CERBUNG HARIE INSANI PUTRA: PEREMPUAN PEMOTONG KUKU (Bagian 3)

  • Whatsapp
Cerbung Harie Insani Putra Perempuan Pemotong Kuku Bagian 3
Cerbung Harie Insani Putra Perempuan Pemotong Kuku Bagian 3

HARI INI kami menghabiskan waktu hingga senja. Lagi-lagi terasa sebentar. Jika bukan karena dering telpon ibunya, mungkin kami akan memilih sebuah tempat untuk bersandar kepada malam sambil bertukar cerita. Nongkrong di bundaran lapangan Dr. Murjani, misalnya. Seutas tempat yang menawarkan lesehan sambil menikmati jagung bakar serut rasa barbeque.

Begitulah, pulang ke rumah seperti merenggut paksa kesadarannya. Ia teringat kepada ibu dan dua orang adiknya yang beberapa hari lalu bepergian mengunjungi kerabat.

Read More

Perlahan, wajahnya serupa peralihan cuaca. Ada kesedihan meraut keteduhan di wajahnya menjadi serpihan mendung.

“Mereka sudah pulang sejak siang tadi,” ucapnya memberitahuku kalau dua hari lalu, ibu dan adiknya bepergian untuk mengunjungi keluarga yang sedang sakit. Saat ini, harusnya ia suCerbundah menyiapkan masakan untuk mereka.

Aku sangat memaklumi kekhawatirannya itu. Bahkan sejak awal aku pun sudah mengingatkannya untuk segera pulang ke rumah, namun rindunya kepada masa lalu, membawanya sampai ke tanah pekuburan ini.

Meski berpura-pura tidak tahu, aku bisa merasakan suasana hatinya mendadak berubah. Padahal, baru saja ia merasa lega setelah menceritakan tentang kakek dan ayahnya. Ada rindu yang terbayar lunas hari ini.

Dengan mata berbinar, ia ceritakan tentang namanya yang selalu disebut tiap kali kuku jari kakeknya ingin dipotong.

Jika ia sedang tak di rumah, kakeknya akan berteriak memanggil namanya. Orang-orang seisi rumah pun terpaksa ikut mencari, kecuali ayahnya.

Pernah ada orang lain menawarkan diri untuk menggantikannya memotong kuku, namun selalu ditampik oleh kakeknya tanpa alasan jelas.

Suatu hari di kala senja, setelah memotong kuku, kakeknya meminta agar ia tak beranjak dari tempat duduk.

“Kamu gadis kecil yang baik. Kakek ingin memberikanmu hadiah yang mungkin belum bermanfaat saat ini. Kelak saat kamu dewasa, kakek akan selalu menjagamu.”

Puluhan tahun kalimat itu bersarang di kepalanya. Semula ia anggap biasa saja, bahkan ketika ubun-ubun dan matanya ditiup, ia tak curiga dan merasakan hal aneh apa pun. Belakangan ia baru menyadari, kakeknya telah mewariskan ilmu ghaib. Sesuatu yang membuatnya berbeda dari orang kebanyakan.

“Coba perhatikan di ujung pohon sana, aku melihat perempuan berbaju putih memandangi kita sejak tadi.”

Aku mengikuti arah telunjuknya. Di sana memang ada pohon beringin berukuran besar, namun tak terlihat perempuan berbaju putih seperti yang ia maksud.

Berulangkali perempuan itu menyakinkanku. “Coba perhatikan baik-baik. Sekarang dia berjalan mendekati kita.”

Tak lama kemudian, justru ia tertawa menyeringai di sampingku. Pandangan matanya tajam menusuk sambil tertawa cekikikan. Sontak aku pun terkejut dan memutuskan untuk segera membawanya pulang.

“Kita harus pulang sekarang,” ajakku refleks menuntun lengannya menjauhi tanah pekuburan.

Cerbung Harie Insani Putra Perempuan Pemotong Kuku

SHINTA mendengarkan pengalamanku selama dua hari ini. Sedikit pun ia tak menyela saat kuceritakan tentang perempuan itu. Namun saat aku ingin mengubah tema novel yang ingin kutulis, di ujung sana, suara Shinta terdengar gelisah.

“Bukankah kita sudah sepakat kepergianmu ke Banjarbaru untuk menulis tentang para pendulang intan itu?”

Aku menghembuskan napas panjang. Mengusap wajahku sambil bersandar di dinding kamar. Sebagai editor, Shinta berhak mengingatkan tujuanku datang ke Banjarbaru. Sebelum berangkat, kami bahkan sudah mendiskusikan rencana plot cerita yang ingin kutulis.

“Kenapa diam, Ben? Coba ceritakan, siapa tahu aku bisa membantu.”

“Begini saja, Shinta. Aku memang belum menulis satu bab pun tentang pendulangan intan. Tapi jika kau ingin membaca cerita yang kutulis tentang perempuan itu, aku bisa kirimkan dua bab sekaligus dan besok kukirimkan bab lanjutannya,” ucapku sekaligus mengakhiri panggilan suara WhatsApp.

Aku yakin Shinta memahami maksud ucapanku itu. Tanpa diminta, kukirimkan draft naskah yang baru selesai kutulis melalui email. Setelah membacanya, dia pasti menemukan alasan kenapa cerita tentang perempuan itu lebih menarik perhatianku.

Ya. Perempuan yang kupikir telah mengenalnya dengan baik. Ternyata belum sejauh itu. Peristiwa sore tadi menegaskan bahwa ia adalah perempuan yang sulit untuk dikenali.

Masih terbayang jelas ketika aku menuntun lengannya keluar dari tanah pekuburan. Perempuan itu belum juga berhenti dari tawa yang aneh membuat bulu kuduk merinding.

Saat aku memintanya agar berhenti, ditusuknya mataku dengan pandangan yang mengerikan. Ia pun menceracau tak jelas dan menyentakkan lengannya hingga terlepas dari genggamanku. Lengan itu melakukan gerakan lembut sampai ujung jari, menirukan seorang penari.

Meski belum yakin, gerak-geriknya persis menirukan orang kesurupan. Caranya menari begitu lemah gemulai dan baru berhenti ketika kutahan lengannya. Namun itu tak berlangsung lama.

Dengan sekali sentakan, lengannya kembali terlepas dan langsung mencekik lehernya sendiri. Napasnya tersenggal. Wajahnya memucat. Aku panik.

Saat kutarik paksa cengkeraman jari tangannya dan kugenggam erat, ia berusaha menariknya sekali lagi, namun gagal. Tubuhnya pun melemas dan ambruk menimpa tubuhku.

Dalam keadaan tak siap, aku berusaha menahan beban tubuhnya agar tak terhempas ke tanah. Setelah merasa aman, tubuhnya kubaringkan perlahan.

Kupikir telah selesai sampai akhirnya terdengar suara mendesis dari mulutnya dan berakhir dengan tawa yang menyeramkan.

“Kau siapa?” suara yang keluar dari mulut perempuan itu.

Untunglah dalam situasi seperti itu, pikiranku masih waras. “Kamu sendiri siapa?” balasku.

Ia pun lantas tertawa kembali. “Kau jangan ikut campur. Aku akan membawanya pergi sekarang!”

Aku tak bisa memastikan apakah berbicara dengan makhluk astral juga butuh logika? Tapi itulah yang kulakukan.

“Pergi kemana dan apa alasannya?” sahutku tak mau kalah.

“Ke alamku. Dia akan bahagia di sana.”

“Apa alasannya?”

“Aku menyayanginya.”

“Lantas kenapa harus kamu bawa?”

“Dari dulu, orang-orang selalu menyakiti hatinya. Jika manusia tak bisa membuatnya bahagia, biar kami saja!” suaranya terdengar parau dan meninggi.

“Tadi kamu bilang sayang kepadanya, tapi caramu justru menyakitinya,” balasku.

Sekali lagi ia tertawa. “Itu bukan urusanmu dan tidak usah ikut campur!”

“Jika kamu sayang, caranya tidak seperti ini. Sayang itu tidak menyakiti.”

Aku tak tahu, apakah makhluk astral itu sudah lelah meladeni obrolanku atau sedang terburu-buru. Di saat aku mulai lengah, jemari tangan perempuan itu kembali mencekik lehernya sendiri.

Caraku melakukan perlawanan pun sama. Hanya saja, kupikir makhluk astral itu harus diberi sedikit ancaman. Kutekan cekungan di antara jari jempol dan telunjuk perempuan itu.

“Pergi sekarang atau aku akan menyakitimu,” ancamku menekan lebih kuat dan membacakan beberapa ayat suci Al-Quran.

Senja telah lewat, kumandang azan maghrib pun sayup terdengar. Aku menoleh mencari asal suara ponsel berdering. Ternyata milik perempuan itu dan rupayanya tadi sempat terjatuh.

Kuperhatikan nama seseorang yang menghubungi perempuan itu, kukira ibunya, ternyata lain. Namanya pun disamarkan.

Sayangku

(bersambung)

Baca Cerbung Perempuan Pemotong Kuku bagian sebelumnya:

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *