, jangan dibawa-bawa ke ranah sini, atau bawa-bawa agama ke ranah itu dan ikut-ikutan menjadikannya sebagai komodifikasi. Nah loe, kecoplosan lagi.

Ketika memasuki fase yang berada di ujung perjalanan akademik, tentunya kita harus membiasakan diri bersahabat dengan berbagai buku maupun literatur rujukan. Tapi, terkadang ada juga plot twist yang menyajikan akhir mencengangkan seperti dialami oleh salah satu kawan saya.

Sebelumnya ia begitu semangat, entah bermeditasi di ruang perpustakaan atau mengikuti instruksi dosen pembimbing. Namun tiba-tiba ia tertunduk, letih, dan berhenti menjalani laku akademiknya. Bukan karena ia tiba-tiba disuruh mengganti judul oleh dosen, bukan pula terjadi kesalahan fatal dalam proses pengerjaannya, melainkan karena ditinggalkan menikah oleh pacarnya. Mampus kau, bhaaaaa.

Sungguh ini adalah perbuatan yang tidak memiliki etika, menertawakan orang lain. Namun, seperangkat tawa yang mengacu pada penghinaan dirinya tersebut tidaklah berlaku. Karena suatu waktu ia pernah bilang bahwa menertawakan kegagalan adalah makam tertinggi untuk merayakan kehidupan. Sungguh sedap (bukan Indomie yaa).

Oh iya, bagaimana pula dengan nasib skipsiku? Tenang, sebentar lagi akan saya jawab. Tentunya bukan dengan jawaban yang mengutip sebagian bait Chairil Anwar, bahwa skripsi, eh nasib adalah kesunyian masing-masing.

Sebenarnya jawaban dari pertanyaan tersebut simpel saja sih. Begini, sebenarnya skripsi saya itu sudah disetujui dosen pembimbing, selesai. Tinggal ikut sidang saja lagi. Tapi ada beberapa alasan yang menyebabkan saya malas mengikutinya.

Salah satunya yaa tidak ingin cepat-cepat mendengar pertanyaan dari calon mertua saya: Kamu kuliah telah selesai dan sudah memiliki pekerjaan, jadi kapan melamar anak saya? Ehem, jadi nganu saya.

“Woyyyy, kok tulisan abal-abal ini semakin ngawur saja ujung-ujungnya. Judulnya Balada Informasi non-Kredibilitas dan Skripsi, jadi di mana letak hubungannya?”

Owhh, bertanya tentang hubungannya yaa, begini penjelasan sederhananya sodara-sodara.

Ketika kita telah menuntaskan skripsi dan memperoleh tiket untuk wisuda, kemudian menyandang gelar sarjana. UwuUwuu kerennya. Tanggung jawab sosial untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara juga kita emban loe. Yah, di antara ikhtiar tersebut, memfilter informasi apa saja yang perlu disebarkan. Jangan ikut-ikutan mengkampanyekan hoaks dan konco-konconya. Malu dong pada gelar, atau jangan-jangan skripsi tersebut dilahirkan dari rahim Copy Paste.

Dah itu aja, saya mau melanjutkan menonton The Word of The Married dulu sodara-sodara.

 

 

 

Baca rubrik sastra budaya lainnya atau kirim tulisan ke banaranmedia.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *