CERPEN MUHAMMAD DAFFA: DUA ORANG SETERU

  • Whatsapp
CERPEN MUHAMMAD DAFFA: DUA ORANG SETERU
Ilustrasi | gregoireameyer

KAU selalu percaya, setiap orang terlahir dengan banyak keajaiban. Semisal dalam kisah yang akan kuceritakan ini. Tentang seorang bayi yang lahir di tengah bising wabah. Kedua orang tuanya sepakat memberinya nama Pandemi Mujarabat. Dengan harapan ia selalu dapat menjadi keajaiban yang mujarab bagi lingkungan di sekelilingnya. Keajaiban yang berlipat-lipat. Pandemi tumbuh dewasa sebagai seorang yang disegani. Ia mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit, mulai dari diare, asam lambung, encok pinggang, tyfus, hingga penyakit-penyakit yang sudah tidak diketahui lagi obatnya oleh mantri golongan mana pun. Pandemi kian hari kian santer. Namanya melambung bak seorang artis papan seluncur. Di mana-mana orang mengelu-ngelukannya, menyebutnya pahlawan. Orang-orang di kota kami membuat spanduk besar dengan sketsa wajah Pandemi Mujarabat hingga memajangnya hampir di setiap jalan dan ruas-ruas perempatan. Pandemi dikenal tidak saja hanya karena kemampuannya yang mustajab itu, melainkan juga karena kemampuannya yang lain yang tak kalah menakjubkan. Ia mampu mengeluarkan roh orang dari badan dengan berbekal jampi yang ditiupkan ke ubun-ubun. Roh tersebut akan pergi mengembara ke berbagai tempat yang ia inginkan, lalu dengan kecepatan yang tak mampu ditangkap mata orang biasa, Pandemi akan memukul tubuh orang yang rohnya ia keluarkan dengan telapak tangannya hingga tubuh itu mengeluarkan asap tipis. Saat itulah si fulan kembali tersadar dan merasa takjub dengan apa yang ia alami barusan. Pandemi diberinya uang sejumlah lima puluh ribu rupiah. Namun Pandemi menepis uang itu. Ia hanya bilang kepada si fulan, kalau ada teman atau keluargamu yang mau berobat atau sekadar jalan-jalan dengan roh nya, kamu bisa membawanya kemari. Si fulan hanya mengiyakan, mengucap syukur dan terima kasih, lalu pulang dengan langkah yang ringan. Bagi sebagian orang, Pandemi adalah juru selamat. Ia titisan Tuhan dalam wujud manusia yang digdaya. Banyak juga orang yang kemudian ingin agar Pandemi meminang anak gadisnya, atau sekadar mengajak Pandemi ke luar kota, menjelajah puncak-puncak gunung, menaklukkan belantara ditemani gadis-gadis yang sudah diseleksi penduduk kota untuk mengawal Pandemi. Jika sudah begini keadaannya, Pandemi hanya geleng kepala dan beberapa waktu berselang akan menyunggingkan senyum dari bibirnya. Pandemi sebenarnya tak risih dengan tawaran-tawaran itu. Ia hanya butuh penyegaran untuk mengenal dirinya yang sesungguhnya. Pandemi menyadari hal ini. Ia memang memiliki berbagai keajaiban sejak kecil, tapi bukan berarti itu suatu jaminan bahwa hidupnya akan bergelimang banyak berkah dengan kemampuan-kemampuan mustajab. Setiap orang memiliki kecenderungan untuk memilih, ibunya pernah berkata suatu waktu, jauh di musim-musim yang telah lalu. Ayahnya, juga berkata yang kurang lebih sama. Pandemi hanya perlu waktu.

 

Read More

 

Di sebuah senin yang menjemukan, Pandemi kedatangan tamu jauh dari luar kota. Namanya Murni Gelabakan. Murni mengaku telah bunting lima bulan. Laki-laki yang menghamilinya , Menak Wiro, lari ke sebuah kota yang dikelilingi dua lautan dan tujuh sungai keramat. Kota itu bernama Gini Mancer.

…”Tolong aku, Pandemi. Kau satu-satunya orang yang kuharapkan dapat membantu. Kata orang juga, kau dukun yang tak mata duitan. Makanya aku mau datang kemari…”

…”Itu hanya bualan yang dikarang-karang penulis cerita yang gagal, Murni. Kemarilah. Mendekat padaku. ..”

Sempat ketakutan karena mengira Pandemi akan macam-macam dengannya, Murni akhirnya menurut. Pandemi meludahi kening dan bibirnya sebanyak tujuh kali, lalu mengucapkan mantra-mantra yang tak sepenuhnya dipahami Murni.

…”Laki-laki yang menghamilimu mempunyai rajah di tubuhnya. Aku tidak bisa melihat lebih jauh apakah ia masih ada di Gini Mancer atau tidak…”

…”Bagaimana mungkin? Katanya kau orang sakti, Pandemi. Maka carilah jalan lain untuk menemukannya. Jika sudah berhasil, buat ia kembali padaku…”

…”Maksudmu, aku kirim pelet, gitu?…”

…”Iya, kau kan dukun. Pasti bisa melakukan hal-hal yang semacam itu…”

Pandemi menggelengkan kepala berulang kali. Dari bibirnya, terucap juga serapah,

“dasar perempuan!”

 

 

Murni Gelabakan tak pernah bakal menyangka jika kisahnya dengan Menak Wiro yang telah membuang benih di rahimnya bakal serumit ini. Sekarang ia tengah menanggung buah dari perbuatan mereka. Buah yang bakal tumbuh menjadi biang bagi lingkungan tempat Murni Gelabakan menetap. Murni yakin buah yang tengah dikandungnya itu akan jadi bajingan yang lebih dahsyat lagi dari bapaknya. Murni tak ingin lagi mengingat bajingan kampung itu, ia kini hanya berfokus pada upayanya untuk kembali menemukan jalan keluar dari segala duka-citanya. Ia ingin kembali menjadi perawan.

Ketika Pandemi mengetahui bahwa Murni Gelabakan ingin jadi perawan lagi, tawanya meledak. Memecah seisi ruang kerjanya.

“Di mana-mana, yang aku tahu, kalau sudah bunting, pasti mintanya menggugurkan kandungan. Lha kamu kok malah aneh sih. Kemarin waktu datang pertama minta nya pelet bin manjur, sekarang malah minta kembali jadi perawan. Kamu tidak kasian sama buah yang kau kandung? Lama-lama buah itu akan mengutukmu jadi ibu yang lebih bajingan dari siapa pun!…”

Murni Gelabakan hanya tertunduk diam. Ia merasa Pandemi tak memiliki niatan yang cukup kuat untuk membantunya kembali menjadi perawan.

“Kamu pikir gampang jadi perawan lagi? Buahmu mau diapakan kalau gitu?..”

“Aku tak mau mengurusnya sampai bajingan itu kembali ke pelukan..!”

Mendengar kata-kata Murni Gelabakan, seketika mulut Pandemi ingin mengatakan hal yang sama ketika Murni minta pelet kepadanya. Tapi entah kenapa, Pandemi urung mengatakan itu. Ia merasa selongsong peluru tentara Tuhan datang dari arah kegelapan dan menembus kepalanya hingga penghuni yang lelap di dalamnya terburai berhamburan.

Pandemi sangat ingin membantu Murni Gelabakan. Termasuk menyihirnya kembali jadi perawan. Yang membuatnya tak tega adalah buah yang tengah mengarang cerita di dalam rahim Murni Gelabakan. Apakah buah itu harus dikeluarkan dengan paksa?

Jika Pandemi melakukannya, penduduk langit  akan mengetahuinya dan memberinya suatu ganjaran yang tidak main-main. Ganjaran yang bukan sekadar tamparan di muka. Lebih dari itu. Di lain sisi, Pandemi merasa kasihan dengan Murni Gelabakan.  Ia pun akhirnya luluh dan menawarkan tumpangan tinggal sementara kepada Murni, agar buah yang tengah dikandungnya tetap terjamin sehat wal afiat. Pandemi sudah berjanji mengenai hal itu. Perempuan muda itu terasa sangat menggairahkan baginya. Kecantikan memang dapat membuat lelaki mana pun lumpuh dan tak berdaya. Termasuk Pandemi.

 

 

Bagaimana mungkin seseorang yang sudah bertahun-tahun merelakan dirinya membujang bisa jatuh cinta kepada seorang perempuan yang sudah kehilangan masa perawannya? Bagaimana mungkin seseorang yang dipuja-puja sebagai dewa dan memiliki banyak keajaiban bisa menaruh harapan pada seorang perempuan yang mengaku tengah bunting lima bulan?

Berhari-hari setelah Murni Gelabakan menghilang begitu saja dari kediamannya tanpa sepucuk pun pesan, Pandemi Mujarabat selalu berangan-angan perempuan itu bakal kembali dan terisak-isak di bawah kakinya. Memohon agar Pandemi melamarnya. Tetapi kenyataannya Murni Gelabakan tak pernah lagi kembali. Mungkin pelet bin manjur berhasil meringkus kembali hati Menak Wiro. Bayangan Murni selalu datang dan mengganggu. Dalam hatinya, Pandemi Mujarabat yakin seyakin-yakinnya jika Murni Gelabakan sebenarnya juga jatuh cinta kepadanya. Khayalan macam ini terbawa hingga beberapa bulan kemudian. Tepat di sebuah minggu yang murung, hujan tergesa, dan beberapa tempat di kota tergenang air, Murni Gelabakan kembali ke rumah Pandemi Mujarabat. Ia menggendong seorang bayi mungil. Di waktu yang bersamaan, seorang lelaki datang dari arah tak terduga. Murni tercekat. Ia menggumam beberapa kali. Ia menggumam seraya mengumpat bangsat tiada henti. Pandemi jadi semakin yakin lelaki itulah yang dibilang Murni Gelabakan sebagai bajingan yang telah membuatnya bunting. Pandemi tidak boleh membiarkan Menak Wiro kembali kepada Murni. Ia berjanji akan melakukan sesuatu agar Murni tidak kembali lagi pada lelaki itu. Penduduk langit tak boleh tahu.  Tapi bagaimana mungkin?

 

 

Pandemi tak punya banyak waktu. Ia harus secepatnya mencari Menak Wiro dan menggorok batang lehernya. Tapi pertanyaan yang sama selalu datang menampar-nampar dinding jantungnya, bagaimana mungkin?

Penduduk langit, kau tahu, bakal selalu mengawasi gerak-gerik makhluk yang bernama Pandemi itu. Karena ia digdaya. Karena ia bisa melakukan apa saja terhadap orang-orang di sekitarnya.

Tengah malam, ide gila muncul dari kepala Pandemi.

Menak Wiro tidak boleh kembali kepada Murni. Ia harus mati.

Mati dengan cara yang sudah ditentukan.

 

 

Dengan membawa sebilah keris pusaka miliknya, Pandemi keluar dari rumah dengan dada membusung. “dengan benda jahanam ini, takkan ada seorang pun yang bisa menghalangiku, termasuk penduduk langit, yang dahulu telah dicuri kesaktiannya oleh ayahku!”

Menurut cerita ibunya, ayah Pandemi juga seorang dukun seperti dirinya sekarang. Ia juga disegani karena kemampuan mustajab  menaklukkan makhluk-makhluk yang tak dapat ditangkap mata biasa. Suatu ketika, permulaan musim hujan, ayah Pandemi pergi ke belantara. Mencari sebilah keris pusaka bernama Watu Mujeng. Ia mencari keris itu sebagai upaya untuk menyempurnakan ilmu. Menurut gurunya, Ki Jenggeleng, Watu Mujeng hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang telah mendapat tanda rajah kalajengking di punggungnya sejak lahir. Dan orang itu adalah ayah Pandemi.

Ayah Pandemi pada akhirnya berhasil mendapatkan keris yang dimaksud Ki Jenggeleng, meski ia harus bertarung tujuh hari tujuh malam dengan siluman hutan bernama Arya Menak. Dengan Watu Mujeng, ayah Pandemi berhasil menjadi seorang yang tangguh dan tak terkalahkan di banyak pertarungan. Beberapa kali jawara-jawara dari luar kota mencoba menjajal ilmunya, bahkan tak sedikit di antara mereka yang berniat membunuh, tapi tak satu senjata pun sanggup menembus tubuhnya. Ayah Pandemi kebal terhadap segala jenis senjata, termasuk senjata-senjata yang telah dilebur dengan mantra gaib. Bertahun-tahun kemudian, ketika ayahnya sudah di ambang sekarat, dengan mata mendelik dan lidah menjulur keluar serupa anjing kehausan, Pandemi dipercaya untuk menjaga sekaligus memiliki Watu Mujeng.

Jauh sebelum masa sekaratnya, Mas Dengklok, demikian orang-orang menyebutnya, adalah seorang yang gemar menantang makhluk-makhluk langit. Kebanyakan dari mereka merasa geram terhadap tantangan itu dan coba meladeninya. Mereka terheran-heran ketika tak satu pun senjata berupa keris, pedang, dan tombak yang mampu melukai tubuh Mas Dengklok. Dan orang-orang yang pada saat itu menyaksikan pertarungan antara kedua makhluk berbeda haluan itu mengira bahwa Mas Dengklok lah makhluk langit yang sesungguhnya. Hanya saja ia berbeda. Bila makhluk langit dilahirkan di kayangan yang berbaur dengan sungai-sungai sorga dialiri arak putih, maka berbeda hal nya dengan Mas Dengklok. Ia dilahirkan di sabtu petang ketika huru-hara terjadi hampir di seluruh wilayah kota. Orang-orang terbunuh. Kepala mereka ditebas dengan pedang berukiran rajah kalajengking. Serupa dengan tanda yang kemudian muncul di punggung  Mas Dengklok.

Mas Dengklok dilahirkan di sebuah pemukiman kumuh yang berbaur dengan sungai-sungai comberan beraroma tahi kalong. Jika malam datang dan menyusup diam-diam ke pemukiman itu, para kalong akan berkumpul dan membuang berak seenak jidat mereka. Maka tak mengherankan jika Mas Dengklok pernah mendapat julukan Pendekar Rahim Kalong, dan hal itu menjadi bahan tertawaan kawan-kawan sebayanya di masa kecil.

Makhluk langit merasa dipermainkan oleh Mas Dengklok. Mereka mencoba menyerangnya dengan tenaga gaib yang bersumber dari sebuah tombak berukiran naga api. Serangan tenaga gaib itu berakhir sia-sia karena Mas Dengklok justru malah semakin digdaya tiap kali diserang dengan cara demikian. Sihir yang dimiliki tombak naga api diserap habis Mas Dengklok dan jadilah ia semakin tak terkalahkan hingga tahun-tahun kemudian. Makhluk langit pulang ke kayangan dengan serapah tak berkesudahan, mereka bersumpah akan menuntut balas terhadap Mas Dengklok dan akan menghabisi anak-anak keturunannya.

 

 

Murni Gelabakan sedang menjemur baju-baju cuciannya ketika Pandemi datang mengendap dari arah samping rumah. Watu Mujeng tergenggam kuat di tangannya. Di mana  Menak Wiro? aku harus menyusup ke dalam rumah dan menikamnya hingga mampus. Pandemi terus melangkah pelan membelakangi Murni dan berjalan menuju pintu. Dari arah dalam rumah, Pandemi seperti telah menemukan kesempatan berikutnya. Ia mendengar dengkuran keras dan ia yakini itu adalah si Menak Wiro yang tengah pulas dibuai mimpi-mimpinya. Dengan geraknya yang cekatan, Pandemi membuka pintu dan bergegas ke sebuah kamar yang menjadi sumber dengkuran.

Di atas ranjang, tubuh Menak Wiro sedang khusyuk berdekap bantal dan dua guling. Dengkurnya semakin nyaring, tapi Pandemi, dengan sebilah keris Watu Mujeng di tangannya, tak mau ambil pusing. Ia harus segera mengakhiri Menak Wiro dan merebut Murni Gelabakan. Pandemi tak perlu berpikir panjang. Dengan menikam bagian jantung berulang kali, lelaki macam Menak Wiro pasti akan langsung mampus dan roh nya melayang ke neraka. Khayalan-khayalan terus bermunculan dan tumbuh di kepala Pandemi yang sudah dirasuki bayangan jahat. Kau harus membunuhnya, dan membawa kepalanya menjauh dari rumah ini. Bisikan-bisikan lain datang, mendorong Pandemi untuk segera menghujamkan Watu Mujeng. Lalu memenggal kepala Menak Wiro.

Ketika Pandemi sudah mengambil ancang-ancang untuk menghujamkan Watu Mujeng, sekonyong-konyong ia dengar suara denting senjata menebas batang lehernya dari arah belakang. Ia tak sempat menoleh lagi karena yang terjadi kemudian adalah kepalanya sendiri yang tercerabut dari tubuh, menggelinding ke atas lantai dan baru berhenti ketika menabrak tembok. Darah berhamburan di mana-mana.

 

Banjarbaru, April 2020

 

 

Baca rubrik sastra budaya lainnya atau kirim tulisan ke banaranmedia.com

Muhammad Daffa

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *