Heboh, Petani Ini Nekat Semprot Cabai Rawit dengan Cat Merah Demi Raup Keuntungan

  • Whatsapp
Gelar Perkara Pemalsuan Cabai Merah
Gelar Perkara Pemalsuan Cabai Merah (Foto: KOMPAS.COM/IKA FITRIANA)

Demi meraup keuntungan dari harga jual cabai merah Rp.45.000/ kilogram, seorang petani dari Desa Nampirejo, Temanggung, Jawa Tengah nekat menyemprot cabai berwarna hijau miliknya.

Seperti dilansir kompas.com, di hadapan polisi, BN (35) mengaku perbuatannya itu baru pertama kali dilakukannya lantaran tergiur harga cabai merah yang mahal.

Read More

“Saya baru sekali melakukan ini nyemprot cabainya 5 kilogram, kalau sawah saya itu 1 kesuk (0,5) hektare biasanya dapat panen 1 kuintal. Tapi yang disemprot cuma 5-6 kilogram lalu saya jual ke pengepul,” katanya, Kamis (31/12/2020). BN mengaku, awalnya hanya iseng karena yang hijau itu harganya cuma Rp 20.000 per kilogram sedangkan cabai merah Rp 45.000.

Kepada wartawan, BN mengaku menyemprot cabai-cabai itu dengan cat berjenis pylox lalu mencampurnya dengan cabai merah lainnya di dalam karung sebelum dijual ke pengepul.

Atas perbuatannya, BN terancam kurungan 15 tahun penjara. Polisi menjerat BN dengan tiga pasal yaitu Pasal 136 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Temuan BPOM Banyumas

Kepala Kantor POM Banyumas Suliyanto menyebutkan bahwa telah ditemukan cabai rawit yang diduga dicat warna merah di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Cabai dengan pewarna itu ditemukan di Pasar Wage Purwokerto, Pasar Cermai Baturraden dan Pasar Kemukusan Sumbang, Selasa (29/12/2020).

“Terjadi penjualan cabai yang diduga bukan pewarna makanan di beberapa pasar,” kata Suliyanto saat konferensi pers di Pendapa Sipanji Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu (30/12/2020).

Suliyanto mengatakan, petugas menemukan cabai dengan pewarna itu di lima lapak pedagang yang tersebar di tiga pasar. “Kalau dilihat fisiknya ini bentuknya seperti cat, karena kalau pakai pewarna makanan akan sangat sulit menempel. Ini jelas bukan pewarna makanan,” jelas Suliyanto.

Dugaan tersebut, kata Suliyanto, juga diperkuat karena pewarna tersebut tidak bisa larut dalam air dan alkohol. “Sehingga penampakannya seperti cat kayu. Untuk kandungan kimianya belum dapat kami ketahui, kami akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk melakukan uji laboratorium,” ujar Suliyanto.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *