CERPEN BAGUS SULISTIO: SESUATU YANG MERASUKI TUBUH

  • Whatsapp
CERPEN BAGUS SULISTIO; SESUATU YANG MERASUKI TUBUH
Instagram | martinafroncone_

PERNAHKAH kau bercermin? Apa yang kau lihat di balik cermin itu? Ada dirimu? Iya, jika kau mengira itu dirimu, tentu kau tidak salah. Tapi ada jawaban yang lebih tepat daripada itu. Yaitu, ada aku di dalam cermin itu. Pasti kau bertanya-tanya mengapa bisa begitu?

Baiklah akan kujelaskan secara rinci.

Read More

Aku adalah dirimu. Dirimu adalah aku. Apa yang kau lakukan sekarang, lampau bahkan yang akan datang adalah kehendakku. Mungkin ini terlalu sulit untukmu yang baru saja bercermin. Tapi ini bukan perkara yang sulit, hanya saja kau harus lebih bisa bersyukur dan menatap cermin lebih lama. Sambil berpikir perihal aku, kau dan sebuah cermin. Jika kau tidak mau berpikir perihal itu, pertanyaan tentang hakikat dirimu tentu akan menjadi sesuatu yang misterius. Kau hidup namun tidak hidup dengan sejati.

Apakah sampai saat ini kau belum memahaminya? Nampaknya aku harus menceritakannya lebih detail. Agar kau paham dan mengerti tentang dirimu sendiri lalu tentang diriku yang kau lihat melalui cermin itu.

Baiklah, cerita ini kita mulai dari sebelum kau terlahir di dunia.

Saat kau masih sangat hina, dengan bentukmu yang begitu lemah; berupa setetes lendir putih yang menjijikkan, kau tidak bisa apa-apa. Maka di tengah kelemahan itu, aku datang menolongmu. Membantumu masuk ke dalam sebuah rongga yang aman lagi nyaman. Kau dilindungi dalam bangunan kokoh; terhindar dari bahaya yang mengancammu.

Saat kau mulai melihat dunia, aku merasuk ke tubuh sepasang kekasih yang kau panggil ayah dan ibu. Dari raganya aku berbuat baik kepadamu.

Ketika aku merasuk ke tubuh seorang wanita yang kau panggil ibu, dari dadaku, kukeluarkan air yang mengobati rasa dahaga dan laparmu. Kau begitu senang dan menikmati air pemberianku. Setiap pagi hingga pagi kembali, kau akan merengek jika air yang keluar dari dadaku tak kunjung kuberikan. Tapi aku dengan sabar dan tabah selalu memberi air itu tanpa pamrih. Andai sifatku selayaknya iblis, aku akan mengubah air yang keluar dari dadaku menjadi air racun. Kau akan mati dengan sekejap. Dan kau takkan melanjutkan kehidupanmu kelak.

Selain air yang keluar dari dadaku, aku mempunyai tangan yang lembut. Tangan yang selalu mengelus badanmu yang mungil. Dan dari tangan itu aku berikan dirimu kehangatan serta rasa aman. Tanganku yang lembut bisa saja berubah menjadi baja keras yang siap menghantam tubuh lemahmu. Tapi itu semua takkan kulakukan karena aku baik kepadamu.

Walaupun aku merasuk ke seseorang perempuan, aku juga merasuk ke tubuh seorang laki-laki, ayahmu. Dari tubuhnya aku rela membakar tubuh ini di bawah terik matahari. Peluh-peluh mengucur deras tatkala siang. Saat sore peluh itu kering kembali. Namun saat malam hari peluh yang sudah mengirim berubah menjadi penyakit yang berbentuk angin. Terkadang olehnya badanku merasa sakit dan tidak karuan. Akan tetapi dengan kondisi seperti itu, aku tidak berhenti melakukan aktivitas. Aku terus melakukannya hari demi hari. Semua itu aku lakukan demi sesuap nasi yang sering kau buang sia-sia. Tapi sungguh tidak ada rasa dendam ketika kau membuang nasi itu tanpa rasa bersalah.

Selain itu, aku, yang merasuk tubuh ayahmu, juga mencarikan uang untukumu. Dengan uang itu kau dapat merasakan apa yang kau inginkan, terutama sekolah. Tanpa sekolah kau bukanlah manusia yang utuh. Lebih tepatnya, tanpa ilmu kau bukanlah manusia. Ilmu yang membedakan kau dengan makhluk lain. Dengan uang yang kucari untuk menyekolahkanmu, kemudian ilmu yang kau cari di sekolahan, jadilah kau manusia yang mandiri.

Tapi sebenarnya kau tetap manusia yang membutuhkanku. Kau tidak akan bisa mandiri. Mungkin, setelah kau tidak membutuhkanku di raga yang kau sebut ayah dan ibu, aku akan merasuk ke tubuh kekasihmu. Aku akan membantumu menemani hari-hari yang melelahkan. Membantu anakmu menjaga hari tuamu kelak.

Mungkin kau pikir semua itu adalah sesuatu yang hebat. Tapi, aku belum menyebutkan semuanya.

Tatkala senja sore mulai menyinari raga kita yang sama-sama tua dan rapuh, kau mengira aku tidak akan membantumu lagi.

Tapi nyatanya aku tetap membantumu. Aku berpindah lalu membelah diri masuk ke dalam raga anak-anakmu, tetanggamu dan orang sekitar yang berada di dekatmu. Di masing-masing tubuh itu aku berusaha membantumu secara maksimal. Melayani keinginan dan egomu yang sulit dimengerti oleh orang lain yang tidak dirasuki oleh diriku.

Dan tahukah kamu? Ketika kau mulai berada di titik terlemah dalam hidup di dunia, lalu nyawamu perlahan memisah dengan ragamu, aku tetap mengasihimu dengan baik. Menemani rohmu yang sudah tak bertubuh ke tempat yang lebih nyaman. Selain itu, aku juga akan merasuki raga-raga yang orang yang dekat denganmu, aku dan raganya merawat tubumu yang tak bernyawa lagi. Mulai dari memandikanmu, mengafanimu, menyolatkanmu bahkan menguburmu agar jasadmu tidak dimakan makhluk-makhluk yang lain.

Setelah kau terpisah dengan jasadmu yang lemah, kau harus bersiap menemui Tuhanmu secara tatap muka. Di saat itu, aku masih tetap membantumu mempersiapkan diri bertemu dengan-Nya.

Kau tahu, bertemu Tuhan adalah perkara yang suci. Aku harus mensucikanmu dengan kepedihan-kepedihan kubur. Atau mensucikanmu dengan air mendidih di neraka. Sehingga dosa dan segala yang buruk luntur ketika menghadap Tuhanmu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *