CERPEN ABDUL KARIM: ORANG ANEH

  • Whatsapp
CERPEN ABDUL KARIM: ORANG ANEH
Ilustrasi | angela_smyth_artist

CERITA dari Negeri Benang pada Sekeping Papan untuk Ali Syamsudin Arsi

Read More

Segala sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang memang membosankan: bekerja, makan, tidur, mencuci pakaian, mandi, sikat gigi, dan seterusnya hingga suatu hari—secara tiba-tiba—Anda menemui kematian. Sebenarnya kalimat pertama dalam paragraf ini bisa diringkas, tidak mengakhirinya dengan kematian, dengan satu kata: Hidup. Ya, saya tahu itu adalah salah satu cara untuk membuktikan bahwa di suatu tempat kehidupan masih berlangsung. Yang lebih membosankan bagi saya adalah orang tua yang tetap membosankan seolah-olah alasan Tuhan menciptakan mereka, dengan kepribadian yang tidak menyenangkan, dan mengirim mereka ke dunia ini hanya untuk membikin orang lain jengkel terus menerus—baik dari cara mereka bergaul atau berpikir. Buang jauh-jauh harapan Anda jika Anda pikir orang seperti itu bisa dibelokkan pikirannya. Pikiran mereka sudah kepalang matang, mereka cuma menunggu waktu untuk ditendang dari muka bumi .

Saya mengenal banyak orang tua yang membosankan. Sebagian besar di antara mereka sudah lama mati. Sebagiannya lagi masih hidup, dan mereka bukan manusia. Saya bertemu satu orang tua yang tidak membosankan di sebuah hutan.

Begini ceritanya.

Leluhur kami menjalani kehidupan secara nomaden. Perilaku itu, bisa kami sadari, berlaku juga buat kami. Meski hidup berpindah-pindah, pada akhirnya kami tetap harus memilih satu tempat untuk menetap sampai kematian datang. Satu komunitas, yang garis silsilahnya terhubung ke saya, memilih Gunung Osom sebagai tempat terakhir untuk bermukim. Gunung Osom, menurut rumor dan cerita yang disampaikan langsung oleh seorang lelaki pengembara yang pernah berpapasan dengan saya di sungai Mahakam sewaktu saya masih senang mengerjai manusia, (dan kami bertemu kembali ketika ia memutuskan berhenti menjadi pengembara) adalah sebuah tempat yang dingin, tenang, dan tidak lekas menjadi pudar.

Saya memilih tetap mengembara dari pemukiman ke pemukiman; datang ke pemakaman demi pemakaman—baik orang yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal—;bertemu dengan koloni satu dan bercakap-cakap dengan koloni lain. Komunitas di Gunung Osom menemai diri mereka sebagai “Ot Dann”. Ini menarik sebab dari nama yang mereka pilih mirip dengan nama generasi kedua dari trah perintis sekaligus penjaga DAS Barito, dipimpin oleh seorang lelaki yang sebetulnya belum terlalu tua meski sudah terlambat disebut muda. Sewaktu kami bertemu untuk kedua kalinya, ia mengenakan jins panjang berwarna biru yang hampir pudar, baju kaos sebuah partai yang bolong di bagian ketiaknya, topi purun khas petani, dan cangklong dari pohon ramania. Amat jauh berbeda dengan pertemuan pertama kami: waktu itu ia mengenakan baju yang terbuat dari kulit pohon pungsi. Rambutnya gondrong, kumis dan jenggotnya tebal tak terawat. Saya tidak tahu bagaimana ia di waktu muda, tapi dari pertemuan kami, keduanya kebetulan belaka, saya tahu bahwa dia tidak termasuk ke dalam orangtua-yang-membosankan dan suka membual.

Dia suka bicara sendiri. Dia sedang tertawa sendiri di semak-semak ketika saya melintas di areal air terjun di sisi timur Gunung Osom.

“Perkenalkan,” katanya, mungkin ia terkejut saat menyadari kehadiran saya, “aku hanya seorang manusia sama seperti yang lain.”

“Terus?” kata saya. Pertemuan pertama kami memang belum sempat berkenalan. Jadi mungkin itulah alasan kenapa ia memperkenalkan dirinya sekarang. Ok baiklah.

“Sedang mencari bayang.”

Saya pikir orang ini aneh sekali, tapi kenapa saya jadi tertarik untuk mengamatinya. Ia melirik ke arah jam tiga. Sebuah lahan perkebunan yang lapang. Saya tidak tahu itu milik siapa, tetapi melihat mimik wajahnya yang menunjukkan rasa percaya diri dan kebanggaan tak tertahankan, saya membiarkan diri saya tidak bergerak sedikit pun dari tempat saya berdiri.

“Kulit kacang,” katanya.

Saya mengarahkan pandangan saya ke lahan perkebunan itu. Benda yang ia ucapkan barusan tidak ada di sana. Hanya ada batang-batang singkong yang tampaknya baru saja ditanam dan sejumlah pohon karamunting yang sedang berbuah.

“Tak perlu prasangka. Aku dan kau sama-sama datang dari kekosongan, hampa.”

Demi arwah penunggu sungai Osom, saya tidak pernah menebak isi pikirannya, alih-alih berprasangka buruk tentangnya. Anda yang berprasangka macam-macam terhadap saya, kata saya. Ia mengibaskan tangan di udara, mungkin ia sedang memikirkan sesuatu yang seolah-olah nyata, namun mustahil baginya sehingga ia merasa perlu mengibaskan tangan ke udara, lalu berkata, “Sayur bayam tiba pada sebuah tikungan, kulit pisang menghadap sebuah pilihan, paha ayam berdiri di sudut jurang.”

“Anda ini memang aneh, ya,” kata saya.

“Kecoa yang kita tangkap itu tiba-tiba tersenyum dan sekarangg badannya lebih besar dari yang kita kira.”

Anda salah orang. Saya tidak pernah ikut menangkap kecoa. Lagi pula, mana ada kecoa yang bisa tersenyum selain proyeksi Kafka dengan Gregor Samsa yang menyedihkan.

“Dasar kepala batu.”

Kenapa Anda mengata-ngatai saya. Aneh!

“Bunga-bunga bayang tumbuh sekejap saat hayalmu melambung ke awan-awan.”

Saya tidak sedang berhayal, orang tua aneh. Hayalan Anda yang kelewat tinggi. Ia berpaling dari hadapan saya, sementara saya duduk bersandar di pohon mahunei, meletakan butah di sebelah kiri, lalu mengambil sebungkus tembakau di dalamnya.

Ia berjongkok dan menyibak gerumbul semak dengan kedua tangannya sambil mengendus-endus sesuatu.

“Apakah ada orang kentut sambil bersetubuh di sini.”

Perangai orang ini betul-betul aneh. Sialnya saya menikmatinya. Saya melinting tembakau menggunakan daun nipah. Ia masih berjongkok menghadap gerumbul semak yang ia sibak tadi. Asap tembakau melayang-layang di udara. Orang tua itu menoleh ke arah saya, dan berkata: “Tak adakah harum bunga mawar sebagai tawaran.”

Saya menggeleng. Ia berdiri, membenarkan posisi topi purun, membuang sisa tembakau di dalam cangklongnya, lalu berjalan meninggalkan saya sendirian.

Dalam langkahnya yang tidak terlalu lambat, tidak juga terlalu cepat, saya mendengar ia membicarakan sesuatu yang tidak saya pahami, tapi masih bisa saya hayati. Saya mengambil arang, tidak jauh dari tempat saya duduk, melepaskan kain merah yang menjadi ikat kepala saya, dan mulai mencatat segala yang saya dengar dari orang tua yang aneh itu. Mungkin suatu saat nanti ada gunanya, pikir saya.

Telah kulepaskan hatiku dari tubuh dan kutempelkan dengan cara memakunya di sekeping papan pemberianmu. Aku tinggalkan hatiku di sana.

Abdul Karim
Latest posts by Abdul Karim (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *