Cerbung Harie Insani Putra: Perempuan Pemotong Kuku (Bagian 1)

  • Whatsapp
Cerbung Harie Insani Putra Perempuan Pemotong Kuku Bagian 1
Cerbung Harie Insani Putra Perempuan Pemotong Kuku Bagian 1

Dia adalah perempuan sunyi yang menyulam kenangan lewat kuku jari tangan.
Setiap kali memotong kuku, saat itulah ia sedang memotong rindu.

Read More

KETIKA  gerbang senja melandaikan teriknya panas matahari, pada saat itulah aku bertemu dengannya dalam situasi rumit. Kulihat perempuan itu seperti menahan gigil duduk di depan teras rumahnya.

Semula aku tak tahu kalau dia adalah perempuan yang selama ini menjadi pembicaraan orang-orang. Dia adalah perempuan pemotong kuku yang aneh dan misterius.

Aku tidak mengatakan pertemuanku dengannya tanpa sengaja, meski  terkesan demikian. Bagiku, dunia ini adalah kumpulan misteri. Rencana yang disusun rapi, bisa saja berakhir berantakan. Sebaliknya, banyak di luar sana yang terjadi tanpa harus direncanakan.

Begitulah, pertemuanku dengannya adalah episode hidup yang aku sendiri tak tahu berujung seperti apa.

Semua bermula dari sebuah tempat di jantung kota Banjarbaru. Di bawah tower air peninggalan Rusia, orang-orang berkumpul di bawahnya untuk menunggu kedatangan perempuan itu.

“Kamu pasti akan penasaran jika bertemu dengannya?” kata salah seorang memastikan.

“Lantas di mana dia sekarang?” tanyaku.

“Sudah seminggu terakhir kami tak melihatnya datang ke tempat ini,” celetuk salah seorang tampak gusar. “Coba lihat kuku jari tangan mereka, belum selesai semua!” ujarnya menunjukan kuku jari tangannya sendiri.

“Aneh, bukan?” tanya salah seorang lagi meminta pendapatku.

“Sering-seringlah datang kemari, siapa tahu kamu bisa bertemu dengan perempuan itu.”

“Apakah sulit mengenalinya?” selidikku.

Mereka tampak kesulitan mencari sesuatu yang mudah diingat.

“Itu masalahnya. Kamu tunggu saja di sini. Jika dia datang, hanya dia satu-satunya yang akan sibuk memotong kuku.”

“Betul. Itu pun dia sendiri menentukan kuku siapa yang akan dipotongnya. Kalau kamu orang baru, dia akan memberimu dua pertanyaan. Boleh aku melihat kuku jari tanganmu? “Bagaimana kalau aku bantu memotongnya supaya bersih?”

Begitulah cerita tentang keanehan perempuan itu dan akhirnya sampai pula ke telingaku. Sebenarnya tujuanku datang ke taman bukan untuk itu, tapi ingin menanyakan alamat seseorang dan tak satu pun dari mereka tahu persis alamat yang kutuju.

“Lebih baik kamu lewat bundaran simpang empat saja. Setelah itu belok kanan, nanti kamu akan sampai ke Cempaka. Tanyakan dengan orang-orang di sana.”

SEBENTAR lagi malam akan melarutkan senja dengan segala cerita tentang siang hari. Orang-orang pun bersiap menyambutnya dengan cara mereka masing-masing. Sementara aku, justru tersesat di ujung kota yang baru seminggu terakhir ini kudatangi karena tuntutan pekerjaan.

Kucoba berkali-kali menghubungi seseorang yang kutuju melalui ponsel namun tak ada jawaban. Kuputuskan untuk bertanya sekali lagi dan berhenti di depan sebuah rumah kayu berukuran lumayan besar.

Kuperhatikan seorang perempuan penghuni rumah itu sedang duduk di beranda sambil mendekap kedua lututnya menghadap ke samping. Ada isak tangis merambat pelan.

Baru saja aku ingin melangkahkan kaki masuk ke halaman rumahnya, tangis perempuan itu pecah dengan sempurna. Ia jambak rambutnya, lalu menendang beberapa pot bunga hingga bergelimpangan.

Aku belum selesai terkejut, saat perempuan itu berdiri dan meraung-raung, tak lama kemudian tubuhnya seperti kerupuk yang terkena siraman air, badannya meliuk dan ambruk.

Refleks aku berlari untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja. Dalam keadaan mata terpejam, mulut perempuan itu mengeluarkan busa.

“Tolonnng..,” ucapnya lemas dengan napas tersenggal, lalu pingsan.

Seumur hidupku, inilah pertama kalinya mengalami kepanikan karena melihat perempuan itu tak berhenti mengeluarkan busa dari mulutnya.

“Jangan mati, bertahanlah,” hanya itu yang bisa kupikirkan sambil memangku kepalanya dengan kakiku. Kubersihkan busa di mulutnya dengan pakaianku lalu menggedor dinding kayu rumahnya.

Setelah cukup menunggu, ketika tak seorang pun menjawab, kubopong perempuan itu masuk ke dalam rumah. Kulepaskan jaket untuk menyelimuti perempuan itu. Aku sudah tidak bisa berpikir panjang lagi bahwa sedang berada di dalam rumah seorang perempuan yang tak kukenal.

Aku pergi ke dapur, mengambil air hangat dan menuangnya ke dalam gelas dan baskom. Aku bahkan tak sadar telah memporak porandakan isi dapurnya untuk sekadar mencari bawang merah.

Hanya mengandalkan naluri, kucelupkan kain seadanya yang bisa kudapat ke dalam baskom berisi air hangat lalu mengusapkan ke wajahnya. Terakhir, kukoyak bawang merah dengan kuku jempolku lalu mengusapkan ke bagian hidung.

Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain berdoa sambil memijit kepala dan kening perempuan itu. Aku merasa lebih tenang karena mulut perempuan itu tak lagi mengeluarkan busa. Ia masih bernapas.

“Panggil saja, Ben,” ucapku saat ia mulai siuman. Kuceritakan semua yang terjadi dan meminta maaf karena terpaksa membopongnya masuk ke dalam rumah.

“Terimakasih,” ucapnya berusaha bangun sambil mengusapkan telapak tangannya di kepala.

Aku menduga kepalanya sakit gara-gara terbentur lantai. “Apa perlu kuantar ke rumah sakit?”

“Jangan, tidak usah. Sebentar lagi juga membaik,” cegahnya menolak. “Jadi kamu melihat apa yang kulakukan ketika menangis tadi?”

“Tenang saja, aku tidak akan menceritakannya kepada siapa pun,” jawabku agar membuatnya merasa nyaman. Aku yakin baginya itu sangat memalukan, apalagi di hadapan seorang lelaki yang tak ia kenal sebelumnya.

“Kamu pasti heran kenapa aku bisa sampai seperti itu?”

“Tidak perlu kamu ceritakan sekarang. Sebaiknya istirahat saja dulu,” pintaku meski dugaannya memang benar. Siapa pun pasti penasaran jika dihadapkan dengan peristiwa tadi. Kesedihan semacam apa yang bisa membuat perempuan itu hingga jatuh pingsan? Apakah perempuan itu menyimpan penyakit kronis di dalam tubuhnya?

“Boleh aku melihat kuku jari tanganmu?”

Deg..! Sontak tatapanku menabrak wajah perempuan itu. Ada percikan ingatan yang semula mengendap kembali meruap. Akh, tidak mungkin, pikirku!

“Maksudmu?”

“Mmm…coba kulihat?” pintanya sedikit memaksa agar aku menunjukan jari tangan.

“Bagaimana kalau aku bantu memotongnya supaya bersih?”

Astaga, pikirku. Jangan-jangan…Aku segera menepis semua ingatan tentang percakapanku sore tadi.

“Tidak usah. Aku bisa melakukannya sendiri,” tolakku.

Ia lantas terdiam dan menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. Suara isak tangisnya membuatku terkejut.

“Kenapa menangis lagi?”

Ia menggelengkan kepala pelan, mengusap air matanya dengan jari-jari tangan. “Sekali lagi, bolehkah aku memotong kukumu?” ucapnya penuh harap sehingga membuatku sulit menolak.

Aku menyerah. Ia tolehkan wajahnya ke kanan dan kiri mencari sesuatu. Setelah memastikan apa yang sedang dicarinya, aku bergegas mengambil alat pemotong kuku di antara pot-pot bunga yang tadi sempat kurapikan.

“Seharusnya ini tidak perlu,” ucapku pelan saat menyerahkan alat pemotong kuku. Ia seperti tak peduli.

Sesekali kuperhatikan wajahnya saat memotong kuku jari tanganku. Wajah muram yang masih menyisakan kesedihan berangsur hilang. Ya, serupa matahari pagi yang perlahan berseri. Ada kegembiraan di wajahnya.

“Kupikir ini bisa menjadi peluang usaha baru?” Meski tidak lucu, dia menanggapinya dengan tersenyum. Darahku pun mendesir. Senyum yang teramat manis pujiku dalam hati.

“Sudah selesai!” sebutnya ringan.

Kali ini aku tak bisa mengelak lagi. Ya. Benar! Dia adalah perempuan pemotong kuku yang dibicarakan orang-orang. Aku tersenyum melihat hanya kuku jempol jari tanganku saja yang ia potong. Itu pun hanya satu jempol.

“Yakin tidak dipotong semuanya?” selidikku.

Ia tersenyum sekali lagi, namun jauh lebih indah dari sebelumnya. Sebuah senyuman yang tampak tulus dan membuatku merasa nyaman. Akh, jangan-jangan karena senyumnya itu orang-orang rela menunggu?

“Kamu boleh datang lagi besok jika ingin dilanjutkan,” jawabnya beralasan.

Benar kata mereka sore tadi. Aku bisa memahami kenapa mereka penasaran. Seandainya malam tak semakin larut, aku ingin sekali mengulur waktu untuk mencari tahu alasannya.

“Baiklah, besok aku akan datang lagi kemari. Sebelum pamit, sekali lagi aku memastikan ia bakal baik-baik saja. Bagaimana pun, aku menaruh cemas akibat kejadian tadi.

“Aku baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik sebelum kamu datang tadi.”

Jika ada apa-apa tolong kabari aku segera,” pintaku mengeluarkan kartu nama dari dalam dompet.

Ia pandangi kartu nama itu. “Benny Saputra,” gumamnya sambil menarik napas dalam. “Ben..!” panggilnya.

“Ya…!”

“Besok, datanglah jika kau ingin, pergilah selagi mungkin,” ucapnya tanpa penjelasan dan akhirnya aku pun harus segera pulang (bersambung)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *