BEFORE THE FLOOD: SEBELUM BANJIR ITU BENAR-BENAR MENENGGELAMKAN SEMUA

  • Whatsapp
Ulasan Film Review the Flood

“Jika kita melihat luasnya alam semesta, bumi kita hanyalah sebuah perahu kecil. Jika perahu ini tenggelam, maka semua akan tenggelam bersama.”

(Ban Ki Moon, Sekretaris Jenderal PBB)

Read More

 

Saya sudah cukup lama tahu aktor Leonardo DiCaprio memiliki perhatian khusus pada masalah lingkungan, khususnya perubahan iklim. Barangkali karena bukan penggemarnya, saya baru tahu kalau perhatiannya tersebut begitu mendalam. Ia bahkan menjadi duta PBB untuk persoalan perubahan iklim ini, dan tahun 2016 silam ia memproduseri sebuah film dokumenter berisi tiga tahun perjalanannya mendokumentasikan fenomena perubahan iklim di seluruh dunia. Bagi pembaca yang merasa perlu untuk merenungi kembali apa yang sebenarnya terjadi pada bumi kita, terlebih setelah bencana banjir yang belum pernah terjadi di banua kita sebelumnya, film dokumenter berjudul Before the Flood ini sangat saya rekomendasikan. Oh ya, film ini dapat dilihat bebas di Youtube, sebagai sebuah media kampanye National Geographic.

Film ini diawali narasi menarik Leo (yang menjadi narator film ini dari awal hingga akhir) tentang lukisan Hieronymus Bosch berjudul The Garden of Earthly Delights yang terdiri dari tiga panel. Panel pertama tentang kehidupan manusia di taman surga sebelum akhirnya diturunkan ke bumi. Panel kedua berisi kehidupan manusia di dunia, lengkap dengan segala nafsu dan hasrat yang mereka bebas-lampiaskan. Panel ketiga berisi gambaran mengerikan hari pengadilan (last judgement) di mana manusia mendapat ganjaran dari semua keburukan yang mereka lakukan.

Lukisan itulah titik pijak Leo dalam film ini, dengan melihat relevansinya dengan apa yang terjadi pada manusia. Keserakahan untuk menjarah bumi yang tak ada habis-habisnya menunjukkan bahwa panel ketiga, segenap kesengsaraan mulai terasa. Tidak di Hari Pembalasan tapi saat ini juga, di dunia.

Apa yang diperbuat manusia pada bumi? Film ini menampilkan masifnya usaha manusia merusak bumi. Pangkalnya satu, seperti yang pernah disampaikan mantan wakil presiden Amerika Serikat yang juga aktivis lingkungan terkemuka, AL Gore kepada Leo tahun 2000 silam, ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil yang meliputi minyak bumi, batubara, gas alam, baik produksi dan konsumsinya, menjebak manusia pada skema lingkaran setan. Berhenti tak bisa, karena kecanduan, dan meneruskan juga berimplikasi menghancurkan hidup dan kehidupan manusia itu sendiri.

Kehidupan manusia dari hulu hingga hilirnya tak bisa lepas dari cengkeraman bahan bakar fosil: bahan bakar kendaraan bermotor (solar, bensin), pembangkit listrik dan pemicu energi lainnya (batu bara dan gas alam). Ditambah lagi satu ketergantungan mengerikan manusia lainnya, yaitu palm oil atau minyak sawit untuk segala jenis produksi makanan jadi, mulai dari kentang goreng sampai menu lengkap di sebuah restoran Perancis.

Dalam usaha memenuhi permintaan tak henti-hentinya bahan bakar fosil ini, korporasi-korporasi besar berlomba-lomba menjelajah dan menjarah bumi demi bisa terus memproduksinya. Korporasi-korporasi itu menghancurkan gunung-gunung untuk mendapatkan batubara, melakukan fracking atau penghancuran batuan dalam untuk mendapatkan gas alam, pengeboran lepas pantai. Semua aktivitas itu mengantarkan manusia pada kenyataan pahit mengenai hutan-hutan yang gundul yang akhirnya menyebabkan banjir, erosi, dan bencana lainnya, air yang tercemar, ekosistem yang rusak.

Celakanya, korporasi-korporasi besar yang melakukan eksploitasi besar-besaran itu juga adalah raksasa-raksasa yang tak bisa digoyahkan. Di Amerika Serikat, negara pemakai bahan bakar fosil terbesar di dunia, korporasi-korporasi besar itu berada di belakang upaya menyangkal isu perubahan iklim akibat kerusakan bumi. Mantan presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan sejumlah koleganya di Partai Republik adalah salah satu tokoh utama dalam drama penyangkalan itu. Kita mungkin akan tergerak melempar sesuatu ke arah Trump saat ia mulai mengolok-olok perubahan iklim dan mengolok para aktivis lingkungan di atas podium.

Di film ini juga kita akan mengikuti perjalanan Leo ke berbagai belahan dunia. Di awal kita akan menemuinya mengunjungi lokasi pengeboran minyak bumi dan batubara milik SVP Oil, Exxon, Shell. Kita akan disuguhkan visulisasi bentangan alam ribuan hektar yang awalnya hutan hijau menjadi tanah-tanah hitam kecoklatan yang gersang. Leo bahkan menyebut wilayah itu seperti Mordor, dan saya sangat setuju.

Leo juga akan membawa kita bepergian ke daerah Buffin Island, Kanada, dekat Arktik. Wilayah dengan tutupan es abadi yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami pencairan es yang cepat dan mulai tak terkendali. Terkait pencairan es karena menghangatnya suhu bumi ini, ada cerita miris dari pembuatan film The Revenant, film yang mengantarkan Leo untuk piala Oscar pertamanya. Sutradara dan seluruh kru film harus melintasi separuh dunia dari Kanada ke wilayah Ushuaia, Argentina, untuk menemukan salju yang tidak meleleh di musim panas.

Leo kemudian juga mengajak kita ke negara-negara kepulauan Pasifik yang sejumlah wilayahnya sudah nyaris tenggelam karena air laut yang tiap tahun bertambah pasang. Leo mengunjungi Cina yang polusi udaranya begitu mengerikan, India yang justru masih baru akan memulai eksplorasi batubara untuk memenuh kebutuhan energi tiap keluarga di sana karena energi bukan hal yang bisa dibagikan merata. Sementara India baru setengah perjalanan memulainya, banjir sudah menggenangi lahan-lahan pertanian di sana.

Akhirnya Leo pun sampai di Indonesia yang saat itu berkutat dengan kabut asap karena pembakaran lahan untuk penanaman sawit (dan batubara). Lahan yang sengaja dibakar, dan kongkalikong antara penguasa dengan pemerintah menjadi penanda persoalan lingkungan Indonesia di film ini. Perempuan yang mendampingi Leo mengunjungi hutan di wilayah Sumatera jelas-jelas menyebutkan itu.

Before the Flood Leonardo DiCaprio

Lalu, apa yang ingin dicapai film ini sesungguhnya? Yang pertama, jelas adalah upaya penyadaran, bahwa pengrusakan alam yang telah dilakukan hampir ratusan tahun, akibatnya telah mewujud nyata di depan mata: iklim yang kian memanas, banjir yang datang di wilayah-wilayah yang sebelumnya tak pernah terkena banjir, longsor, kerusakan ekosistem, dan lainnya, dan lainnya. Yang kedua, adalah usaha mengajak penonton untuk mengetahui apa penyebabnya, dan yang ketiga, mengajak penonton bersama-sama memikirkan apa solusinya.

Ada dua solusi yang coba disampaikan film ini, yang pertama adalah penghentian produksi dan konsumi bahan bakar fosil yang adalah sangat tidak mudah tapi toh, sekarang wacana energi alternatif telah mulai dikembangkan. Pemakaian baterai tenaga surya seperti yang dikembangkan Elon Musk boleh dilihat sebagai solusi, konon. Sejumlah negara terutama negara-negara Eropa telah mengembangkan energi tenaga matahari dan tenaga angin. Denmark misalnya telah mendapatkan 100% kebutuhan listrik mereka dari energi angin. Swedia bahkan menyatakan diri sebagai negara bebas bahan bakar fosil. Bahkan Cina yang terkenal tidak terlalu mau mendengarkan pendapat orang lain di luar negaranya pun sekarang mulai beralih pada energi alternatif terbarukan pengganti fosil.

Solusi lainnya adalah carbon-tax atau pajak karbon. Pajak karbon adalah pengenaan pajak atas segala sesuatu yang meniliki efek karbon sebagai buangan dari bahan bakar fosil. Harapannya agar barang-barang itu menjadi mahal dan orang-orang mulai enggan menggunakannya. Namun sampai hari ini di Maerika Serikat, wacana carbon-tax tak mendapat sambutan hangat di tengah usaha politisinya untuk menyangkal perubahan iklim.

Saya tak ingin banyak mengomentari secara teknis kelebihan dan kekurangan film ini seperti yang sering saya lakukan karena tujuan saya menulis artikel ini adalah turut serta menjadi bagian dari kampanye film.

Satu catatan saya, meski film kampanye, dalam pandangan saya narasi yang hadir dari orang-orang yang bicara di film ini begitu emosional. Film ini memiliki naskah yang menyentuh dan puitis. Meski demikian, bagi sebagian penonton mungkin saja masih terasa datar tanpa geliat emosi karena merasa apa yang disampaikan terasa jauh.

Tapi itu benarkah sejauh itu? Minimal bagi kita masyarakat Kalimantan Selatan, kita sendiri telah mengalami bencana itu, bukankah demikian? Di film ini, presiden Palau, salah satu negara kepulauan di Pasifik, M.E. Tommy E. Ramengsesau Jr. menyampaikan satu kalimat yang mengiris hati, bahwa negara-negara kepulauan di Pasifik yang sebenarnya tak banyak berkontribusi dalam perubahan iklim akibat kerusakan bumi justru menjadi wilayah yang merasakan dampak terburuk dari hal tersebut. Bukankah kita juga demikian? Beberapa orang bahkan tak pernah melihat bagaimana aktivitas penambangan dan penggundulan hutan di banua secara langsung, toh, rumah-rumah mereka termasuk yang hanyut terbawa air saat banjir besar kemarin. Akhirnya pertanyaan kita semua terkait semua ini adalah? Selanjutnya, apa lagi?

Wallahua’lam.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *