CERPEN DEWI ALFIANTI: ACIL KATUY

  • Whatsapp
CERPEN DEWI ALFIANTI: ACIL KATUY
Instagram | marcosguinoza

Acil Katuy akhirnya pergi meninggalkan kampung ini. Informasi itu langsung dipancarkan oleh adik iparnya sendiri, Acil Leha. Berkat cerita yang rutin dilisankan Acil Leha di beberapa waktu senggang kepada para acil di kampung ini, maka dengan mudah orang sekampung bisa menebak kemana Acil Katuy pergi.

Acil Katuy sendiri tak ambil pusing saat tahu bahwa penggalan cerita hidupnya –seandainya dia tahu, mungkin saja seluruh episode kehidupannya- disebarluaskan Leha, iparnya kepada para acil di kampungnya. Bergosip antar acil di kampungnya ini sudah lumrah adanya. Toh, ia juga tak kurang banyak menceritakan kehidupan iparnya itu, yang baik maupun aib. Di kampung ini, sedikit sekali hal yang bisa dirahasiakan, dan tak ada yang bisa disalahkan atas bocornya rahasia-rahasia dalam rumah tangga selain keluarga terdekat.

Read More

Dan, alhasil, duduk-duduk para acil di kampung ini, tak lain adalah sebuah ritual mengurai cerita hidup para penduduk kampung, lelaki, perempuan, anak kecil, orang dewasa, bahkan manusia tua renta. Semua bisa jadi topik, sepanjang menarik. Dahulu acara duduk-duduk diselingi kegiatan mencari kutu di rambut teman bercerita, sekarang cari-mencari kutu bisa diganti dengan memakan rujak atau sekadar duduk saja. Ini kampung tuha, aib atau berita baik tak mudah disembunyikan, penduduk kampung ini berwatak komunal. Suka dan duka musti dibagi.

Maka, akhirnya para acil itu tahu –bahkan sejak lama- bahwa Acil Katuy memiliki seteru abadi. Musuh bebuyutan. Orang itu adalah Amang Ikas, yang tak lain tak bukan adalah tetangganya sendiri. Akar masalahnya pun sangat klasik, merupakan masalah yang umum dialami dua orang yang bertetangga, yakni masalah klaim mengklaim batas tanah. Padahal, dua-duanya justru tak punya bukti yang sangat kuat, keduanya hanya berpegang pada titah warisan dari orang tua masing-masing ditambah segel tanah yang telah berusia renta, selebihnya tak ada. Hingga perseteruan itu berlarut-larut, menularkan kebencian kepada para penghuni kedua buah rumah.

Acil Katuy telah sukses menularkannya pada almarhum suaminya, meski boleh dibilang gagal mempengaruhi  anak-anaknya disebabkan anak-anaknya tergolong manusia yang lumayan cerdas dan tak mudah terprovokasi. Pendidikan yang tinggi yang ia diberikan kepada anak-anaknya membuat mereka menjadi lebih rasional, dan itu membuat Acil katuy cukup menyesali kenapa menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi jika tak menjadi pendukungnya di kemudian hari.

Kebencian juga telah disebarkan Amang Ikas kepada penghuni rumahnya. Istri Amang Ikas adalah lawan adu mulut paling sengit yang harus dihadapi Acil Katuy. Adu mulut itu bisa disebabkan oleh apa saja, berpangkal dari kebencian mendalam di kedua belah pihak. Sampah rumah tangga yang hanyut dari rumah Acil Katuy ke rumah Amang Ikas bisa menjadi tema adu mulut, atau masalah ayam Amang Ikas yang sering dengan acuhnya menerobos halaman dapur Acil Katuy juga pernah jadi pangkal keributan. Pernah juga mereka ribut masalah parkir motor teman anak-anak Acil Katuy, yang parkir di halaman rumah Amang Ikas. Apa saja bisa jadi awal adu mulut. Amang Ikas tak punya anak, maka, jika saudara-saudaranya datang, merekalah yang akan dihasut Amang Ikas.

Perseteruan dua tetangga itu sudah sejak lama menjadi pengetahuan bersama orang-orang di kampung Acil Katuy. Penduduk kampungpun terpecah menjadi dua kelompok dalam menyikapi hal ini. Mereka memang tidak saling berperang seperti Acil Katuy dan Amang Ikas, namun, mereka adalah para pencaci ulung terhadap lawan seteru dari pihak yang mereka bela.

Maka kepergian Acil Katuy kali inipun ditanggapi beragam. Ada yang menganggapnya teguh pendirian dan konsisten dengan sikap permusuhannya, ada yang menganggapnya tidak tahu diri, ada pula yang menganggapnya konyol. Yang lebih netral tak mau berpendapat, pembelaan atau cemoohan itu cukup dalam hati saja.

Lalu, mengapa Acil Katuy meninggalkan kampung ini, boleh kita simak penuturan Acil Leha berikut,

“Katuy, ipar saya itu, biar mulutnya pedas dan sering menyakitkan telinga. Tapi saya tahu persis, dia sangat sayang pada Fikri, cucunya. Cucu satu-satunya. Itu, anaknya Maskunah, anak perempuannya yang sulung. Kita semua kan tahu, kenapa Katuy memaksa Maskunah dan Bakhtiar, suaminya untuk tetap tinggal di rumahnya. Karena Katuy itu tak mau berpisah dari Fikri. Rumah itu memang cukup besar, tapi kalo ditinggali banyak orang kan akhirnya runyam juga. Suami saya yang dulu sering mengajak saya menginap di sana, semenjak Kunah menikah, jarang sekali mengajak lagi. Padahal kan itu rumah warisan juga. Yah, meski suami juga dapat tanah warisan, tetap saja jadinya kami harus membangun rumah lagi. Kalau Katuy, enak dia, tinggal meninggali rumah yang sudah berdiri. Dari dulu, Katuy memang anak kesayangan mertua saya. Suami saya, yang pengangguran kan memang tak begitu disukai. Padahal jika menurut hukum waris, suami saya paling berhak atas rumah. Meskipun tanah suami paling banyak, tapi rumah itu kan harusnya juga…

“Aduh, maaf. Bukan bermaksud menyimpang dari cerita. Nah, kita kembali ke Fikri. Pokoknya semuanya serba diatur Katuy jika terkait perihal Fikri. Maskunah itu kan makan sekolahan, banyak hal yang tak cocok antara dia dan ibunya tentang bagaimana membesarkan Fikri. Pernah Katuy dan Kunah ribut masalah memberi makan pada Fikri, menurut Kunah Fikri harus mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa makanan lain. Katuy berang, mana mungkin cucunya selama 6 bulan tak makan apapun. Tapi pertengkaran itu dimenangkan Kunah, karena biar bagaimanapun Kunah kan ibunya. Tapi, saya tahu saja, kalo Kunah sedang bekerja, si Fikri itu dikasih makan pisang oleh Katuy. Kadang bubur saring. Padahal saat itu umur Fikri baru 3 bulan.

“Pernah juga mereka bertengkar tentang gelang hitam yang dipaksakan Katuy untuk dipakaikan pada Fikri. Katuy yakin gelang itu bisa menjaga Fikri dari gangguan jin dan para dedemit. Kunah terang-terangan menolak gelang itu. Katuy baru melepaskan gelang itu, dengan omelan tentu saja, saat Kunah mengancam akan pindah rumah jika gelang itu tetap dipakaikan pada Fikri.

“Lalu datanglah masalah itu. Seminggu yang lalu, Fikri terkena guam. Kasihan dia. Anak itu menjadi rewel, tak gencar menyusu karena rasa tak enak pada lidahnya. Permukaan lidahnya menjadi putih. Katuy tentunya panik saat mengetahui cucu kesayangannya itu terkena guam. Dan berdasar pengetahuan yang dimilikinya, guam itu tak bisa disembuhkan kecuali hanya dengan satu cara. Lidah cucunya harus diusap oleh sesorang yang pernah melihat buaya putih. Celakanya, satu-satunya yang pernah melihat buaya putih di kampungnya adalah Amang Ikas, tetangga sekaligus musuh bebuyutannya. Membayangkan tangan Amang Ikas menyentuh lidah cucunya membuat perut Katuy mual dan tegang. Tidak, Katuy tidak akan membiarkan tangan kotor itu menyentuh lidah cucunya. Tentu saja Katuy berpikir keras, pasti ada cara lain.

“Maskunah sendiri sebagai ibunya Fikri, memiliki pemikiran yang jauh berbeda dari Katuy. Guam itu biasa terjadi pada bayi. Dia pernah bertutur padaku, sepengetahuannya, guam disebabkan ampas atau residu susu yang lengket dan menempel di lidah bayi. Menghilangkannya sederhana saja, lidah Fikri dibersihkan dengan air hangat dan pembersih kuman yang aman. Setelah itu, guam akan hilang dengan sendirinya. Tapi, ketika Kunah menyampaikan hal itu pada ibunya, suara Kunah seperti siaran radio yang tak tepat frekuensi. Tak sedikitpun masuk ke telinganya katuy. Pikiran Katuy begitu penuh, penuh dengan rencana-rencana menghilangkan guam di lidah cucunya tanpa harus membiarkan tangan Amang Ikas yang menurutnya menjijikkan itu masuk ke mulut cucunya.

“Setelah perkara ini diketahui para acil di kampung lewat majelis duduk-duduk sore, beragamlah pendapat yang masuk pada Katuy. Ada yang membujuk Katuy agar meminta tolong saja pada Amang Ikas untuk menyembuhkan guam cucunya. Ada juga yang mengusulkan meminta Amang Ikas melalui perantara jika Katuy enggan berbicara dengan Amang Ikas, kalau perlu Amang Ikasnya diberi imbalan yang besar. Tapi, ada juga yang mengusulkan Katuy pergi ke kampung lain saja di Banua Anam mencari orang lain yang pernah melihat buaya putih. Konon, di sebuah kampung yang letaknya ratusan kilometer dari kampung ini, ada yang juga pernah melihat buaya putih.

“Perkara guam ini membuat iparku itu tak nyenyak tidur. Kalau menurut saya, sungguh ironis, solusi dari masalah cucunya ada di samping rumahnya. Tapi, sedikit pun tak tergerak tubuhnya untuk menemui Amang Ikas. Dendam itu benar-benar kesumat. Dan keputusan dapat diketahui beberapa hari yang lalu. Suami saya yang bercerita, Katuy akan pergi ke Banua Anam menemui orang lain yang juga pernah melihat buaya putih. Demi sebuah harga diri, pergi jauh pun tak mengapa. Katuy tak tahan jika membayangkan mulut cucunya akan dipenuhi tangan musuhnya.

“Maka Katuy pun pergi. Ini sudah hari keempat. Kabar yang masuk melalui sms ke telepon genggam Kunah, dua hari lagi Katuy akan pulang membawa seseorang yang pernah melihat buaya putih. Hanya saja, ia tidak tahu, Fikri tak lagi terkena guam. Warna lidahnya telah berangsur normal, Kunah telah membersihkan lidah anaknya itu, di hari Katuy pergi.”

 

 

 

Acil : Panggilan umum kepada perempuan setengah baya/ sudah menikah; juga berarti panggilan kepada saudara perempuan ayah/ ibu (bahasa Banjar)

Amang : Panggilan umum kepada lelaki setengah baya/ sudah menikah

Guam : lidah bayi yang permukaannya menjadi putih karena residu susu yang terlalu banyak menempel di lidah karena tidak pernah dibersihkan. Namun, sebagian masyarakat awam menganggap penyebab guam adalah karena panas dalam.

 

 

 

Baca rubrik Sastra & Budaya lainnya atau Kirim Tulisan ke Banaranmedia.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *