FIKSI MINI: RUMAH TANPA RUANG

  • Whatsapp
FIKSI MINI: RUMAH TANPA RUANG

BEGITU kedua orang itu sampai ke sana, malam sudah sangat larut. Toko-toko sudah ditutup, lorong-lorong pasar terasa menyeramkan, remang, sunyi dari ingar-bingar manusia.

Di jalan utama pasar memang keramaian masih tersisa; para penjual jamu dan pembeli setia mereka, pengamen tak kenal waktu, warung makan 24 jam, dan muda-mudi yang mengabdikan diri pada malam, selebihnya dari pasar itu hanya menyisakan gelap dan keheningan—terutama di lorong-lorong pasar jauh di dalamnya; tempat di mana Madi dan anaknya mengistirahatkan tubuh.

Read More

Sambil menahan tangis yang tiada terbendung, Madi mengusap kepala anaknya.

Ia tahu bahwa dunia akhir-akhir ini memang begitu sunyi dan menyeramkan. Virus mematikan yang menyebar begitu cepat dari manusia ke manusia lain memaksa orang-orang untuk lebih banyak berdiam diri di rumah.

Sungguh ia mengkhawatirkan dirinya dan anak lelakinya. Itulah kenapa ketika anak berusia tujuh tahun itu bertanya mengapa mereka tak jua pulang ke rumah selama beberapa minggu terakhir, Madi begitu sulit untuk menjawab.

“Mengapa kita tidak pulang ke rumah, Bah?” Anak itu terus bertanya.

Setelah tak tahan mendengar pertanyaan yang sama dilontarkan puluhan kali oleh anaknya, Madi akhirnya berkata bahwa rumah mereka kini adalah gerobak itu, tempat kecil tanpa ruang yang selalu menemani mereka siang dan malam.

Dan sebab jawaban itulah, Madi akhirnya menangis tanpa suara sambil memeluk anak semata wayangnya.

Avatar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *