Jangan Latah, Membuka Operasional Bioskop Demi Imunitas atau Kepentingan Pengusaha?

  • Whatsapp
Bioskop dibuka

Adaptasi kebiasaan baru dalam menghadapi pandemi virus corona secara perlahan mulai diberlakukan, salah satunya dengan dibukanya bioskop. Pemerintah dalam waktu dekat ini akan mengizinkan bioskop buka secara bertahap di tengah pandemi Corona. Alasannya adalah karena bioskop salah satu bentuk hiburan untuk masyarakat, yang bisa meningkatkan imunitas.

Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito, “Kami dari pakar Tim Satgas COVID-19 telah membuat beberapa kajian selama beberapa minggu terakhir terhadap kemungkinan pembukaan bioskop dan sinema dengan mempertimbangkan berbagai hal yang penting, terutama dari aspek kesehatan, dari aspek sosial, dan ekonomi, bioskop merupakan salah satu sarana hiburan bagi masyarakat.”

Read More

Wacana Imunitas

Jika masyarakat merasa bahagia, katanya, maka imunitas akan meningkat, alasan inilah yang melatarbelakangi wacana membuka kembali bioskop dan perlu kami sampaikan bahwa bioskop atau sinema memiliki kontribusi penting terutama dalan memberikan hiburan kepada masyarakat, karena imunitas masyarakat dapat meningkat karena bahagia atau suasana mental ditingkatkan,”

Namun, hal ini dibantah oleh ahli epidemiologi Universitas Indonesia DR Pandu Riono. Beliau mengatakan tidak ada hubungannya imunitas dengan nonton film di bioskop.

“Tidak ada evidence nonton bioskop akan meningkatkan imunitas, belum ada studinya. Tidak semua orang yang menonton film di bioskop akan merasa bahagia, sebab bahagia tidak hanya dengan nonton film di bioskop. Dan kata-kata yang seakan-akan ini jadi jubir pengusaha bioskop. Kalau mau buka bioskop, buka saja, tidak perlu pakai alasan, nonton di bioskop bisa meningkatkan imunitas.”

Pola Penyebaran Covid 19 dan terupdate

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa penyebaran virus Corona bisa terjadi melalui udara. Dalam pedoman terbarunya yang dirilis di laman resminya, WHO akhirnya memasukkan udara sebagai salah satu transmisi atau cara penularan virus Corona. Selain udara, ada beberapa mode atau cara yang menjadi jalur penyebaran virus Corona, yaitu:

  • Penyebaran virus Corona melalui droplet. Penularan virus Corona bisa terjadi melalui droplet saat seseorang batuk, bersin, bernyanyi, berbicara, hingga bernapas. Saat melakukan hal-hal tersebut, udara yang keluar dari hidung dan mulut mengeluarkan partikel kecil atau aerosol dalam jarak dekat.
  • Penyebaran virus Corona melalui udara. Setelah mendapat kritikan dari ratusan ilmuwan terkait penyebaran virus Corona melalui udara, akhirnya WHO pun mengakuinya. Organisasi tersebut mengakui adanya bukti bahwa virus Corona itu bisa menyebar melalui partikel-partikel kecil yang melayang di udara.
  • Penyebaran virus Corona melalui permukaan yang terkontaminasi. Cara penularan virus Corona ini terjadi saat seseorang menyentuh permukaan yang mungkin telah terkontaminasi virus dari orang yang batuk atau bersin. Lalu virus itu berpindah ke hidung, mulut, atau mata yang disentuh setelah menyentuh permukaan yang terkontaminasi tersebut. Untuk mencegah cara penularan virus ini, bisa dengan membersihkan berbagai permukaan tersebut dan hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan.
  • Penyebaran virus Corona melalui fecal-oral atau limbah manusia. Sebuah studi menunjukkan bahwa partikel virus Corona ditemukan juga pada fecal-oral orang yang terinfeksi, seperti urine dan feses. Namun WHO mengatakan hingga saat ini masih belum ada laporan yang dipublikasi terkait cara penularan virus Corona melalui cara ini dan bukan menjadi upaya transmisi utama virus.

Dalam laman resmi WHO, selain melalui fecal-oral tersebut, penyebaran virus Corona juga bisa terjadi melalui darah, dari ibu ke anak, hingga dari hewan ke manusia.

Selain cara penularan virus Corona, WHO pun juga menyinggung beberapa tempat yang rawan menjadi tempat penyebaran virus Corona, seperti:

1. Tempat ramai
2. Tempat yang sempit
3. Ruangan yang terbatas dan tertutup

Contoh-contoh tempatnya seperti, restoran, klub malam, tempat ibadah, tempat bekerja atau kantor, tempat latihan paduan suara, dan kelas kebugaran, bioskop, alat transformasi massal seperti bis, kereta api, kapal laut dan pesawat.

Penyebaran virus Corona ini tentunya bisa dicegah dengan menaati protokol kesehatan, seperti menggunakan rajin cuci tangan, pakai masker, jaga jarak minimal satu meter, hindari tempat-tempat ramai, menghindari ruangan tertutup dengan ventilasi yang buruk, dan bila diperlukan pakai face shield.

WHO juga berpesan pada masyarakat agar semakin paham bahwa COVID-19 bukan penyakit main-main. COVID-19 bisa berakibat fatal bila tidak dicegah, jangan panik, dan terus ikuti saran yang diberikan terkait pencegahan penyebaran virus Corona.

Penularan virus corona atau Covid-19 di Indonesia masih terus terjadi seiring dengan penambahan jumlah kasus. Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI pada hari Jumat 28 Agustus 2020 telah diumumkan total spesimen yang telah diperiksa sampai pukul 12.00 WIB hari ini ada sebanyak 33.082 spesimen.

Dari hasil tersebut, total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 masih terus bertambah menjadi 165.887 kasus atau ada penambahan sebanyak 3.003 kasus baru. Untuk total sembuh sampai hari ini telah mencapai sebanyak 120.900 kasus atau ada penambahan sebanyak 2.325 pasien sembuh. Sedangkan untuk kasus meninggal dunia terdapat penambahan sebanyak 105 kasus sehingga kasus kematian total sudah mencapai 7.169 orang.

Apakah pemerintah tidak mempunya rasa sense of crisis dan rasa bertanggung jawab terhadap keselamatan dan hak untuk sehat terhindar dari sakit dan penyakit seperti diamanahkan dalam UUD 1945.

Adaptasi Kebiasaan Baru pada Pembukaan Bioskop

Saat ini berbagai fasilitas publik dan sektor industri juga sudah mulai dibuka untuk masyarakat umum, termasuk sarana hiburan seperti bioskop. Bahkan, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta telah mengeluarkan Surat Keputusan dengan Nomor 140 tahun 2020.

Salah satu isinya adalah mengatur izin operasional atau rencana dibukanya kembali gedung bioskop di Jakarta. Banyak protes dan keberatan yang disampaikan oleh masyarakat terutama kami para dokter dan nakes lainnya bahkan dari FKUI mengajukan keberatan dan akhirnya, rencana pembukaan bioskop di DKI Jakarta pada 29 Juli 2020 pun ditunda.

Ketua Satuan Tugas Covid-19 FKUI, dr Anis Karuniawati SpMK(K) PhD dalam keterangan tertulisnya menyebutkan, himbauan menunda membuka bioskop tersebut perlu dilakukan sampai dengan waktu yang belum dapat ditetapkan. Hal itu berdasarkan beberapa poin pertimbangan sebagai berikut.

  1. Banyak orang abai akan proses. Tanggung jawab masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan hingga saat ini dianggap masih kurang.
  2. Banyak mekanisme penularan Covid-19. Dalam perkembangannya, berdasarkan scientific brief yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per tanggal 9 Juli 2020, dinyatakan bahwa penyebaran atau transmisi Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 seperti penulis paparkan tulisan bagian atas.
  3. Waspada transmisi airborne. Faktor kemungkinan penularan atau transmisi Covid-19 sangat banyak, tetapi yang menjadi terhadap kasus perizinan pembukaan bisokop tersebut adalah penyebaran melalui airborne. Untuk diketahui, transmisi secara airborne adalah penyebaran mikroba (SARS-CoV-2) melalui aerosol yang tetap bersifat infeksius meskipun terbawa angin dalam jarak jauh. Penyebaran virus melalui airborne ini bahwa aerosol yang mengandung virus SARS-CoV-2 tersebut dapat terbentuk dari droplet orang positif Covid-19. Entah itu virus yang mengalami penguapan ataupun saat orang itu berbicara atau bernapas.
    Sejauh ini, diketahui SARS-CoV-2 dapat bertahan dalam keadaan hidup pada aerosol selama 3 sampai 16 jam tergantung dengan suhu, kelembapan dan kepadatan orang. Penemuan ini didukung dengan adanya laporan beberapa klaster Covid-19 yang berhubungan dengan berkumpulnya sekelompok orang di dalam ruangan tertutup, misalnya pada kegiatan paduan suara, restoran dan fitness. Ruangan tertutup tersebut juga merupakan ruangan dengan ventilasi yang tidak optimal dan kegiatan atau pertemuan dalam waktu yang relatif lama.
  4. Potensi penularan dari asymptomatik. Seperti diketahui, tidak semua orang yang terinfeksi Covid-19 memiliki keluhan atau gejala penyakit, jika pasien tersebut memiliki kondisi imunitas yang baik. Bahkan, orang yang terinfeksi tanpa gejala itulah yang diprediksikan paling banyak di antara kehidupan masyarakat saat ini. Namun ironisnya, orang yang tanpa gejala tetapi terinfeksi Covid-19 ini seringkali tidak sadar kalau dalam tubuhnya terdapat virus, dan bisa menjadi sumber penularan ke orang lain di sekitarnya tanpa disadari.

Ruangan bioskop berpotensi jadi sumber Covid-19?

Berdasarkan berbagai pertimbangan di atas, ruangan bioskop memiliki potensi besar untuk menjadi sumber penularan kepada pengunjung yang datang dan nonton walaupun hanya satu film saja. Hal itu dikarenakan, ruangan bioskop umumnya adalah ruangan tertutup tanpa ventilasi dengan pendinginan udara yang bersikulasi di dalam ruangan.

Nonton Film di Bioskop selalu Bahagia?

Belum ada bukti evidence yang menyatakan bahwa setiap orang menonton film di bioskop bahagia. Kita bisa rasakan sendiri. Mungkin tergantung tema dan isi materi kisah.

Kalau berisi tentang kekerasan dan perselingkuhan malah bisa tegang stress dan cemas. Kalau berisi percintaan apalagi yang menonton lagi kasmaran mungkin akan berbunga bunga hatinya, atau kalau bertema lawakan, para penonton akan tertawa terbahak bahak tapi hal itu dilakukan karena mengganggu kenyamanan orang lain.

Jadi menurut penulis adalah alasan mengada-ada bahwa semua orang yang datang ke bioskop akan bahagia. Pola pikir yang sempit dan hanya mementingkan kepentingan pemodal atau oligarki kekuasaan.

Para pengusaha bioskop berulangkali meminta untuk diizinkan mengoperasikan bioskop karena hampir 6 bulan lebih mereka tutup dan ini berimbas pada meruginya para pengusaha tersebut sehingga terpaksa merumahkan bahkan memPHK para karyawannya. Dan juga matinya usaha perfilman Indonesia.

Inipun jadi permasalahan baru dalam dampak sosial ekomoni bagi bangsa kita. Dalam kondisi seperti pemerintah harus bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan tetap menunjung tinggi asas Salus Populis Suprema Lex Esto yang ditinjau dari multiaspek. Rakyat wajib diutamakan dari pada pemodal dan pengusaha. Jangan sampai oligarki menentukan arah kebijakan ini.

Faktor yang mempengaruhi imunitas

Sistem kekebalan tubuh kuat menjadi salah satu faktor yang berperan mencegah seseorang terpapar virus, termasuk corona dan ini bisa terpengaruh sejumlah hal.
1. Penderita infeksi dapat mengalami gangguan kekebalan tubuh sehingga sering menderita komplikasi infeksi lain. Misalnya TBC, sepsis.
2. Obat-obatan seperti penggunaan kostikosteroid jangka panjang juga bisa mempengaruhi kekebalan tubuh.
3. Kekurangan gizi terutama protein, vitamin dan mineral juga rentan terganggu kekebalan tubuhnya, karena ketiga zat itu sangat diperlukan untuk sistem kekebalan.
4. Faktor usia. Pada usia bayi dan balita, sistem kekebalan tubuh belum sempurna sehingga rentan terkena penyakit. Sementara pada mereka yang berusia tua, sistem kekebalan tubuhnya mulai turun.

Upaya meningkatkan Imunitas tubuh

Sejumlah cara yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh, antara lain: mengelola stres, rutin beraktivitas fisik dan menghindari rokok serta alkohol.
1. Stres yang tidak terkendali bisa meningkatkan produksi hormon kortisol. Dalam jangka panjang, peningkatan hormon ini dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh. Kondisi emosional seperti stres, takut, atau marah akan mengirimkan sinyal ke kelenjar utama dalam tubuh untuk memproduksi hormon seperti kortisol, adrenalin, dan epinefrin.
2. Suasana hati yang tenang senang dan gembira maka tubuhpun dapat memproduksi hormon yang menguatkan imun tubuh. Contohnya adalah serotonin, dopamin, relaksin, atau oksitosin. Ketika hormon-hormon ini masuk ke aliran darah, mereka akan mengirimkan sinyal agar tubuh menciptakan lebih banyak sel imun. Bahkan tertawa selama lima menit akan secara signifikan meningkatkan jumlah sel darah putih yang berfungsi untuk membunuh sel penyakit.
3. Beraktivitas fisik rutin yakni selama 30 menit setiap hari untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh melawan infeksi.
4. Paparan asap rokok, rokok dan akohol sebaiknya dihindari karena merusak sistem kekebalan tubuh. Perokok dan pecandu alkohol berisiko tinggi mengalami infeksi paru seperti bronkhitis dan pneumonia.
5. Konsumsi makanan dengan pola gizi sehat dan seimbang serta konsumsi suplemen mikronutrien juga bisa menjadi cara meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
6. Pemberian Vaccinasi untuk penyakit tertentu.
Khusus untuk menimbulkan rasa senang, bahagia rakyat banyak cara yang bisa dilakukan seperti rekreasi di lapangan terbuka seperti pantai, hutan, perkebunan, pegunungan tapi tetap dengan mematuhi prokes pencegahan covid-19.

Salah satu sumber stress dan kecemasan masyarakat adalah pendapatan ekonomi keluarga yang sangat merosot dan adanya PHK, maka adalah kewajiban negara dalam hal ini pemerintah sedang berkuasa saat ini bisa menyelesaikannya ataupun mengurangi beban rakyat seperti pemberian Bantuan dana tunai dan Bantuan Stimulus dam subsidi buat masyarakat terdampak.

Demikian tulisan sebagai bahan pencerahan dan menilai apakah pembukaan bioskop sudah saatnya pada saat kondisi sekarang atau kedepanya sebelum masalah wabah covid19 bisa dikendalikan.

Banjarbaru, 28 Agustus 2020
Penulis Dokter Ahli Utama/Pembina Utama Madya
RSDI dan KLINIK UTAMA HALIM MEDIKA
Anggota Kongres Advokat Indonesia dan Ikatan Penasihat Hukum Indonesia
Ketua Bidang Advokasi Medikolegal PAPDI Cabang Kalsel..
Candidat DOKTOR ILMU HUKUM UNISSULA
NPA IDI : 133677.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *