CERPEN RAFII SYIHAB; ULANG TAHUN, GUNUNG, DAN SEORANG KEKASIH YANG TERGILA-GILA PADA SOE HOK GIE

  • Whatsapp
CERPEN RAFII SYIHAB; ULANG TAHUN, GUNUNG, DAN SEORANG KEKASIH YANG TERGILA-GILA PADA SOE HOK GIE
Ilustrasi | IBTimes.ID

Besok hari ulang tahunmu. Bersama kekasihmu, kau rayakan bertambahnya usia itu di puncak gunung yang pada hari-hari libur ramai tiada terkira—sebuah puncak gunung yang berubah menjadi tempat wisata keluarga. Tetapi besok Senin, tempat itu sedang sepi. Kekasihmu, dalam gelap malam yang luruh serupa dinding pemisah antara dunia orang lain dan dunia kalian berdua, memandangmu dalam tatap yang menusuk seraya memegang pisau. Kau menelan ludah.

 

Read More

 

Kalian duduk saling berhadapan di dalam tenda, diiringi dengan manis oleh Joan Baez dari dalam ponsel kekasihmu—ia sungguh menyukai Joan Baez karena lirik-liriknya yang bertemakan perjuangan, dan terutama karena Soe Hok Gie juga menyukainya—di depan kalian kue tar terpampang manis dengan lilin berbentuk usia yang kini kau capai. Senter menggantung malas di atas kalian. Remang cahayanya membentuk suatu ikatan cinta dalam suasana sepi dan kelam. Kekasihmu melirik jam, setengah jam lagi tengah malam tiba, tetapi di hatinya rasa sabar terbang sudah ditiup angin pegunungan yang dingin tiada ampun. Kau tersenyum. Kekasihmu itu, seorang perempuan gila perjuangan, kau temui tahun lalu di sebuah acara damai memperjuangkan tanah adat dari eksplorasi tambang. Kau adalah satu dari banyak orang yang ikut nimbrung dan gaduh—sejujurnya, kau ikut-ikutan saja karena banyak dari teman-temanmu melakukannya. Itulah kala kau lihat perempuan itu, rambutnya terhurai, pendek sebahu, kulitnya tidak seputih kebanyakan perempuan lain, matanya bercahaya—ya, ini cuma menurutmu, tidak ada mata bercahaya di dunia ini selain mata setan dan hantu—tubuhnya kecil mungil, suaranya lantang dan sedikit cempreng, mukanya bulat dengan mata yang sama mungilnya dengan tubuhnya, bibirnya tipis dan ketika pada suatu kesempatan ia tersenyum ke arahmu; kau dibuat gila. Tidak ada alasan untuk tidak mencintai perempuan ini, katamu dalam bisik penuh rahasia. Sementara, kau adalah laki-laki pendiam dan pengecut pula. Kau tak berani mengajaknya berbincang—yang kau lakukan hanya diam-diam memandangi perempuan itu dari kejauhan sambil sesekali beralih pandang ketika tanpa sengaja ia melirik ke arahmu. Tetapi kau dapat whatsapp-nya, itu lebih dari cukup. Dari sana, kau dekati dia serupa operator yang tiada henti memberi pesan tanpa peduli kau dipedulikannya atau tidak. Dalam urusan cinta, kau cukup ngotot—dan tolol. Itu pernah ia katakan ketika kali pertama kalian bertemu. Ia sering membicarakan perjuangannya kepadamu, bercerita penderitaan warga kelas bawah, korup pemerintah, tumpulnya mahasiswa, dan hal-hal semacam itu yang tak begitu kau sukai. Jika ‘penyakitnya’ itu sudah kumat, kau hanya memandang ke arah lain, sebuah pandangan kosong. Kekasihmu tentu saja mengerti akan hal tersebut, dan dia lebih sering mengalah.

Kau tak suka naik gunung—juga pantai. Kau lebih suka duduk di sebuah kafe menyesap kopi sambil menikmati koneksi internet gratis berjam-jam lamanya. Jika sedang malas untuk nongkrong, kau memilih menghabiskan waktu di dalam kamar, bertatap mesra dengan layar komputer atau ponsel pintar, menjelajahi dunia dari satu media sosial ke media sosial lain. Mengobrol dengan beberapa teman yang tak pernah benar-benar kau kenal. Kau punya banyak teman di dunia palsu itu, teman yang jika kau sakit, akan mendoakanmu lewat sebuah status media sosial mereka masing-masing. Kekasihmu benci itu. Baginya itu omong kosong. Sebuah pertemanan tanpa pertemuan adalah pembodohan terhadap diri sendiri. Pertemanan lazimnya bertatap muka, pergi bersama, tahu alamat rumah masing-masing, bukan semata saling mengobrol dalam kolom chat, kata perempuan itu memberi ceramah.

Kamu terkekeh. Kita punya cara hidup dan cara berteman masing-masing, katamu. Kekasihmu melunak. Ia bilang, ”Tetap saja, suatu waktu kau harus keluar mencari teman yang benar-benar teman.”

“Nanti aku naik gunung,” ucapmu.

“Kapan?”

“Kalau kau ajak.”

“Tepat pada malam kamu ulang tahun?”

“Itu dua minggu lagi.”

“Masih lama.”

“Aku tidak yakin.”

“Harus yakin.”

“Berdua saja!”

“Hmm…baiklah!”

Malam ini, kalian sudah di sana, di atas puncak gunung, didera gigil sebab sepoi angin begitu deras, suara bermacam binatang dan gesekan pucuk pohon yang baru pertama kali kau dengar membuatmu bergidik ngeri. Dan, kau menyesal.

 

 

“Orang-orang seperti kita tidak pantas mati di tempat tidur,” mata kekasihmu memantulkan suatu cahaya keemasan yang kau yakini hanya dapat dilihat oleh beberapa orang saja, “itu kata Gie—“ dia memperlihatkan satu gambar dalam ponselnya, seorang lelaki muda dengan mata sipit mempesona, “dia itu aktivis. Seorang mahasiswa…”

“Orang seperti kita?” potongmu, “memangnya kita seperti apa?”

Kekasihmu menepuk jidat. Dia menarik napas. Mahasiswa, jawabnya. Kau mangguk. Kekasihmu geleng kepala. Kali pertama kekasihmu menyukai Soe Hok Gie adalah saat ia menonton film dari Riri Riza yang mengangkat kehidupan seorang aktivis sekaligus pecinta alam itu. Film itu rilis tahun 2005, tetapi kekasihmu menonton jauh sesudah itu, ia menonton karena salah seorang teman mahasiswa sesama aktivis lingkungan memberitahu tentang seseorang bernama Gie dan menyarankan perempuan itu untuk membaca buku-bukunya. Awalnya ia mencintai pemeran Gie dalam film tersebut (Nicholas Saputra, dia mendapatkan penghargaan sebagai aktor terbaik atas peran tersebut), lalu kemudian jatuh hati pada surat-suratnya (terutama yang ditunjukkan Gie kepada kekasihnya—aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu sayangku—ah, betapa romantisnya surat itu baginya), lalu kemudian ia mulai membaca Gie lebih jauh, tentang perlawanannya, tulisannya, idealisme-nya yang tiada roboh oleh badai apapun, kecintaannya pada gunung, akhir hidupnya yang mengharukan di puncak gunung sehari sebelum ia ulang tahun. Perempuan itu juga menghias banyak hal dengan potret atau kata-kata dari Gie; kaos, dinding kamar, layar ponsel, dan semua hal yang memungkinkan untuk ditempeli stiker. Ya! Ia segila itu.

“Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah yang berumur tua.”

“Kata Gie lagi?”

“Iya,” kekasihmu tersenyum dan nampaklah gingsulnya—sejujurnya, ia manis sekali, tetapi kau sedang jengkel, kau tidak mau memujinya.

“Kawin sana sama Gie taik sialan tersebut!”

Perempuan itu cemberut. Ia berdiam diri. Tidak makan dan minum dan bicara atau apapun. Di saat marah, semua perempuan adalah sama pada akhirnya. Kau menyesali perkataan kasar itu. Tapi, dua hari lagi kau rayakan ulang tahun, pikirmu. Kau akan biarkan kekasihmu jengkel sampai hari itu untuk memberinya kejutan.

 

 

Itu pertengahan tahun lalu ketika perempuan itu, beserta dengan teman-teman satu organisasinya, menemani warga serta para petani mendemo satu perusahaan tambang untuk menuntut ditutupnya aktivitas pertambangan bawah tanah mereka. Kekasihmu tergabung dalam organisasi tersebut sejak semester satu—dari sanalah ia belajar banyak hal tentang perlawanan dan membuka mata terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Kau ingat awal-awal perkenalanmu dulu, kau dan dia sedang makan waktu itu, saat itulah kalian melihat seorang preman, tak jauh dari tempat kalian duduk, sedang menghajar penjual bakso keliling karena satu dan lain hal yang sejujurnya tak kalian ketahui. Kekasihmu hendak mendatangi orang itu jika saja tak segera kau cegah. Lalu dengan berapi-api kekasihmu membicarakan sesuatu yang tak pernah masuk dalam kepalamu; perempuan itu membicarakan kejahatan negara dan dampak panjang yang akan terjadi pada masyarakat, bahwa kekerasan negara hadir karena para pembuat hukum dan keputusan tidak membatasi kekuasaan, merasa bahwa negara ini adalah milik mereka hanya karena mereka lah yang menjadi pemerintah, merasa bahwa dengan begitulah mereka punya kesempatan untuk memperkuat dominasinya, baik itu dari segi politik atau bisnis. Itulah kejahatan! Parahnya kejahatan tersebut nantinya, sambung kekasihmu, akan menular pada masyarakat karena nurani dan pikiran kritis mereka dilumpuhkan. Mereka kehilangan tameng untuk tahu mana yang benar dan salah. Warga akan…sampai di sana ia berhenti, perempuan itu sadar ia telah lupa diri, bahwa kau, laki-laki dengan penampilan yang justru lebih rapi dari perempuan itu, tidak suka dengan apa yang baru dan akan ia bicarakan.

Itulah kekasihmu, perempuan yang kemudian bersama warga datang pada perusahaan tambang untuk menolak keberadaan mereka.

Perusahaan tambang yang mereka datangi itu sejak awal kehadirannya memang sudah meresahkan warga sekitar. Warga tahu belaka bahwa tambang tidak akan baik ke depannya bagi kehidupan mereka. Namun tambang itu berjalan juga, hingga dua tahun berlalu, warga sekitar mulai merasakan dampak buruknya, tanah-tanah retak seakan terbelah, sumur dan sawah kekurangan air membuat banyak warga mengalami gagal panen. Dari sana, mereka mulai bergerak, mulai mendemo, menyampaikan aspirasi mereka baik pada pejabat pemerintahan atau kepada perusahaan tambang itu sendiri. Para warga itu tak pernah digubris. Hal itulah yang kemudian merebut perhatian organisasi kekasihmu untuk menemani warga di sana. Mereka berdialog, menyampaikan satu-dua hal soal tambang dan yang lain, lalu bersama-sama merencanakan demo selanjutnya. Tak pernah para mahasiswa itu memikirkan, atau mengajak warga, untuk berbuat rusuh. Tidak sama sekali. Tetapi begitulah yang terjadi kemudian, tanpa bisa dikendalikan oleh mahasiswa yang jumlahnya tak lebih dari dua puluh orang tersebut, warga memaksa masuk ke kawasan pertambangan itu, mereka berhadapan dengan aparat bersenjata, tanpa pernah diketahui pula oleh kekasihmu dan kawan-kawannya, ternyata banyak dari warga yang membawa senjata tajam, bentrok fisik terjadi, beberapa kali aparat melepaskan tembakan, suasana tidak terkontrol dan seketika mencekam.

Satu setengah jam sesudahnya situasi mulai kembali normal, warga bubar, banyak di antaranya bahkan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Tidak ada siapapun yang dijadikan kambing hitam selain para mahasiswa—mereka dituduh sebagai dalang dari demo dan rusuh itu. Maka, dengan gencar para aparat mencari mereka, beberapa tertangkap, termasuk ketua organisasi itu sendiri, tetapi kekasihmu tidak. Mereka, para mahasiswa yang tersisa, lari melintasi semak dan sawah, sempat sembunyi di rumah-rumah warga sekitar untuk beberapa malam dan kembali setelah semuanya dirasa cukup aman.

“Seharusnya pemerintah menyadari dampak yang diterima masyarakat,” kata perempuan itu menyambung kisahnya, “itu kalau memang mau mensejahterakan rakyat.” Ia menyibak rambut bandel yang menganggu wajah, “Orang-orang wilayah tambang tersebut adalah para petani, mereka butuh sawah.”

Kamu mengangguk bosan—matamu memandang kosong penuh dengan berbagai hal selain cerita kekasihmu.

Ia diam sebentar.

“Itu menjadi satu kenangan yang paling sulit atau malah tak mungkin kulupakan,” kata kekasihmu penuh semangat ketika ia menyadari bahwa kau tak lagi memerhatikannya, “tapi itu bukan satu-satunya.” Ia melirikmu.

“Ada yang lain?” tanyamu lemah—sebuah tanya yang kau gunakan untuk menutupi ketidakpedulianmu.

“Ya—“ ia menjawab pasti, “kau,” ia menghentikan jawabannya, memberi jeda untuk melihat raut wajahmu yang sedatar lapangan basket, “kau juga tak mungkin kulupakan,” ucapnya. Sejenak kemudian ia tertawa dan meludah, merasa jijik dengan apa yang baru saja ia katakan.

Kau mengacak rambutnya.

 

 

Rencana itu sebenarnya hampir batal karena kekasihmu yang jengkel membiarkan ponselnya berdering bahkan ratusan kali ketika pesan dan telepon darimu silih berganti masuk. Tetapi itu adalah hari ulang tahunmu. Kau tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada hari istimewa tersebut. Maka dari itu, kau menjemputnya, membawa sekotak martabak dan rayuan gombal demi gadis manis tersebut. Perempuan adalah perempuan, meski dalam kemalasan dan rasa jengkel yang begitu rupa menempel tiada pergi dari dirinya, ia tak tahan juga dengan rayuan semacam itu. Ia menggangguk. Kamu tersenyum. Kalian pergi.

Dan kini kalian duduk saling berhadapan di dalam tenda, napasmu terengah, hampir mati dibuat gunung yang bahkan tak lebih dari 1000 Mdpl dengan tangga semen dan jalan semudah jalan setapak di lorong gang menuju indekos milikmu.

Kekasihmu sudah normal, bahkan kelewat normal. Ia mulai kembali membicarakan apa yang selama ini ia sukai—itu ia lakukan setelah melihat satu penambangan batu besi yang berada tak jauh dari kalian. Bahwa begitulah alam ini dapat dirusak oleh kegilaan orang-orang kapitalis sialan yang hidup hanya untuk memperkaya diri. Merusak bumi demi mendapatkan kebahagian sesaat. Perempuan itu terhanyut dalam amarah yang tiada tertahan. Senter yang menggantung membuat wajahnya berkelebat dalam terang dan gelap. Manis dan menjengkelkan.

“Ini hari ulang tahunku,” katamu sambil berusaha memeluknya, “tak bisakah kita saling merayu dengan bisik mesra dan sedikit ciuman. Saling memeluk dan memberi kebahagiaan satu sama lain.” Kamu maju mendekatinya, menyisakan jarak antara bibirmu dan perempuan itu tak lebih dari sepuluh inci. “Tak bisakah,” kamu menarik napas seolah mengumpulkan amarah menjadi satu kata yang akan membuat kekasihmu tersadar, “kau berhenti bicara tentang omong kosong-omong kosong itu. Aku muak!”

Ia keluar secepat ia membereskan barang bawaannya. Kamu menghentikannya dan tidak berhasil. Sejurus kemudian ia telah berdiri nanar di sana, di bibir tebing curam yang berhias kerlap-kerlip lampu tambang di kejauhan. Maaf, katamu, aku tak bermaksud begitu, aku hanya…kata-katamu terhenti, cepat kau peluk tubuh kecil itu, mendekapnya penuh kasih untuk membuatnya tenang dengan cara paling romantis yang bisa kau lakukan. Lagi, kau mendekatkan bibirmu ke bibirnya. Ia meronta. Jauh di atas sana bulan menggantung memberi cahaya remang dan tenang. Suara-suara binatang itu masih membuatmu khawatir. Malam bertambah malam. Beberapa menit lagi ulang tahunmu tiba. Perempuan itu terus berontak dalam pelukanmu. Kau tak ingin melepaskan. Ia teriak dan terisak. Lututnya bergerak cepat untuk menghajar selangkanganmu. Sakit tiada ampun. Amarah menguasaimu. Kau balas dengan menamparnya. Dalam gelap malam yang luruh serupa dinding pemisah antara dunia orang lain dan dunia kalian berdua, ia memandangmu dalam tatap yang menusuk seraya memegang pisau. Kau menelan ludah. Perempuan itu begitu marah. Berbaur dengan sepoi angin dan riuh pepohonan, kau mendengar kekasihmu berbisik penuh emosi; makhluk kecil, kembalilah dari tiada ketiada!

Dan begitulah, semuanya selesai sampai di sana.

 

Martapura|10|06|2019

Avatar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *