Curhatan Ketika Media Cetak Lokal Tak Lagi Menerbitkan Karya Sastra

  • Whatsapp
media cetak sastra

Untuk kesekian kalinya, saya harus mendengar curhatan panjang dari seseorang tentang eksistensi sastrawan terkait publikasi karya di Banua Banjar, Kalimantan Selatan. Curhatan ini menindaklanjuti ‘padamnya’ dua media cetak Kalsel yang tak lagi menayangkan karya sastra.

Curhatan itu teramat tajam, seperti mengiris bawang dan menyisakan pedih di mata. Namun saya berterimakasih, tersebab curhatannya tersebut, ada alasan bagi saya menuliskannya.

Read More

Mengingat Masa Lalu

Saya teringat ketika dulu memiliki semangat menggebu untuk berkarya. Tiada hari tanpa menulis dan mengirimkannya ke redaktur sastra. Sembari terus menulis, di saat itu pula tak sabar menunggu hari Minggu, sebuah hari yang mendebarkan sekaligus penghakiman untuk tulisan yang sebelumnya telah dikirimkan. Apakah terbit?

Demi memenuhi rasa penasaran, bangun pagi di hari Minggu adalah keniscayaan untuk berburu koran di toko langganan. Baru saya beli kalau tulisan saya dimuat, jika tidak, maka uangnya akan saya alokasikan beli jajanan (maaf).

Saat itu, hubungan penulis sastra dengan media cetak memang sudah seperti keharusan. Di sanalah ruang untuk berekspresi, pembuktian diri, dan juga membahagiakan diri sendiri.

Tak terbayangkan betapa bahagianya ketika membuka halaman sastra, di situ ada tulisan kita. Gilanya lagi, dibaca sendiri berulang kali pun tak kunjung puas. Entah, apakah ini juga sejenis penyakit kejiwaan, tapi yang jelas itu membahagiakan!

Demikian sebaliknya, sedihnya amit-amit jika ternyata justru karya orang lain yang menghiasi lembaran sastra.

Mengingat itu semua membuat saya bisa memahami kegelisahan yang terjadi ketika ruang publikasi karya di Koran Banua tak lagi ada. Kemana lagi harus mengirimkan karya? Dunia mendadak terasa gelap tanpa matahari!  Oh, tidak!

Motivasi untuk yang Membutuhkan

Ketika ruang gerak dibatasi, terkadang kita harus belajar membiasakan diri untuk menjadi lebih tangguh. Misalnya, jika salah satu dari dua koran tidak lagi menerima karya sastra, maka persaingan semakin ketat. Di situlah kita akan semakin menghebatkan kualitas demi meladeni persaingan.

Masalahnya, jika dari dua koran yang sempat bertahun-tahun setia menayangkan karya sastra dan sama-sama memutuskan untuk ‘jaga jarak’ akibat pandemi, apa boleh buat, ketangguhan kita sedang diuji.

Berekspansilah! Di luar sana masih banyak media cetak yang masih bertahan menayangkan karya sastra. Justru di saat-saat seperti ini menjadi alasan tepat untuk keluar dari zona nyaman. Itu pun jika memang ‘iman’ berkusastraan Anda sangat demikian kuatnya.

Jika tidak, maka tak perlu bersedih hati atau merasa sangat kehilangan. Bukankah Anda tak perlu repot-repot bangun pagi di hari Minggu untuk berburu koran? Nikmati saja itu!

Lantas, jika pada akhirnya media cetak di luar sana pun mendadak bergantian tidak menayangkan karya sastra, setidaknya masih ada banaranmedia.com. Meski belum bisa memberikan honor, namun tetap percaya diri memberlakukan seleksi.

Kata redakturnya sih demi menjaga ekosistem dalam berkarya.

Akhir kata, sudahilah curhatan itu, tetaplah berkarya, karena menulis bukan melulu persoalan publikasi, tapi juga melatih disiplin dalam berpikir!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *