CERBUNG HARIE INSANI PUTRA: PEREMPUAN PEMOTONG KUKU BAGIAN (4)

  • Whatsapp
Cerbung Harie Insani Putra Bagian 4
Cerbung Harie Insani Putra Bagian 4 / Maukah kau menjaganya?

Aku baru saja menyelesaikan draft bab tiga ketika Shinta menghubungiku. Ia pasti tak sabar membahas tentang tulisan yang baru saja kukirimkan.

Kuakui, selain teknis penulisan, Shinta juga dianugerahi intuisi yang kuat dalam menilai sebuah karya. Bukan sekadar teoritis, tapi juga pembaca pasar yang baik.

Read More

Aku selalu mengagumi caranya berpikir. Sebuah kekaguman yang sampai sekarang tak pernah kuutarakan secara langsung. Tapi sebagai perempuan cerdas, aku yakin ia sudah menyadarinya sejak dulu.  Kusambar headshet dan segera menerima panggilan suaranya.

“Jadi kamu serius ingin mengubah tema tulisanmu?”

“Iya, Shin. Bagaimana menurutmu?”

“Perempuan yang kamu tulis itu riil atau imajinasimu saja sih?”

“Perempuan yang mana? Di situ kan ada tokoh bernama Shinta juga,” godaku.

“Nah, aku juga ingin membicarakan hal itu. Aku perhatikan, ada dua cerita dalam satu novelmu. Pertanyaannya, mana yang figuran, atau keduanya kamu jadikan tema utama?”

“Di situ tokohnya seorang penulis, jadi aku perlu penguat cerita tambahan agar kesannya logis.”

“Aku ngerti maksudmu, Ben. Ini soal proporsionalitas dalam ceritamu. Jangan pura-pura bego deh, kamu bukan penulis kemarin sore, ngerti kan yang kumaksud?”

“Menurutmu, apa yang harus kulakukan agar tidak terlalu banyak revisi?”

“Buat keduanya menjadi cerita utama, suguhkan konflik masing-masing. Aku yakin pembaca akan menyukainya.”

“Boleh. As you wish,” jawabku singkat.

“Tunggu sebentar. Aku ingin memastikan tokoh Shinta itu bukan sekadar cara agar aku menerima naskahmu, bukan?”

“Kenapa berpikir seperti itu?”

“Kamu pernah menulis cerpen Chantika dan Bola Matanya. Tokoh dalam cerpen itu juga seorang perempuan riil yang pernah kamu temui. Aku masih ingat ketika kamu bilang dia perempuan istimewa dan layak kamu tulis cerita hidupnya. Meski alasan istimewa bagimu bisa bermacam-macam, tapi apakah tokoh Shinta kali ini juga seistimewa itu?”

Aku tak langsung menjawab pertanyaannya. Shinta justru mengingatkanku kepada masa lalu yang begitu harum. Tentang sosok perempuan yang pernah kukagumi. Dia adalah perempuan pemilik bola mata sebening kaca. Indah sekali. Namun di balik keindahan itu tersimpan cerita yang teramat pilu.

“Bisa sebening ini mungkin karena mataku dibasuh oleh tangisan setiap hari,” ujarnya setelah berbulan-bulan lamanya aku berjuang dan berhasil mendekatinya.

Sejak kecil, ketika orang tuanya telah tiada, perempuan itu harus berjuang dengan bekerja di salah satu keluarga yang menampungnya. Semua biaya sekolah ia kumpulkan susah payah.

Aku memang menaruh rasa sayang kepada perempuan itu. Kuurasa ia pun juga begitu. Namun aku selalu gagal memantaskan diriku layak mendapatkan perempuan sehebat dirinya.

Aku selalu gagal menyakinkan diriku bisa memberinya kebahagiaan. Bagaimana jika kehadiranku hanya menjadi kesedihan baru yang tak berkesudahan? Aku tak ingin ia terus menangis.

Kutinggalkan perempuan itu ketika rasa sayangnya belum mengakar kuat. Biarlah aku yang menangis demi melepas perempuan sehebat dirinya.

“Halo…kamu baik-baik saja kan, Ben?” tanya Shinta mengoyak kesadaranku. tentang ingatan masa lalu yang begitu harum .

“Mmm…iya, Shinta. Maaf. Pertanyaanmu tadi haruskah aku jawab?”

“Ya sudah kalau males. Jawab saja pertanyaan tentang cerita perempuan barumu ini. Dia benar-benar riil atau fiksi?”

“Tadi sudah aku ceritakan langsung, artinya riil dong.”

“Aku cuma penasaran dan khawatir kamu sedang hidup bersama imajinasimu saja.”

“Apakah artinya kamu setuju dengan pergantian temaku? Bisa bantu membicarakannya ke bos?”

“Bisa tapi ada syaratnya.”

“Idih, pakai syarat segala. Apaan coba?”

“Syaratnya mudah, jangan terlalu dekat dengan perempuan dalam tokohmu itu. Terus, bikin tokoh Shinta happy ending.”

“Aduh, kok syaratnya aneh banget. Ini permintaan pribadi, atau profesionalitas editor?”

“Jawab saja sendiri. Udah ya!”

Panggilan suara langsung dimatikan. Aku geleng-geleng kepala sendiri. Selama ini Shinta sudah seperti sahabat. Sebelum dia menjadi editor, kami pun sudah berteman sejak lama.

Aku sebenarnya mengerti arah pembicaraannya tadi. Tapi aku tidak ingin larut dengan perasaanku sendiri, apalagi mengembangkannya dalam prasangka.

Kukirimkan langsung bab tiga agar ia sempat membacanya malam ini.

“Cek email, bab tiga send,” kuketik pesan singkat lalu mengirimkannya.

Centang satu. Centang dua. Hijau dan tak ada balasan.

Sambil merencanakan bab berikutnya, kubaca ulang semua tulisan dari bab satu. Selama ini, teman-teman penulis sering menjulukiku sebagai penulis yang lamban. Aku tidak menampik pendapat mereka, bahkan membenarkan.

Saat menulis, aku kerap membaca ulang semua tulisanku dari awal. Aku bahkan tidak segan-segan menghapus atau mengganti cerita yang sudah kutulis. Khususnya di bab satu, bab yang menurutku paling menentukan agar pembaca tertarik. Aku sering menyediakan waktu dan pikiran hanya untuk memelototi semua teks yang ada di sana.

Akh, apa kabarnya perempuan itu? Kuperhatikan ia sedang online di aplikasi WhatsApp. Kuketik beberapa kalimat untuk menanyakan kondisinya dan langsung kukirimkan. Hampir 15 menit kemudian perempuan itu baru membalasnya.

“Alhamdulillah, aman. Kamu sendiri bagaimana?”

“Aman, juga kok.”

Sengaja aku hanya membalas dengan kalimat pendek karena tak ingin mengganggunya. Dugaanku, dia pasti sedang sibuk dan fokus berkirim pesan kepada seseorang.

Kualihkan perhatian ke layar laptop untuk melanjutkan cerita selanjutnya. Semula aku ingin menyambung tentang beberapa cerita yang masih menggantung. Tentang orang-orang yang menunggu perempuan itu di tower air, apakah mereka masih menunggu?

Remahan-remahan cerita seperti itu juga harus kuperhatikan. Di luar sana, banyak pembaca kritis yang terkadang fokus perhatiannya tak bisa ditebak. Selalu saja mereka menemukan kejanggalan dalam sebuah cerita yang mereka baca.

Sebagai penulis, aku berterimakasih dengan hadirnya pembaca seperti itu. Kehadiran mereka membuatku harus selalu berhati-hati, bukan terburu-buru menyelesaikan sebuah cerita.

Mungkin di bab berikutnya saja, pikirku. Menuliskan tentang orang-orang itu artinya aku harus mendatangi tower air lagi. Ya. Sebuah tower air berbentuk senter yang konon dibangun untuk mengatasi kekeringan di Banjarbaru. Sayangnya, proyek itu terbengkalai karena tidak sesuai harapan.

Dari beberapa informasi, aku sedikit bisa menggambarkan rencana awal ketika ingin di bangun. Persis di belakang wisma Mess L, di situ terdapat sumber mata air yang selalu mengalir meski musim kemarau tiba. Aku menduga, perencanaan proyek tower air itu sebenarnya demi kepentingan orang-orang Rusia itu sendiri.

Di tahun 1960 an,  Banjarbaru didatangi banyak para ekspatriat Uni Soviet. Kedatangan mereka untuk mengerjakan proyek besi baja. Mereka pun membangun wisma, perkantoran, pergudangan dan bermacam bangunan untuk menyimpan logistik.

Mess L adalah wisma bagi para ekspatriat Uni Soviet selama tinggal di Banjarbaru. Dinamakan Mess L, kerena bangunan itu berbentuk persis huruf ‘L’.

Kupikir, dari sinilah awalnya kenapa para insinyur Rusia ingin membangun tower air setelah menemukan sumber mata air di belakang wisma yang mereka tinggali.

Konon, tak jauh dari Mess L, pernah ada kincir angin comet yang dibangun orang-orang Rusia itu. Namun entah kemana keberadaannya sekarang? Kincir angin itu adalah penentu keberhasilan proyek tower air yang mereka rancang.

Para insinyur Rusia ingin memanfaatkan kekuatan angin untuk diubah menjadi kekuatan mekanik. Mata air itu akan mereka sedot dan mengalirkannya ke penampungan. Dari penampungan akan dikirim ke tower air lalu mengalirkannya kembali ke rumah-rumah.

Namun sayang, meski Banjarbaru berada di dataran lumayan tinggi, kincir angin itu tak cukup menghasilkan tenaga seperti yang diharapkan. Hanya mampu menyedot dari sumber mata air, namun tak mampu mengirimkan ke tower air ketika sudah berada di penampungan.

Begitulah kegagalan proyek tower air itu jika dilihat secara teknis, meski bukan berarti tak ada asumsi lain. Seperti ketika menginjak tahun 1965, ketika terjadi perubahan politik di Indonesia, para pekerja Uni Soviet harus terburu-buru meninggalkan Banjarbaru demi keselamatan diri mereka sendiri.

Saat  asyik menulis, terdengar suara ketukan pintu. Konsentrasiku mendadak terpecah. Kudorong kursi ke arah belakang agar memudahkanku untuk berdiri.

“Tunggu sebentar,” jawabku ketika pintu kembali di ketuk namun tak ada suara sahutan dari luar sana.

Jam hampir menunjukkan 01.00 Wita. Terlalu malam untuk bertamu. Pasti teman satu kos, karena di luar sana belum ada seorang teman pun yang mengetahui keberadaan kosku.

Perempuan itu? Tidak mungkin. Selama kami bertemu sama sekali tak pernah membicarakan tentang diriku. Bahkan ia pun tak pernah bertanya dimana aku tinggal, apa pekerjaanku, atau hal-hal sederhana, tanggal dan bulan berapa aku dilahirkan.

Kutarik gagang pintu dan membiarkannya terbuka lebar. Aku penasaran ketika tak kujumpai seorang pun berada di luar. Mataku menyapu sekeliling halaman kos, tak ada tanda-tanda seseorang sedang bersembunyi.

Tak lama kemudian angin terasa dingin berhembus menyapu kulit. Tak biasanya tengkukku bergidik. Bulu-bulu halus di tanganku meremang. Segera aku kembali ke dalam kamar dan menutup pintu.

Baru saja ingin kembali duduk, terdengar suara pintu kembali diketuk. Pikiranku mulai membayangkan hal-hal yang aneh.

Perlahan kudekati pintu, memasang telinga dan berharap ada suara bisa tertangkap untuk menjelaskan gerak-gerik orang di luar sana. Tak ada dengus napas, tak ada gesekan sendal atau sepatu di lantai. Tak ada suara berisik.

Seperti layaknya pesilat, aku bersiap-siap. Siapa pun orang di luar sana, salah besar jika caranya itu berhasil membuatku takut. Aku justru ingin membuat kejutan saat ketukan berikutnya.

“Tok..tok…tok…”

“Duarrr..!” Kubuka pintu dengan cepat hingga membentur dinding dan aku langsung menyerbu keluar.

Kutoleh kanan-kiri, menatap satu-persatu kamar kos lainnya, sedikit pun tak kulihat jejak bayangan berlari. Saat aku masih berdiri mematung, berusaha menyadari apa yang terjadi, terdengar suara pintu kamar kos milik Rafi’i terbuka.

Ia keluar dari kamarnya mengenakan kaos singlet sambil mengucek mata. Selama ini, ia berusaha mengakrabkan dirinya semenjak tahu kalau aku seorang penulis novel.

Dari dulu ia bercita-cita ingin menjadi sepertiku. Seorang penulis dan karya-karyanya terbit menjadi buku.

“Ada apa kok ribut sekali?”

Aku ingin sekali mencurigainya, tapi dia terlihat benar-benar baru bangun tidur. “Entahlah. Baru saja pintu kamarku dua kali diketuk orang, dan saat kubuka, tak kutemui siapa pun.”

“Masa sih,” tanyanya sambil menolehkan wajahnya memerhatikan sekeliling.

“Biarlah, mungkin hanya orang iseng,” ujarku isyarat aku tak ingin membicarakannya. “Maaf membuatmu terbangun. Anak-anak lain kok keliatan sepi?” kutepuk pelan pundaknya memberitahu kalau aku ingin kembali ke kamar melanjutkan tulisanku.

“Belum pada pulang, mungkin. Tadi sempat ngajak nongkrong di Murjani tapi karena besok ada jadwal perkuliahan pagi, aku pilih tidur saja. Ngomong-ngomong, novelmu berkisah tentang apa?” ucapnya tak membiarkan aku berlalu begitu saja.

“Tentang seorang perempuan cantik,” jawabku singkat.

“Serius?”

“Iya, tapi aneh?”

“Hah..! Aneh gimana maksudnya?”

“Kalau aku ceritakan, spoiler dong namanya.”

“Siap, maafkan kelancangan diriku ini, Shifu!” ucapnya meniru gerakan salam yang ada di pilem-pilem kungfu. “O, iya. Sudah kamu baca tulisanku belum?” tagihnya.

“Sudah dong. Aku hanya perlu sedikit waktu untuk menyiapkan kritik dan pujian tentang tulisanmu itu. Sabar, ya!” jawabku berharap tak membuatnya kecewa karena aku sendiri lupa meluangkan waktu membaca beberapa bab novel yang sudah ia tulis.

“Mantab, Shifu. Silakan kalau ingin melanjutkan menulis!” balasnya membiarkan aku masuk ke dalam kamar.

Setelah memandangi sebentar tembok yang lecet akibat benturan tadi, aku segera mengunci pintu sambil menepis berbagai macam pikiran aneh yang muncul di kepalaku. Sebisa mungkin aku tak ingin mengaitkannya dengan hal-hal berbau mistis, meskipun dulu aku teramat menyukai dunia itu.

Bukan sekadar rasa suka seperti halnya orang-orang menyukai film bergenre horor. Aku bahkan pernah hidup di dalamnya, keluar-masuk di dunia yang sulit dipahami orang kebanyakan.

“Pletak..!”

Kali ini giliran jendela kamarku seperti ada yang melempari batu kerikil. Suaranya tak begitu nyaring, tapi teramat sering. Tak berselang lama, dingin mengaliri tubuhku. Ada getaran begitu halus merambat di bagian kaki dan tangan. Aliran nafas terasa melambat. Pikiranku hampir saja kosong.

Aku mulai menyadari siapa yang sedang kuhadapi. Jika kubiarkan, aku bisa tak sadarkan diri dan sama persis akan mengalami kerasukan seperti perempuan itu.

Tanpa pikir panjang, aku lantas duduk bersila dan memejamkan mata. Sebisa mungkin aku mengatur irama nafas, melemaskan diri, membaca ayat suci Al-Quran untuk membentengi diri setelah nanti kutinggalkan.

Meski ada cara lain yang bisa kulakukan, rasa penasaran membuatku sengaja memilih untuk melepaskan sukma untuk mengetahui siapa mereka.

Aku seperti di kepung di dalam kamar kosku sendiri. Jumlah mereka berlima, tiga orang berwujud laki-laki dan dua orang perempuan. Di antara mereka semua, hanya satu laki-laki yang memasang wajah dingin memandang ke arahku. Sisanya, tersenyum dengan tatapan tajam.

“Maaf, anak muda. Aku sengaja memintanya mengganggumu agar kita segera bertemu!” ucap seorang lelaki tua berjanggut putih dengan banyak kerutan di wajahnya.

Seseorang yang dimaksud itu adalah lelaki dengan wajah dingin dan sedang tersenyum sinis memandangiku.

“Mereka semua, termasuk aku, adalah penjaga perempuan yang beberapa hari ini kamu temani. Itu alasan kenapa kami datang ke sini?” jelas lelaki tua itu.

“Untuk memintaku tak lagi menemaninya?” tanyaku langsung tak ingin berbasa-basi.

“Sudah kuperingatkan tempo hari, kamu jangan ikut campur atau aku akan membuatmu menyesal..!” ucap lelaki berwajah dingin itu seperti orang yang sedang kesal. Aku pun akhirnya menyadari bahwa sebelumnya kami pernah bertemu dan mengancamnya.

“Bangsa kami sangat mudah mengenali orang-orang sepertimu, anak muda. Kamu berbeda dari orang kebanyakan. Contohnya saat ini, kamu bisa berbicara dengan kami,” lelaki tua itu berusaha menenangkan agar situasinya tak memanas.

“Lantas apa tujuan kalian datang menemuiku?”

“Kami berlima di beri tanggung jawab oleh kakeknya untuk menjaga perempuan itu. Setiap kali dia bersedih, maka kami akan datang mendekat. Setiap kali ada orang berbuat jahat kepadanya, kami bersiap-siap membalaskannya. Kukira kamu mengerti maksudku?”

“Termasuk tadi sore? Pasti salah satu dari kalian yang merasukinya?” tunjukku kepada dua orang perempuan yang tadi hanya diam mendengarkan.

“Aku yang memintanya!” Laki-laki berwajah dingin itu langsung berucap.

Lelaki tua itu kembali ingin menenangkan, namun aku kesal dengan sikap pongah lelaki berwajah dingin itu.

“Aku tidak punya niat untuk menyakiti perempuan itu dan kalian tidak perlu khawatir denganku,” ucapku tegas. “Harusnya kamu sadar dengan perbuatanmu kemarin dan tadi sore. Itu hanya membuat tubuhnya sakit,” tudingku kepada lelaki berwajah dingin.

“Kau menantangku?!!” gertaknya tak terima.

Menghadapi bangsa jin memang tak mudah. Kekuatan mereka bisa berkali-kali lipat dibandingkan manusia. Dulu aku pernah mengalami cidera serius di bagian lenganku ketika harus berhadapan dengan bangsa jin.

Saat ini bukan berarti aku tidak takut dengan mereka, apalagi jumlahnya berlima. Hanya saja dari pengalamanku sebelumnya, banyak hal yang kupelajari kemudian.

“Jika kamu merasa masih ada urusan yang belum selesai, aku siap kapan pun menyelesaikannya,” jawabku.

“Sialan..!” Lelaki itu ingin mendekat namun langsung dihalangi-halangi lelaki tua itu.

“Ingat, tujuan kita datang kemari bukan untuk berkelahi. Dia sudah mengatakan bahwa tidak ada niat untuk menyakiti perempuan itu. Artinya, kamu tidak boleh bersikap seperti ini kepadanya!” tegur lelaki tua itu.

“Maksudmu, kita tidak perlu lagi membawa perempuan itu ke alam kita?” tanyanya kesal.

“Tergantung dia. Apakah mau ikut menjaga perempuan itu atau tidak?”

Semua mata menatap ke arahku.

Menjaga perempuan itu? Tidak mungkin! Aku hanya sementara tinggal di kota ini. Lagi pula, dengan cara apa aku harus menjaganya?Toh aku tidak bisa selalu bersamanya setiap hari.

“Apa keputusanmu?” tanya lelaki tua.

“Apa kalian serius ingin membawanya ke alam kalian?”

Semua tertawa dan terdengar sangat mengerikan. Lelaki tua itu pun lantas sedikit bercerita untuk membantuku membuat keputusan.

“Dia perempuan baik namun bernasib malang. Jika kamu terus menemaninya, kamu akan mendengarkan banyak cerita tentang orang-orang yang menyakitinya. Kami pun heran, kenapa dia bernasib seperti itu. Seolah-olah semua orang di dunia ini hanya untuk menyakitinya saja. Itulah kenapa kami ingin membawanya pergi, untuk membahagiakannya.”

“Sepertinya aku tidak punya pilihan?”

“Kamu tetap punya pilihan. Tinggalkan atau jaga perempuan itu!”

“Apakah kalian juga mendatangi orang-orang yang mengenalnya?”

“Ya, tapi tidak seperti ini. Kami hanya mengawasi saja. Kamu pengecualian. ”

“Memangnya ada apa denganku?”

“Sebenarnya, kamu memiliki sesuatu yang bisa menghancurkan kami.”

Aku tidak tahu pasti maksud ucapan lelakti tua itu. Apakah yang ia maksud warisan pusaka yang kusimpan selama ini?

“Jika aku setuju menjaganya maka kalian harus berjanji tidak membawanya pergi. Satu hal lagi, selama aku tidak bersamanya, kalianlah yang harus menjaganya.”

Kali ini hanya lelaki tua itu yang tertawa. “Sudah kuduga kau akan setuju. Tanpa kamu minta pun, kami pasti menjaga perempuan itu seperti biasanya.”

Lelaki tua itu kemudian mendekat dan menarik lengan tanganku. “Tahan sebentar. Aku akan membuatnya normal kembali,” ujarnya menekan keras kuku bagian jempol lalu meniupnya.

Sontak wajahku mengernyit menahan sakit yang menjalari syaraf-syaraf di kepalaku. Rasanya persis ketika sakit gigi.

“Jaga perempuan itu, nanti kamu akan memahaminya,” ujarnya tanpa berpanjang lebar. (bersambung)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *