CERBUNG HARIE INSANI PUTRA: PEREMPUAN PEMOTONG KUKU BAGIAN (5)

  • Whatsapp
Perempuan Pemotong Kuku bagian 5

TADI MALAM, selepas para makhluk ghaib itu pergi meninggalkan kamar kosku, tak sebaris kalimat pun bisa kutulis untuk menyambung cerita yang baru saja dimulai. Seperti ada sesuatu yang menjejali pikiranku.

Saat-saat seperti inilah terkadang aku perlu teman bicara. Malam telah begitu larut. Shinta pasti telah tertidur lelap. Sebaiknya kubicarakan saja langsung kepada perempuan itu. Kulihat status WA miliknya pun masih siaga. Dari sini aku tahu ternyata perempuan itu betah begadang.

Read More

Aku mendadak ragu. Tadi saja pesanku baru dibalas setelah menunggu 15 menit kemudian. Tak ada salahnya mencoba, pikirku. Sekali lagi kukirimkan pesan singkat sekadar memastikan ia tak sesibuk tadi.

“Belum mau tidur?”

Aku berharap ia membaca pesanku segera dan membalasnya langsung. Toh, apa yang ingin kubicarakan masih berkaitan tentang dirinya. Bukan obrolan iseng atau sekadar basa-basi ingin menggodanya.

Sudah 30 Menit berlalu dan aku masih berharap menunggu balasan. Kesabaran yang harus kusiasati dengan membaca novel May karya Sandi Firly. Kudengar, dia juga tinggal di Banjarbaru seperti halnya Randu Alamsyah.

Nama mereka berdua memang sudah sering kudengar, namun selama ini aku hanya mengenal mereka dari karyanya saja. Rencananya, aku akan menemui mereka, memperkenalkan diriku sekaligus mendengar cerita-cerita menarik tentang Banjarbaru. Aku yakin, dari cerita mereka banyak hal yang bisa kutuliskan nantinya.

Hampir satu jam, pesanku belum juga mendapatkan balasan. Kesibukan apakah yang bisa menyita perhatian perempuan itu sejak petang hingga dini hari? tanyaku dalam hati.

Meski penasaran, aku tidak terlalu memikirkannya. Hanya saja, ada perasaan kesal dan menyesal telah mengiriminya pesan. Bisakah tak harus membuatku menunggu terlalu lama? Aku merasa seperti lelaki tolol hanya gara-gara berharap bisa mengobrol dengannya. Pikiranku berkecamuk antara ingin menarik pesan itu atau membiarkan sampai ia membacanya.

Kuputuskan mematikan ponselku dan kembali kepada May. Sebuah novel yang akhirnya bisa menyedot perhatianku. Bagaimana tidak, karakter tokoh di dalam novel May sedikit banyaknya memiliki kemiripan dengan tokoh yang sedang kutulis. Sama-sama penulis novel dari Jakarta yang bepergian ke Kalimantan Selatan.

Bedanya, penulis novel di dalam May datang ke kota Banjarmasin tahun 1998, setahun setelah peristiwa kerusuhan Jumat Kelabu tahun 1997 yang menelan ratusan korban jiwa. Kin, nama tokoh itu sedang mencari inspirasi untuk novel barunya. Ia menginap di lantai dua sebuah kedai. Di kedai itulah tiap malamnya Kin bertemu sejumlah orang yang cerita hidupnya diceritakan oleh May. Peristiwa hidup mereka terkait dengan peristiwa 23 Mei 1997.

Satu-satunya alasan aku semangat membaca novel May adalah untuk menjawab rasa khawatirku. Aku tak ingin disebut plagiator dan jangan sampai cerita yang aku tulis sama persis dengan May. Konyol sekali jika aku melakukannya. Kubaca setiap baris kalimat, memberikan tanda dan catatan khusus sebagai rambu-rambu agar aku menciptakan jarak dengan karya Sandi Firly itu. Jika mungkin, aku harus melampauinya!

“Maaf baru balas. Aku ketiduran tadi malam.”

Balasan itu datang di pagi hari yang dingin ketika aku sudah berubah pikiran. Seharusnya aku tak perlu membalasnya. Bukankah ia hanya ingin memberitahuku alasan terlambat membalas?

“Semoga hari ini kamu sehat dan ceria,” balasku cepat tak peduli ia mengharapkannya atau tidak.

“Terimakasih.”

Balasan kali ini datang lebih cepat namun tak ada lagi yang perlu kukatakan, dan sepertinya tak ada pula yang ingin ia sampaikan. Aku segera berkemas, menyiapkan segala keperluan seharian ini. Kamera, buku catatan, laptop, semua masuk ke dalam ransel.

Jika ada yang bertanya kenapa aku betah menjadi seorang penulis? Jawabannya sederhana, karena aku suka berpetualang dan menginginkan kebebasan dalam bekerja. Kapan saja aku bisa pergi bersama Vespa kesayanganku.

Dari dulu aku memang mengidam-idamkan profesi seperti ini. Melakukan perjalanan jauh, mendatangi sebuah tempat, merekam sebanyak mungkin ingatan ke dalam catatan, dan bertemu dengan orang-orang baru. Nikmat mana lagi yang harus kudustakan ketika dimudahkan mencapai impian?

Di sinilah aku sekarang, di Kota kecil bernama Banjarbaru dan bertemu dengan perempuan itu. Seorang perempuan yang saat ini kutuliskan kisahnya meski tak tahu harus berakhir seperti apa.

Harus kuakui, inilah cara menulis novel terkonyol yang baru pertama kali kulakukan. Berjalan begitu saja tanpa perencanaan, tanpa bahan yang matang.

Biasanya, aku melakukan riset setidaknya tiga bulan terlebih dahulu. Tersebab alasan itu pula, Shinta sempat meragukan novel ini akan selesai tepat pada waktunya.

Tapi jika melihat sejauh ini, kurasa aku hanya perlu waktu satu bulan. Sempat kuyakinkan Shinta saat menertawakanku. Jika itu terjadi, artinya ada perubahan positif dalam diriku.

Dari simpang empat Banjarbaru, untuk menuju Tower Air artinya aku harus memutar balik persis di depan rumah makan Swarga. Sebuah rumah makan bersejarah di Banjarbaru yang konon sudah berdiri sejak Banjarbaru bertahun-tahun berstatus administratif.

Tak jauh dari rumah makan itu, terdapat rumah kosong yang juga bernilai sejarah. Seorang arsitek Belanda, Ir D A W Van der Pijl pernah tinggal di tempat itu. Dialah yang merancang Kota Banjarbaru. Namanya kini abadi menjadi nama sebuah taman, tempat Tower Air yang akan kudatangi.

Deg..!

Kulihat sekilas perempuan itu melintas mengendarai sepeda motor. Ia menyalipku. Caranya mengendarai cukup laju, seperti terburu-buru. Tanpa pikir panjang, aku memutuskan membuntutinya dari belakang.

Di dalam novel yang sedang kutulis, dia adalah tokoh utamaku. Bagaimana mungkin aku melewatkannya begitu saja? Setidaknya ada cerita yang bisa kuambil dengan menguntitnya diam-diam. Bukankah tadi malam aku juga diminta oleh gerombolan jin itu untuk menjadi penjaganya?

Siapa tahu, dia perlu bantuanku tiba-tiba? Aku mencari pembenaran sambil berhati-hati membuntuti perempuan itu dari belakang.
Ceroboh sekali, bathinku. Setiap kali menyalip, kuperhatikan ia hampir tak melihat kaca spion terlebih dulu. Bagaimana kalau ada kendaraan berbarengan melaju dari sebelah kanan? Aku menggelengkan kepala melihat caranya mengendarai.

Aku terbiasa memerhatikan hal-hal detil semacam itu. Sebagian orang mungkin menganggapnya sepele, tapi bagiku tidak ada hal besar di dunia ini tanpa dimulai dari hal yang kecil.

Seandainya ia tertabrak, spontan orang-orang akan mempermasalahkan siapa yang menabraknya. Pertanyaan itu bagiku hanya pelengkap peristiwa saja. Sudah terlambat, waktu tak bisa berdamai untuk diajak berjalan mundur.

Kenapa bisa terjadi, kelalaian apa yang terbiasa selama ini, itulah yang menurutku penting. Tanpa sadar aku seperti menemukan cara terbaik untuk menjaganya. Sesuatu yang sempat membuatku pusing malam tadi.

Aku terus mengikutinya ketika berbelok arah. Saat memasuki gang kecil dan berhenti di salah satu rumah, aku terpaksa hanya bisa mengawasinya dari kejauhan. Perempuan itu terlihat menyerahkan bungkusan plastik kecil kepada seseorang dan melanjutkan perjalanan kembali.

Beberapa kali kuperhatikan perempuan itu menerima panggilan di ponselnya sambil mengendarai. Ada kalanya ia berhenti berkali-kali untuk membalas pesan.

Satu hal yang membuatku tak habis pikir, perempuan itu masih sempat berfoto selfie dengan pose wajah imut. Ternyata itu pun tak cukup, ia masih merekam wajahnya saat mengendarai.

Aku tak tahu kepada siapa foto dan video itu ia kirimkan. Tapi yang jelas, siapa pun yang menerimanya, perempuan itu telah meluangkan waktu untuk berhenti mengendarai, dan mengambil resiko demi menyenangkan seseorang di seberang sana.

Aku membayangkan seandainya menjadi seseorang itu, maka aku akan melanjutkan berkirim pesan setelah ia menyelesaikan perjalanannya.
Bagaimanapun, keselamatannya lebih utama ketimbang harus menghadapkannya dengan resiko fatal hanya gara-gara membalas pesan yang kukirimkan sambil mengendarai.

Sungguh, aku seperti menemui sosok baru dalam diri perempuan itu. Perangai yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pribadi yang baru kuketahui setelah menguntitnya sejak tadi.

Aku segera menepikan Vespaku di tempat aman. Meski butut, jika hilang artinya aku pun juga akan banyak kehilangan masa laluku. Vespa itu telah berkali-kali kumodifikasi sesuai kebutuhan. Meski saat ini terlihat garang, namun suaranya kubuat melankolis. Aku tak suka suara knalpot yang memekakan telinga.

Setelah beberapa kali singgah menguntit perempuan itu, aku rasa kali ini perlu mengabadikannya dengan kamera DSLR. Sambil mengendap, aku mencari tempat ternyaman membidikkan kameraku ketika perempuan itu memasuki lokasi obyek wisata Menara Pandang.

Sebagai penulis novel, aku memiliki insting kuat bakal terjadi peristiwa menarik di tempat ini. Waktu masih menunjukkan jam 10 pagi, orang-orang pun masih sibuk dengan urusan masing-masing. Suasana di lokasi pun terlihat masih sepi. Ya, waktu dan tempat yang tepat untuk bertemu seseorang yang dirindukan, misalnya. Dugaanku tidak salah. Tak lama kemudian, kulihat sosok lelaki sedang menyusulnya dari belakang.

Aku mengabadikan semua pertemuan itu menggunakan lensa tele. Setiap kali membidik gambar mereka, aku seperti sedang menonton pilem drama percintaan tentang sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Sesekali mereka bercanda, saling cubit dan berpegangan tangan.

Bagi mereka, dua jam mungkin terasa singkat. Tapi bagiku, mengendap-endap di balik semak terasa begitu lama dan melelahkan. Aku sudah berganti pose berkali-kali. Kadang duduk dengan kaki bersila, selonjor, bahkan tiarap. Belum lagi menahan perih dan gatal di waktu bersamaan ketika kulit tanganku tergores ilalang.

Aku yakin Shinta pasti tertawa membaca bab ini. Ia pasti langsung membayangkan diriku seperti seorang serdadu sedang melakukan pengintaian.

Berhati-hati aku terus mengikuti mereka saat berjalan menyisiri tepian Sungai Kemuning sambil bergandengan tangan. Kuperhatikan sesekali perempuan itu merebahkan kepalanya di bahu lelaki itu. Sampai akhirnya mereka kembali dan memutuskan untuk berpisah mengendarai sepeda motor masing-masing.

Sudah terlanjur basah, aku pun terus mengikutinya. Tak berapa lama, perempuan itu berhenti di pinggir jalan untuk menerima panggilan telpon. Tampaknya ada sesuatu yang serius sedang ia bicarakan. Kukeluarkan kembali kameraku dan membidik ke arah wajahnya.

Jantungku sontak berdebar ketika mengetahui perempuan itu sedang menangis. Saat panggilan selesai, ia memerhatikan wajahnya di kaca spion, membersihkannya dengan tisu dan kembali melanjutkan perjalanan. Sekali lagi ia selfie dengan wajah tersenyum dan mengirimkan foto itu.

Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang apa yang kulihat selanjutnya. Pikiranku justru sedang berkecamuk. Tunas-tunas pertanyaan tumbuh di kepalaku ketika perempuan itu singgah di sebuah rumah makan untuk menemui seorang lelaki yang lain.

Siapakah dia? Meski dari balik lensa kameraku perempuan itu tak menunjukkan kemesraan seperti tadi, namun ia tak menolak ketika lelaki itu menggengam jemari tangannya di atas meja makan.

Aku tak bisa menjelaskan ekspresi wajah perempuan itu karena posisiku sedang tidak beruntung. Satu hal yang bisa kupastikan, perempuan itu sepertinya sedang menangis dan lelaki itu sedang mengusap derai-derai di wajahnya.

Kupertajam bidikan kameraku persis ke bagian wajah lelaki itu. Entah apa yang ia katakan, tapi tampaknya cukup serius. Ia lantas berdiri, mengambil duduk persis di samping wanita itu, membelakangiku.

Sebelum seorang pelayan perempuan datang mengantarkan pesanan, ia belai rambut si perempuan, lalu seperti yang sudah kulihat tadi, perempuan itu pun menyandarkan kepalanya di bahu si lelaki.

Aku segera menyelesaikan makananku saat mereka juga sedang makan. Sesekali kuperhatikan obrolan mereka pun sudah mulai mencair. Posisi mereka kini kembali berhadapan. Ingin sekali rasanya aku melihat rona wajah perempuan itu ketika si lelaki berusaha menyuapinya.

Tanpa sadar aku tersenyum sendiri menyaksikan sesuatu yang belum pernah kualami. Meski ada beberapa perempuan yang menaruh hati padaku, entah kenapa selalu saja aku memiliki banyak pertimbangan. Meski pun memiliki rasa yang sama, bagiku itu pun tidak menjadi keharusan untuk merajut sebuah hubungan. Akhirnya, sampai sekarang aku pun menyandang predikat jomblo akut.

Getar ponsel di atas meja membuyarkan lamunanku. Ada satu notifikasi pesan WA masuk. Setelah kubaca, aku langsung memandangi ke arah meja makan mereka yang sudah kosong. Aku menoleh ke kanan-kiri, mencari perempuan itu yang ternyata sudah siap di atas sepeda motor.

“Kalau tak sibuk, bisa temani aku ke tower air sekarang?” bunyi pesan perempuan itu.

“Ok. Aku segera ke sana,” balasku.

Akh, seandainya perempuan itu tahu, aku sudah menemaninya sejak pagi tadi hingga sekarang. Tunggu dulu, menemaninya atau menguntitnya? Aku ragu dengan tindakanku sendiri. Setidaknya, jika terjadi sesuatu dengannya tadi, bukankah ada aku yang siap membantunya? Lagi-lagi aku mencari pembenaran. Tapi benar, bukan?

Aku pun segera bersiap-siap dengan mengantongi pertanyaan besar. “Dua lelaki tadi, siapakah mereka dan kepada siapakah hatimu bersandar?” (bersambung…)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *