Jejak Geliat Komunitas Teras Puitika, Begini Ceritanya

  • Whatsapp
Komunitas Teras Puitika
Komunitas Teras Puitika

Komunitas Teras Puitika mulanya sering mendiskusikan karya yang terbit di rubrik sastra kompas minggu. Biasanya mereka berdiskusi di teras-teras rumah. Sempat di akhir tahun 2008 mengontrak sebuah tempat di Jalan Lanan depan SMAN 1 Banjarbaru sebagai wadah berdiskusi.

Kegiatan komunitas ini adalah melakukan perjalanan ke festival-festival sastra, donasi buku ke sejumlah tempat, melaksanakan lomba-lomba sastra, dan penerbitan buku.

Read More

Pernah sekali di tahun 2009 bekerjasama dengan Pusat Bahasa Jakarta dalam rampai puisi Wajah Deportan, kumpulan penyair muda lintas provinsi. Karena tidak ada tanggapan surat atau pemberitahuan dalam bentuk apapun, kru Teras Puitika saat itu mengira draft yang dikirimkan oleh Dian Arlika ditolak oleh Pusat Bahasa.

Lalu dengan bantuan Dewa Pahuluan menerbitkan versi mini dengan judul yang sama. Maksud versi mini adalah lebih tipis karena versi full yang dikirimkan ke pihak Pusat Bahasa lewat Balai Bahasa Banjarmasin yang saat itu mengepalai HM. Mugeni dalam versi tebal yang dibagi menjadi empat bab tematis.

Ternyata tahun 2010 diterbitkan oleh Pusat Bahasa maka jadilah Wajah Deportan dengan dua versi.

Orang-orang dari Teras Puitika inilah yang menjadi penyiar pada ruang sastra kamis malam pukul 20.00 – 22. 00 di Swara Idaman Banjarbaru di tahun 2008 atas usulan Yanni Makkie, dengan bimbingan senior Ali Syamsudin Arsi.

Pada kenyataannya, kegiatan Teras Puitika sendiri berjalan tersendat-sendat karena kesibukan masing-masing anggotanya. Mereka adalah: Miftahuddin Munidi, Panglima Restu Giffarie, Hudan Nur, dan Dian Arlika.

Kendati demikian, donasi buku dan penggalangan dana tetap berlanjut hanya saja intensitas pertemuan sampai 2020 ini hanya bisa terjadi enam bulan sekali. Itu pun tidak semua bisa berkumpul.

Walau tidak setiap tahun bisa melaksanakan kegiatan, setidaknya helat tahun demi tahun ada saja kegiatan Teras Puitika. Beberapa tahun terakhir ini, sudah berkomitmen untuk membiayai segala keperluan kegiatan Teras Puitika dengan swadaya dengan cara baturukan atau crowd funding.

Ikut membantu penerbitan indie dan saat ini bekerjasama dengan komunitas lain di Banjarbaru telah mempersiapkan buku AAGH… (Nukilan Spektrum Jiwa-jiwa Bening) sebagai kado 75 tahun Indonesia dari Banjarbaru.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *