Biadab! Dititipkan ke Lembaga Pemerintah, Gadis 14 Tahun Ini Malah Diperkosa Kepala P2TP2A

  • Whatsapp
Biadab! Dititipkan ke Lembaga Pemerintah, Gadis 14 Tahun Ini Malah Diperkosa Kepala P2TP2A

Apa yang diharapkan orangtua ketika menitipkan anaknya ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) selain meminta perlindungan dan keamanan untuk anak itu sendiri?

P2TP2A merupakan rumah aman bagi perempuan dan anak dari berbagai diskriminasi dan tindak kekerasaan–termasuk perdagangan orang.

Read More

Ironisnya, rumah aman tersebut kini tidak lagi menjadi rumah aman, bahkan menjadi rumah yang sangat menyeramkan.

Setidaknya, itulah yang terjadi pada NF (14), seorang anak perempuan korban pemerkosaan oleh pria tidak bertanggung jawab yang dititpkan di P2TP2A, Lampung Timur sejak akhir tahun 2019.

Bukannya lebih aman, tempat tersebut malah menjadi neraka bagi NF. Ia diperkosa oleh Kepala UPT Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak itu sendiri, DA.

Kasus tersebut sudah berjalan kurang lebih 6 bulan lamanya. Namun, tindakan itu baru terkuak setelah korban menceritakan apa yang terjadi pada dirinya selama berada di rumah aman.

Menurut Iyan Hermawan, Komunitas Aktivis Muda Indonesia (KAMI) Lampung Timur, karena tak tahan dengan apa yang ia alami, NF kabur dari rumah aman dan menceritakan kejadian yang ia alami pada sang paman pada Kamis (2/7/20).

Iyan mengatakan, NF tidak berani buka suara karena DA mengancam akan membunuh ayah kandung Nf jika ia berani bicara.

“Bapaknya Kerja buruh cetak bata, ibunya TKW di Malaysia. Tapi semua kebutuhan hidup ditanggung bapaknya, karena ibu korban jarang sekali mengirimkan uang,” katanya.

Iyan mengatakan, Nf beberapakali pindah tempat tinggal. Ia juga menginap selama tiga bulan di rumah aman dan sempat dipulangkan ke rumah orangtuanya.

Walaupun sudah dipulangkan, ternyata DA kerap menyambangi Nf. Bahkan tak jarang DA menginap dan memperkosa Nf di rumahnya.

Terakhir DA menginap di rumah Nf pada 29 Juni 2020 dengan alasan akan mendaftarkan Nf ke SMP.

“Selama menginap DA juga melakukan itu, korban diancam agar perbuatannya tidak diketahui oleh siapapun,” jelasnya.

Tidak hanya sampai di sana, selain diperkosa, NF juga beberapa kali ‘dijual’ oleh DA untuk berhubungan dengan pria lain.

“Salah satunya pegawai rumah sakit di Sukadana. Saya dijemput lalu diajak ke hotel,” ujar Nf.

Nf memastikan pria tersebut pegawai rumah sakit dari seragam yang dikenakan saat dijemput dirinya.

“Setelah digituin sama dia, saya dikasih uang Rp 700.000. Yang Rp 500.000 buat saya, Rp 200.000 lagi disuruh kasih buat DA,” jelasnya.

Nf mengaku terpaksa mengikuti perintah DA karena sempat menerima ancaman bakal memutilasi dan mengirim santet jika Nf tidak mau mengikuti kemauannya.

“Kalau gak nurut saya mau di cincang-cincang sama DA, saya takut jadi terpaksa ikutin kemauannya,” kata Nf.

Sementara itu, dikutip dari Tribunlampung.co.id, ayah NF, Sugiyanto, mengatakan anaknya tidak berani menceritakan kejadian itu secara langsung. NF hanya berani cerita pada sang paman.

“Jelas saya tidak terima. Anak saya bukannya dilindungi malah dipaksa melakukan perbuatan mesum,” ujar Sugiyanto.

“Anak saya diancam makanya gak berani ngomong sama saya. Saya tahu dari saudara, mereka yang minta saya berjanji jangan mukul, jangan marah setelah mengetahui itu,” jelasnya.

Setelah mendengar pengakuan NF, Sugiyanto langsung membuat laporan ke polisi pada Jumat (3/7/2020).

“Selama ini saya percaya karena dia pakai seragam kuning kunyit (PNS). Ngakunya perlindungan anak ternyata biadab!” sesal Sugiyanto.

Sampai saat ini, kekerasan pada perempuan dan anak masih sering terjadi. Namun banyak orang tidak mengetahui harus melapor ke mana saat korban membutuhkan kontak darurat pertolongan kekerasan seksual yang bisa dihubungi dengan mudah.

Maka dari itu, jika kamu melihat atau sedang mengalami kekerasan tersebut, segera hubungi hotline berikut ini dan laporkan kekerasan seksual pada perempuan dan anak di sekitar kamu. Kami juga berharap, kamu bisa menshare artikel atau hotline ini ke banyak orang agar perempuan dan anak-anak di luar sana merasa sedikit lebih aman.

  1. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Telepon:
(+62) 021-319 015 56

Fax:
(+62) 021-390 0833

Email:
info@kpai.go.id
humas@kpai.go.id

2. Yayasan Pulih

Telepon:
(+62) 021-78842580

3. LBH Apik Jakarta

Telepon:
(+62) 021-87797289

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *