Balada Para Istri dan Kekerasan Domestik

  • Whatsapp
Balada Para Istri dan Kekerasan Domestik

Ketika mencoba mengkonfirmasi sebuah kasus kekerasan dalam rumah tangga kepada seorang kawan senior, kekerasan yang melibatkan pemukulan suami terhadap istri yang menyebabkan cedera yang cukup parah, saya menyertakan sebuah pernyataan final dalam obrolan itu.

Saya tak pernah menghargai sesiapun suami yang mencederai istrinya hanya karena dia bisa melakukannya. Karena Islam juga tegas mengenai hal ini, sejahat apapun istri, suami hanya boleh memukulnya dengan pukulan yang tidak menyakitkan, dengan alat pukul yang masuk akal, dan dengan tujuan memberi pelajaran, bukan menyiksa, membalas dendam atau sekadar ingin melampiaskan kemarahan dengan menjadikan istrinya sasak tinju.

Read More

Kekerasan domestik adalah keheningan yang mencekik. Dalam perangkat nilai budaya masyarakat tertentu ia bahkan menjadi sebuah kelaziman dan dalam usaha mempertunjukkan maskulinitas, ia menjadi keharusan.

India dan Rusia misalnya menjadi negara-negara dengan budaya kekerasan suami terhadap istri yang tergolong sangat massif.

Menurut Human Rights Watch, satu dari empat rumah tangga di Rusia mengalami peristiwa kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa istri dan anak-anak. Tahun 2017, Kantor Berita Reuters melaporkan tiap tahunnya, 10.000 hingga 14.000 perempuan meninggal di tangan pasangan dan kerabat lelaki mereka. Loyalitas tak bertepi dan seringkali tidak rasional yang dituntut atas istri kepada suami adalah sesuatu yang umum didapati. Sampai saat ini misalnya, saya masih tidak bisa menerima tradisi istri harus mati mengikuti suami yang mati.

Kekerasan, fisik dalam hal ini, yang dilakukan suami terhadap istri selalu dikeluhkan para penggiat advokasi terhadap perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga terkait keengganan korban untuk melaporkan apa yang dialaminya pada pihak yang berwajib agar pelaku mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Hal yang sangat disesalkan tapi dapat dipahami.

Kekerasan fisik yang mencederai dan cenderung traumatis yang dilakukan suami biasanya bertujuan untuk menciptakan rasa takut intensif. Rasa takut yang digunakan suami untuk mengontrol respon istri. Dengan rasa takut, suami berusaha mengendalikan istri sesuai keinginan suami. Rasa takut yang sama yang pada akhirnya membuat perempuan lebih memilih bungkam daripada menceritakan hal tersebut pada sesiapapun.

Lebih kompleks lagi, sebagian perempuan memiliki kecenderungan menjadi overthinking. Sehingga ada seribu alasan yang membuatnya memilih bungkam, pertimbangan-pertimbangan yang kadang terlampau imajinatif membuatnya memilih  diam: takut dicela, takut dikucilkan orang-orang, takut hidupnya berubah menjadi lebih buruk dari yang sudah ada, takut disalahkan, dan pemikiran-pemikiran lain semacam ini.

Itu sebabnya, saya sangat mengapresiasi perempuan-perempuan yang berani bersuara. Tentu pembaca ingat gerakan dengan hashtag #MeeToo, atau saya misalnya akan menyukai film-film dengan tokoh perempuan yang menolak menjadi korban kekerasan. Saya menyukai film Bombshell (tentu saja), atau bahkan film dengan kualitas akting jelek Jennifer Lopez, Enough, yang menceritakan seorang istri yang bangkit melawan setelah bertahun-tahun menjadi korban kekerasan fisik dan mental oleh suaminya. Perempuan-perempuan yang berani melawan dengan memahami segala konsekuensinya

Tentu saja perempuan semacam itu tak banyak, kekerasan traumatis dalam rumah tangga masih akan menjadi fenomena gunung es. Artinya kita akan selalu menemukan, barangkali di lingkungan dekat kita, perempuan-perempuan yang terlihat baik-baik saja, namun sebenarnya mengalami cedera secara fisik, dan secara mental, mereka ketakutan, atau lebih parah lagi, mati rasa.

Akan selalu ada silang pendapat terkait batasan dan intensitas kekerasan yang dialami istri dalam rumah tangga. Mana yang dianggap mencederai mana yang masih dalam batas toleransi. Semua itu juga mencakup hal lain seperti tujuan suami melakukan itu, kesalahan istri, dan variabel lainnya. Meski demikian, kekerasan dengan cedera serius dan menimbulkan trauma seperti kasus yang saya obrolkan dengan seorang kawan di atas, jelas bukan sesuatu yang masuk dalam wilayah permakluman sesiapapun. Dan saat berbicara kekerasan terhadap istri oleh suami, kita juga tak bisa semata bicara persoalan fisik, ada kekerasan verbal, dan dalam lingkup yang masih mengundang perdebatan, kekerasan seksual.

Kekerasan verbal bahkan lebih sulit dideteksi, tapi memiliki efek meracuni yang demikian besar. Celaan, gerutuan, keluhan yang tidak ada habisnya, dan hal-hal sejenis adalah jenis racun verbal yang bisa meruntuhkan bangunan keyakinan diri dan kesehatan mental istri. Luarannya barangkali dapat dideteksi dengan relatif mudah.

Jika pembaca melihat seorang istri secara fisik tampak baik-baik saja, namun tampak tertekan, mudah cemas, tidak bahagia, ragu-ragu, tidak percaya diri. Boleh jadi ia sering diserang secara verbal oleh pasangan hidupnya. Well, itu asumsi saya ,hal ini perlu pembuktian lebih lanjut dengan metode yang lebih ilmiah. Yang jelas, menurut saya, kekerasan verbal pada suatu titik tertentu, sama merusaknya dengan kekerasan fisik. Itu sebabnya, Rasulullah saw. mengajarkan para suami dan juga para istri untuk saling bertutur dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Terkait kekerasan seksual, satu hal yang saya yakini, istri memiliki kewajiban terkait hubungan intim dengan suaminya, saya takkan berdebat di wilayah itu. Tidak adil jika istri hanya memperhatikan hak-haknya saja namun mengabaikan kewajibannya. Hanya saja, dewasa ini cinta dan hubungan intim antara perempuan dan lelaki telah dikonstruksi ulang oleh industri pornografi dan efeknya meluas mencapai dunia di luar industri itu. Ia menciptakan tren baru dalam mendefinisikan hubungan perempuan dan lelaki di mana tren itu tak lain sangat merugikan perempuan.

Sejak situs porno, dan film-film macam Fifty Sides of Grey atau 365 Days telah diterima menjadi bagian dari budaya populer selazimnya, menjadi bacaan kasual dan tontonan regular di ruang-ruang keluarga, paradigma tentang cinta –dan selanjutnya hubungan intim- berubah pesat. Dalam alur tren ini, hubungan intim lelaki perempuan adalah hubungan mendominasi dan terdominasi. Ada anggapan bahwa perempuan akan senang ditaklukkan dengan model sexual abuse alias kekerasan seksual. Ada wacana yang dibangun industri pornografi, bahwa perempuan senang disiksa, atau diperlakukan seperti budak.

Jonathon van Maren, aktivis Pro-Life Kanada menyampaikan dalam sebuah tulisan, industri pronografi telah menyumbang rekonstruksi cara lelaki melihat perempuan. Lelaki yang menonton kekerasan seksual akan memercayai mitos bahwa perempuan memang suka diperkosa atau disakiti, ‘tidak’ berarti ‘ya’ dan suami-suami yang memukuli istrinya adalah kelaziman. Cara pandang seperti ini tampaknya dilanggengkan oleh pop culture (film, musik, industri pornografi). Selama para suami dengan senang hati mengaksesnya, percayalah, cara berpikir permisif terhadap kekerasan seksual terhadap perempuan (baca:istri), akan terbentuk, terekseskusi, dan terlestarikan.

Tiga jenis kekerasan ini, berkelindan membentuk lingkaran mematikan bagi para istri jika dipraktikkan baik secara sadar atau tidak oleh para suami. Secara fisik, perempuan diciptakan lebih lemah daripada lelaki. Itu sebuah sunnatullah penciptaan, dan di balik fisik lelaki yang lebih kuat dititipkan tanggungjawab besar untuk bisa menjadi rekan kerjasama perempuan yang solid. Diperlukan segenap kesadaran, cara berpikir konstruktif, dan pemahaman yang benar tentang bagaimana suatu hubungan pernikahan dijalankan dengan sama sekali meniadakan jenis kekerasan apapun yang berpotensi mencederai perempuan dengan fatal dan traumatis.

Pada akhirnya Slim yang diperankan Jennifer Lopez di film Enough harus membunuh suaminya untuk bisa benar-benar terlepas dari kejaran Mitch, suami yang telah menyiksanya secara fisik dan mental. Ia berlatih martial art Krav Maga untuk bisa melawan Mitch secara fisik. Bukankah ini suatu hal yang menyedihkan ketika seorang perempuan tak bisa melakukan apapun lagi selain membunuh untuk bisa terbebas dari siksaan yang menghantuinya seumur hidup. Seakan-akan tak ada jalan keluar lain. Namun, seringkali, bagi para istri yang menjadi korban kekerasan domestik, jalan keluar itu memang tidak ada. Dan mereka memilih diam, dan menahan derita itu sendirian.

Wallahua’lam.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *