CERPEN MUHAMMAD IRWAN APRIALDY: DUAPULUH LIMA SEN

  • Whatsapp
CERPEN MUHAMMAD IRWAN APRIALDY: DUAPULUH LIMA SEN
ilustrasi | rafii syihab

IA BUKAN PEMUDA yang biasa kautemukan di kota ini. Mata tajam, bibir tipis, dagu runcing, dan pipi tirus. Belum lagi badannya yang kecil dan langsing. Ketika ia memakai setelan serba hitam, tidak mungkin tidak kau akan teringat Audrey Hepburn. Bila ia seorang aktor, Ingmar Bergman pasti menginginkannya sebagai bintang utama.

Aku mengenalnya dari kelas mata kuliah umum Bahasa Inggris yang kuajar. Tidak seperti mahasiswa-mahasiswi lain, Darma tidak akan memanggilku dengan sebutan “Pak” atau “Sir”. Alih-alih ia akan langsung menyebut namaku: Angger.

Read More

Dari penuturan seorang mahasiswi, Darma memang terhitung dalam spesifikasi “yang lain”, the other. Beruntung otaknya encer, sehingga ia menempuh pendidikan dengan jalur beasiswa. Ia tidak akan berkawan dengan siapapun yang tidak memahami film, sastra, dan lagu-lagu Bon Iver. Cukup selektif. Karena itu, ia tak banyak berkawan. Tapi kurasa aku bisa berteman dengannya.

Sore itu perkuliahan usai di angka lima. Matahari sejingga mata telur itik di ufuk Barat. Jalan-jalan di sekitar universitas sudah dijejali kendaraan mahasiswa yang pulang mencari suaka. Agak terlambat, aku mengekor di belakang kemacetan yang biasa terjadi. Tapi di situlah kulihat Darma sendirian berjalan di atas trotoar. Matanya menatap lurus ke depan, langkahnya seringan angin, dan menyesap sebatang rokok kretek filter. Ia tampak tak terganggu oleh kemacetan yang terjadi. Kuteriakkan namanya beberapa kali sampai ia akhirnya menengok.

“Ingin sekalian kuantar?” tawarku.

Matanya membulat bingung. “Saya lebih suka jalan kaki.”

“Tidak setiap hari, lho, seorang dosen berniat mengantar mahasiswanya pulang.”

Selesai menimbang perkataanku, ia akhirnya naik. “Rokoknya mesti kumatikan?” tanyanya kikuk. Aku menggeleng.

Kuakui, itu sore yang ganjil. Tapi aku merasa tak sepi. Seolah berpapasan dengan karib lama sekaligus euforia kadar kecil ketika melakukan sesuatu yang baru. Dan memang hanya Darma yang bisa memicu keterkejutan seitu. Ketika kutawarkan untuk singgah makan di warung pinggir jalan, ia sama sekali tak menolak. “Setidaknya makan malamku tidak terlambat.” tuturnya.

Adzan Maghrib lepas mengudara. Kami makan dalam kecanggungan. Atau aku yang memang terlalu kaku? Di hadapanku duduk mahasiswa yang barangkali jauh lebih cerdas dan modern. Bisa jadi pula ia tak menyukai caraku mengajar selama ini.

“Kau suka Bon Iver?” aku berusaha memecah keheningan.

“Dari mana Anda tahu?”

“Tugasmu tempo hari memuat terjemahan lirik lagu “Holocene”.”

Ia tersenyum kecut dan bersenandung. “At once I knew, I was not magnificent…”

“Kenapa kau menyukai lagu itu?”

“Ya.Kenapa bapak menyukainya?”

“Panggil aku Angger seperti biasa.”

“Jadi?”

“Alienasi.” tukasku.

Bagai putri malu, Darma menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi dan menatap ke luar jendela warung. Ke langit yang makin gelap semaput.

“Seperti kabin dalam hutan dan penghuninya yang kesepian. Berlindung dari hujan salju.” katanya seperti nyaris berbisik.

Darma kini tak lebih dari adik kecil yang kesepian. Ia menuturkan interpretasinya terhadap lagu-lagu Bon Iver dan atmosfer yang ia rasakan setiap kali mendengarnya. Hipnotik dan menyakitkan, tuturnya. “Persis seperti nostalgia tentang masa kanak yang jauh.”

Bagiku, lagu-lagu tersebut alternatif murni bagi telinga kaum urban yang pekak oleh lagu Rock atau muak dengan lirik-lirik Pop. Ia setuju. Tapi lebih dalam, kulihat ada alasan lain yang membuatnya sering terdiam saat menjabarkan beberapa hal tentang Bon Iver. Persis seperti kenapa aku menyukai “Innocent Son” dari Fleet Foxes.

“Karena sahabatku bunuh diri.” tuturku.

Darma menatapku lama. Aku tak menghiraukan dan terus membersihkan tangan dalam mangkok air. Ia berjanji akan mulai mendengar Fleet Foxes.

Malam beranjak pekat. Jalanan Banjarmasin mulai ramai dengan muda-mudi yang berkeliaran. Seingatku, dulu jalanan lebih lengang dari sekarang. Aku dan Galih beserta teman-teman satu almamaterku lebih suka berjalan kaki. Menyintas satu jalan ke jalan lain. Menyambangi satu warnet ke warnet yang lain. Entah untuk mengerjakan tugas, bermain gim daring, atau sekedar mempergunakan uang saku berlebih. Galih yang dulu sering menjemputku ke kos.

“Siapa Galih?” tanya Darma.

“Yang telah mangkat.” Kuyakin ia pemuda yang lekas mengerti.

Sebelum ia memasuki pagar indekos, kukatakan bahwa Galih pernah mendapat beasiswa ke Wisconsin selama dua semester. Ia memberiku uang koin dolar duapuluh lima sen sebagai oleh-oleh.

“Sekarang uang ini milikmu.” Kuletakkan koin duapuluh lima sen tersebut ke tangannya.

“Tak lama setelah ia menyerahkan uang ini ia bunuh diri, bukan?”

“Benar.”

Aku memacu motorku setelah mengucap selamat malam.

 

*

 

GALIH pernah berkata bahwa waktu terbaik untuk menikmati matahari pagi adalah di bawah pukul delapan. Saat itu, vitamin D dan vitamin E yang terkandung dalam sinar matahari belum tercampur dengan ultraviolet. Jam di kamarku baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Seluruh kelengkapanku mengajar telah siap. Kuputuskan untuk berjalan menuju kampus. Barangkali, hanya memakan waktu setengah jam untuk mencapainya.

“Tapi di tanah ini kau akan lebih cepat merasa lelah. Udara terlalu panas. Di Wisconsin, ketika matahari cerah, udara bahkan masih sesegar saat subuh. Ditambah kau tidak perlu berjibaku dengan polusi udara.” Ucapan Galih terngiang ketika aku setengah jalan menuju kampus.

Ya. Matahari sepagi ini memang cukupan membuat seseorang berkeringat dengan ransel besar di pundak. Belum lagi jalanan macet yang merusak cengkerama burung-burung di ranting pohon. Aku mengutuk keputusanku untuk berjalan kaki. Tak terbayangkan bagaimana harus pulang dengan tubuh lelah sore nanti.

Memasuki gerbang universitas, trotoarnya terlihat makin lengang. Hanya mahasiswa kurang kerjaan atau tanpa transportasi yang memilih berjalan di situ. Seperti Darma. Kulihat ia berjalan menenteng tas selempang di satu bahu dengan langkah—masih seringan angin. Kemejanya biru langit, memberi kesan segar bagi siapapun yang melihat.

Ia agak takjub melihatku berjalan dengan tubuh berlinang keringat. Ketika ia bertanya, kujawab lemak di tubuhku sudah terlalu brengsek. Ia tertawa dengan lantang, namun anehnya, sopan.

“Aku sudah mendengarkan seluruh lagu Fleet Foxes tadi malam.” tuturnya. “Mereka sejenis dengan Bon Iver. Berasal dari barikade musim dingin.”

“Seperti kita. Seperti Galih juga.”

Bingung harus mengatakan apa, Darma pun tersenyum. Aku pun begitu. Kami lalu berjalan menuju gedung fakultas sampai akhirnya aku memecah kebisuan. “Kadang kau sangat mirip dengannya.”

Alisnya berkerut. Wajahnya tertunduk. “Sebab itu kamu berikan koin itu?”

“Barangkali.”

“Sebagai jimat?”

“Bukan. Sebagai pengingat, sekosong apapun rupiah di dompetmu, duapuluh lima sen itu tetap takkan bisa kautukar dengan makanan. Kau akan kelaparan tapi dompetmu tak pernah kosong.”

“Terisi oleh sekeping ingatan atau impian menuju tanah jauh yang muskil dicapai?” potongnya langsung.

Aku tersenyum. “Tak ada tanah yang terlalu jauh untuk kau capai. Aku yakin.”

“Anda sendiri?”

“Aku sudah tak lagi muda. Dan lagi, aku terikat di sini.” Tak percaya kukatakan hal itu padanya.

“Duapuluh sembilan belum terlalu terlambat. Kejar atau mati menyesal di sini.”

Darma lantas meninggalkanku dengan langkah kilat menuju ruang kelas yang tak kuajar. Tapi, jelas ia bermaksud sungguh-sungguh mengatakan itu. Dan kini, yang berat bukan lagi ranselku, melainkan lungkrah yang membesar di dada.

 

*

 

TAK ADA yang bisa ditawarkan lebih dari tanah ini. Kecuali kalau jiwamu ingin diperah sampai mampus oleh rutinitas dan fasilitas yang buruk. Cuma itu cara terbaik untuk bertahan di sini. Sisanya kau akan nelangsa. Jiwa-jiwa seperti kita terlalu baik untuk bertahan di tempat yang sama.” ucap Galih suatu waktu.

Kala itu kami bergantian menyesap asap dari rokok yang sama. Kuingat angin sungai Martapura berhembus segar di siring pada tengah malam buta. Aku dan Galih baru seminggu lulus dan sedang gencar mencari pekerjaan. Itulah saat ketika ia memberiku koin duapuluh lima sen.

“Apa yang akan kaulakukan?” tanyaku.

“Aku sedang mengurus kepindahan. Orangtua angkatku di Wisconsin berjanji bersedia menampungku bila perihal visa dan berkas keberangkatan sudah terpenuhi.”

Tapi Galih pada akhirnya harus bekerja di perusahaan atas desakan ayahnya. Impiannya untuk melanjutkan hidup di luar negeri pupus. Sementara aku diminta untuk melanjutkan studi ke pulau Jawa oleh ibuku. Setahun di sana, kabar kematian Galih tersiar.

“Keluarganya menutupi perihal kasus gantung dirinya. Mereka mengatakan pada orang-orang ia mengalami pendarahan otak saat terpeleset di kamar mandi. Tapi kakaknya tak pernah berdusta padaku.” terangku pada Darma.

Kami sekarang berada di siring yang sama. Menghadapi sungai yang sama. Seperti aku dan Galih bertahun-tahun lalu.

“Andaikata kamu tidak pergi menempuh S2, ia pasti masih hidup sekarang.” Kata Darma. Bara rokoknya memercik. “Galih dan kamu sama-sama anak yang kehilangan rumah. Tuna wisma di tanah sendiri. Butuh teman sepenanggungan untuk berbagi mimpi, kalau tidak kalian bakal tersesat pada pikiran sendiri.”

“Begitukah?”

Darma tersenyum. “Akui saja, kamu sendiri sudah tersesat. Kamu pasti menyesal tidak mengambil kesempatan lebih banyak. Dan kamu bertanya-tanya, bagaimana mungkin masih bisa bertahan sejauh ini dan bersahabat dengan seorang mahasiswa penyendiri?”

Anak ini mungkin kurang ajar. Tapi, ia benar. Dan aku hanya lelaki matang yang membuang muka akibat tertampar kenyataan.

Darma membuang rokoknya ke sungai. Ia tahu betapa bencinya aku pada tindakan ceroboh macam begitu. Tapi ia tentu sudah tak lagi peduli dan berdiri meregangkan tubuh. Tasnya kembali diletakkan di bahu.

“Hadapilah: kita tidak istimewa. Kamu berpikir bahwa kita harusnya mendapat banyak kemudahan akibat luka-luka di masa lalu. Tapi, siapa yang tidak pernah terluka?”

Demi Tuhan, ingin kutonjok mulutnya agar diam. Tapi sosoknya teramat kecil. Langsing seperti pulpen yang selalu mengutarakan kejujuran.

“At once I knew, I was not magnificent. Strayed above the highway aisle. Jagged vacance as thick as ice. But I could see from miles, miles, miles…”

Kembali dikutipnya lagu “Holocene” seolah mengingatkan saat pertama kali kami memutuskan berteman. Tapi aku sudah terlalu lelah menanggapi apapun.

“Mari pulang.” kataku.

 

*

 

DARMA lulus dari universitas dengan masa kuliah lima setengah tahun. Agak terlambat dari teman-teman angkatannya. Tapi ia tak menyesal. Ketika melihatnya mengenakan baju toga dan memeluk karangan bunga dari para sahabat, aku terkenang kekhawatiranku dulu. Sudah enam tahun berlalu. Empat tahun setelah kematian Galih. Aku khawatir hidup tak seperti yang diangankan Darma selama ini. Tapi sepertinya, adik kecilku ini sudah jauh memahami.

Ketika berpapasan di luar gedung wisuda. Aku menyalaminya. Kami kurang berkomunikasi semenjak percakapan di siring itu.

“Ada yang ingin kukembalikan.” Katanya.

“Apa?”

“Kamu akan tahu.”

Aku berlalu seolah tak peduli. Tapi jujur, aku menunggu.

 

*

 

DATANG lagi panggilan itu. Peringatan untuk menetapkan posisi pekerjaan sebagai pegawai resmi pemerintahan. Lagi-lagi ibuku yang kembali mengingatkannya. “Sebab, apapun yang terjadi, selama kau tak banyak tingkah, tak ada yang akan menggeser posisimu atau bahkan mengganggu keuanganmu.” tuturnya. Setelahnya, ceramah tentang hidup berkeluarga akan jadi uraian yang lebih panjang dari masalah pekerjaan.

“Tak pernah ada yang salah dengan terikat, Angger.” tutupnya ketika tahu aku sama sekali tak peduli dan terus melanjutkan makan malamku.

Bagaimana bisa ia berkata tak ada yang salah dengan terikat? Ia sampai sekarang bahkan bersusah payah bertahan dalam perkawinan dengan ayahku yang brengsek. Belum lagi pekerjaan yang tampak semakin mengisap energinya yang makin menua.

Dan bayangkanlah: pekerjaan tetap dan keluarga. Dua institusi yang mengikat. Bekerja dari pagi sampai sore saja kerap membuat dadaku sesak seperti asma. Bagaimana harus menghadapi ketololan dalam seni berkompromi di sebuah keluarga baru lagi?

Aku jadi iri pada Galih yang bunuh diri. Aku jadi iri pada kebebasan Darma. Sebentar lagi ia akan pindah ke pulau Jawa. Persis seperti aku dulu, ia mengejar S2.

Hari-hari jauh terasa lebih mendung di musim hujan. Kerap aku mendapati diri terbangun di atas meja kerja di kamar sambil menghadapi jendela yang basah dan daftar lagu yang tak henti-henti memutar lagu dari First Aid Kit. Darma yang menyarankanku untuk mendengarkannya. “Asupan bergizi di hari dingin. Anak rohani dari Fleet Foxes” tuturnya.

Saat itu kami sedang duduk di bangku taman sambil beristirahat setelah menyelesaikan tujuh putaran lari. Setelah mempromosikan musik First Aid Kit, ia berkata tiba-tiba: “Kamu sedang berlari.”

“Aku sedang mengambil jeda setelah berlari.” ralatku sambil meneguk air mineral botol.

“Ini kukembalikan. Kamu lebih membutuhkannya daripadaku.” Darma menyerahkan koin dolar duapuluh lima sen ke tanganku. “Jimat agar kamu selamat dari krisis perempat baya.”

Aku tertawa lebih kencang dari kapanpun. Ia tidak bergurau. Aku sendiri tidak merasa dihibur. Tapi aku tertawa. Lebih lepas dan nyaring dari siapapun yang pernah kukenal. Setelahnya aku menarik napas dan menenangkan diri. Lalu, seperti mendengar kabar duka, airmataku mengalir tanpa desakan.

“Ada jarak satu milimeter antara bagian kepala dan belakang pada koin ini. Setipis itulah jarak antara bahagia dan sedih. Barangkali, Galih gagal memahaminya atau menolak sama sekali.” Darma menerangkan. “Tapi bagaimanapun, ia tetaplah koin yang sama. Dan apapun yang orang lain miliki di sini, bersyukurlah: kamu punya duapuluh lima sen yang tak akan pernah kauhabiskan.”

Aku tersenyum. Kami memandang matahari sore yang kembali terlihat seperti mata telur itik. Begitu bulat dan jingga.

“Kita akan menemukan rumah?” tanyaku.

“Percayalah, bahkan bila kamu melangkah jauh, jarak rumah sebenarnya hanya berjarak satu millimeter.”

“Seperti koin ini?”

“Seperti koin itu.”

Aku menimbang-nimbang koin itu. Merasakan beratnya di telapak tangan. “Kau ingin bertaruh?”

Kali ini Darma yang tersenyum. “Bukankah kita selalu bertaruh? Dan percayalah, apapun hasilnya, kita tetap tidak istimewa.”

Setelahnya kami bertahan diam di bangku itu sambil menyaksikan matahari tenggelam. Sebelum matahari hilang sama sekali, aku dapat melihat Galih di ujung sana. Ia menatapku. Wajahnya tak berubah. Ketika ingin melambai, ia sudah berpaling. Kemudian, hari masuk malam.

Seperti Galih, sekarang Darma yang meninggalkanku. Ia tak pernah pasti apakah akan kembali. Tapi, seperti koin duapuluh lima sen yang ia kembalikan, kenangan hanya berjarak satu milimeter. Setiap saat aku dapat kembali. Menyambut Galih lagi. Menyambut Darma lagi. Memutar lagi lagu-lagu kami. Saling berbagi mimpi dan merasa ditemani. Meskipun pada akhirnya, kami berjalan sendiri-sendiri.

Muhammad Irwan Aprialdy

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *