CERPEN MUHAMMAD DAFFA: MENCARI PENGARANG DI NEGARA MINGGU

  • Whatsapp
CERPEN MUHAMMAD DAFFA: MENCARI PENGARANG DI NEGARA MINGGU
ilustrasi | trudeiskrude

TAK ADA SEORANG pun tahu siapa pengarang yang jadi incaran Mey Mulan di Negara Minggu pada bulan kesebelas tahun 2092 Masehi. Semuanya pada menawarkan diri, seolah-olah pantas dan merasa bergengsi. Padahal hanya sekumpulan pembual yang biasa melanturkan omongan menjadi cerita terburuk yang pernah ada. Tak sedikit yang ingin menjadi suami Mey Mulan. “aku tidak mencari yang berpura-pura bercerita di hadapan mukaku”. Itu adalah kalimat pamungkas yang selalu dilontarkan Mey jika ada pengarang yang coba-coba mendekat dan menawarkan diri untuk diboyong pulang menjadi suaminya.

Mey Mulan sangat ingin bertemu dengan pengarang itu. Pengarang yang selalu muncul di setiap mimpi-mimpinya. Pengarang yang juga selalu muncul di saat ia tengah terjaga menyelesaikan setumpuk karangan yang tak kunjung rampung. Dari salah seorang kawan dekatnya, Mey Mulan harus mencari pengarang lain untuk membantu menyelesaikan karangan miliknya itu. Menurut kawannya itu juga, pengarang yang dimaksud bukan sekadar pengarang yang gemar mengobral hasil gubahannya di tengah-tengah orang banyak, melainkan seorang pengarang penyendiri yang dilahirkan di Negara Minggu. Bagaimana Mey Mulan bisa menemukan pengarang itu? Semua orang di kota yang disebut kawannya tersebut rata-rata berprofesi sebagai pengarang. Mulai dari anak-anak, remaja, pemuda-pemuda, gadis-gadis, bapak-bapak, hingga ibu rumah tangga. Semuanya keranjingan memakan buku dan akhirnya menjelma pengarang.

Read More

Yang menjadi perkara adalah, kawan dekat Mey Mulan itu keburu mati sehingga tidak sempat menjelaskan lebih detail siapa gerangan si pengarang yang dimaksudkan. Apakah pengarang itu seorang pemuda, anak-anak, gadis remaja, ataukah  bapak-bapak? Mey Mulan tidak pernah diberi penjelasan soal itu, sehingga sangat sulit baginya untuk mencari sosok pengarang yang dimaksud. Semua pengarang di Negara Minggu tak ada yang penyendiri, Mey Mulan sudah membuktikannya sendiri dengan berkeliling kota dan bertanya pada banyak pengarang yang ditemuinya. Rata-rata lebih suka menjual omongan besarnya ketimbang menunjukkan karangan mereka.

Tahun demi tahun berlalu. Mey Mulan terus mencari. Berkelana ke berbagai kota yang ada di Negara Minggu. Tapi tak kunjung ditemukannya si pengarang penyendiri. Mey Mulan tidak ingin berprasangka. Ia terus berkelana ke berbagai pelosok Negara Minggu. Demi mencari pengarang penyendiri. Demi karangan-karangan yang tak pernah terselesaikan.

 

*

 

Sewaktu masih kanak-kanak, Mey Mulan pernah mendengar satu cerita dari kakeknya tentang dongeng sepasang pengarang yang mampu menyelesaikan puluhan cerita dalam waktu dua pekan. Kisah sepasang pengarang itu tidak terdengar seperti mengada-ngada. Mey Mulan sangat yakin bahwa kakeknya adalah anak dari sepasang pengarang itu, sehingga kakeknya bisa tahu dengan lengkap kisah hidup mereka.

Sepasang Pengarang suka mengembara ke berbagai kota. Mereka beranggapan jika mengembara adalah salah satu cara untuk merekam momen ingatan yang nantinya bisa direka ulang dalam sebuah cerita. Cerita-cerita yang ditulis dengan momen ingatan akan hidup dan bernyawa. Begitulah anggapan Sepasang Pengarang.

Sepasang Pengarang tak pernah kehabisan bahan untuk bercerita, seakan-akan kepala mereka hanya dipenuhi dengan imajinasi dan peristiwa-peristiwa mengagumkan yang sangat menarik untuk ditulis menjadi sebuah cerita. Sepasang Pengarang pernah berkata bahwa jika ingin mumpuni seperti mereka, harus kerasukan banyak buku. Buku-buku, kata mereka, harus menjadi makanan sehari-hari yang tak boleh ditinggalkan. Dengan kerasukan buku-buku, kau akan menjadi pengarang tak terkalahkan. Tidak akan pernah kehabisan ide gila dan mengagumkan. Itulah yang selalu diajarkan Sepasang Pengarang. Mereka mengembara hanya untuk mencari bahan bercerita. Tak jarang, keduanya singgah ke rumah-rumah penduduk buat sekadar mengobrol santai. Membagi-bagi resep rahasia membuat cerita.

Tak ada yang tahu dari mana asal-usul Sepasang Pengarang. Jika dilihat secara sepintas, maka keduanya serupa benar dengan pendekar-pendekar yang ada di dalam komik silat, sehingga tak jarang ada yang menyebut mereka sebagai pendekar paling pertama yang ada di dunia. Bedanya, musuh Sepasang Pengarang bukanlah jawara-jawara berilmu hitam, melainkan cerita-cerita yang bertebaran di angkasa raya. Cerita-cerita yang selalu berebut memasuki alam pikiran Sepasang Pengarang. Cerita-cerita itu, adalah musuh terbesar yang harus dikalahkan. Begini, cerita yang melayang-layang di angkasa belum menjadi sebuah cerita yang sesungguhnya tanpa olah pikir dari imajinasi Sepasang Pengarang. Mereka lah yang menjadi penakluk dari cerita-cerita itu. Dapatkah kau bayangkan, ada ratusan, atau bahkan ribuan cerita, melayang-layang di angkasa bagai layangan tanpa pemilik, lalu meneror orang-orang yang tak sanggup mendengarnya? Masih mending kalau cerita-cerita itu memperdengarkan aroma bahagia. Bagaimana kalau cerita-cerita yang gentayangan justru membawa wabah berupa kutukan yang tak kunjung menemukan penangkal? Pasti sangat menyusahkan sekaligus menyengsarakan.

Cerita-cerita yang gentayangan tidak sepenuhnya juga mampu diolah sebagai karangan yang baik, kata Sepasang Pengarang di sebuah minggu yang penat. Keduanya sedang mengajar anak-anak cara membuat sebuah karangan yang memiliki nyawa.

“cerita-cerita yang gentayangan, bisa menjadi suatu karangan yang bernyawa jika cerita-cerita itu dibacakan kepada diri sendiri di muka cermin terlebih dahulu. Karena tidak jarang, cerita-cerita menyusup secara rahasia ke dalam kepalamu, membayang-bayangi dengan rentetan peristiwa yang sedang dikarang oleh cerita itu sendiri.”

Bagaimana mungkin cerita-cerita yang gentayangan juga mampu mengarang? Apa ada hubungan antara cerita-cerita itu dengan arwah penasaran?

Salah seorang anak lelaki bertanya kepada Sepasang Pengarang. Mereka  terkekeh mendengar pertanyaan itu. “cerita-cerita yang gentayangan, awalnya memang sebuah dongeng yang hidup dan disembunyikan dalam tubuh seseorang. Orang yang memiliki dongeng dalam dirinya, bakal menuturkan dongeng itu kepada anggota keluarganya tanpa terkecuali. Tapi pada suatu masa, cerita-cerita itu lenyap begitu saja dari kepala mereka, tanpa meninggalkan ingatan sedikit pun. Sebagian orang menduga, cerita-cerita yang hidup dalam diri mereka sudah jenuh dan memutuskan menjadi seorang kafilah, bergabung bersama cerita-cerita yang lain, dari orang yang berbeda.”

Tidak ada satu orang pun di Negara Minggu yang membantah ajaran dari Sepasang Pengarang. Kedua orang misterius itu bagai tokoh sesepuh yang dipuja-puja segenap kaum. Mereka berkeliling dari satu kota ke kota lain, berkata hal yang sama, mewartakan resep yang sama: mengolah cerita-cerita yang gentayangan. Kalau dipikir lebih jernih, cerita-cerita itu sebelumnya memang memiliki raga, mereka menumpang di tubuh orang lain dan makan layaknya makhluk hidup pada umumnya. Cerita-cerita tidak pernah kenyang, makanya mereka kemudian memutuskan membentuk kelompok sendiri, membentuk semacam kafilah pengembara yang menyebarkan bakat mengarang kepada semua orang di Negara Minggu tanpa terkecuali. Cerita-cerita, yang pada mulanya menetap dalam tubuh seseorang, sudah saling sepakat untuk membentuk negara baru sambil berharap Negara Minggu hancur lebur layaknya kaum pendurhaka di masa lalu. Tapi bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi, sedangkan semua orang di negara tersebut tidak memiliki satu pun perilaku yang menunjukkan watak durhaka kepada Tuhan. Yang terjadi justru malah sebaliknya. Cerita-cerita itulah yang menunjukkan watak durhaka lebih awal. Cerita-cerita membuat orang yang dirasukinya menjadi sering mabuk-mabukan dan merusak pikirannya sendiri. Orang yang dirasuki oleh cerita, sampai rela menanggalkan pakaiannya di tengah jalan raya karena dalam pandangannya cerita-cerita lain bakal berdatangan dan tertawa-tawa menonton ketelanjangannya tersebut. Ada juga kasus yang lebih parah di sebuah kawasan pinggir kota: seorang ayah tega memotong  penis anak lelakinya sendiri pada suatu malam dengan alibi bukan ia yang melakukannya. Kalau pun ia yang menjadi pelakunya, maka cerita lah yang memotong penis anak lelakinya. Ruh dari cerita lah yang merasukinya sedemikian hingga berbuat keji. Sungguh alasan yang dibuat-buat dan cukup bejat, pikir pihak kepolisian.  Hingga kemudian dibuatlah semacam maklumat bagi semua orang yang hidup dan menetap di Negara Minggu, baik warga biasa yang bekerja sebagai pemikir, maupun warga yang berprofesi sebagai pengarang, “jika ada di antara anggota keluarga kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri kalian, atau mertua kalian sedang kedapatan membaca sebuah cerita atau memang tengah gandrung terhadap cerita hingga membuatnya setengah mabuk dalam dunia khayalan, maka harap membawanya kepada pihak yang berwajib. Orang tersebut akan diadili dengan cara terbaik yang dimiliki oleh sistem norma Negara Minggu.”

Seseorang yang dianggap kerasukan cerita, akan digiring ke kantor aparat, diintrogasi, bahkan ada yang dipukuli sampai mati. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penularan wabah cerita dari warga yang satu ke warga lainnya yang ada di Negara Minggu.  Hal-hal yang demikian itu terus berlangsung hingga tahun-tahun mendatang, tanpa ada seorang jua pun yang berusaha berpikir lebih waras, siapa sebenarnya yang paling durhaka? Cerita-cerita yang gentayangan dan menjadi wabah penyebab kegilaan, ataukah norma yang dibuat terlalu mengada-ngada?

Tak ada seorang pun yang bisa menjawab dua pertanyaan itu. Cerita-cerita, sebagaimana yang kau tahu, terus menjadi wabah yang menular dengan cepat. Merasuki nyaris semua kalangan. Orang-orang mendadak kepingin jadi pengarang. Sebagian dari mereka ada yang berhasil, tapi tak sedikit yang gagal. Karangan-karangan mereka laku keras di pasaran, dicetak berulang kali hingga segenap warga Negara Minggu hafal dengan dongeng yang diwartakan karangan-karangan itu. Ketika wabah cerita telah merajalela dengan sangat cepat hampir ke semua kawasan penjuru Negara Minggu, Sepasang Pengarang dikabarkan menghilang tanpa jejak. Hal itu terjadi pada suatu petang menjelang badai tiga hari tiga malam. Salah seorang warga sekitar kediaman Sepasang Pengarang mengatakan bahwa kedua orang itu tampak keluar rumah dengan langkah yang tergesa. Ketika Sepasang Pengarang bertemu dengan beberapa warga, mereka hanya menatap orang-orang secara bergantian, lalu berjalan semakin cepat, menjauh, dan akhirnya lenyap di tikungan. Sejak saat itu, orang-orang di Negara Minggu tak pernah lagi melihatnya, atau mendengar sepak-terjangnya dalam mengolah cerita-cerita yang gentayangan menjadi bahan karangan.

 

*

 

Puluhan orang telah ditemui Mey Mulan, atau bahkan mengalahkan jumlah itu, tapi tak juga ditemukannya pengarang penyendiri yang dimaksudkan oleh almarhum kawannya. Mey Mulan semakin didera kekhawatiran panjang, akankah cerita-cerita yang kutulis berakhir sebagai catatan yang tak selesai? Pertanyaan-pertanyaan mengusik dirinya, hingga ia tak bisa tidur selama beberapa malam. Cerita-cerita, adakah kalian jelmaan pengarang penyendiri yang mati bunuh diri karena tak sanggup menjadi pengarang di Negara Minggu?

Negara ini memang memiliki banyak pengarang unggulan, dan sebagian besar di antara mereka selalu mengolah cerita-cerita yang merasuki diri mereka sejak dilahirkan. Bagi sebagian kritikus di Negara Minggu, orang yang dirasuki cerita akan lebih mudah dalam melakukan eksperimen bagi karangan yang ditulisnya. Tetapi bagaimana dengan pengarang penyendiri? Apakah ia termasuk salah satu pengarang yang dirasuki cerita-cerita sejak lahir ke dunia? Ataukah tanpa kerasukan sama sekali?

Mey Mulan tidak ingin menyangkal jika dongeng dari kakeknya yang diceritakan secara turun-temurun itu memang sebuah fakta dan bukan kebohongan belaka. Jika kelak ia tahu kebenaran di balik dongeng tersebut, Mey Mulan juga ingin mencari tahu lebih jauh tentang Sepasang Pengarang yang menghilang tanpa jejak.

 

*

 

Di hari keseratus sembilan puluh sembilan pencariannya terhadap sosok pengarang penyendiri, Mey Mulan bertemu dengan seorang pengemis berkaki buntung yang mengaku sebagai pengarang utusan Tuhan. Ia mengaku sedang ditugaskan untuk turun ke dunia dan mencari seorang perempuan yang kebingungan dengan hasil karangannya.

Awalnya Mey Mulan diserang keraguan, takut kalau pengemis itu hanya seorang penipu yang sedang menjual kebohongannya secara cuma-cuma. Tapi setelah si pengemis buntung meyakinkannya lebih jauh dengan beberapa kisah mengenai kayangan yang konon menjadi mula kelahiran Sepasang Pengarang, Mey akhirnya percaya dengan pengemis itu dan mulai menduga-duga bahwa si pengemis buntung itulah si pengarang penyendiri. Mey Mulan menebak isyarat yang ditunjukkan si pengemis dengan buku-buku berjumlah puluhan yang dibawanya dalam sebuah tas lusuh. Dari arah kejauhan, sebuah bisikan yang dibawa desir angin hinggap di telinga Mey Mulan, “pengarang yang kau cari-cari ada dalam tubuh pengemis buntung.”

Mey Mulan tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh bisikan itu. Bisikan-bisikan lain berdatangan, memenuhi liang telinganya, berjejal berebut ruang, berebut raung.

Si pengemis buntung menatap wajah Mey Mulan. Mey menjadi kikuk sendiri dan memalingkan muka ke arah lain. Wajahnya tampak kesal karena bisikan-bisikan yang datang kepadanya masih bertahan di liang telinga. Tak mau pergi.

“Kau mau mendengar sambungan cerita tentang Sepasang Pengarang yang hilang? Jika kau ingin mendengarkan ceritanya, pejamkan matamu dan biarkan suaraku merasuk ke dalam dirimu.”

Mey Mulan menganggukkan kepalanya. Ia tidak terlalu yakin bahwa pengarang penyendiri itu ada.  Karena pengembaraannya di Negara Minggu selama ini nyaris sia-sia belaka. Tapi untunglah ia seorang yang keras kepala, sehingga tak mungkin Mey Mulan menyerah begitu saja dengan kenyataan yang dihadapinya. Berhari-hari menjelajah Negara Minggu. Hingga akhirnya ia bertemu si pengemis buntung. Lelaki tak tahu diri, batin Mey Mulan. Mana ada pengarang yang berpenampilan lusuh lagi cacat seperti si pengemis buntung. Yang dibayangkan Mey Mulan selama ini berbanding terbalik dengan kenyataan yang dihadapinya. Dalam pikiran seorang Mey Mulan, sosok pengarang penyendiri itu berwajah tampan, memiliki banyak penggemar, dan tidak memiliki suatu cacat apa pun.

Di sisi lain, Mey Mulan seolah dirasuki oleh cerita-cerita yang berkelindan dari mulut kakeknya pada suatu masa, membuatnya disentak ke dalam kesadaran yang aneh. Si pengemis buntung sudah ingin bercerita tentang sambungan kisah Sepasang Pengarang, tapi diurungkannya hal itu karena Mey Mulan tampak kesal hingga beberapa waktu kemudian.

“Teruskan ceritamu mengenai Sepasang Pengarang.”

Entah kesadaran apa yang membuat Mey Mulan pada akhirnya mengiyakan tawaran Si Pengemis Buntung, meski jiwa nya memberontak berulang kali dan membisikkan suatu hal yang akan terjadi.

 

*

 

Bisikan-bisikan yang berasal dari jiwanya terus menyeruak dengan paksa, kembali membujuknya, “sesuatu akan terjadi, dan kau adalah perempuan kesekian yang akan menjadi sinting hanya karena sebuah cerita.”

Mey Mulan yakin jika bisikan-bisikan itu bukan seratus persen dari jiwanya saja, melainkan ada kekuatan lain yang menyusup masuk dan mempengaruhi bagian dari jiwanya yang tersekap dalam kegamangan.

“Wabah cerita terus menular dengan sangat cepat ke semua orang yang ada di Negara Minggu. Tidak ada yang berani menghentikannya atau berusaha untuk melawan keganasan cerita-cerita itu. Sekali dirasukinya, maka akan menjadi sinting hingga seterusnya. Cerita-cerita yang gentayangan itu seolah dikendalikan oleh penyihir tanpa wujud yang sedang mempraktekkan ilmu sihirnya diam-diam di Negara Minggu.

Hilangnya Sepasang Pengarang membuat orang-orang di Negara Minggu menjadi putus asa. Mereka pergi ke sebuah bukit dan berdoa di puncaknya selama empat puluh hari empat puluh malam. Di hari terakhir, mereka yang berdoa di puncak bukit dikagetkan dengan kembali munculnya Sepasang Pengarang. Keduanya tampak segar bugar dan mengenakan jubah sutra keemasan. Ketika salah seorang dari rombongan pendoa bertanya kepada Sepasang Pengarang mengenai apa yang menyebabkan mereka menghilang sebegitu lama, hanya ada sesungging senyum ketulusan dan satu penjelasan yang membungkam mulut orang-orang yang hadir di sana, “kami kembali karena kutukan salah satu cerita yang pernah kami kalahkan. Cerita itu memang kalah dan terkubur dalam sebuah buku yang kami miliki. Kami bersalah karena tidak langsung membakar buku itu. Kami membiarkannya tetap utuh dan menguburnya di bawah rumah kami, dengan sebuah peti kayu yang dirajah dengan mantra-mantra para leluhur. Kami kembali bermaksud untuk mengambil dan memusnahkannya di alam baka. Hanya itu satu-satunya cara.”

“Apa yang terjadi jika buku itu tetap terkubur dalam peti, tanpa ada kalian yang mengambil dan memusnahkannya?”

“akan lahir satu pengarang yang menjadi pencuri cerita-cerita gentayangan di Negara Minggu, mengolahnya menjadi sebuah senjata mematikan yang mampu membungkam para penguasa di mana pun.”

Dan memang itulah yang akhirnya terjadi. Sepasang Pengarang tidak berhasil menemukan peti kayu dengan rajah mantra-mantra leluhur. Semua orang di Negara Minggu terkena tuduhan sebagai pencuri buku sakti yang terkunci dalam peti tersebut. Sepasang Pengarang kehabisan waktu mereka dan kembali ditarik pulang ke alam baka dengan kekuatan tak terlihat. Sementara orang-orang yang pada saat itu berkumpul demi bertemu kembali Sepasang Pengarang menjadi gila dan menusuk-nusuk mata mereka sendiri hingga buta. Badai pasir datang dan menghantam orang-orang itu dan melumat tubuh mereka tanpa sisa.”

 

*

 

Tak ada pengarang mana pun yang tahu mengapa Mey Mulan tiba-tiba menghentikan segala upaya pencariannya di Negara Minggu dan memilih bungkam selama empat puluh hari empat puluh malam di dalam rumah kediamannya.

Di hari keempat puluh masa bungkamnya, tak ada seorang pun yang dapat menduga, perihal apakah yang menyebabkan Mey Mulan tampak kurang waras dan keluar dari kediamannya untuk kali pertama: melempari setiap pengarang yang berkeliaran di jalan raya dengan kerikil-kerikil sebesar ibu jari.

 

Surabaya, Agustus 2020

Muhammad Daffa

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *