Belajar Memanusiakan Manusia

  • Whatsapp
Belajar Memanusiakan Manusia
Felix Nesi | Ilustrasi

“Manusia  dibentuk oleh ambisi mengenal masa depan, dibentuk oleh kenyataan-kenyataan kini dan pengalaman masa lampau.” Ungkap Soe Hok Gie, suatu ketika.

Read More

Begitulah manusia menyusun firasatnya. Menyusun segala kelestarian pola pikir yang terasa menjenuhkan. Sikap, keinginan, kegagalan, keberhasilan, selalu memicu hasrat paling musykil dalam diri. Termasuk dalam dikotomi sebuah perilaku sosial. Semacam habbitus yang tak mengada-ngada. Aspek-aspek tersebut menuntut untuk dicukupi.

Seharusnya, angan-angan yang melatari tersebut bisa dibenturkan dengan pola-prilaku seorang junjungan. Penggalan-penggalan kesedihan itu bisa diputarbalikkan dengan pesan-pesan kehidupan. Semacam belajar dengan cara paling sederhana. Yakni, mengambil pengalaman dari orang lain.

Saya coba kutipkan penggalan hidup Rasulullah S.A.W. dari beberapa bahan literatur yang pernah saya temui:

Alkisah, suatu ketika, kaum kafir Quraisy menyewa seorang Yahudi untuk menyakiti Rasulullah di jalan yang biasa dilewati saat berangkat menuju tempat ibadah. Orang Yahudi tersebut berdiri menunggu sang Rasul dan ketika beliau lewat, ia memanggilnya. Rasulullah yang memiliki sikap tanggap sosial tinggipun menengok. Pada saat itulah, orang Yahudi tersebut meludahi Kekasih Allah itu. Akan tetapi, Rasulullah tak sedikitpun nampak marah. Beberapa hari kemudian, hal itu berulang. Hingga suatu hari, orang yang nampak selalu mengganggu Rasulullah tersebut tak lagi melakukannya. Rasulullah pun dengan hati penuh tanya berusaha mencari informasi, menanyakan pada salah satu sahabatnya.

Didapati, bahwa orang tersebut sedang sakit. Tanpa pertimbangan tentang sikap orang tersebutpun, Rasulullah berangkat ke rumah orang tersebut untuk menjenguknya. Membawakan oleh-oleh berupa buah-buahan segar.

Dari sini, kita mesti bisa mengambil beberapa pelajaran. Pertama, bagaimana sikap tanggap sosial itu diberlakukan. Kedua, bagaimana pemetakan fanatisme agama dengan hubungan sosial.

Jika kedua hal tersebut terbangun, saling susun menyusun, maka ruang interaksi sosial kita akan terus terpelihara dan berkembang pesat. Rasulullah, yang digambarkan sebagai pribadi memesona dari seluruh aspeknya yang didambakan oleh dunia kemanusiaan, sepanjang sejarah, di manapun dan kapanpun (Husein Muhammad ; 2007) selalu mencerminkan sikap kemanusiaan yang tinggi.

Dalam penggalan hidup beliau, kita bisa merasakan, bahwa rasa kemanusiaan, sikap tanggap sosial, tak dapat di sembunyikan hanya gara-gara orang tersebut bersikap buruk pada kita.

Membangun relasi sosial, adalah perkara paling urgen dalan tatanan masyarakat kita. Indonesia sebagai negara heterogen berpotensi selalu menimbulkan konflik. Barangkali dikarenakan perbedaan sikap, pendapat, ras, suku, tatanan sosial, agama, bahkan warna kulit sekalipun. Tetapi kita dituntut bisa memposisikan keinginan pribadi dengan kesepakatan kolektif masyarakat. Semacam, kita harus mengamini Bhineka Tunggal Ika.

Dalam cengkraman burung garuda, lambang ideologi bangsa kita. Kita mesti mengamini esensi sikap tanggap sosial, berusaha mempedulikan bagaimana orang lain menyetujui takdirnya. Sebagai langkah apresiatif terhadap gagasan dasar mahluk sosial, zoon politicon, yang wajib kita jaga sepanjang usia

Baru-baru ini, ada sebuah kasus yang menggemparkan khalayak. Publik kemanusiaan bangsa seperti diguncang. Bagaimana tidak, penindihan hak asasi manusia mengalami diskriminatif. (04/07/2020) Seorang sastrawan, Felix Nesi, penulis buku ‘Orang-orang Oetimu’ dipenjarakan karena hampir muak terhadap lingkaran agamawan yang tak benar-benar memperhatikan hak-hak sosial. Bagaimana tidak, ia, dalam pengakuannya di media sosial, berniat baik untuk memberikan saran memindahkan salah satu oknum agamawan yang ‘bermasalah’ tapi hingga beberapa bulan, tak ditanggapi oleh otoritas yang memegang kendali.

Sebab itu, meledaklah kemarahan Felix dengan memecahkan kaca menggunakan helm ink-nya dan menghancurkan satu buah kursi plastik. Esoknya ia dipolisikan.

Saya tertarik dengan ungkapan akhir di status media sosialnya.

” …tetapi jika kalian…sangat-sangat lambat (atau hampir tidak perna?) dalam mengurusi ‘oknum agamawan’ yang bermasalah, tetapi sangat cepat mempolisikan orang-orang yang marah, maka kita akan selalu bertemu.”

saya sensor beberapa bagian, takut-takut ada yang tidak terima, atau merasa direndahkan. Disinyalir, dari pengakuan Felix, otoritas agamawan yang membawahi ‘oknum bermasalah’ tersebut semacam melindungi. Hak demikian tentu kurang efektif. Mungkin saja agamawan yang memegang kendali tersebut berniat untuk mengkarantina, menyadarkan secara bertahap dalam pengawasannya. Tetapi langkah tersebut kurang efektif lantaran si ‘oknum agamawan’ yang bermasalah tersebut ditempatkan kembali di wilayah yang memungkinkan ia melakukan kesalahan serupa.

Sebagai tokoh yang menjadi rujukan etika sosial masyarakatnya, seseorang yang kadung di-tokoh-kan harus mencerminkan sikap-sikap yang dapat ditiru, diaplikasikan oleh masyarakatnya.

Herbert Marcuse pernah menyatakan, kita terasing dari kehidupan komunal, di mana kita berada dulu, lebih tepatnya karena tidak punya pendirian (krisis spritual dan moralitas) barangkali pernyataan Marcuse tersebut telah terkontaminasi pada benak oknum agamawan itu, dan menggiring keputusan marginalitas kepada seorang Felix. Sikap yang cenderung melindungi kejahatan seharusnya tidak dilakukan agar kita benar-benar merasakan apa yang dinamakan hak asasi sosial.

Tak ada lagi ungkapan, hukum tumpul ke atas tajam ke bawah. Mendiskreditkan orang-orang yang tak memiliki otoritas. Setiap orang yang salah, harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan. Tak ada pengklasifikasian sebuah tatanan sosial.

Patokan kita terhadap rasa kemanusiaan adalah Pancasila. Dalam hal ini, sila ke lima yakni: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, meminta perannya. Jika sikap adil tersebut selalu ditegakkan, maka tak akan ada lagi kemarahan publik. Relasi sosial kita, sebagai bangsa heterogen akan terus terlestarikan. Dalam tatanan sosial, tak ada keotoritasan agama, golongan, suku atau bangsa sekalipun. Semua dipandang serupa. Saling mengasihi adalah kuncinya. Hingga kita bisa membanggakan diri.

Mengamini ungkapan William James, yang saya pelintir sedikit, “ada suara dalam diri yang berbicara dan mengatakan : inilah Indonesia yang sebenarnya.” Bangsa yang lahir dari sisi kemanusiaan, lewat keringat pejuang, darah-darah kepedulian.

Semoga hari esok kita belajar dari perkara ini. Tak ada lagi diskriminasi kemanusiaan. Tak ada. Karena kita lahir dari bumi yang sama, Ibu Pertiwi tercinta.

Guluk-guluk, 2020

M. Rifdal Ais Annafis

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *