CERPEN AMIDIA AMANZA: MENCARI KEMATIAN

  • Whatsapp
CERPEN AMIDIA AMANZA: MENCARI KEMATIAN
Ilustrasi | pariscollagecollective

SATU HAL yang kuinginkan saat ini adalah kematian. Aku sudah muak dengan segala kehidupan dunia, kematian yang kuharapkan dapat memberi kehidupan yang lebih baik. Aneh memang, di saat semua ingin kekal abadi, aku berusaha dan selalu berdoa semoga saja Tuhan segera memperpendek kehidupanku di dunia yang penuh ketidakadilan ini.

Aku telah lelah berjalan, aku juga lelah bernafas, dan yang lebih penting aku telah lelah hidup. Aku selalu menunggu datangnya kematian menghampiriku secara perlahan, tapi sepertinya kematian itu sendiri telah enggan untuk mendekatiku. Aku coba mencari kematian, satu hal yang aku dapati keniscayaan.

Read More

Pernah di suatu waktu saat pencarianku akan kematian. Aku menyadari bahwa banyak manusia tersenyum, tertawa, bersenda gurau, dan bahkan menangis. Tetapi jarang yang ingat akan waktu datangnya kematian yang bisa merenggut semua itu dari mereka. Aku juga berpikir bahwa kesendirian dapat mendekatkanku pada kematian, salah besar yang kupikirkan itu. Bukan kematian yang aku dapatkan, malah kesengsaraan yang menggerogotiku.

Banyak yang telah aku lakukan agar Tuhan dapat berbaik hati segera memberiku kematian yang telah lama kudambakan. Aku berusaha untuk hidup dalam kemiskinan, tak jua kematian segera datang lalu menyapaku. Dalam kemiskinan satu hal yang aku rasakan, aku merasakan ketidakberdayaan. Aku mencoba cara sebaliknya, tujuan hidupku hanya mencari harta sebanyak mungkin yang aku bisa. Bukan kematian yang aku dapati dalam kekayaan, tak lain hanya keserakahan yang semakin hari semakin mendarah daging ditubuhku.

Lantas, suatu hari aku hidup dalam kekuasaan yang berada dalam genggaman tanganku. Sekali lagi, aku hanya mendapatkan sifat semena-mena yang akan menjauhkanku dari kematian. Tuhan tak jua terayu akan rayuan mautku itu, ia tak kunjung merestui kematian agar segera bersanding denganku.

“Berapa lama lagi kau akan menghukum diri ini dalam keabadian wahai pemilik semesta?” tanyaku dalam perenungan yang telah putus asa. “Aku sudah tak sanggup menjalani kehidupan dalam dunia yang semakin lama semakin tak masuk akal ini” keluhku kepada pemilik keabadian. Semakin aku terhanyut akan segala bentuk yang berhubungan dengan duniawi, semakin aku ingin segera meninggalkan tempat perlombaan ini.

Aku percaya jiwa yang kekal akan mengundang segala bentuk penderitaan. Segala yang aku sayangi lambat laun telah pergi kembali ke asal bentuk semula. Hal itu hanya menyisakan penderitaan yang silih berganti terhadap jiwaku yang kekal dan lemah ini. Aku selalu bertanya takdir seperti apa yang aku miliki ini? Apakah banyak manusia memiliki takdir sepertiku atau hanya diriku seorang yang begini. Aku berusaha untuk selalu menolong manusia lain yang sedang berada dalam tahap kesusahan. Lalu aku berharap dalam hati agar kematian segera datang menjemput manusia yang baik ini. Seperti biasanya, ia juga tak kunjung datang dan hanya memberiku sifat kesombongan dalam hati. Sering aku mendengar bahwa manusia baik akan cepat mati, sepertinya tidak sepenuhnya benar. Karena takdir kematiannya saja yang begitu dekat sehingga ia cepat berlalu.

 

***

 

Dalam perjalananku mencari kematian, aku bertemu seorang pemabuk yang tengah berjalan dengan terhuyung dan berpegang pada benda apa pun di sekitarnya. “Wahai manusia muda!” panggilku setengah berteriak. Pemuda itu hanya mengucek matanya dan melihat ke arah yang masih bisa di jangkau olehnya. “Aku ada di sini” seruku kembali agar ia melihat ke arahku berdiri. “Aku tidak ingin memberimu air ini jika kau bermaksud memintanya dariku!” ia berbicara sambil memeluk erat botol minumannya. “Aku tidak menginginkan air yang kau minum itu, aku hanya ingin bertanya suatu hal kepadamu” penjelasanku kepada pemuda itu. “Syukurlah” jawabnya sambil kembali meneguk air kedamaian itu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya, lalu aku bertanya” sampai kapan kau akan tetap berlari dengan cara memabukkan dirimu?”. “Sampai ragaku tak lagi menerima segala hal yang membuatku mabuk” jawabnya dengan santai. Aku hanya mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan pemuda itu yang mulai mencari tempat untuk merebahkan tubuhnya.

Andaikan pemuda yang aku temui tadi tahu bagaimana diriku dahulu melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan. Maka ia tidak akan mengindahkan diriku, ia akan langsung berkata “Mengapa tak kau tanyakan saja pertanyaan itu kepada dirimu sendiri”. Sungguh membuatku iri akan jawaban yang pemuda itu lontarkan. Walaupun tak mengatakan bahwa kematian yang akan memberhentikannya mabuk, tetapi aku seolah paham akan apa yang ia maksud. Aku semakin menginginkan kematian datang kepadaku bak angin yang berembus.

Aku tak tahu butuh waktu berapa lama lagi hingga menemukan kematian. Aku tak pernah memimpikan harus dengan cara seperti apa untuk menemui kematian, yang kuinginkan hanya segera mengalami kematian yang diberikan kepadaku. Aku juga tak tahu apakah kematian itu yang akan datang kepadaku, lalu membawaku pergi bersamanya. Semoga saja demikian, karena aku juga sudah tak sabar ingin segera memberinya sumpah serapahku.

Terkadang aku membayangkan kematian,  mungkin saja kematian itu adalah makhluk yang bernyawa dan mempunyai rupa. Kematian datang kepada makhluk yang mempunyai nyawa dengan wajah sesuai dengan apa yang ia lakukan di atas dunia. Lalu, kematian mengubah dirinya menjadi bentuk udara dan terhirup oleh alat pernapasan, dan beruntunglah makhluk itu karena kehidupannya akan segera direnggut paksa oleh kematian. Tetapi aku akan senang hati memberikan kehidupanku kepada kematian, dan menyuruhnya segera menghabisi kehidupanku ini. Tentunya, setelah diriku mencaci maki kematian itu, karena lupa menemuiku lebih cepat.

Andai saja, aku mempunyai semacam panduan untuk menemui kematian, aku pastikan untuk mencarinya sampai ke depan pintu. Aku berharap ada manusia yang akan aku temui yang pernah berjumpa dengan kematian, lalu aku akan menanyakan di mana aku bisa menemuinya. Manusia lain akan menganggapku kehilangan akal, jika aku menanyakan hal demikian secara langsung kepada mereka. Aku harus berhati-hati dalam melangkah, agar kematian tidak mengetahui bahwa aku telah lama mengincarnya. Aku benci memikirkan bahwa kematian sedang bermain-main denganku dan membiarkan aku sengsara di dunia ini. Andai kata itu benar, maka aku tak akan segan untuk memberi bogem mentah kepadanya, karena telah berani mempermainkanku.

“Dasar kematian terkutuk, aku bisa kehabisan tiket surga kalau hidup terlalu lama!” aku berteriak memaki kematian yang kurang ajar itu. Aku sangat menyesali waktuku yang terbuang sia-sia karena kematian, aku bisa memakai waktuku yang berharga itu untuk menerima siksaan di neraka sebelum aku dilemparkan ke dalam surga. Tubuhku menggigil jika siksaan neraka yang kejam itu terlintas di benakku yang penuh dosa ini. Bukannya aku tak ingin menggunakan waktu untuk selalu berbuat baik setiap hari di dunia ini, hanya saja aku takut Tuhan akan membenciku karena terlalu merayunya.

Aku telah sampai di puncak gunung yang cukup tinggi dan memutuskan berhenti mencari kematian yang tak berbudi pekerti itu. Aku telah lelah berjalan dan sekarang aku akan berdiam diri di tempat ini. Barangkali aku akan bertemu dengan kematian yang sedang tersesat mencari alamat korban incarannya. Dan tidak menutup kemungkinan kematian akan menemuiku terlebih dahulu di sini. Ketika melihat ada yang sedang sekarat ingin diriku menggantikan posisinya, hanya saja itu akan mengurangi kenikmatan yang diberikan oleh kematian.

Dalam setiap perenungan yang aku lakukan terselip rasa ingin mengakhiri kehidupan dengan caraku sendiri. Namun, aku tak ingin mengambil jatah kerja yang seharusnya dilakukan oleh kematian pada makhluk yang bernyawa. Aku juga takut Tuhan akan menjadikan diriku kayu bakar neraka dan kekal dalam siksaan. Aku berharap pencarianku berakhir di tempat ini, di ketinggian yang mendekati langit sehingga lebih cepat untuk sampai ke dunia selanjutnya. Dalam keadaan seperti ini aku masih memikirkan pekerjaan yang dapat meringankan beban sang kematian. “Kematian bedebah!” umpatku di dalam hati.

Amidia Amanza
Latest posts by Amidia Amanza (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *