CERPEN SETIA BUDHI: ULAYAT

  • Whatsapp
Cerpen Setia Budhi Ulayat
Foto: yorkshirepost.co.uk

Dari angkasa, aku melihat ke bawah. Melihat negeriku, seperti sebuah peta yang terbuka. Peta itu memantulkan cahaya dan warna hijau, coklat dan merah serta abu-abu. Di beberapa kawasan pantai yang biru terbentang.

Di antara kebiruannya itu, aku juga melihat Papua, Kalimantan, Maluku dan Acheh, Selawesi dan beberapa pulau lainnya, pulau-pulau itu tercabik-cabik seperti diterkam serigala. Alangkah mengerikan. Kini kesederhanaan berubah menjadi keruwetan, bongkahan masalah lingkungan dan kemanusiaan bertimbun di mata, pikiran dan nyali.

Read More

Mengapa mereka menjadi bungkam. mengapa penduduk yang hidup dengan sederhana. Nelayan-nelayan yang selalu menganggap bahwa laut adalah ibu. Masyarakat adat memandang Tanah Ulayat adalah Ibu. Sedangkan, perahu dan jaring adalah ayah, sedangkan pohon-pohon dan hutan-hutan adalah Ayah. Hidup yang akan terus-menerus membimbing mereka tanpa pernah bosan.

Malam itu, sebelum aku berangkat tidur, aku masih merasa, betapa asinnya tubuhku. Tubuh yang sore tadi beterbangan diangkasa.
Hutan terbakar dengan hebat, aku mendengar nyanyian yang merintih.

Nyanyian apa dan siapakah itu? Entah dari manakah? Satu-dua orang berseliweran. Aku yakin, nyanyian yang merintih itu bukan berasal dari orang-orang ini. Dan ketika aku mendongak, ahai, aku melihat atap-atap rumah yang ada penuh dengan monyet. Ada yang berdiri. Ada yang jongkok. Ada yang bertiduran. Bahkan ada yang mengambang sambil mengepak-ngepakkan ekornya.

Dan semua makhluk itu menyanyi. Menyanyi dengan nyanyian yang merintih. Dan sepertinya, itu ditujukan ke arah seseorang. Ke siapa? Ya, jika boleh aku jawab, ternyata nyanyian yang merintih dari monyet itu ditujukan ke arah diriku.

Kabut asap tebal menutup kota-kota, nyanyian itu adalah para aktivis, mereka yang terbuang jauh dari tanah leluhurnya. Kini mereka coba bangkit dengan segala daya dan upaya. Membebaskan tanah leluhurnya dari cengkraman ketidak adilan.

Bukanlah tanpa sebab, aku tidak suka bertemu dengan sastrawan dan penulis Novel lain di kotaku, tetapi lebih kepada identitasku yang tidak dikenal dalam dunia sastrawan, sebab aku bukanlah sastrawan, aku hanya penulis atau bahkan mungkin selebihnya aku hanyalah tukang cerita, sementara yang lain aku adalah pemberontak heroik yang tinggal di sini, ditahun 2022.

***

Selasa, 13 Desember, pukul 09:10, dinding rumah mereka roboh seketika, exavator itu tiba-tiba datang menerjang seperti terjadi gempa. Mengguncang sisi barat daya kampungku di Nabire. Terjangan exapator itu menyisakan sejumlah korban tewas dan luka-luka, korban lain masih satu keluarga.

Penduduk kampung lari tunggang langgang, sebab tanah leluhur mereka masuk areal konsesi tambang, sebagian lagi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit dan dikampung tetangga mereka beribu hektar untuk projek transmigrasi.

Kau tahu, gempa seperti itu tidak akan mungkin meminta pertolongan Badan Penanggulangan Bencana Daerah tersebab ini bukanlah gempa disebabkan pergerseran kerak bumi, melainkan ribuan serpihan blasting pada kawasan pertambangan batu bara.

Satu keluarga korban itu merupakan warga kampung Nabire teridentifikasi Inu, istri 30 tahun, Salosa, anak 12 tahun, Tuai, anak 9 tahun dan Banggai 45 tahun meninggal dunia.

Kepala keluarga Karaeng selamat, karena tidak berada di rumah saat seperti keadaan gempa terjadi. Ia sedang bekerja di ladang. Sementara itu, anak bungsunya, Klay 3 tahun, yang berada di rumah bersama ibu dan kakak-kakaknya ketika peristiwa terjadi, menjadi satu-satunya anggota keluarga yang tidak terluka.

“Kraeng dalam keadaan selamat,” kata Fendi dari LSM.”

Warga Paniai sempat panik dan berhamburan ke luar rumah ketika terdengar dentuman mengguncang wilayah timur. Dentuman itu terjadi dua kali, pertama diperkirakan dengan skala 5 SR terjadi pukul 09.00 WITA, sedangkan susulan pukul 10.00, terjadi satu jam kemudian. Itu adalah jadwal perusahaan mengebom perut bumi untuk mengeluarkan batu-batu hitam.

Guncangan itu begitu jauh sampai ke Nabire, guncangan yang memecah kaca jendela. Gelas-gelas dan peralatan dapur berhamburan, semua berantakan.

Tetapi bahkan suaran dentam blasting tak terdengar para karyawan, sebab apa ? sebenarnya mereka menutup kuping mereka dengan karet. Bahkan karyawan-karyawan itu menutup mata dan telinga mereka dari ledakan bom yang menewaskan keluarga Kraeng di kampung Nabire.

Dapat dibayangkan, bahwa di negeri ini tidak kurang dari 12.540 perusahaan tambang Batu Bara yang masih aktif. Perusahaan tambang open fit, artinya mereka menggali tambang pada area permukaan.

Ini yang membedakan tambang under ground yang harus menggunakan terowongan bawah tanah untuk mencapai dinding tebal batu bara. Setiap system ini sudah jelas menggunakan blasting untuk membuka area tambang.

Dapat dibayangkan setiap hari ada 12.540 bom dari blasting yang diledakkan di berbagai area dekat kampung dan penduduk. Dan itu telah berlangsung berpuluh-puluhan tahun, mengalahkan sejarah perang di belahan dunia manapun juga.

Protes keras aktivis lingkungan, penangkapan dimana-mana. Diantaranya masuk penjara dan kemudian diantara yang lain memilih menyingkir ke negara-negara lain sebagai buron politik.

Begitulah kesaksian Olaf Kilay dan Siun Iban, keduanya aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang bersaksi dihadapan Tim Amensti Internasional, Nurwegia, Maret 2022.

***

Siun Iban memastikan bahwa sepanjang sepuluh tahun terakhir telah 55 orang warga Dayak mati ditembak aparat keamanan. Kematian itu bahkan sangat tragis berkaitan dengan Tanah Adat.

Iban tentu sangat marah dengan kejadian yang menimpa warga Dayak, kemarahannya memuncak ketika ia tahu bahwa kematian itu akibat mempertahankan tanah Adat mereka yang diserobot perusahaan tambang batu bara.

Aparat keamanan bukannya melindungi rakyat, tetapi bahkan hanya menjadi penjaga malam untuk perusahaan-perusahaan tambang itu. Dengan dialek Papua yang kuat, John Kilay meradang ;

“Kalian pengecut”

“Apa alasannya.”

“Menghindari kejaran polisi.”

“Perjuangan belum selesai, Bapak ?”

“Besok di balai kota akan nada pertemuan wartawan.”

“Tentang apa?

“Kematian komandan lapangan.”

“Bintang Kejora?”

Para pengacara datang agak tergesa-gesa, beberapa diantaranya sedang mengurusi kedatangan 15 orang dari Nugieni, keputusan terakhir harus diambil sebab kekuasaan sedang benar-benar diujung tanduk. Semuanya sekitar 25 orang termasuk dalam list aktivis yang akan berkumpul di alun-alun kota.

Tiada berapa lama, tersiar berita bahwa tidak kurang satu juta orang aktivis di Eropa akan bergabung menyelamatkan tanah leluhurnya, Tanah Ulayat. []

 

Desa Uwi 2015

Setia Budhi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *