CERPEN ROMI AFRIADI: RUMAH SEBELAH KIRI

  • Whatsapp
CERPEN ROMI AFRIADI: RUMAH SEBELAH KIRI
Ilustrasi | eghoartculture.wordpress.com

MEMPUNYAI sebuah rumah mungil di sudut desa yang tenang dan damai menjadi impian suamiku setelah menikah. Entahlah, apakah itu obsesi besar atau sekadar kebosanan mendiami kota yang kian gaduh. Nyatanya, suamiku begitu ngotot mewujudkan rencananya, ia sudah membayangkan akan merasakan ketentraman dan kebahagiaan membaur bersama dengan orang desa yang terkenal ramah, menghirup udara bersih setiap pagi.

Memasuki usia pernikahan kami yang keempat, rencana itu semakin kuat tertanam di dalam pemikiran suamiku, bahkan ia sudah mengambil ancang-ancang untuk mundur dari pekerjaannya di kantor, banyak orang yang menyayangkan keputusan itu. Jabatan suamiku bukan termasuk rendahan di kantor, jika bertahan dan terus berkontribusi di kantor, bukan perkara mustahil, ia akan mencapai puncak karir sebagai pimpinan.

Read More

“Apa kau sudah memikirkan baik-baik rencana itu?”

Salah seorang istri dari teman sekantor suamiku seringkali mengajukan pertanyaan serupa.

“Belum tentu kondisi keuanganmu akan tetap membaik kalau pindah,” ia menambahkan.

Aku juga sering memikirkan hal yang sama, itu juga yang menjadi perbincangan aku dan suami, dan akhir dari obrolan itu, suamiku selalu meyakinkan keputusan itu adalah yang terbaik. Aku sempat menawarkan opsi lain kepadanya untuk mengambil cuti panjang dari kantor, lalu waktu itu dihabiskan berlibur ke desa-desa eksotik yang diinginkannya, tetap saja keputusan berhenti dan pindah sudah bulat bagi suamiku.

Barangkali karena lahir dan bertumbuh di kota besar, membuat keinginannnya merasakan atmosfer pedesaan begitu menggebu. Sesekali jika ia ikut pulang kampung bersamaku, kelihatan betul ia menikmati masa itu.

“Aku bisa bekerja sebagai petani di desa, menjadi petani itu punya prospek yang bagus, dan tidak ada tuntutan dari atasan, harus ini-itu.”

Sepertinya suamiku sudah merancang masa depannya bukan sebagai karyawan kantoran, tapi apakah ia mampu menjadi orang biasa dengan menjadi petani? Melihat portofolio dan riwayat hidupnya sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan dunia itu. Namun tekadnya untuk pindah ke desa dengan impian membangun sebuah rumah tak terbendung lagi.

 

***

 

Setelah mengalami pertentangan batin dan perenungan yang matang, akhirnya kami bersepakat untuk ke desa kelahiranku. Ibu menyambut kedatangan kami dengan gembira, ibu mana pula yang tidak senang jika anaknya pulang? Namun setelah aku menceritakan keinginan kami untuk membangun sebuah rumah mungil, membuat raut wajahnya seketika berubah masam. Bukan karena ia melarang pembuatan rumah baru, namun perkara lokasi yang persis berada di sebelah kiri rumah ibu menjadi masalah besar.

“Tak elok membangun rumah di sebelah kiri orangtua atau kerabat yang lebih tua darimu. Pamali,” ujar ibu.

Sungguh aku dan suamiku tak pernah membayangkan perkara ini, ibu memang orang  kampung asli yang besar dengan mitos dan legenda, bertumbuh dari dongeng-dongeng yang kerap diceritakan orang tuanya sesaat sebelum tidur. Ibu dibesarkan sebagai perempuan tradisional dengan nilai-nilai ajaran budaya dan adat yang melekat kuat. Berbagai kejadian yang menurut zaman sekarang sangat tidak masuk akal.

Saat kecil, ibu selalu menceramahiku jika aku melakukan suatu pantangan yang menurutnya “Tak elok” atau “Pamali”. Seperti makan di depan pintu, memotong kuku di malam hari, atau meletakkan gelas terlalu pinggir di bibir meja. Ibu akan melanjutkan dengan sederet penyebab jika kita melanggar hal seperti itu.

Suamiku hanya diam dan kebingungan mendengar pertentangan itu. Maklum, antara ibu dan suamiku terbentang perbedaan yang sedemikian jauh. Bagi Ibu, mitos atau legenda merupakan hal yang tidak boleh dianggap remeh dan meyakini kebenarannya. Sementara sebagai orang kota, suamiku pasti menganggap mitos dan sejenisnya hanyalah igauan tak jelas, barang lama nan usang yang tak lagi relevan dengan perkembangan zaman kini yang serba canggih dan berteknologi.

Masalahnya suamiku terlanjur kepincut dengan lokasi itu, saat pertama kali datang ke rumahku, ia langsung tertarik akan tempat tersebut, tempat yang teduh, dengan sebatang pohon mangga besar di sisi belakangnya. Pohon itu akan senantiasa memayungi andai di bawahnya dibangun rumah kecil tempat peristirahatan. Suamiku kadung jatuh cinta terhadap lokasi itu.

“Sebaikmya buat di samping belakang saja,” anjur ibu.

Ibu memang menawarkan opsi lain dengan anjuran agar kami membangun rumah di sisi kanan rumahnya saja, tapi tempat itu tidak strategis, cenderung tertutup oleh rumah ibu jika dilihat dari jalan. Ibu juga memberikan pilihan lain untuk membeli sebidang tanah di pinggir jalan, tapi harganya kelewat mahal.

Aku berusaha menjelaskan sebisa mungkin kepada ibu. Begitu pun suamiku, kami membujuknya dan meyodorkan bermacam-macam teori dan cara agar ibu berkenan memberi izin, tapi sepertinya ia tetap tak bergeming. Saat aku melihat tidak ada celah untuk memengaruhi pendirian ibu, saat itulah aku beralih membujuk bapak, biasanya bapak tak terlalu monoton ketimbang ibu. Aku pun meminta dukungan dari saudaraku, respon mereka positif, dan mendesak ibu memberi izin. Karena merasa kalah suara, Ibu akhirnya membiarkan kami membangun rumah impian di situ, walaupun dengan sedikit ancaman.

“Jika terjadi sesuatu pada kalian, jangan bilang ibu tak pernah memperingatkannya.”

Aku hanya diam.

 

***

 

Selama proses pembangunan rumah kami, ibu lebih banyak cemberut. Jika kesalnya kumat, ia akan mengulangi kembali contoh orang yang celaka akibat melanggar beberapa pantangan.

“Rumah Pak Dolah pernah kebakaran karena membuat rumah di sebelah kiri kakaknya.”

“Lain lagi si Sunni, seumur hidup rezekinya seret, ia terkena sial karena melanggar pantangan itu.”

“Ada juga dulu, pemuda yang tak kawin-kawin, jadi bujang lapuk karena tak menghiraukan pantangan.”

Aku jadi tak enak hati mendengar itu, suamiku lebih-lebih. Bagaimana pun dia adalah orang pertama yang mengusulkan ide ini. Sementara itu, pembangunan rumah kami terus berangsur, para warga makin banyak yang tertarik tentang konsep rumah panggung dengan dinding papan yang kami usung. Tak tanggung-tanggung seorang arsitek dari kota langsung di datangkan suamiku untuk merealisasikannya.

“Bukankah rumah panggung ini menjadi ciri khas orang dulu di desa ini. Apa salahnya kita mencoba melestarikan kembali,” tutur suamiku memberi penjelasan.

Sekejap saja, rumah kami menjadi destinasi wisata dadakan, penduduk sekitar seakan bernostalgia. Menatap lekat, seolah itu bisa mengembalikan mereka ke masa silam, saat rumah-rumah bata belum berdiri.

Rumah panggung memang sempat menjadi ciri khas desa ini, sayangnya zaman perlahanan menggerus, dan rumah panggung itu dianggap kuno. Orang-orang lalu berlomba meninggalkannya demi mendapat pengakuan orang modern.

Seperti umumnya rumah tradisional, rumah panggung di sini terdiri dari bangunan persegi panjang dengan tiang yang menyangga di berbagai sisi. Kata para tetua desa, itu di maksudkan agar terhindar dari binatang buas. Selain itu juga untuk penyimpanan berbagai macam kebutuhan, seperti penyediaan stok kayu bakar, biasanya akan dipergunakan menjelang Ramadan untuk keperluan kenduri.

“Lihatlah, Bu, rumah yang kami bangun mendapat respon positif dari penduduk, mereka berterimakasih sudah mengingatkan dengan sejarah kita masa lampau.”

Sikap ibu memang tak sekeras saat awal pembangunan dulu, perlahan mulai mencair, tapi tetap saja menyayangkan rumah sebagus itu harus di bangun di tempat yamg salah. Sebelah kiri rumahnya.

“Maafkan kami jika ibu masih belum bisa berkenan dengan semua ini, semoga kita semua di lindungi Tuhan.”

Saat itu kondisi kesehatan ibu memang tak lagi membaik, bahkan ketika rumah kami sedang dalam proses penyelesaian akhir, kondisi Ibu makin memburuk sehingga tak bisa menyaksikan rumah panggung kami yang megah itu berdiri kokoh.

 

***

 

Kini sudah sembilan tahun ibu meninggal, rumah kami tetap gagah menjulang, dua anak kami lahir di rumah panggung ini, kehidupan kami berjalan sebagaimana yang mesti diharapkan. Suamiku tetap menjadi petani, bukan petani biasa yang setiap hari bergelut dengan cangkul dan lumpur, ia sukses menggerakkan warga untuk menanam cabai, sekarang wilayah kami menjadi sentra komoditas cabai terbesar di provinsi. Lahan yang digarapnya semakin luas, jaringan bisnisnya semakin berkembang menembus ke berbagai daerah, panen semakin melimpah. Kesejahteraan keluarga kami pun terjamin, tapi tetap saja pada waktu tertentu, aku merasakan perasaan yang kosong setiap mengingat ibu.

Jika waktu sunyi memerangkap, seketika aku ingat kata-kata ibu, “Tak elok membangun rumah di sebelah kiri orangtua atau kerabat yang lebih tua darimu. Pamali.” Aku tak tahu apakah kejadian yang akan menimpa kedepannya, aku hanya bisa berdoa untuk keluarga kami dan ketenangan ibu di surga. Sekali setahun, menjelang Ramadhan hendak bertandang, aku tak lupa mengadakan kenduri, sebagai hadiah khusus untuk ibu dan juga rasa syukur atas nikmat Tuhan. (*)

Romi Afriadi
Latest posts by Romi Afriadi (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *