CERPEN RAFII SYIHAB: IRWAN PELO DAN KEMATIAN TRAGIS YANG DIPILIHNYA

  • Whatsapp
CERPEN RAFII SYIHAB: IRWAN PELO DAN KEMATIAN TRAGIS YANG DIPILIHNYA
Ilustrasi | https://www.pexels.com

SETIAP orang di kampung ini kukira selamanya tak akan pernah lupa akan kejadian pagi ini, terutama bagi mereka yang melihat kejadian itu secara langsung, tatkala tubuh kaku membiru diturunkan dari pohon trembesi, tali pengikat sapi yang membuat lehernya hampir putus tersebut dilepaskan pelan, orang-orang yang menyaksikan pemandangan penuh siksa itu menjerit—maksudku benar-benar semua orang yang berada di bukit itu menjerit, puluhan orang, laki-laki dan perempuan, beberapa bahkan menangis demi menahan sakit yang sebenarnya tak mereka rasakan. Di bukit itu semua orang tersiksa, kecuali seorang pemuda penuh ambisi bernama Irwan Pelo: dialah orang yang paling tenang di sana, meski dengan leher hampir putus dan tubuh yang membiru.

Aku memandangi pohon itu, satu-satunya pohon besar yang tegap berdiri di bukit tersebut. Seperti juga semua orang, aku meneteskan air mata melihat kejadian memilukan itu. Irwan Pelo, meski aku tak begitu akrab, dia adalah pemuda yang baik budinya. Aku tak ingat pasti berapa banyak kebaikan yang ia perbuat kepadaku, tapi satu yang paling berkesan adalah ketika aku sedang sakit parah akhir tahun lalu, pemuda itu datang kepadaku dengan pakaian serba kumal penuh tanah. Aku terkejut. Badanku sungguh panas ketika itu, sudah dua minggu belakangan aku bahkan tak bisa bangkit.

Read More

“Siapa kau?” tanyaku, mataku buram sebab menderita penyakit yang tak kumengerti.

“Matamu kuning,” sahut Irwan Pelo, “kau kena racun?”

“Oh, Irwan Pelo,” kataku, aku tahu ia adalah Irwan Pelo karena ketidakmampuannya menyebut huruf ‘R’ pada kata racun. “Aku tak bisa melihat mataku sendiri.”

“Aku tahu itu.”

“Bagaimana keadaanmu?”

“Kurasa aku akan mati dalam satu-dua bulan ke depan.” Aku benar-benar sakit waktu itu dan kematian adalah satu-satunya harapan menarik yang dapat kuucapkan.

“Sayang sekali,“ ia menjawab, “padahal aku sudah siap untuk menggalikan kuburmu hari ini.”

“Kau datang lebih cepat beberapa minggu mendahului malaikat kematian,” balasku.

Irwan Pelo tak menyahut dan, samar-samar kulihat, hanya menggerakkan badannya seperti orang bingung. Kepalanya maju mundur seperti orang yang menikmati dentum musik namun tanpa musik. Tubuhnya yang jarang bertemu dengan air dan sabun tercium begitu menyengat membaur dengan bau tubuhku sebab satu hal yang sama dengan apa yang ia lakukan.

Pemuda ini memang sebuah lelucon bagi kampung kami, ia tak gila tapi tak juga cerdas. Ketika aku tahu ia datang untuk menjengguk, aku mulai bertanya-tanya: apa sebenarnya yang ingin dia perbuat. Di masa lalu, ibuku pernah bilang, orang yang kelakuannya tak masuk akal dan terkesan ajaib bisa saja sebenarnya adalah orang mulia yang tahu hal-hal di luar kemampuan kita. Irwan Pelo kupikir masuk dalam kategori ajaib itu—meski aku tak yakin ia mulia sebab hampir saban hari kulihat ia hanya menggodai perempuan dan memakan jamur tahi sapi yang tak ada faedah itu.

“Jujur saja, untuk apa sebenarnya kau datang?” tanyaku tak bisa menahan penasaran.

Irwan Pelo diam sebentar seperti menahan sesuatu yang besar keluar dari dalam dirinya. Ia menarik napas mengumpulkan energi untuk membuat pengakuan kepadaku.

“Sebenarnya,“ ia membuka tangan kanannya yang sedari awal terkepal, “aku membawa tanah.”

“Tanah? Untuk apa?”

“Menyembuhkanmu,” jawabnya secepat ia meludahi tanah itu dan menyapukan secara serampangan ke wajahku. Membuat mataku kelilipan (kurasa beberapa di antaranya juga masuk ke dalam mulutku waktu itu).

“Bangsat! Sinting! Pelo Tai! Kurang ajar!” sumpahku tak keruan. Aku sakit dan hampir tak bisa menggerakkan badanku sama sekali selama dua minggu. Terbaring lemas seperti orang tua menunggu mati di atas kasur sendiri. Lantas manusia sialan itu datang dengan pakaian kotor, membawa tanah yang entah ia ambil di mana, mencampur tanah tersebut dengan ludahnya yang bau tahi manusia, lalu sekonyong menyapukannya ke mukaku. Sialan. Sungguh betul-betul sialan. Aku marah ketika itu. Marah besar. Aku bangkit berdiri dan mengejarnya hingga pintu rumah—di titik itulah aku menyadari, aku bisa menggerakkan tubuhku kembali. “Aku berlari. Aku berlari. Aku berlari.” Kata-kata tersebut terus kuulang tak pernah jemu hingga beberapa lama setelahnya.

“Irwan Pelo bangsat! Kau mengerjaiku! Sinting! Terima kasih!” aku berteriak dari halaman rumah. Tubuhku serasa bangkit dari kematian. Aku tak mengerti sihir apa yang ia perbuat kepadaku, sakit yang kuderita lama sekali itu hilang secepat kilat sebab kekurangajarannya.

Sayangnya, sejak kejadian itu, Irwan Pelo selalu tertawa dan lari jika bertemu denganku (mungkin ia takut aku akan memukulnya hingga babak belur). Sampai pada pagi ini, untuk pertama kalinya setelah kejadian yang tak akan kulupakan itu, Irwan Pelo tak lagi kabur saat bertemu denganku—juga tidak tertawa.

Seperti yang sudah kusebutkan, Irwan Pelo adalah pemuda yang kelakuannya kadang tak masuk di akal. Konon, ia dilahirkan dari seorang perempuan sinting yang diperkosa di tengah hutan pada hari yang suram di masa lalu. Suatu hari tak lama setelah Irwan Pelo lahir, ia dibawa oleh seseorang dari kampung kami dan diangkat anak. Sejak saat itu ia tinggal di sini. Tak ada yang tahu kebenaran kisah tersebut kecuali Tuhan dan para koleganya—sayangnya Irwan Pelo bukan salah satu kolega Tuhan, jadi sampai mati pemuda itu tak tahu dari rahim siapa ia dilahirkan: apakah benar dari orang sinting atau dari seekor sapi yang diperkosa manusia.

Irwan Pelo sering ditertawakan warga kampung kami sebab ketidakjelasan keturunan tersebut. Ia dijauhi oleh anak sebaya. Dibilang sinting dan lain sebagainya. Ia tidak sekolah sebab orangtua angkatnya terlalu miskin untuk membiayai.

Tapi pada kenyataannya, Irwan Pelo adalah manusia biasa seperti kita. Ia tidak gila. Aku tahu itu. Ia pekerja yang rajin. Seperti ayah angkatnya, Irwan Pelo bisa mengerjakan pekerjaan apa saja jika pekerjaan itu ada (tentu tidak apa saja dalam arti sebenarnya), ia menggali sumur, membajak sawah, mengangkut barang, membersihkan rumah, dan banyak lainnya. Semua itu ia lakukan demi mencukupi kehidupannya, bahkan kudengar sebelum kematiannya ini, ia mengumpulkan uang untuk seorang perempuan pujaannya—dan itu adalah kisah lain yang perlu diceritakan.

Sekiranya aku tak perlu berbicara langsung kepada pemuda itu untuk tahu perasaan yang menggebu dalam hatinya. Semua orang tahu belaka bahwa Irwan Pelo begitu berhasrat terhadap gadis manis bernama Nuri Merah—sebagaimana juga banyak pemuda lainnya memiliki perasaan serupa kepada perempuan yang sama (tak terkecuali aku). Tak jarang sebab merebutkan perempuan itu, Irwan Pelo mesti merelakan wajahnya membiru ditampar oleh sesama para pecinta karena pertarungan tak ada untung.

“Aku cinta Nuri Merah,” teriak Irwan Pelo sering kali. “Siapapun yang berani menyentuh Nuri Merah, maka ia harus adu pukul denganku!”

Dan begitulah Irwan Pelo dengan tololnya membuat wajahnya ditampar orang hampir setiap hari tanpa pembalasan berarti. Untuk  membalas, kata Irwan Pelo, aku lebih baik bekerja keras mengumpulkan uang.

Nuri Merah adalah gadis paling masyhur di kampung ini. Orang-orang menyebutnya kembang desa. Ia cantik dan kaya, wajahnya semulus langit pagi musim kemarau, bersih dengan tubuh tinggi dan langsing berisi. Rambutnya terhurai sebahu berwarna merah atau kadang coklat—ia suka gonta-ganti warna rambut. Ia adalah putri tunggal dari orang paling kaya di kampung ini, Haji Kodir, seorang pengusaha tambang, sawit, ternak sapi dan berbagai macam usaha lainnya. Rumah keluarga kecil itu sangat besar, orang-orang mengatakan rumah itu salah tempat, sebab seharusnya rumah sebesar itu letaknya di kota dan bukan di kampung penuh debu seperti ini.

Di masa lalu, Nuri Merah tak ubahnya gadis kecil biasa yang menghabiskan waktu di sawah dan sungai, tetapi semenjak sekolah menengah atas ia mulai berubah, pada waktu itu tubuhnya mulai menimbulkan berahi bagi kebanyakan laki-laki. Dari waktu itu pulalah, kendati Nuri Merah hidup dengan orangtua kaya, ia seperti tak pernah cukup. Ia sering memanfaatkan banyak laki-laki yang menaksirnya untuk mentraktir. Dan sebagaimana kemudian rahasia umum itu terbuka, semenjak tubuhnya kian tumbuh menjadi perhatian, ia memanfaatkannya untuk menghasilkan uang. Saat ia menyelesaikan sekolah menangah atas, tak sedikit orang bahkan menambahkan catatan kecil di belakang namanya: Nuri Merah—ia bisa dipakai.

Tentang catatan kecil di belakang namanya itu belakangan kuketahui masih punya catatan lagi: tapi harganya sangat mahal. Dan memang benar begitulah adanya, menurut beberapa orang yang kutanyai, harga untuk menghabiskan beberapa jam dengan Nuri Merah bisa sampai dua juta lebih. Dengan nominal itu, tentu saja yang bisa menghabiskan waktu dengan Nuri Merah hanyalah orang kaya atau setidaknya karyawan tambang yang bergaji tiga sampai lima juta rupiah sebulan. Bagi Irwan Pelo, di sanalah letak masalahnya, penghasilannya tak pernah pasti dan lebih sering kurang dari seratus ratus ribu sebulan.

Tadi malam, sebagaimana penuturan orang-orang yang melihatnya langsung, pemuda malang itu mendatangi Nuri Merah di sebuah warung tempat anak muda kampung berkumpul. Jelas saja Irwan Pelo telah menyiapkan diri sebelum itu, ia memberi rambutnya minyak jelantah dan membuatnya mengkilat serta memakai pakaian paling bagus yang ia punya. Sambil mengisap rokok, ia mendekati Nuri Merah. Sekejap dengan tololnya ia berkata pada Nuri Merah bahwa ia punya uang tujuh ratus ribu rupiah hasil jerih payahnya mengerjakan banyak hal selama beberapa bulan belakangan.

“Maukah kau bercinta denganku?” ajaknya.

Semua orang terdiam sebentar, memandangi pemuda malang itu dan tertawa kemudian. Aku bisa pastikan, saat itu Irwan Pelo pasti gemetar menanti jawaban perempuan impiannya, detik-detik setelahnya terasa bagai ratusan tahun menjalani hidup dengan batu sebesar rumah di atas kepala.

“Uang segitu bahkan tak cukup untuk meniduri seekor sapi beranak dua belas,” jawab Nuri Merah seraya tertawa—atau dengan kata-kata lain dengan maksud yang sama—mematahkan hati Irwan Pelo, menghancurkan dunia seorang pemuda yang menurut ibuku mulia itu.

Selepas mendengar jawaban menyakitkan itu, Irwan Pelo lari dan orang-orang lebih keras menertawakannya. Tak ada yang tahu ke mana dia pergi sampai pada pagi ini kami dikejutkan oleh satu kejadian luar biasa yang terjadi untuk kali pertama dalam sejarah kampung: Irwan Pelo mati gantung diri dengan tali pengikat sapi milik Haji Kodir, ayah perempuan tercintanya. Ia mati di atas bukit tak jauh dari tempat di mana sapi-sapi itu dipelihara. Tak ada yang tahu apakah sebelum bunuh diri itu ia lebih dulu memperkosa sapi beranak dua belas seperti yang dikatakan Nuri Merah atau tidak, yang jelas, uang tujuh ratus ribu yang semula ingin dipakainya untuk meniduri Nuri Merah terletak di kandang sapi itu. Utuh tanpa sepeser pun berkurang.[]

 

 

Jogja | 2020

 

*Cerpen ini pernah terbit di Rubrik Saujana, Radar Banjarmasin.

Avatar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *