CERPEN MOEHAMMAD ABDOE: BUNGA TIDUR

  • Whatsapp
CERPEN MOEHAMMAD ABDOE: BUNGA TIDUR

TIDAK jauh dari surau, kepulan asap dapur rumah bilik Maria tampak gagah di mata Janet, Narko, dan Sanu. Perut ketiga anak itu tengah melilit dari hanya mengenyam ubi rebus kemarin malam. Namun, mereka senang sore ini ibunya menyiapkan makanan buka puasa di rumahnya.

Sebagai putri sulung dari kedua adik laki-lakinya, setiap sore, Janet membantu Maria supaya Narko dan Sanu belajar  menghafalkan surat-surat pendek di surau kecil yang terletak di selasar rumahnya. Kakak sekaligus guru ngaji mereka itu selalu mencontohkan agar adik-adiknya juga mendirikan salat wajib dan puasa di bulan Ramadan.

Read More

Sehabis hafalan, ketiga anak itu masih duduk bersila di beranda surau. Masing-masing dari mereka tengah membayangkan bahwa Maria sedang menanak nasi, menggoreng ayam kesukaan Narko, membuat kolak pisang sebagaimana di bulan puasa tahun lalu, ketika Maria masih aktif bekerja buruh musiman di kampung sebelah, sekaligus tulang punggung sejak kepergian Jamal.

6 tahun yang lalu, ayah mereka dinyatakan hilang di muara yang konon katanya; masih banyak ditemukan buayanya. Maria ketika itu masih dalam kondisi mengandung Sanu. Baru setelah anak bungsu itu lahir dan mulai bisa bertanya-tanya tentang keberadaan ayahnya, wajah Maria akan tampak gelisah. Namun, Janet selalu memiliki cara-cara unik untuk membantu ibunya dari pertanyaan Sanu dengan keberadaan surga

Kondisi perut lapar rupanya juga membuat Narko dan Sanu kemudian sering berfantasi tentang kehidupan di sana. Karena di surga, mereka tidak perlu menebang pohon pisang di kebun orang lagi untuk dapat menikmati buahnya. Maria akan marah besar dan memukul tangan Narko dan Sanu hingga biru legam. Bahkan setelah itu, dengan wajah malu, mereka harus minta maaf kepada sang Pemilik kebun sembari membawa pisang curiannya untuk dikembalikan.

Melihat Narko dan Sanu diam-diam berbisik sambil bersinggungan tangan di sudut beranda, Janet penasaran untuk mengetahui dialog yang sedang mereka bahas. Janet bergeser dari tempat duduknya lebih dekat dan mulai menyelidik. Namun, karena sewaktu Narko dan Sanu dihukum oleh Maria, Janet lebih condong kepada ibunya, sebaiknya malaikat seperti kakaknya tidak boleh tahu tentang pembahasan mereka.

Janet kesal dengan sikap Narko dan Sanu, kembali memutar badannya dan beranjak mengasingkan diri ke sudut beranda yang agak jauh. Di sana, Janet merebahkan tubuhnya. Netranya perlahan mulai memudar saat semilir angin pedesaan meniup-niup bulu matanya. Dan biasanya, mereka bertiga baru akan beranjak masuk ke rumah sesaat sebelum azan magrib menggema dari corong-corong masjid.

 

***

 

DI ruang dapur yang kumuh, di sebuah kursi jongkok, tubuh Maria sedang duduk songgowang di depan tungku yang masih bergejolak menjilati pantat periuk. Sesekali kelopak matanya akan berkedip menciptakan anak sungai.

Meninggalkan Narko dan Sanu bermain berdua di beranda surau. Janet merasa janggal dengan ibunya yang tidak kunjung selesai berkutat di dapur. Setelah memasuki pintu tengah, Janet hanya bisa melongo ke arah teko dan gelas kosong dari bekas sahur mereka yang masih tergeletak di meja belakang.

Sementara di luar, langit barat mulai memancarkan cahaya kuningnya. Azan magrib sebentar lagi akan terdengar sebagai tanda waktu buka puasa. Namun, meja mereka masih tampak kosong dari beberapa makanan yang sebelumnya dibayangkan bersama adik-adiknya di beranda surau.

Rambut panjang perempuan berdaster merah dengan motif bunga-bunga itu tampak tergerai hingga ke tanah. Menyadari keberadaan Janet sudah berdiri di sebelahnya, Maria buru-buru untuk menyeka genangan di matanya.

“Kenapa menangis, Mak?” tanya Janet dengan tatapan penuh ke wajah ibunya.

“Siapa yang menangis? Emak baik-baik saja,” tangkis Maria sembari menghela sesuatu yang masih menyumbat di rongga hidungnya.

“Jangan bohong, Mak. Apa yang bisa Janet bantu sekarang?”

“Enggak, Nduk! Nggak ada. Kamu tunggu saja di luar sama adik-adikmu.”

“Sebentar lagi azan, Mak. Kami sudah sangat lapar.”

Hening. Maria hanya diam seribu bahasa.

“Kenapa, Mak?” tegur Janet lagi.

“Sabar, Nduk. Emak juga lapar seperti kalian. Sebentar lagi nasinya akan masak.”

Melihat sikap Maria, itu mendorong penasaran Janet untuk membuka tutup periuk di depannya. Namun, Maria juga bersikeras supaya Janet tidak melakukan hal itu. Janet hanya bisa melongo saat tutup periuk tersebut tidak sengaja tersenggol oleh tangan Maria sendiri, sehingga memperlihatkan isinya.

“Batu?” Janet histeris. Matanya terbuka lebar-lebar mendapati bahwa yang dimasak ibunya bukanlah ubi ataupun nasi, tetapi batu kali. Tubuhnya seketika juga terperanjat dari tidurnya di beranda surau.

Narko dan Sanu melihat heran. “Mimpi apa, Teh?” tanya Narko dengan wajah yang lebih cenderung meledek.

“Ditimpuk batu, ya?” timpal Sanu.

Mereka berdua tertawa riang.

Janet hanya diam tidak menanggapi Narko dan Sanu. Melihat ke sekililing tubuhnya berserakan dengan beberapa batu-batu kerikil yang tidak lain karena ulahnya Narko dan Sanu. Janet sangat kesal.

Beberapa saat kemudian, gema qiraah di langit sore terdengar. Janet beranjak dari duduknya dan mengajak kedua adiknya untuk pulang ke rumah. Janet juga berharap agar mimpinya barusan itu hanyalah sebatas bunga tidur belaka. (*)

Kalipare-Malang, 5 Mei 2020.

Moehammad Abdoe
Latest posts by Moehammad Abdoe (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *