CERPEN MUHAMMAD DAFFA: ALMANAK

  • Whatsapp
CERPEN MUHAMMAD DAFFA: ALMANAK
Village Of My Dream | M Singh

TUJUH hari setelah kematian leluhurnya, Marni tergesa mengingat jalan mana harus ditempuhnya. Waktu itu awan sedikit berkabung, cuaca agak murung lebih dulu sebelum pelayat terburu-buru pula untuk hilang entah ke mana. Sepi ikut melayat, dan ia merasa jalan begitu sempit. Deret debu mengudara dari atas semesta, jatuh di kedua bahunya sedikit gemetar. Ia tahu tahun akan lepas, dan kerumun burung gereja di pokok-pokok loteng tidak bisa kembali menatap wajahnya. Hari ini Marni sudah lupa ia ingin berbuat culas, jujur, jahat, atau menggoda. sebab sedari pemakaman leluhurnya, Pablo Neruda, keramaian kubur mulai disusuri sepi, dan ia mendadak bingung hendak memilih arah pulang yang mana. Lima kunang-kunang tampak sengaja menyendiri di sebuah makam tersembunyi dekat jalan yang diramalkan angin pastilah dilalui Marni. Sebuah almanak telah berada dalam genggaman tangannya, memang sengaja ia bawa supaya bisa menebak ke mana arah ajal akan mendatanginya. Dari sana pula ia bisa tahu, bahwa maut juga mempunyai waktu istirahat dalam mengejar siapa yang hendak dikunjungi.

Tepat pukul dua belas siang waktu setempat, iring-iringan angin yang dipikir banyak orang adalah kenangan terbaik Marni, terlihat mengendap-ngendap mengikuti langkahnya yang hampir memasuki mobil mercy abad 20. Sopir setengah tua sudah agak lama menunggu, sehingga merasa dipermainkan Marni.

Read More

“Nyonya bilang tadi akan selesai pukul sembilan lewat lima belas menit, kenapa malah baru sekarang selesai pemakamannya?”

Sederet amarah sudah lantak dalam benak perempuan seperti Marni. Ayahnya selalu memberi ajaran agar bersikap tidak peduli pada orang-orang yang kurang siasat dan rasa sabar dalam menunggu.

“Yang penting aku sudah dekat dengan pintu paling mengkilat yang sesekali tersenyum padaku ini. Dan kau semestinya tidak usah banyak protes, lekas kebut bila aku sudah masuk..”

Lagi-lagi, sopir tak ambil pusing. Ia membanting setir ke sebuah pohon kersen, yang di bawahnya ada makam tak bernisan. Semacam aroma kembang mawar baru dipanen mendadak tercium hidung Marni yang sedikit was-was.

“Cepatlah nyonya masuk. Saya juga dikejar deadline di kanto.”

Menyingsing sedikit gamis hitam yang dikenakannya, Marni memasuki mobil. Sopirnya sudah tidak terlihat mengomel lagi meski sebenarnya Marni tahu, jika pria separuh baya itu masih sedikit geram dengan sikapnya.

 

***

 

Duduk manis di kantor tidak membuat para pekerja juga OB leluasa untuk sekadar minum disertai bicara dengan sesama rekan. Kadang mereka diliputi kantuk teramat berat saban seorang atasan memberi banyak berkas beserta proposal yang mesti terbenahi sana-sini. Bukan apa-apa sebenarnya kalau semua kerja menumpuk di atas meja-meja. toh kertas-kertas itulah yang akan menertawakan seluruh pekerja. Bukan pekerja yang menangisi mereka. Marni biasanya mendapat bagian untuk tahap penyuntingan berkas bila ada yang masih lengang tanpa cap maupun stempel sidik jari si pemeriksa.

Secangkir teh tak bergula jadi semacam syarat buat siapa pun pekerja di kantornya yang ingin dibantu menyelesaikan tumpukan kertas-kertas di mejanya. Marni tidak hanya lihai menyunting, ia juga pandai mengubah susunan kata-kata di sana layaknya puisi yang mekar setelah setahun ditanam dalam tubuh.

Kelak di akhirat, Marni berharap tuhan akan melingkupinya terus-menerus, karena pahalanya membantu orang-orang sangatlah banyak, lagi berjasa bagi si pemohon yang ingin bantuan Marni.

Kehidupan perempuan selain Marni di luar sana sangat tidak mengenakkan. Hanya memeriksa almanak sekenanya sambil melenggang di sudut perempatan seraya menyumbang suara yang gemuruh nadanya. Orang seperti itu tidak mengerti keafiran, begitu Marni biasa menyebutnya. Mereka hanya berbekal suara, isyarat mata, dan wabah harum di tubuh yang mematikan setiap Adam.

Suatu hari nanti, Marni yang akan jadi pemimpin mereka semua. Menjadikan mereka para pekerja yang siaga siang-malam. Ia yang akan memberi panduan, bagaimana gerangan pekerjaan yang layak bagi para wanita jalanan. Sopir pribadinya pernah memberi saran, Marni harus berendam dulu dalam sebuah sungai bermuara tujuh samudra agar bisa memimpin sebagian besar umat Hawa, dalam sebuah demonstrasi. Sebelum itu, tiap almanak diturunkan dan dibawa pulang ke sebuah jalan rahasia menuju surga pertama. Tanggal kematian bagi seorang perempuan paling shaleh itu bocor, dan seorang anak telah mengetahuinya. Marni berkali-kali membaca almanak di tangannya, ia merasa dunia terbalik. Keramaian orang tidak memperhatikannya lagi untuk sejenak. Semua menjadi diam. waktu tidak lagi berputar. Hanya berbelok seenaknya ke tepi yang tak lurus.

 

***

 

Hari Sabtu bagi orang-orang adalah akhir pekan paling baik. biasanya Marni sudah bangun pagi sekali untuk menyiapkan sarapan bagi kucing-kucingnya di halaman rumah, semenjak suaminya tidur pulas di surga dua tahun lalu. dua pembantunya bunuh diri karena kemarau delapan bulan, dan ayam jantan masing-masing pembantunya ikut pula bunuh diri, seolah tidak takut dengan neraka. Marni hidup seorang diri, rumahnya megah bagai istana raja-raja jaman baheula, sehingga tidak heran kalau banyak tetangga yang merasa iri dengan kekayaan dan mewahnya pribadi Marni. Padahal jika dipikir-pikir, perempuan seperti Marni tidak perlu repot untuk mengurus semua kebutuhan peliharaannya. Ia hanya perlu satu pembantu baru, dua tukang kebun cekatan, dan satu pencuci mobil mercy abad 20 peninggalan suaminya.

Sabtu ini sopir pribadinya sedang mendapat tugas ke luar kota selama beberapa minggu, sehingga Marni harus mencari angkot ke pinggir jalan raya bila ingin cari tumpangan. Marni orang yang agak pelit, ia biasa membayar ongkos sekali jalan hanya dengan sepuluh ribu. Tak jarang para supir angkot ingin menamparnya, karena pelit kalau membayar ongkos.

Selain jalan-jalan ke pasar yang kumuh di pinggir kota Kelamun, Marni juga sesekali menyempatkan diri berjalan kaki menyusuri tepi jembatan layang yang ada di tengah-tengah kota. Sebuah almanak yang sudah robek terpentang lebar di tangan Marni. Matanya berkabung, dengan sedikit mendung yang ingin hujan.

 

***

 

Menjelang tanggal liburannya ke surga, Marni mengemas seluruh barang-barangnya. Tak ketinggalan, lemari dua pintu dipikulnya di pundak. Sepasang gerimis sudah menunggunya di beranda. Tak ada gerimis yang reda begitu sepasang kakinya melangkah ke tengah beranda. Dedaun kering sisa hempasan angin makin menguning. Ia tak menyangka jika kematian begitu ringan bagai kapas yang melayang. Mulai memejam, Marni sudah berada di tempat yang jauh. Kunang-kunang mengelilingi tubuhnya yang kosong tak bergerak.

Badai tadi malam sebagai tanda: ada malaikat yang menjemputnya pagi ini. suaminya tersenyum mengetahui ini. lalu berusaha untuk lari dari surga demi menyambut tangan hangat Marni yang rentan dikenang-kenang.

Sementara para tetangga sibuk mengurus mayat Marni di tengah beranda rumah mewahnya. Jasadnya masih terasa hangat, tapi detak jantungnya tidak lagi menyisa denyut hidup.

Sebagian menduga, janda berumur kencur itu bunuh diri karena melihat kunang-kunang bisa bicara. Seperti menjelang kematian suaminya yang perampok itu. suami Marni juga mati lantaran kunang-kunang. Dari sinilah kemungkinan penyebab bunuh diri Marni. Sepasang suami istri ini gila.

 

***

 

Malam-malam setelah matinya Marni, rumah istana itu kosong. Tapi kucing-kucing Marni masih bebas berkeliaran di sana. dan saban malam Sabtu, tercium hangus kentang dari jendela dapurnya yang terlihat terbuka. Tetangga sering berbisik, itu ulah arwah Marni yang mati tapi gagal masuk surga. Lalu frustasi dan memutuskan untuk memakan kentang goreng di rumahnya. Karena ia masih hapal jalan pulang. Ia masih ada, tapi tidak pernah terlihat atau kembali.

Sehari-hari, sopir pribadi Marni mengantar tamu asing yang biasa minta dijemput di depan rumah istana. Untuk sekadar jalan-jalan keliling Kelimun, imbuhnya. Tapi yang janggal, ketika pak sopir bilang apakah ingin sarapan dulu atau tidak, si tamu hanya berkilah bahwa perutnya tidak pernah lapar.

Yang membuatnya ganjil adalah gerai rambutnya yang dipenuhi bercak tanah pekuburan, juga sisir yang masih menggantung di bagian kiri telinga. Pakaiannya harum mawar dan kamboja. Pak sopir tidak yakin apakah itu memang tamu asing, atau justru Marni yang kembali mengunjunginya.

Kata orang alim yang biasa didatangi pak sopir, setan takut dengan matahari dan ayat ilahi. Tapi sedari tadi ia memutar muratal, tidak juga ada reaksi. Kali ini sopir menduga tamunya bukan setan, tapi manusia biasa seperti dirinya juga.

 

***

 

Usai sholat subuh, telepon genggam milik pak sopir berbunyi. Penelponnya perempuan, pemilik sebuah almanak yang diwariskan Marni. Orang itu bilang jika almanak tidak segera dikubur bersama tubuh Marni, siap-siap untuk dijadikannya suami di liang lahat. Pak sopir jelas menolak. Ia mendatangi orang alim di muara, berbasa-basi sebentar, lalu menyerahkan almanak tua itu kepada sang alim.

Kata orang alim itu, pak sopir harus menguburnya di pekarangan Marni sebelum waktu lohor tiba. setelah itu siram tanah dengan bensin, lalu bakar. Bila aromanya hangus dan bercampur wangi melati, itu artinya semua sudah selesai. Jika tidak, ulangi sampai tujuh kali. Lalu tinggalkan.

Hari itu juga, pak sopir mengubur almanak di pekarangan rumah istana. Lalu membakar tanah yang berisi almanak. Tiba-tiba, aroma hangus bercampur wangi melati menguar di udara. Tanda urusannya sudah beres dengan Marni. Sebelum meninggalkan rumah istana, tak lupa pak sopir meludah delapan kali ke sisi kanan dan kiri, mengusir hawa jahat yang timbul dari dalam almanak.

 

Banjarbaru, 26 Februari 2017

Muhammad Daffa

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *