Berpura-pura Tuli untuk Menjaga Perasaan Seorang Perempuan yang Buang Angin

  • Whatsapp
Berpura-pura Tuli untuk Menjaga Perasaan Seorang Perempuan yang Buang Angin
Ilustrasi buang angin | net

Berpura-pura tuli ketika mendengar kentut seorang perempuan barangkali adalah hal absurd yang bisa kita temukan pada seorang pemuka agama. Bahkan, tak sampai di situ, berpura-pura tuli itu ia jalani hingga belasan tahun sampai perempuan tersebut meninggal.

Adalah Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan atau dikenal sebagai “As-Asham” alias “si tuli” yang memunyai kisah tersebut.

Itu terjadi pada abad ke-3 hijriah, ketika ulama besar yang  menjadi rujukan umat dan tempat bertanya bagi masyarakat di zamannya itu kedatangan seorang perempuan untuk berkonsultasi atas masalah yang tengah ia hadapi.

Sebagaimana diketahui, pada masa tersebut, Syekh Hatim As-Asham sepenuhnya mewakafkan diri kepada masyarakat dengan selalu membuka pintu kapan saja, untuk masalah apa saja, dan bagi siapa saja tanpa memandang kelas dan gender.

Kembali pada perempuan itu, setelah datang, mulanya ia berbasa-basi sebentar kepada Syekh Hatim sebagai pembuka. Kemudian, tak lama setelah basa-basi itu, ia lantas menceritakan masalah yang sedang ia hadapi dengan panjang lebar.

Di antara ceritanya yang panjang lebar itu, ternyata si perempuan sedang menahan angin dalam perutnya agar tak keluar. Mulanya berhasil. Namun pada suatu kesempatan, angin diperutnya seolah semakin kuat dan begitulah kemudian terdengar suara keras dari pantatnya. Menyadari hal itu, muka si perempuan lantas memerah, ia merasa tak sopan pada seorang ulama besar dan jelas saja ia juga malu atas ketidaksengajaan itu.

Syekh Hatim jelas mendengar suara kentut itu, namun sedikitpun ia tidak bereaksi akan hal tersebut. Ia telah mengerti benar perasaan yang dihadapi oleh perempuan di hadapannya. Ia pun tahu, tak mungkin tamu tersebut berbuat sesuatu yang tidak sopan di hadapannya secara sengaja. Dalam sikap yang wajar, raut mukanya bahkan tak tampak berubah sama sekali. Sekejap, tahulah ia apa yang mesti dilakukan: berpura-pura tuli.

Sementara bagi si perempuan, jantungnya terasa lepas dan sejenak ada perasaan ingin hilang dari dunia ini. Terserah ke mana. Namun, melihat raut wajah ulama besar itu yang tenang seolah tak terjadi apa-apa, ia memutuskan untuk melanjutkan konsultasi tersebut dan ingin cepat-cepat pergi supaya tak lagi malu.

“Sebetulnya, saya ingin bertanya sesuatu,” ucap si perempuan.

Syekh Hatim tak merespon. Air mukanya tidak berubah sama sekali. Pertanyaan itu seolah tak pernah sampai ke telinganya.

“Ada apa, Bu?” tanya Syekh Hatim, suaranya keras sekali–untuk mendukung usahanya yang berpura-pura tuli.

“Saya ingin bertanya sesuatu,” kata si perempuan lagi, suaranya meninggi.

“Ada apa, ya, Bu?” Syekh Hatim mengulangi pertanyaannya.

“Maaf,” ujar si perempuan lagi, kali ini suaranya lebih lantang berkali lipat dari sebelumnya, “Saya ingin bertanya sesuatu.”

“Ooooo Anda ingin bertanya. Maaf kalau berbicara tolong suara Anda dikeraskan. Pendengaran saya kurang bagus. Saya ini tuli,” sahut Syekh Hatim dengan suara yang tak kalah lantang.

Demi mendengar pengakuan langsung bahwa Syekh Hatim tuli, perempuan itu bahagia bukan main. Ia begitu lega, dan sungguh ia merasa jantungnya terpasang kembali ke tempat semula.

Sejak kisah tersebutlah, Syekh Hatim kemudian diberi gelar As-Asham yang berarti si tuli. Konon, Syekh Hatim berpura-pura tuli sampai perempuan tersebut meninggal agar meyakinkannya bahwa ia memang benar-benar tuli.

Ulama yang lahir di Balkh ini wafat di Baghdad, Irak, tahun 852 M atau bertepatan 237 H. (hum/ras)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *