CERPEN ABDUL KARIM: KENAPA AKU MEMBAKAR KOTA INI

  • Whatsapp
Ilustrasi | rafii syihab

“Saya mau melibatkan kamu dalam masalah saya,” kata Rudy kepadaku beberapa hari setelah kami menemukan rumah baru. Lebih tepatnya, dua hari yang lalu. “Jika kamu tidak mau, jangan tanyakan siapa dan apa yang menyebabkan kota ini terbakar dan susah dipadamkan!”

AKU dan sejumlah teman, sekumpulan pemalas, termasuk Rudy, baru saja pindah rumah. Sudah beberapa kali kami pindah alamat. Aku dan teman-temanku sepakat menjadikan tempat tinggal kami sebagai perpustakaan. Saat itu Rudy belum bergabung dengan kami. Perpustakaan yang kami bangun bukan perpustakaan seperti pada umumnya. Kami menamainya Perpustakaan Masalah. Di dalam Perpustakaan Masalah tidak ada rak berisi buku atau waktu atau kekosongan. Para pustakawan—kami menyebutnya pusatlawan—tidak tahu cara memilih dan menyusun buku sesuai jenis atau nama penulisnya di rak. Aku sebagai penggagas utama Perpustakaan Masalah, juga tidak tahu bagaimana cara membaca buku tanpa terbalik. Kami sebagai pusatlawan, hanya tahu menyodorkan masalah kepada para pengunjung. Tetapi, kata Uttar, sahabat dekat Rudy, orang-orang di kota ini aneh. Mereka senang datang ke Perpustakaan Masalah. Sebagai penyedia masalah di Perpustakaan Masalah, dengan senang hati kami menyambut mereka.

Read More

Di Perpustakaan Masalah di alamat sebelumnya, Rudy tidak suka ikut bergabung dengan kami untuk berbincang tentang keanehan penduduk kota ini, atau tentang kegiatan lain di Perpustakaan Masalah, ia selalu mengurung diri di dalam kamar. Pintu kamarnya selalu tertutup. Kadang-kadang suaranya terdengar sayup-sayup memaki sambil diiringi bunyi sebuah benda dibenturkan ke dinding atau lantai. Aku kira benda itu jatuh tersenggol. Lama-lama aku merasa terganggu mendengar suara itu. Aku putuskan mengintipnya secara diam-diam.

Bunyi itu, ternyata bukan tanpa sengaja. Caci-maki yang dia lontarkan ternyata bukan kepada siapa-siapa, tetapi kepada ponsel miliknya. Dan, bunyi benturan itu adalah ponsel yang dia gunakan menelepon orang lain atau kekasihnya sendiri. Sekali waktu dia memaki dan membenturkan ponsel ke dinding atau ke lantai bukan setelah dia berekelahi di telepon, tapi karena ponselnya tidak berfungsi.

Sebelum aku mengajak Rudy bergabung di Perpustakaan Masalah, kata Irfan sahabat Rudy yang lain, dia memang sudah begitu. Rudy memang memiliki keanehan parah dan susah dimengerti. Pikirannya gampang sekali kacau dan tidak tahu oleh sebab apa. Jika ia sedang kacau, benda apa saja yang ada di dekatnya akan ia banting. Jika sedang mondar-mandir di dalam rumah, gelas kosong yang ada di lantai ia tendang. Beberapa tahun lalu ia sering keluyuran malam dengan motornya. Tidak ada satupun sahabat yang tinggal serumah dengannya tahu ke mana dia keluyuran. Sejak ia bergabung di Perpustakaan Masalah aku jadi berpikir bahwa orang semacam ini serba salah dan susah, rumit. Tinggal sendirian di dalam rumah biasa saja ia melukai dirinya sendiri. Tinggal serumah dengan sejumlah orang takutnya perkelahian akan sering dan mudah sekali terjadi, bahkan dengan sahabatnya sendiri.

“Pernah pada suatu hari,” kata Rudy kepadaku, “saya meninju dinding rumah sampai-sampai tangan saya bengkak.” Ketika aku tanya apa yang menyebabkan ia meninju dinding ia menjawab, “saya sedang kacau dan tidak tahu apa yang menyebabkan saya kacau.”

Salah satu masalah terbesar yang melilit Rudy, yang aku tahu dari ceritanya, adalah permintaan kedua orangtuanya. Aku tidak tahu apa permintaan kedua orangtuanya itu. Jika kedua orangtuanya meminta ia menyelesaikan kuliah dengan serius, tentu itu bukan masalah. Sebab aku tahu, bukan cuma orangtua Rudy yang punya permintaan semacam itu dan permintaan itu, wajar belaka.

Di sekitar teman-temannya, Rudy dikenal sebagai pemaki dan pengumpat sejati. Di mulut Rudy seolah ada kebun binatang yang menampung seluruh jenis binatang buas dan lucu di dunia. Tapi jelas, caci-maki itu bukan untuk seseorang atau siapa pun.

Kami nyaris gila dan tidak tahu harus berbuat apa. Ada satu masalah yang membuat kami tidak berani beranjak meninggalkan kamar. Masalah yang sebetulnya sederhana, tetapi rumit buat kami. Kau pasti menduga bahwa masalah yang kumaksud datang dari Rudy.

Sepulang dari tempatnya bekerja, Rudy menemuiku di kamar. Aku yang pemalas ini sedang membaca waktu yang belum diselesaikan dengan baik sambil berbaring. Saat itu, tubuhku terlalu nyaman dipeluk ranjang sehingga aku tidak terlalu peduli apa yang dikatakan Rudy. Aku tahu Rudy saat itu sedang mabuk. Kalimat terakhir yang aku dengar dari Rudy adalah Rima, nama kekasihnya. Aku tidak penasaran dan tidak ingin bertanya. Sejak hari itu Rudy sudah tidak bekerja. Dia mabuk sepanjang hari. Kadang-kadang ia menyanyi di dalam kamar yang tidak hendak membuka diri. Tertutup rapat. Sesekali ia berteriak, memaki, dan membenturkan ponselnya, apa saja, ke lantai. Tidak lama setelah itu ia tidur dan tidak bangun sampai besok pagi.

Esok harinya, ketika aku pulang dari pasar, aku lihat Rudy masih tidur di sofa merah tua kami. Aku pandangi wajah Rudy sambil menduga bahwa ia masih mabuk. Selama ia mabuk mungkin tidak ada sebutir nasi masuk ke dalam perut Rudy. Saat mandi aku baru ingat bahwa sudah tiga hari ini Rudy, selain tidak makan dan mandi, juga tidak beranjak dari sofa tua itu.

Waktu itu sore hari dan teman-temanku yang lain belum pulang. Hanya aku dan Rudy. Seusai mandi dan mengganti baju, perutku yang belum diisi apa-apa selain kopi sejak pagi terasa perih dan mendidih. Sebelumnya, di jalan pulang menuju rumah aku beli nasi bungkus di warung. Kuajak Rudy makan. Ia bangun, tapi ia menolak makan.

Hari Minggu, pekan kedua bulan Desember, aku kembali bermalas-malasan. Rudy masih dalam keadaan yang sama seperti hari sebelumnya. Dari kamar aku dengar ada suara perempuan entah siapa. Aku mengintip dari jendela, ternyata Rima, kekasih Rudy datang. Barangkali atas permintaan Rudy. Tiga puluh menit kemudian aku mendengar suara benda pecah. Aku tidak curiga dan masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur. Setelah suara pecahan benda itu, menyusul suara tangisan. Rudy memarahi Rima hingga menangis. Ia melarang Rima pulang, meski akhirnya Rima pulang beberapa menit kemudian. Sore hari, menjelang magrib, aku lihat di atas meja dekat jendela: kamera, laptop, dan ponsel milik Rudy hancur. Rudy sedang tidur dalam keadaan mabuk di sofa. Aku perhatikan ada yang berubah di wajah Rudy. Bengkak seperti baru ditinju seseorang entah siapa.

Malam harinya Rudy membuat seisi Perustakaan Masalah cemas. Ia mengerang dalam tidur. Bukan mengigau. Dia seperti susah bernapas. Tubuhnya yang terlipat segera aku angkat dan aku pindahkan ke sofa yang lebih panjang di sebelahnya. Dia masih mabuk, tidak makan, dan tidak bicara kepada siapa pun. Melihat keadaan itu kemalasanku kehilangan kenikmatannya.

Aku membuat janji dengan teman-temanku untuk bertemu dan minum kopi di warung langganan kami. Di warung kopi itu, dengan dorongan teman-teman, aku menghubungi keluarganya. Orang pertama yang aku hubungi adalah kakaknya. Aku berbohong bahwa Rudy sedang sakit, tidak makan, dan tidak mau bicara. Masalah yang dihadapi Rudy membuatnya tampak mengerikan. Aku khawatir ia akan bertindak bodoh. Aku ingin membantu Rudy dengan menyerahkannya pada waktu dan kenyataan.

 

***

 

Rudy adalah sahabat yang baik. Dia memberi tahuku bahwa Elya, kekasihku, selingkuh.

Aku bertemu Elya di Perpustakaan Masalah. Elya, seperti kebanyakan orang di kota ini, tidak suka membaca buku dan waktu juga berkunjung ke perpustakaan, tetapi senang datang ke Perpustakaan Masalah. Elya datang ke Perpustakaan Masalah adalah untuk tujuan berfoto bersama Lalyta sahabatnya. Aku memotret wajahnya. Beberapa hari setelah pertemuan itu aku meminta nomor telepon Elya kepada Arif, lalu menghubunginya. Seperti kebanyakan laki-laki saat mendekati perempuan, aku berbasa-basi. Aku tahu bahwa perempuan sebetulnya juga tahu apa maksud seorang laki-laki mendekati perempuan.

Lewat sambungan telepon aku dan Elya membangun hubungan. Aku pikir waktu itu hubungan kami serius. Kami sering menghabiskan waktu bersama-sama tanpa harus saling bertemu. Kami berbincang di telepon sampai berjam-jam, kadang-kadang sampai salah satu di antara kami ada yang terpejam.  Kami mulai bertukar cerita tentang kenangan masing-masing, yang lebih banyak bercerita perihal masa lalunya adalah Elya. Aku hanya diam. Elya tidak pernah protes terhadap sikapku. Terus terang, aku senang mendengar Elya bercerita semaunya. Kadang-kadang aku menganggap Elya adalah buku. Kali lain aku menganggapnya waktu.

Maret tahun lalu Elya ulang tahun. Tepat di hari ulang tahunnya itu  aku tidak memberi hadiah apa-apa. Hari kemiskinanku bertepatan dengan hari ulang tahun Elya. Hanya satu puisi yang jeleknya setengah mati aku tulis sebagai hadiah ulang tahun yang terlambat buat Elya. Hanya itu.

Suatu hari, satu acara di sebuah gedung kesenian, kebetulan Elya menjadi bagian dari panitia di acara itu. Aku, Rudy, dan sejumlah teman-temanku datang ke sana. Selama acara berlangsung aku tidak bertemu Elya, apalagi berbincang.  Aku tahu Elya sibuk, dan aku tidak mau mengganggu. Bohong jika aku mengatakan tidak mau menemuinya. Sumpah demi apa pun, aku ingin sekali berbincang dengan Elya. Tapi aku tidak cukup punya keberanian, bahkan sekadar untuk mengantarkan sebotol minuman dingin untuknya, aku tidak berani. Terus terang, saat menyadari ketololan semacam itu aku sungguh menyesal dan karenanya, aku mengutuk diri sendiri.

Rudy memergoki Pepeng sedang berbalas pesan dengan Elya. Aku tahu Pepeng lebih dulu kenal Elya ketimbang aku, dan aku tahu kelakuan Pepeng. Pepeng adalah politisi muda di sebuah partai dan ayahnya adalah salah satu dari tujuh pendiri partai tersebut. Saat itu aku sedang  merokok di lapangan parkir. Tiba-tiba Rudy menyeretku  ke tempat yang tidak terlalu riuh dan banyak orang.

“Pinjam ponselmu sebentar,” kata Rudy.

Aku tidak bertanya buat apa dia meminjam ponselku. Aku menyerahkannya begitu saja.

“Siapa nama panjang Elya,” katanya.

“Elyandra Ternera,” jawabku.

Dia mengambil ponsel itu dari tanganku dan mencari-cari nama dan foto profil Elya.

“Astaga!” Suara Rudy agak meninggi. Tentu saja aku terkejut dan curiga mendengarnya. Kalimat yang keluar dari mulut Rudy membuat tampangku terlihat dungu.

“Begini,” kata Rudy menjelaskan pelan-pelan kepadaku. “Sebagai sahabat, saya cuma mau mengatakan sesuatu yang harus saya katakan,” dia menatapku dengan rasa kasihan. “Kamu harus pertimbangkan lagi hubunganmu dengan Elya. Saya lihat Pepeng dan Elya saling berbalas pesan. Tanpa sepengetahuan Pepeng, saya mengintipnya dari belakang. Saat Pepeng mengetik dan mengirim pesan ke Elya saya berdiri tepat di belakang Pepeng. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas ada satu kalimat di pesan itu yang membuat saya kesal. Di pesan itu Elya bertanya apakah Pepeng datang ke acara ini naik mobil.”

 

***

 

Beberapa mantan pacar Elya tidak terima diputus cintanya. Salah satu di antara sekian banyak mantan pacarnya, masih rajin menghubunginya, meski sudah punya istri yang sedang hamil. Nur Aziz sering menelepon secara sembunyi-sembunyi. Kadang-kadang di dalam toilet. Sekali waktu di tempat kerja, di manapun, asalkan tidak di hadapan istrinya.

Elya selalu berusaha berlaku bijak dan tidak hendak menyinggung perasaan lelaki yang bukan siapa-siapa lagi dalam hidupnya itu. Elya sering mengingatkannya bahwa apa yang dilakukan Nur Aziz bisa saja jadi neraka, terutama jika istrinya mengetahui perbuatannya. Dan benar, istrinya curiga melihat tingkah aneh Nur Aziz. Setiap kali istrinya hendak meminjam ponsel miliknya, ia selalu menolak dan menghindar. Alasannya selalu bermacam-macam. Sejak hari itu ponselnya tidak pernah ia biarkan tergeletak begitu saja. Ponselnya selalu ia bawa ke mana-mana. Alasannya jelas: Nur Aziz tidak ingin istrinya mengetahui hubungan yang sedang ia bangun secara diam-diam dengan Elya.

Hari-hari masih bergulir seperti biasa. Nur Aziz masih diam-diam menghubungi Elya, dan kecurigaan istrinya makin tumbuh tambah besar. Ketika kecurigaannya hampir meledak, istrinya mulai berpikir bagaimana mengetahui keanehan Nur Aziz dan memecahkan kecurigaannya tanpa harus bertengkar.

Orang baik seperti istri Nur Aziz mudah saja menyelesaikan satu masalah. Ia hanya butuh waktu untuk sendiri dan berpikir jernih.

Tupai, yang dikenal pandai melompat, suatu hari niscaya akan terjengkang. Begitu pula yang terjadi pada Nur Aziz. Istrinya mengambil ponsel di atas lemari televisi. Nur Aziz lupa membawa ponsel saat keluar membeli rokok di warung depan rumahnya. Istrinya, tentu saja, tidak membiarkan kesempatan berlalu sia-sia. Nur Aziz lupa mengunci layar ponselnya. Mudah baginya menelusuri kecurigaan terhadap tingkah aneh Nur Aziz. Ia mencari aplikasi atau apa pun yang mencurigakan. Tapi jelas yang pertama kali ia buka adalah aplikasi pesan. Ia menemukan satu nama aneh di sana. Ia terkejut melihat isi pesan yang baru saja ia terima. Dari pesan terakhir hingga pesan pertama, ia bertanya-tanya, mengapa nama pemilik nomor telepon itu lelaki sementara isi pesan itu terkesan seperti percakapan antara laki-laki dan perempuan sedang jatuh cinta. Semakin pesan itu hampir habis ia baca semakin ia curiga.

Ia geram ketika tiba pada pesan pertama yang dikirim Nur Aziz dua minggu sebelumnya. Pesan yang hanya berisi empat huruf. Nama seorang perempuan. Nama yang sudah ia kenal sejak pertama kali ia bertemu Nur Aziz, meskipun Nur Aziz mengganti nama perempuan itu dengan nama lelaki. Cara lama yang tidak mampu melindunginya dari kemarahan istrinya. Ia berpikir sebentar sambil memandang ke jalanan depan rumah.

Derap langkah Nur Aziz terdengar sayup di kejauhan. Ia segera meletakkan kembali ponsel itu. Suara bersin Nur Aziz yang kadang-kadang menjijikkan di telinganya, kali ini membuatnya geram. Ia semakin geram dan hampir kehilangan kejernihan pikirannya. Tapi ia berusaha mengendalikan diri, agar tidak terlalu kentara bahwa ia mengetahui kebohongan Nur Aziz. Saat tiba di depan pintu, dan Nur Aziz bersiap masuk, ia berpura-pura sedang merapikan perkakas yang tidak terlalu banyak di lemari dan meja di ruang tamu yang tidak begitu luas. Sesekali ia melirik Nur Aziz memainkan ponsel sambil memikirkan kalimat apa yang harus ia ucapkan atau ia tanyakan.

Ia mulai bertanya perihal pekerjaan yang sebetulnya tidak perlu ia tanyakan lagi. Saat Nur Aziz masuk ke kamar dan mengganti baju, ia membuntutinya dan perlahan bertanya perihal sikap aneh Nur Aziz beberapa minggu belakangan. Kemudian, dengan perasaan penuh kelembutan yang dibuat-buat, ia bertanya tentang siapa lelaki yang sering berbalas pesan dengan Nur Aziz. Nur Aziz, tentu saja kau tahu, menjawab, hanya seorang rekan kerja.

“Biasa,” kata Nur Aziz. Ia tidak hendak kebohongan Nur Aziz terus berlanjut, akhirnya ia jelaskan apa yang mendorongya bertanya seperti itu. Nur Aziz marah dan membentaknya dengan alasan ia telah lancang menyentuh barang yang bukan miliknya.

“Sudah dibohongi, dibentak pula,” kata istrinya. Ia tidak terima, dan memuntahkan semua kemarahan dan kebohongan Nur Aziz. Ia berjanji akan menemui perempuan yang namanya telah diganti dengan nama seorang lelaki entah nama siapa yang dipinjam Nur Aziz untuk membohongi istri dan dirinya sendiri itu.

Bagaimana mungkin Nur Aziz tidak mengakui kebohongannya, nama Tony yang tertera di memori ponsel itu adalah nama mantan pacar Nur Aziz yang telah diganti untuk menutupi kebohongannya. Dan, ia mengenal betul perempuan itu bahkan jauh sebelum ia bertemu Nur Aziz.

 

***

 

Elya mengakhiri ceritanya dan ingin menutup telepon. Aku masih diam setelah mendengar ceritanya. Sebelum Elya menceritakan tentang Nur Aziz, beberapa jam sebelumya seorang temanku menelepon dan menceritakan bahwa ada seorang mahasiswi cantik, satu kampus dengan Elya, mengirim pesan bahwa ia dan temanku pernah berkencan. Sialnya, pesan itu sengaja dikirim ke istrinya. Padahal, menurut temanku, ia sama sekali tidak mengenal mahasiswi cantik itu. Apalagi berkencan.

“Tidak mungkin,” kata Elya, “seorang perempuan tiba-tiba menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi tanpa asal-usul yang jelas, pasti ada alasannya. Coba kamu pikir, mungkinkah seseorang yang tidak saling kenal bisa tiba-tiba menghubungi lewat pesan dan mengatakan bahwa dirinya pernah dikencani seorang lelaki. Sungguh patut dicurigai dan dicari asal-usulnya. Aku yakin pasti lelaki macam begitu, yang tidak merasa bersalah, adalah lelaki yang tidak bertanggung jawab.”

 

***

 

Masalah yang datang dari temanku dan kisah yang diceritakan Elya tentang Nur Aziz, aku masih tidak mengerti asal-usulnya. Jalan cerita ini juga tidak kutehui akan berakhir kapan dan di mana. Sungguh perkara sederhana, namun rumit sekali dimengerti. Aku memikirkan masalah ini berhari-hari. Setiap ada masalah yang belum selesai terlintas di benakku, aku teringat wajah merah Rudy ketika sedang kacau dan marah. Kekacauan dan kemarahan Rudy tidak berhulu dari apa pun dan tidak bermuara kepada siapa pun. Aku tidak tahu cara mencegah kemarahan Rudy. Aku juga tidak tahu bagaimana cara memperbaiki segala sesuatu jika Rudy benar-benar marah dan membuktikan kata-katanya. Ketakutan, kita tahu, bisa mendorong dan mencegah seseorang bertindak bodoh dan berbahaya.

Memikirkan masalah ini, termasuk Masalah—maksudku perpustakaan itu—benar-benar harus dilenyapkan keberadaannya dari kota ini. Agar masalah benar-benar berhenti datang, aku pikir, ada baiknya aku saja yang meneruskan kemarahan Rudy. Meskipun aku tahu melenyapkan Perpustakaan Masalah tidak benar-benar menghapus masalah lain di kota ini. Elya mungkin saja masih berbalas pesan dengan Pepeng. Mungkin saat ini Pepeng dan Elya sedang dalam mobil yang sama menuju sebuah hotel. Aku tahu Elya tidak mencintai Pepeng. Elya mendekati Pepeng karena Pepeng seorang politisi. Alasan Pepeng mendekati Elya, mungkin, agar bisa menemukan sesuatu yang lain di diri Elya.

Aku tidak peduli apakah para polisi tahu apa dan siapa yang menyebabkan kota ini terbakar. Saat ini aku sedang memikirkan bagaimana cara menyampaikan permintaan maafku pada Rudy bahwa aku telah lancang membuktikan kata-katanya. Aku melakukannya karena aku tidak ingin membunuh Pepeng atau membenci Elya dan membiarkan Rudy melakukan hal bodoh semacam itu.

Mungkin benar aku telah berhasil meneruskan kemarahan dan kebodohan Rudy dengan membakar kota ini, tapi aku tidak sanggup membuat apinya tidak berhenti menyala dan, tentu saja, gampang sekali dipadamkan seperti masalah yang menimpa Rudy.

 

Catatan:

Cerita ini berutang banyak pada cerpen Aan Mansyur, Saya yang Membakar Kota M Sekali Lagi

 

Banjarmasin, 2018

Abdul Karim
Latest posts by Abdul Karim (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *