CERPEN M.Z BILLAL: AKU INGIN MEMILIKI BANYAK NAMA

  • Whatsapp
Cerpen M.Z Billal Aku Ingin Memiliki Banyak Nama
Ilustrasi: © Camilla Perkins for Mosaic. mosaicscience.com

“Aku ingin memiliki banyak nama. Seperti James, Nathan, Gilang, atau yang lainnya,” kataku pelan

Ia tak membalas ucapanku. Pandangannya terus terpaku kepada rona jingga di kaki langit Barat. Namun kemudian ia menoleh kepadaku yang duduk bersama Sang Penjaga Waktu milik Mitch Albom pemberiannya di atas ranjang berkaki roda.

Read More

“Kau boleh mulai memilih satu yang baru,” katanya sambil tersenyum hambar. “Bagaimana dengan Erick? Dengan huruf C di antara huruf I dan K.Atau mungkin Imran? Tanpa dibaca Imron dengan huruf O?”

“Nama yang bagus. Aku akan menuliskannya dalam daftar calon nama baru untukku. Terima kasih.”

Ia hanya tersenyum. Kali ini senyumannya lebih manis. Kemudian ia pamit pergi keluar untuk menemui seseorang seraya mengusap matanya. Kini giliranku memandangi langit jingga itu dari jendela kaca kamarku, sendirian.

***

            Aku sedang berada di pertengahan Sang Penjaga Waktu ketika terdengar perdebatan kecil di luar pintu kamar.

“Kumohon, berikan ia waktu untuk benar-benar mengingatnya!” Suara perempuan yang kukenal itu terdengar makin jelas ketika dua pria berseragam polisi membuka pintu lalu masuk dan berjalan ke arahku diikuti dokter perempuan itu.Sikap dua polisi itu bersahabat walau tampangnya kaku.

“Tidak apa-apa,” kataku cepat-cepat. “Sungguh, Dokter Jeslin. Aku tidak apa-apa. Aku senang mereka datang. Mereka polisi yang baik.”

Dokter Jeslin menghela napas. Salah satu polisi itu langsung duduk di dekatku. Aku tidak tahu kenapa dua polisi itu kerap mengunjungiku setiap tiga hari sekali. Mereka seperti ingin menanyakan sesuatu yang penting kepadaku tapi aku tidak tahu apa.

“Bagaimana kabarmu, R….” Polisi itu langsung berhenti berkata ketika Dokter Jeslin berdeham dan wajahnya jadi tampak sedikit gugup. “Oh ya, maksudku kabarmu.”

“Aku semakin baik, Pak. Aku berharap bisa cepat kembali ke rumah,” jawabku sambil mengangguk. “Dan maaf, aku benar-benar tak ingat, sepatutnya aku sangat berterima kasih kepadamu yang telah menyelamatkan nyawaku.”

Polisi yang duduk itu tersenyum cukup manis, diikuti polisi yang berdiri. Kemudian ia menghela napas juga seperti Dokter Jeslin. Sementara Dokter Jeslin sendiri masih berdiri di sisi yang lain sambil melipat kedua tangannya di dada, memandang bergantian ke arahku dan ke arah polisi yang sedang duduk.

“Ya, baiklah. Kami kemari hanya ingin memberimu kabar. Kami menemukan alamat keluargamu. Tapi kami ingin langsung meminta kepastiannya darimu.”

“Wah, benarkah?” balasku tak percaya. “Aku sungguh bahagia mendengar itu, Pak. Namun aku masih belum ingat tentang keluargaku. Maafkan  aku.”

Polisi itu mengangguk-angguk. Entah apa yang sedang dipikirkannya tentangku. Mungkin menaruh curiga aku berkata bohong, atau mungkin memakluminya.  Namun aku benar-benar tak ingat. Selama entah berapa minggu aku di rumah sakit ini, setelah sadar dari tidur panjang, Dokter Jeslinlah yang berbaik hati menemaniku. Mengajakku berbicara apa saja, tentang film-film, buku-buku, tokoh-tokoh, bahkan sampai akhirnya ia memberikanku Sang Penjaga Waktu karya Mitch Albom. Ia membantuku mengingat banyak hal yang sampai sekarang belum bisa tersentuh oleh syaraf otakku.

“Baiklah,” kata polisi itu akhirnya. “Tidak apa-apa, kami akan tetap menunggumu sampai pulih. Dokter Jeslin akan merawatmu sampai sembuh.”

“Terima kasih, Pak.” Aku tersenyum seraya menatap ke arah Dokter Jeslin yang baru saja melepas lipatan tangannya dan membalas senyumanku.

“Oh ya, apa kau sudah punya nama baru sekarang?” tanya polisi itu lagi mengganti topik pembicaraan yang membuatku antusias mendengarnya.

“Aku dan Dokter Jeslin mendiskusikan banyak nama. Ia tahu aku sangat senang bila memiliki banyak nama.”

“Seperti alias?”

“Alias?” Kukerutkan dahiku sambil mengulang kata terakhir yang diiucapkan polisi itu.

“Lupakan,” dengus polisi itu sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri. “Aku senang kau punya banyak nama. Kutunggu kesembuhanmu. Sampai nanti.”

Polisi itu kemudian beranjak dari duduknya. Mengajak rekannya pamit keluar diikuti Dokter Jeslin. Ketika pintu kamar tertutup aku masih mendengar percakapan mereka, hal itu membuat hatiku terusik untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan tentang aku.

Aku segera turun pelan-pelan dari ranjang lalu berjalan ke pintu kamar. Kuletakkan telingaku di daun pintu untuk menangkap pembicaraan mereka.

“Ini sungguh menguji kesabaran, Dokter. Kita perlu informasi akurat darinya. Kita tak punya banyak waktu.  Media makin gencar menyiarkan kabar dan masyarakat mulai dirundung kecemasan. Ia harus cepat mengingat itu.” Suara polisi itu menekan-nekan.

“Aku tahu itu, Pak. Tapi kita tak bisa memaksanya mengingat sekalipun ia adalah pelaku. Kecelakaan itu mengakibatnya kerusakan pada syarafnya. Sebetulnya ia selalu kesakitan bila aku memberitahunya tentang beberapa hal. Otaknya tidak bekerja dengan baik.”

“Baiklah,” kata polisi itu akhirnya. “Selagi kami menyelidiki, kuharap ia segera pulih.”

“Apa kalian akan tetap menghukumnya bila ia mengingat itu, Pak?” tanya Dokter Jeslin.

“Kuharap kau tak jatuh hati padanya, Dokter. Kau harus tetap fokus.”

Kemudian tak ada lagi percakapan. Hanya terdengar suara langkah sepatu berat yang kian menjauh. Lalu aku bersandar ke pintu.

Kepalaku mulai berdenyut. Aku merasa sakit sekali pada bagian itu. Aku mencoba mengingat banyak hal. Kepalaku dipenuhi pertanyaan yang masih sulit kutemukan jawabannya. Siapakah aku sebenarnya? Apa yang telah kulakukan hingga aku berada di kamar rumah sakit selama berminggu-minggu?

***

            Pagi-pagi sekali, ketika aktifitas rumah sakit masih sepi, Dokter Jeslin mengajakku ke suatu tempat. Ia menutup mataku. Seperti adegan romantis seorang kekasih yang hendak memberi kejutan pada pujaan hatinya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia terus mendorong kursi rodaku. Padahal sudah kukatakan aku kuat berjalan, namun ia tetap bersikeras menyuruhku duduk di atas kursi roda ini.

Aku tak tahu sekarang berada dimana, namun perubahan suhu udara membuatku sedikit terkejut. Udara dingin masuk ke dalam pakaianku namun kesejukkannya membuat paru-paruku terasa segar. Angin pagi menampar-nampar wajahku dengan lembut.

Kemudian Dokter Jeslin berhenti mendorong kursi rodaku. Ia masih tak berbicara. Hanya menyentuh penutup mataku sambil berkata, “sekarang lihatlah!”

Kubuka perlahan mataku. Semula kabur, namun sesaat kemudian aku benar-benar melihat sesuatu yang tak pernah terbayang di kepalaku. Sebuah pemandangan yang sangat indah dari lantai paling atas gedung rumah sakit, yang membuatku tak berhenti berdecak kagum.

“Ini luar biasa, Dokter!” Seruku. “Kau membawaku ke tempat yang sangat keren! Aku bisa memandang sampai jauh. Aku bisa melihat ratusan lampu, atap-atap rumah yang terhampar, gedung-gedung, taman-taman bermain, dan menyaksikan kota yang bergerak bersama waktu. Sungguh, kau membuatku tak ingin menyia-nyiakan waktu.”

Dokter Jeslin mengangguk-anggukkan kepala sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia juga memandang seisi kota sampai titik terjauh.

“Kau akan menemukan satu nama yang tepat untukmu!” Dokter Jeslin berkata dingin, sama dinginnya dengan udara pagi.

Aku tidak membalas perkataannya. Aku masih asyik menebarkan pandangan ke segala arah. Sampai beberapa saat kemudian akhirnya perasaanku mendadak berubah menjadi aneh dan kepalaku mulai sakit lagi. Semakin sakit sampai aku tak peduli lagi pada keindahan kota. Membuatku memejam dan meremas rambutku sendiri mencoba melawan rasa sakit.

Entah apa yang terjadi padaku sebenarnya. Apakah ini efek samping obat yang diberikan Dokter Jeslin padaku sebelumnya atau hal lain aku tidak tahu. Tiba-tiba saja kepalaku seperti terbuka dan mengeluarkan banyak sekali potongan-potongan gambar begerak lalu beterbangan.Aku melihat dengan jelas diriku dihampir setiap potongan gambar. Aku melihat api yang sangat besar dan asap hitam yang menyertainya. Aku melihat diriku di antara orang-orang berpenutup wajah. Aku melihat diriku diam mendengar seseorang memasukkan kata-kata ke dalam kepalaku. Aku melihat diriku berlari sambil memegang senapan panjang. Aku melihat diriku menembak seseorang yang sedang berlari ketakutan. Aku melihat diriku masuk ke dalam sebuah gedung. Aku melihat orang-orang berteriak. Aku melihat tubuhku dihantam sebuah mobil berwarna hitam. Aku melihat pria-pria berseragam polisi mengangkat tubuhku. Aku melihat, melihat Dokter Jeslin berdiri di hadapanku dan mengembangkan senyuman manis di wajahnya yang cantik. Aku benar-benar tak kuat lagi untuk melihat gambar-gambar itu. Aku ingin berteriak.

Ketika kubuka mata, aku masih di lantai teratas gedung rumah sakit. Memandang kota dengan sangat jelas bersama Dokter Jeslin yang berdiri di sampingku. Lalu aku merasakan air mataku mengalir di pipi.

“Rafik,” desisku. “Namaku Rafik, Dokter. Aku mengingat semuanya. Nama samaranku Memoar, Matan, Marsupial, dan masih banyak lagi.”

“Aku sudah tahu,” balas Dokter Jeslin. “Kau pasti mengingat itu dengan baik.”

“Aku seharusnya sudah mati berminggu-minggu yang lalu. Aku seorang relawan bom bunuh diri. Aku menembaki orang-orang. Kepalaku dipenuhi banyak hal jahat. Maafkan aku, Dokter Jeslin.”

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Dokter Jeslin.

“Aku masih ingin memandang kota dari sini sambil memikirkan banyak nama sebelum aku benar-benar tak mampu lagi mengingat dan kehabisan waktu melihat semuanya, Dokter Jeslin.”

Aku memberanikan diri menyentuh tangan lembut Dokter Jeslin. Aku ingin meratap di sisinya. Aku tak mau mati sebelum mengatakan maaf kepada semua orang. [ ]

M Z Billal
Latest posts by M Z Billal (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *