Evaluasi Banjir Besar di Kalimantan Selatan

  • Whatsapp

Tim tanggap darurat bencana Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menganalisis penyebab banjir yang terjadi sejak 12 Januari 2021 dan merendam ribuan rumah di Provinsi Kalimantan Selatan. LAPAN menganalisis perubahan tutupan lahan di DAS Barito sebagai respons terhadap bencana banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan. Analisis dilakukan dengan menggunakan data mozaik Landsat untuk mendeteksi tutupan lahan tahun 2010 dan 2020.

Pengolahan data dilakukan secara digital dengan menggunakan metode random forest agar lebih cepat dalam menganalisis perubahan tutupan lahan yang terjadi. Data menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terjadi penurunan luas hutan primer, hutan sekunder, persawahan dan semak belukar masing-masing berkurang sebesar 13 ribu hektar, 116 ribu hektar, 146 ribu hektar dan 47 ribu hektar.

Read More

Sebaliknya, terjadi perluasan areal perkebunan yang cukup signifikan yaitu seluas 219 ribu hektare. Perubahan tutupan lahan dalam 10 tahun dapat memberikan gambaran tentang kemungkinan banjir di DAS Barito.

Menurut penelitian Rising Floodwaters: memetakan dampak dan persepsi banjir di Kalimantan Indonesia oleh Jessie Awells Kerrie A Wilson. dkk (2016), Studi wawancara dan laporan berita menunjukkan bahwa banjir merupakan masalah sosial dan ekonomi yang mendasar dan meluas di Kalimantan. Kami telah mengidentifikasi area luas yang mengalami bahaya banjir tinggi, dan asosiasi antara frekuensi banjir (dan tren yang dirasakan) dan LULC yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Selain itu, bahaya banjir diproyeksikan akan meningkat selama abad ini karena perubahan iklim yang meningkatkan siklus air regional dan peristiwa curah hujan, kenaikan permukaan laut, dan modifikasi ekosistem pesisir termasuk drainase gambut dataran rendah, yang menyebabkan penurunan tanah yang cepat.

Akhirnya, perubahan bahaya banjir ini kemungkinan besar akan digabungkan dengan peningkatan keterpaparan banjir dan kerentanan karena kepadatan penduduk meningkat di kota-kota dan banyak kota dan desa pedesaan selama beberapa dekade mendatang. Ada kebutuhan, di samping kesiapsiagaan dan respons darurat, untuk pengurangan risiko dan adaptasi jangka panjang. Pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara LULCC (Dampak Penggunaan Lahan dan Perubahan Tutupan Lahan) dan risiko banjir akan membantu menginformasikan strategi mitigasi dan adaptasi banjir dan memungkinkan pemahaman yang lebih lengkap tentang konsekuensi konversi atau konservasi ekosistem alam dan yang dimodifikasi. Mengakui dampak jangka panjang dari keputusan penggunaan lahan terhadap jasa lingkungan seperti pencegahan banjir akan memberikan kontribusi penting untuk mengamankan masa depan yang lebih berkelanjutan di Kalimantan

Berdasarkan kedua jenis penelitian dengan data ilmiah yang andal tersebut, kami dari Center for Peatland Studies (CPS) menyampaikan hal-hal berikut:

1) Pegunungan Meratus di Kalimantan yang merupakan Ring Belt Kalimantan, telah terjadi kerusakan yang cukup signifikan seperti penggundulan hutan dan kerusakan lingkungan.

2) Bahwa di lereng Pegunungan Meratus Kalimantan merupakan kawasan gambut yang cukup luas yang berfungsi sebagai kawah resapan air dengan perubahan bentang alam bagi menghidupi sosial ekonomi dan kebudayaan  penduduk setempat..

3) Bahwa selama ini hasil tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan telah diekspor ke negara-negara Asia dan Eropa. Dan itu artinya negara-negara tersebut telah ikut serta berperan dalam kerusakan ekologi Kalimantan.

 

Maka demi keamanan hayati dan perubahan iklim di bumi, khususnya Kalimantan, kami nyatakan:

 

1) Segera moratorium izin pertambangan dan kelapa sawit di Kalimantan;

2) Menegakkan prinsip NDPE (Tanpa Deforestasi, Tanpa Gambut, Tanpa Eksploitasi)  dalam bisnis perkebunan kelapa sawit secara konsekuen;

3) Negara-negara konsumen batubara dan minyak sawit untuk berhenti menggunakan energi fosil dan minyak sawit.

 

Dengan pernyataan ini, kami menghimbau semua pihak terkait penyebab banjir untuk segera evaluasi seluruh aktifitas pembukaan lahan dan penggundulan hutan. Banjir besar yang melanda Kalimantan Selatan ini, yang berdampak pada sekitar 20.000 orang  menderita kerusakan rumah, ladang dan ternak, serta sistem air bersih yang penting untuk kesehatan mereka.

Setia Budhi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *