BUTUH BANTUAN: Melihat dari Dekat Banjir di Bangkal, Cempaka Kota Banjarbaru

Rumah Tenggelam Banjir di Bangkal, Cempaka, Kota Banjarbaru

Kalimantan Selatan saat ini sedang dilanda bencana banjir. Setidaknya, dalam sepekan terakhir informasi banjir di Kalimantan Selatan banyak ditemui di berbagai media sosial. Banjir kali ini bukan banjir biasa. Curah hujan yang cukup tinggi merendam banyak rumah warga, merusak jembatan di beberapa tempat hingga memutus akses transportasi, dan tak sedikit warga harus dievakusi.

Banjir di Kalimantan Selatan di awal tahun 2021 kali ini cukup parah. Dalam kesempatan ini, meski banjir terjadi serempak di beberapa kabupaten kota di Kalsel, isi tulisan ini hanya dalam skala kecil, tentang musibah banjir di Kota Banjarbaru, khususnya di Kelurahan Bangkal, Kecamatan Cempaka.

Read More

Nasi Bungkus untuk Warga Bangkal

Tak elok rasanya mendatangi lokasi banjir hanya sebatas menonton, dan memang tak selayaknya menjadi ruang tontonan. Berbekal informasi dari grup whatsapp, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kalsel membutuhkan relawan untuk mendistribusikan nasi bungkus untuk warga korban banjir, saya pun meluncur ke kantor BNPB Kalsel yang lokasinya masih berada di lingkungan Kantor Gubernur Kalsel.

Di sana saya mendapatkan 50 nasi bungkus. Informasi yang saya terima mereka juga memerlukan bantuan relawan untuk memasak dan membungkus makanan. Memang, dari pengamatan saya, BNPB Kalsel selain mendistribusikan bantuan berupa bahan makanan mentah, juga menyiapkan makanan siap saji secara mandiri.

Saya pikir cara tersebut sangat membantu para korban bencana banjir. Sesuatu yang siap untuk dimakan tanpa menunggu harus diproses di dapur umum di lokasi banjir terlebih dahulu.

Perjuangan Menuju Kelurahan Bangkal, Cempaka

Mobil Terendam Banjir

Sejak kecil, saya sering melintasi jalan menuju Kelurahan Bangkal yang berada di jalan utama Kelurahan Palam. Entah itu ketika ingin menuju Kota Pelaihari atau hanya ingin memancing di sekitaran sawah para warga palam.

Dari dulu, jika hujan datang, di beberapa titik jalan utama ini selalu tergenang air, bahkan sampai sekarang ini. Sambil membawa 50 nasi bungkus, saya sudah bisa membayangkan bakal melintasi jalur tidak aman untuk roda dua di musim hujan.

Faktanya memang demikian. Saya menemui genangan air hujan di jalanan beraspal. Satu hal yang saya cemaskan, bagaimana jika mogok, sementara nasi bungkus harus disegerakan. Syukurnya itu tidak terjadi.

Melihat Korban Banjir dari Dekat

Banjir Banjarbaru

Tiba di Bangkal, saya tidak lantas menyerahkan 50 nasi bungkus tersebut karena tujuan saya adalah RT 12 yang letaknya di perbatasan antara Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut.

Dari informasi warga sekitar, musibah banjir ini menimpa di 5 (lima) RT sekaligus, yakni, warga di RT 7, 8, 9, 10 dan 12. Namun paling parah dialami warga RT 9, 10 dan 12. Hampir di 3 (tiga) RT terparah ini 60% warganyanya telah dievakuasi dan sebagian mengungsi ke rumah kerabat masing-masing.

Selain alasan di atas tersebut, melalui pesan grup bahwa dapur umum di RT 12 mengaku sebagian warga yang masih bertahan di lokasi banjir ada yang belum makan sejak pagi. Informasi tersebut saya terima di siang hari. Selain makanan mereka juga memerlukan bantuan berupa pakaian.

Seperti yang tadi sempat saya singgung, bahwa letak RT 12 adalah di perbatasan, artinya paling ujung. Banyak warga tidak merekomendasikan saya mengendarai roda dua ke sana karena jalan raya sudah terendam air setinggi lutut, dan sebagian mendekati pinggang.

Baiklah. Artinya saya harus mencari alternatif dan menitipkan sepeda motor di rumah warga yang tidak terdampak banjir.

Sebut saja saya beruntung ketika ada mobil pick up sedang melintas dan mengijinkan saya untuk menumpang. Memang, satu-satunya cara aman adalah mengendarai mobil meski harus merangkak pelan. Keberuntungan itu tidak bertahan lama karena hujan tetiba saja turun kembali. Basah!

Di belakang pick up, Sambil melindungi ponsel dari guyuran hujan, saya memaksa merekam rumah-rumah yang tenggelam, mobil yang terjebak banjir, lahan sawah yang dilumat habis oleh air, dan batang pohon yang tumbang. Ya, sekilas tergambar aktivitas perekenomian warga lumpuh seketika. Hak hidup layak mereka terancam.

Setelah mobil pick up berhasil menerjang semburan air menuju posko RT.12, saya pun turun dan menyerahkan nasi bungkus yang saya bawa dan sedikit donasi uang semampunya.

Yang Penting Bisa Makan

Dapur Umum Banjir Banjarbaru

Dari Posko sekaligus dapur umum ini saya menyaksikan langsung para emak-emak dan remaja saling bantu menyediakan makanan ala kadarnya menggunakan satu rinjing dengan kekuatas gas 3 Kg. Mereka menggoreng pisang dan tempe. Saya juga melihat satu dandang berisi nasi yang tampaknya baru saja selesai dimasak.

“Ambil itu saja, yang ada ikannya,” ucap salah seorang emak-emak merujuk nasi bungkus yang saya bawa tadi ketika warga mulai berdatangan untuk mengambil makanan. Dari situ saya tahu, mereka tak memiliki lauk pauk untuk dimakan.

“Sementara cukup nasi dulu, yang penting tidak kelaparan,” jawab emak-emak itu memberi alasan yang masuk akal ketika saya tanyakan. Dalam kondisi darurat, yang penting makan!

Menerjang arus Banjir dan Mendatangi Posko Evakuasi

Banjir Bangkal Cempaka banjarbaru

Setelah puas melihat kondisi dapur umum RT 12, saya mencoba melihat dari dekat rumah-rumah warga. Sekadar untuk diketahui, rumah para warga di Bangkal posisinya cenderung berada di bagian bawah dari jalan raya. Bisa dibayangkan, jika di jalan raya saja tergenang air, di bawah sana tentunya mampu menenggelamkan rumah-rumah warga. Terlebih, lokasi RT 12 bersisian dengan sungai utama yang cukup lebar.

Perlahan saya menuruni jalan masuk. Hujan belum juga reda. Sedikit demi sedikit air menenggelamkan sebagian tubuh saya hingga pinggang. Derasnya dorongan arus air juga sangat terasa. Saya tidak berani melanjutkan perjalanan lebih jauh. Jujur, saya khawatir terpental oleh arus air itu.

Saya berusaha mencari posisi aman, mengeluarkan kamera dan merekam rumah-rumah warga yang sudah tidak berpenghuni. Ada dinding rumah kayu yang jebol. Ada sepeda motor yang terjebak di dalam rumah. Ada pula dahan-dahan pohon dan kayu yang berserakan hanyut di bawa arus air. Betapa bahayanya jika dihantam kayu-kayu itu!

Saya putar balik menuju jalan raya dan mencari lokasi evakuasi warga setempat. Menurut informasi, mereka di evakuasi di Banyu Irang. Artinya saya harus berjalan melintasi perbatasan, keluar dari wilayah administratif Kota Banjarbaru.

Belum sampai lokasi, perjalanan saya terhenti karena lokasi di tutup warga agar kendaraan tidak bisa melintas. Alasan mereka air semakin meninggi, dan setiap kali kendaraan melintas, menciptakan gelombang air yang bisa menerjang rumah warga di sepanjang tepian jalan. Sudah ada beberapa jendela kaca pecah akibat yang ditimbulkannya.

Saya pun membatalkan ke lokasi evakuasi yang ternyata masih cukup jauh untuk dijalani dengan kondisi luapan air yang cukup kencang. Saya pun berusaha mendokumentasikan kendaraan yang perlahan memadat karena tak bisa melintas.

Untuk menutup cerita ini, saya pun harus bersyukur bisa kembali ke rumah dengan kondisi sehat dan selamat, meskipun harus berjalan kaki menahan derasnya air menuju lokasi tempat sepeda motor yang tadi saya titipkan.

Pesan untuk Anda Para Pembaca

Sebenarnya saya ingin sedih, ternyata sedih saja tidak cukup. Bagi Anda yang membaca cerita ini, percayalah, bantuan dan perhatian Anda sangat dibutuhkan.

Meski warga korban banjir telah kehilangan harta benda dan sedang kelelahan, semoga mereka tak kehilangan harapan untuk segera bangkit dari situasi yang tidak nyaman ini.

Semoga!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *