CERBUNG HARIE INSANI PUTRA: PEREMPUAN PEMOTONG KUKU (Bagian 2)

  • Whatsapp
Cerbung Harie Insani Putra Perempuan Pemotong Kuku Bagian 2
Cerbung Harie Insani Putra Perempuan Pemotong Kuku Bagian 2

HAMPIR semalaman aku terjaga. Kubaca tiga pesan masuk dari ponselku melalui aplikasi WhatsApp. Aku berharap mendapat kabar dari perempuan pemotong kuku itu. Ternyata, bukan.

Tiga pesan dikirim oleh Shinta, seorang editor dari salah satu penerbit buku ternama di Jakarta. Hampir setiap hari ia selalu mengingatkanku agar segera menyelesaikan kontrak penulisan yang telah disepakati.

Read More

“Ayolah, Ben. Sudah seminggu ini. Sebenarnya sudah mulai nulis belum sih? Coba kirim dulu bab pertama novelmu biar kita sama-sama aman. Kalau sudah dibaca cepat balas, ya. Kenapa sih di private segala?”

Aku tersenyum membayangkan kepanikannya. Sebagai editor muda dan baru tiga bulan bekerja, ia selalu ingin tampak sempurna di mata bosnya.

Aku bisa memaklumi kenapa dia seperti itu, jika aku lalai, maka dia pun akan terkena imbasnya. Gajinya akan ditunda, sementara insentifku selama tinggal di Banjarbaru juga tidak akan dikirimkan.

“Iya, Shin. Aku kebut deh. Narasumbernya susah ditemui,” balasku tanpa menunggu balasan dan menatap layar laptopku yang masih kosong tanpa tulisan.

Sebenarnya aku baru pertama kali ini menerima tawaran untuk menulis Novel dengan latar belakang Kalimantan Selatan. Meski sudah ada beberapa tema tulisan yang ingin kukerjakan, namun selalu saja aku mengalami kebuntuan.

Terlalu lama menghadapi layar monitor membuat mataku perih. Sedari tadi perutku pun sudah mulai lapar.

Dua keperihan di pagi hari yang saling mengiris tubuhku. Situasi seperti ini teramat sering kuhadapi. Seperti biasa, meski penat, kusambar jaket dan membuka pintu kamar kos untuk mencari nasi bungkus lalu membawanya kembali ke kamar.

Aku sengaja memilih kos yang mudah mencari makanan ketika lapar dan tak jauh dari toko buku. Simpang empat Banjarbaru menawarkan itu dengan sempurna.

Dari titik ini, aku juga mudah jika ingin ke Martapura yang konon berjuluk kota Serambi Mekah. Dari sini pula, jarak menuju Cempaka sangatlah dekat, sebuah tempat yang ingin kujadikan latar dalam cerita novelku.

“Triingg…” suara notifikasi sms masuk di ponselku.

Zaman sekarang sms hanya untuk mereka yang menawarkan jasa pinjaman uang atau modus menang undian. Hampir bisa kupastikan, hanya pesan dari operator seluler saja yang kuperhatikan, itu pun untuk memeriksa paket data internet.

Tanpa sadar, rasa kantuk mengalahkan kekentalan segelas kopi hitam yang baru saja kuaduk. Aku tertidur dan baru terbangun siang harinya gara-gara suara dering telpon masuk berulangkali.

“Kami periksa nomor terakhir ponsel yang dihubungi perempuan itu adalah milik Anda,” ucap seseorang dari seberang sana yang mengaku dari pihak rumah sakit.

Aku langsung melompat dari tempat tidur setelah suara dari seberang sana mengakhiri panggilannya. Kuperiksa satu persatu pesan dan panggilan di ponselku.

Astaga! Pasti dari perempuan pemotong kuku itu. Siapa lagi kalau bukan dia. Selama di kota ini, hanya dia perempuan yang baru mengetahui nomorku. Lagi pula, aku termasuk orang yang pelit membagikan nomor telpon kepada orang lain.

“Aku perempuan yang kamu tolong tadi malam. Kalau tak sibuk, aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat. Aku tunggu sekarang,” isi dari pesan SMS pagi tadi.

Kuperiksa beberapa panggilan masuk ternyata dari nomor ponsel yang sama. Ada jeda tiga puluh menit dari pesan SMS yang ia dikirimkan.

Kubayangkan sejak pagi tadi ia pasti menunggu kedatanganku. Entah apa yang terjadi sehingga berakhir di rumah sakit? Kenapa tidak dari malam tadi saja, rutukku dalam hati.

Kusemprotkan minyak wangi untuk mengaburkan penciuman kalau aku belum mandi. Setelah mengenakan satu-satunya jaket kesayangan, kuseruput kopi yang sudah dingin dan langsung berangkat menuju rumah sakit.

Cerbung Harie Insani Putra Perempuan Pemotong Kuku Bagian 2

AKU tak tahu lagi harus dengan cara apa memahamkan si dokter agar perempuan itu tak perlu menjalani tes kejiwaan. Aku bahkan sempat memohon agar diijinkan membawanya pulang segera.

Kutunjukkan kartu identitas, bahkan bersedia membuat surat pernyataan sebagai itikad baik dan keseriusanku.

Ya! Aku akan mengawasinya, sesuai syarat yang diajukan si dokter. Setelah kejadian tadi malam dan hari ini, aku berniat memintanya untuk bercerita, dan mendengarkannya sampai hal-hal detil.

Bukankah tadi ia ingin mengajakku ke sebuah tempat? Aku yakin pasti ada kaitannya dengan peristiwa yang ia alami.

Sungguh, perbuatan perempuan itu sangat tidak wajar. Dari si dokter, aku diceritakan perempuan itu hampir memutuskan jari tangannya sendiri dengan alat pemotong kuku ketika sedang duduk di bawah tower air. Orang-orang yang kebetulan berada di sana lantas membawanya ke rumah sakit.

Setelah menyelesaikan administrasi dan menebus obat pereda nyeri, aku kembali menemui perempuan itu yang masih terbaring lemas lengkap dengan balutan perban di jari telunjuknya.

“Maaf, aku tidak membaca pesanmu pagi tadi,” sesalku menyalahkan diri sendiri. Aku yakin ia tidak akan berbuat nekat. Paling tidak, aku bisa mencegah saat ia ingin melakukannya.

“Maaf aku merepotkanmu lagi,” ucapnya meringis menahan sakit ketika pergelangan tangannya digerakan.

Aku ingin sekali mencecarnya dengan banyak pertanyaan, tapi urung melihatnya sedang menahan sakit.

“Sebaiknya aku beri kabar ibumu, ia pasti cemas mengetahui kamu tidak di rumah,” tawarku meraih ponselnya di atas meja.

“Tolong jangan lakukan itu. Ia akan cemas mengetahui kondisiku saat ini,” cegahnya. “Sepanjang hidupku sudah terlalu sering membuatnya repot karena sering bolak-balik ke rumah sakit,” sambungnya dengan mata mulai berair.

Satu hal kelemahanku adalah ketika melihat perempuan menangis. Pertama, aku pasti akan ikut sedih. Kedua, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Jika kemudian aku menyeka air matanya, itu bukanlah sebuah cara, tapi spontanitas dorongan hati ketika melihat seorang perempuan sedang menangis di hadapanku.

Bukankah jika ada seseorang yang menangis, akan terasa lengkap jika saat itu ada yang menyeka air matanya? Begitulah yang kupahami untuk meringankan sebuah kesedihan.

“Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku sudah bicara dengan dokter agar mengijinkan membawamu pulang sekarang juga.”

“Membawaku pulang kemana?” ucapnya tersenyum dengan mimik wajah seakan mengajak bercanda.

Dasar aneh. Dalam situasi sakit ternyata dia masih bisa bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa dengan dirinya.

“Mau kemana lagi kalau bukan ke rumahmu. Memangnya mau kuajak pulang ke rumahku?” balasku kemudian.

“Aku cuma ingin memastikan kamu tidak berniat menculikku. Itu saja kok!” selorohnya tertawa kecil.

Cerbung Harie Insani Putra Perempuan Pemotong Kuku Bagian 2

Terkadang, seseorang memerlukan waktu lama untuk saling mengenal baik. Namun itu tidak berlaku dengan kami. Di sepanjang perjalanan mengendarai Vespa, banyak cerita saling kami titipkan.

Ada kalanya suaraku hampir berteriak mengimbangi kebisingan lalu lintas. Pada bagian-bagian tertentu, ada saatnya kami saling melepaskan tawa.

Tak peduli berapa banyak cerita yang bisa kami ingat kelak, setidaknya teori relativitas sedang berlaku, bahwa jauh atau dekat sebuah jarak, tak bisa diukur hanya dengan waktu tempuh.

Cerita yang tak pernah habis di sepanjang perjalanan, adalah saksi betapa singkatnya waktu yang kami lalui.

“Tak terasa sudah sampai,” celetuknya saat tiba di area tanah pekuburan. Di tengah perjalanan tadi, ia menolak diantarkan pulang sebelum singgah ke pekuburan ini.

Katanya, ada seseorang yang ingin ia perkenalkan kepadaku. Rupanya, tempat inilah tujuan yang ia rencanakan pagi tadi.

“Jika nyeri jari telunjukmu tak bisa ditahan, sebaiknya tak usah berlama-lama di sini,” usulku khawatir.

“Tenang saja, aman!” Ia pun lantas berjalan memasuki gapura kayu yang masih tampak kokoh meski beberapa bagian telah dirapuhkan musim.

Aku mengikuti langkahnya dari belakang sambil berdoa. Dari dulu, berjalan di atas tanah pekuburan tak pernah menjadi sederhana bagiku.

Mereka yang telah berumah di bawah sana, adalah orang-orang yang lebih dulu datang ke dunia ini dan ada pula yang duluan pergi meninggalkan.

Dari mereka, banyak cerita yang tak terhapus zaman dan diupacarai lewat perayaan, namun tak sedikit pula yang diingat dengan cara-cara sunyi, dan sisanya dilupakan karena suatu sebab.

“Dia adalah kakekku. Lelaki hebat yang selalu membuatku merasa layak hidup di dunia ini,” ucapnya serupa membuka perkenalan sambil mengurus rumput yang tumbuh di atas pusara.

“Kakek juga yang membuatku pantas sebagai perempuan,” kenangnya seperti hampir menangis. Ia lemparkan pandangan jauh ke arah sana dengan mata berkaca-kaca, menarik napas perlahan dan menghembuskan dengan berat.

Aku hanya diam mendengarkan. Mengosongkan diriku untuk menampung segala cerita yang ia titipkan. Saat-saat seperti inilah sebuah cerita kuanggap sakral, karena cerita hanya menyinggahi orang-orang yang dipercayai.

Ia kemudian berjalan lagi, berhati-hati melewati beberapa pusara lain.

“Ini ayahku, lelaki yang kuanggap hebat meski tak menginginkan aku lahir sebagai perempuan,” suaranya terdengar getir. “Mereka berdua sering berselisih paham ketika mendidikku.”

Ketika sedihnya mulai tak tertahankan, kuajak perempuan itu untuk duduk di kursi kayu yang dirindangi pohon kamboja dan mengeluarkan air mineral di dalam tasku. Ia lantas meminumnya dan menyerahkan kepadaku kembali.

“Meski cerita masa laluku terkubur di sini, namun tak pernah mati dalam kehidupanku sekarang. Terkadang, ketika aku harus merindukan salah satu dari mereka, aku pun juga mengingat kebencianku di masa lalu.”

“Apakah ada kaitannya dengan jari telunjukmu itu?” Kupikir ini adalah saat yang tepat untuk meminta penjelasan.

“Sudah kuduga kamu akan menanyakan hal itu, tapi kuminta jangan terburu-buru. Kamu lelaki yang baik. Aku bisa merasakannya ketika memotong kukumu!”

“Merasakannya? Maksudmu?”

Setangkai bunga kamboja berwarna putih kemerahan jatuh persis di pangkuan perempuan itu. Sontak kami mendongak ke atas, memerhatikan beberapa bunga kamboja yang bermekaran. Tawa kami lepas sesaat.

Aku pun berdiri di atas kursi, memetik setangkai bunga kamboja lalu duduk kembali di sampingnya.

“Maaf…” ucapku singkat memberanikan diri menyibak anak rambut di telinganya lalu menyelipkan bunga kamboja itu di sana.

Ia tersipu malu. Wajahnya bersemu kemerahan.

“Jadilah seperti bunga kamboja. Meski perlambang kematian tapi bunganya adalah isyarat saripati kehidupan. Harum dan indah.”

Ia merenungkan ucapanku sejenak lalu mengangguk dengan rekahan senyum yang meneduhkan.

“Jangan memandangiku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta,” ucapnya menoleh ke arahku.
Aku terbahak-bahak disambut tawanya yang lepas. Seandainya ada orang melihat kami, mereka bisa saja berpikir kami tak tahu diri. Bergembira di tanah kuburan tempat orang-orang meneteskan duka (bersambung).

Baca cerbung sebelumnya:

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *