Donal Bebek Pamit

  • Whatsapp
Donal Bebek Pamit

“Aku sedih karena tidak ada lagi komik netral di Indonesia. It’s a bit awkward actually…” (Hadi S di WAG Enigma)

SELAMA 44 tahun, serial Donal Bebek telah menemani pembaca setianya. Tepat di awal pekan ini, 29 Juni 2020 Donal Bebek mengumumkan edisi 2019 sebagai nomor seri terakhir – pamungkas dari albumnya, terhitung sejak pertama kali tandang ke Indonesia pada 5 Juni 1976.

Read More

Donal Bebek sendiri perdana tampil pada 9 Juni 1934 dalam kartun “The Wise Little Hen” dengan mengenakan baju kelasi tanpa celana.

Diceritakan kala itu mama ayam minta bantuan kepada Donal Bebek dan Peter Pig untuk membantu panen hasil kebun jagung miliknya. Namun mereka tidak bersedia dengan alasan sakit perut, padahal pura-pura. Kemudian mama ayam memanen jagungnya sendiri, ia membuat kue jagung tapi tidak membagi kepada keduanya. Malah mama ayam memberi obat sakit perut.

Di film ini awalnya Disney berniat mengangkat Peter Pig sebagai bintang, namun pada kenyataannya justru Donal Bebeklah yang menjadi pusat perhatian.

Selang beberapa tahun kemudian, Donal Bebek hadir dalam filmnya sendiri Don Donald dan Donald’s Nephew di sini dikenalkan tokoh Desi, kekasih Donal dan para keponakan Kwik, Kwek, Kwak.

Donal Bebek dari masa ke masa

Popularitas serial kartun Donal Bebek dalam bentuk komik yang terbit mingguan maupun bulanan mendapat rating tertinggi di Amerika Serikat dan sejumlah negara-negara Eropa, seperti: Norwergia, Denmark, Jerman, Finlandia, Belanda, dan Italia. Karakter Donal yang pemalas, pemarah, dan sangat ceroboh juga disukai anak-anak Indonesia.

Pada masa Perang Dunia II Donal Bebek dalam film Der Fuehrer’s Face bekerja di pabrik artileri di Nazi Jerman. Donal menjadi propaganda, Donal bekerja dengan  marathon, lelah, dengan ketersediaan kebutuhan pangan yang sangat terbatas. Setiap waktu ia harus mengucap “hail Hilter…”

Setelah Perang Dunia II berakhir, Donal menjadi ikon pendidikan yang melahirkan karakter baru yaitu Paman Donal, Professor Otto tahun 1961.

Di tangan Carl Barks, ilustrator yang mengambil alih versi komik Donal Bebek mengalami lompatan jauh dari animasinya.

Donal Bebek lebih banyak mengurai tematik petualangan, tipikal yang awalnya pemarah agak dikurangi, dan cenderung lebih pandai. Kehadiran Paman Gober juga semakin mendominasi dalam serial petualangannya.

Di dunia nyata Donal Bebek menjadi maskot Angkatan Udara Amerika Serikat, dan maskot tim olahraga di Universitas Oregon dengan namanya yang terkenal Oregon Ducks.

Tokoh lain

Tentu saja ada Lang Ling Lung, si jenius yang senantiasa membuat peralatan canggih yang dibiayai murah oleh Paman Gober. Lang Ling Lung adalah tempat pelarian Donal bila ia memerlukan pekerjaan tambahan.

Di serial petualangan yang disuguhnya juga ada penyihir, pengincar koin pertama, keping keberuntungan milik Paman Gober yaitu Mimi Hitam. Penyihir ini berciri khas dengan dandanan yang serba hitam bersama sapu terbangnya.  Hawa si Mimi Hitam sepertinya sudah dihafal oleh Paman Gober walau dalam keadaan menyamar sekalipun.

Ada yang suka mengganggu kenyamanan hidup Donal yaitu Untung Angsa, ia sepupu Donal yang selalu iri, khususnya dengan hubungan Donal dan Desi. Untung memeram rasa cintanya kepada Desi, ia selalu berusaha merebut Desi dari Donal tapi Desi tetap memilih Donal.

Tempat berpulang dari segala resah dalam cerita Donal Bebek adalah Nenek Bebek. Ia tempat curhat, penuh kasih sayang dan baik hati. Ia adalah orang yang mengerti Donal. Nenek adalah pelipur lara, semua rela melakukan apa saja demi membahagiakan Nenek tak terkecuali Kwik-Kwek-Kwak, Donal, dan Paman Gober.

Donal Pamit

 Cerita yang takkan lekang dan kuingat selalu, saat Mimi Hitam mau menghilangkan Kota Bebek. Dia akan menghentikan rencananya bila Paman Gober menyerahkan keping keberuntungan. Lalu dengan berat hati, Paman Gober menyerahkan. Tetapi yang namanya rezeki, atas bantuan Lang Ling Lung berhasil membuat penangkal, angin menghembus dan memental tubuh Mimi Hitam. Dan Keping kembali ke tangan Paman Gober…”

Demikianlah Hadi S, sahabat gangster Enigma saya yang mukim di Surabaya mengurai kesedihannya ketika tahu kontrak seri Donal Bebek tidak lagi diperpanjang di Indonesia. Lalu pelan-pelan saya menyibak ingatan yang pernah singgah di benak, dahulu sekali saya pecandu majalah dan tabloid mingguan yang kini sudah wafat. Setiap akhir pekan, saya selalu menunggu kedatangan Tabloid Hopla, Fantasy, Majalah Ananda.

Baru ketika agak besar, menjelang SMP saya mulai membaca Majalah Gadis, Hai, dan Kawanku. Satu persatu hiburan ‘bacaan’ media cetak mulai tergeser oleh media daring dan maya. Koleksi Donal Bebek akan menempati rak khusus, semua kalangan bisa membaca. Epik sekali.

Dan edisi terakhir ini bertengger di meja kerja, entah sampai berapa lama berada di situ… It’s legend!      

         

Banjarbaru, 3 Juli 2020

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *