CERPEN MUHAMMAD NOOR FADILLAH; MAYAT DI MEJA MAKAN

  • Whatsapp
CERPEN MUHAMMAD NOOR FADILLAH; MAYAT DI MEJA MAKAN
Ilustrasi | jordans2019new.com

SEJAK awal Marni sebenarnya sudah curiga ketika ia dan suaminya tiba-tiba diundang makan malam oleh Bu Rika, tetangga sebelah rumahnya. Bukan apa-apa, tapi selama ini Bu Rika dikenal sebagai orang yang suka berkata kasar, sombong dan angkuh di kampungnya. Tentu aneh saat Bu Rika menjadi sangat baik dengan mengundangnya makan bersama. Dalam rangka apa memangnya? Tapi Marni tak bisa menolak ajakan itu dan berprasangka baik saja.

Selain berbagai macam hidangan menggiurkan yang tersedia, keberadaan meja makan berukuran besar sejak tadi menjadi perhatian Marni. Baru kali ini Marni melihat meja makan seindah itu. Bu Rika memang baru saja membeli meja makan baru. Sehari sebelumnya, sebuah mobil pick up menyambangi kediamannya. Mobil itu membawa sebuah meja makan dengan ukuran cukup besar dan terbuat dari kayu jati beserta empat buah kursi seperti singgasana raja. Berwarna keemasan dengan ukiran yang cantik dan detil. Meja makan itu diangkat beberapa orang ke dalam rumah.

Read More

Saat itu para tetangga tak ada yang keluar rumah. Mereka sengaja menyembunyikan diri agar tidak mendengar dan melihat kesombongan Bu Rika dengan meja makan barunya. Orang-orang sudah tahu kelakuannya jika punya barang baru. Meski tak ingin keluar, mereka tetap penasaran ingin melihat meja makan itu. Jadilah masing-masing mengintip dari jendela.

Sudah diketahui masyarakat tentang sikap Bu Rika yang suka pamer barang-barang baru kepada orang lain. Jika membeli sesuatu ia selalu menceritakan dan menunjukkan barang yang ia beli. Yang menjengkelkan tak jarang ia merendahkan orang lain yang tidak bisa membeli barang-barang bagus seperti dirinya.

Tak hanya barang-barang besar, barang kecil seperti piring pun tak luput menjadi bahan kesombongannya. Seperti yang dulu pernah terjadi ketika ia baru membeli beberapa lusin piring bermotif bunga warna merah. Hampir semua orang yang datang ke rumahnya ia ceritakan bahwa ia membeli piring baru. Begitupun dengan ibu-ibu yang biasa berkumpul di warung Acil Siti saban sore. Jika Bu Rika membeli barang baru, warung Acil Siti berubah layaknya tempat pameran.

“Nah coba lihat. Ini piring yang baru aku beli. Sekarang aku sudah punya 12 lusin,” sambil mengelap piring bermotif bunga itu dengan tisu.

“Wah banyak sekali. Untuk apa piring sebanyak ini Bu? mau dijual?” Bu Ina menanggapi sambil terkekeh. Begitupun dengan yang lainnya.

“Enak saja,” Bu Rika berdiri. “Ini semua bisa dipakai kalau ada aruh atau selamatan besar di rumah. Jadi saya tidak harus pinjam ke mana-mana seperti ibu-ibu ini.” Jawabnya ketus kemudian meninggalkan warung. Kepergiannya dilepas dengan wajah sinis para ibu di sana. Kalau saja bisa didengar, suara hati mereka tak lain hanyalah berisi umpatan dan kemarahan.

“Silakan dimakan ya Mar. Anggap ini meja makan sendiri,” ucap Bu Rika sembari menguahi piringnya dengan kuah sup.

Marni sengaja tak mengambil makanan yang banyak. Ia ingin semua ini cepat selesai. Perasaannya mulai tidak enak.

Benar saja, apa yang Marni duga benar-benar terjadi. Di tengah makan, Bu Rika tak henti-hentinya menceritakan meja makan barunya itu. Mulai dari harganya yang jutaan sampai hal remeh temeh lainnya tentang meja. Beberapa kali Bu Rika juga menyinggung Marni dan suaminya, entah sengaja atau tidak. Ingin rasanya Marni pergi dari sana, tapi tentu tak mungkin. Sesekali Marni dan suaminya bertukar pandangan. Tapi tetap saja mereka tak bisa berbuat banyak. Mereka makan dengan rasa kecut.

“Makan di meja beginikan enak. Daripada harus makan di lantai terus, Mar. Bukan bermaksud apa-apa lho ya. Tapi saran saya kalau kalian ada uang, belilah meja makan. Banyak kok yang murah kalau tidak sanggup seperti kami ini.”

Marni benar-benar kesal. Dadanya terasa sesak. Bu Rika sudah mempermalukan ia dan suaminya. Selama ini Marni begitu baik bertetangga dengan Bu Rika. Namun ia tak habis pikir mengapa begitu buruk tabiat tetangganya itu. Sekarang ia menyesal telah datang ke rumah Bu Rika.

“Sudahlah, Dik. Semua orang maklum dengan sifatnya. Jangan dimasukkan ke hati. Kamu sendiri yang rugi,” ucap suaminya sesaat pulang dari rumah Bu Rika.

“Tapi tidak bisa begitu, Ka. Mereka sudah keterlaluan.”

“Kita ini memang orang tidak berada. Tidak perlu tersinggung. Lagipula, Bu Rika juga sudah pernah membantu kita. Ingatlah kebaikannya.”

“Memang membantu. Membantu setelah telinga kita panas dibuatnya,” Marni menangis terisak. Tak mampu lagi menahan kekesalannya sejak tadi.

***

Siang itu satu kampung benar-benar heboh. Secara mengejutkan, Bu Rika dikabarkan meninggal dunia. Warga kampung berbondong-bondong menuju rumahnya dengan perasaan tidak percaya. Menurut berita yang beredar dari mulut ke mulut, penyebab kematian Bu Rika diduga karena serangan jantung. Tak ada yang mengira kalau selama ini Bu Rika menginap penyakit tersebut. Dua hari yang lalu, Bu Rika memang sempat dibawa ke rumah sakit.

Meski tahu bagaimana sikap Bu Rika selama ini, tapi tetap saja para tetangga melayat ke rumahnya. Membacakan Yasiin, memberikan dukungan semangat, dan membantu penyelenggaraan jenazah.

“Silakan masuk. Tapi mohon apapun yang dilihat di dalam nantinya, jangan sekali-sekali mengomentari apalagi banyak tanya! Kita sedang dalam keadaan duka. Mohon kerjasamanya,” ucap Bu Karta yang tidak lain adalah istri Pak RT, di depan pintu masuk dengan nada pelan dan tertekan.

Mendengar hal itu membuat banyak orang semakin penasaran dengan apa yang terjadi di dalam. Ketika melihat langsung, orang-orang begitu terkejut dan tak bisa mengendalikan mulut mereka lagi. Yang mereka lihat amat ganjil. Jenazah Bu Rika diletakkan di atas meja makan yang baru dibeli.

Selain bacaan Yasiin, yang terdengar adalah bisik ibu-ibu yang masih tak percaya dan bingung dengan apa yang mereka lihat.

“Kenapa jenazahnya ditaruh di meja makan? Memangnya tidak ada tempat lain? Ya Allah.”

Menggeleng-gelengkan kepala. “Saya kurang tahu Bu. Kata ibu-ibu yang lain sih, Bu Rika sangat menyanyangi meja barunya itu. Harganya jutaan. Di kampung kita, sepertinya hanya Bu Rika yang punya meja makan sebagus itu.”

Pak Tarman, suami Bu Rika terduduk lemas di depan meja tempat jenazah istrinya diletakkan. Marni dan suami juga ada. Meski masih menyimpan kekesalan namun mereka tetap datang dan memberi semangat untuk Pak Tarman yang amat terpukul. Bahkan sebelumnya, suami Marni ikut mengantar Bu Rika saat tidak sadarkan diri ke rumah sakit.

Wajah Pak Tarman masih basah air mata. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Percakapan ia dengan istrinya beberapa waktu lalu masih terngiang jelas. Membuatnya semakin sedih.

“Pak, terima kasih ya sudah mau membelikan meja makan untuk Ibu. Senang sekali rasanya. Bapak tahu sendirikan dari kecil ibu tidak pernah makan di meja makan. Selalu saja makan di lantai. Katanya lebih sehat-lah, lebih praktis-lah, dan macam-macam. Padahal Ibu tahu saat itu orang tua Ibu tidak bisa beli meja makan.”

“Sudahlah Bu. Namanya hidup memang begitu. Kadang di atas kadang di bawah.”

“Saking senangnya, seandainya bisa, Ibu mau tidur di atas meja makan saja,” sambil tertawa. Begitupun dengan Tarman.

“Sekarang giliran Bapak yang menagih janji ke Ibu. Sudah janjikan kalau Ibu akan memperbaiki sikap Ibu selama ini?”

“Ibu masih berusaha. Sering keceplosan. Sering-sering diingatkan ya Pak.”

Malam semakin larut. Merekapun tidur. Namun di kepala Tarman masih ada sedikit beban pikiran. Uangnya terkuras demi membelikan meja makan impian istrinya.

Muhammad Noor Fadillah
Latest posts by Muhammad Noor Fadillah (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *