Kebudayaan Masyarakat Minangkabau dalam Ungkapan Kepercayaan

  • Whatsapp
Kebudayaan Minangkabau
Ilustrasi: @bangjuh_Rumah Adat Minangkabau

Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Jadi budaya atau kebudayaan itu dapat diartikan denganhal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Berbagai macam pendapat para ahli mengenai pengertian kebudayaan. Saya simpulkan bahwa kebudayaan merupakan hasil cipta atau karya manusia,  berupa ide atau gagasan, yang dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan bahwa kebudayaan tidak muncul begitu saja, melainkan muncul karena dipelajari.

Read More

Dari pengertian Kebudayaan yang merupakan hasil cipta manusia tersebut, dapat saya definisikan bahwa kebudayaan dan manusia tak terpisahkan. Manusia menghimpun diri menjadi satuan sosial-budaya yaitu menjadi masyarakat, masyarakat menciptakan, melahirkan, dan mengembangkan kebudayaan. Tak ada manusia tanpa kebudayaandan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa manusia.

Kebudayaan yang dimilki manusia dalam kehidupannya mempunyai  ciri khas dan karakteristik tersendiri yang berbeda-beda (Rukesi dan Sunoto,2017). Hal tersebut yang menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang memiliki beraneka ragam budaya. Salah satu kebudayaan yang sangat menonjol dan menarik di Nusantara ini ialah kebudayaan Minangkabau.

Berdasarkan literatur yang saya baca di Wikipedia, kebudayaan Minangkabau berasal dari Luhak Nan Tigo, yang kemudian menyebar ke wilayah rantau di sisi barat, timur, utara, dan selatan dari Luhak Nan Tigo. Kebudayaan Minangkabau ini tidak terbentuk begitu saja, akan tetapi memiliki proses yang sangat panjang. Awal mulanya, kebudayaan Minangkabau ini bercorak budaya animisme dan Hindu-Budha. Kemudian sejak kedatangan para reformis Islam dari Timur Tengah pada abad ke-18, adat dan budaya yang tidak sesuai dengan hukum Islam  dihapuskan.

Reformasi budaya di Minangkabau terjadi setelah perang paderi yang berakhir pada tahun 1837. Hal tersebut ditandai dengan adanya perjanjian di Bukit Marapalam antara alim ulama, tokoh adat, dan cadiak pandai (cerdik pandai). Mereka sepakat untuk mendasarkan adat budaya Minang pada syariat Islam yang tertuang dalam sebuah adagium yang berbunyi: Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangato adat mamakai. (Adat bersendikan kepada syariat, syariat bersendikan kepada Al-Qur’an).

Di pertengahan abad ke-19 saat reformasi budaya, pola pendidikan dan pengembangan manusia berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Sejak saat itu juga, di setiap perkampungan atau jorong di Minangkabau memiliki masjid selain surau. Pemuda Minangkabau yang beranjak dewasa, diwajibkan untuk tidur di surau.

Di surau, selain belajar mengaji mereka juga dilatih ilmu bela diri pencak silat. Hal tersebut juga merupakan salah satu contoh kebudayaan Minangkabau yang sampai saat sekarang ini masih dilakukan walaupun sangat jarang sekali hal tersebut terjadi di kota-kota.

Seringkali mendengar masyarakat mengartikan kebudayaan sebagai kesenian. Padahal, kebudayaan memiliki cakupan yang lebih luas dari sekedar kesenian. Kesenian hanya sebagian dari unsur kebudayaan yang ada. Masih banyak lagi selain kesenian seperti teknologi, peralatan hidup,religi, ekonomi, bahasa, pengetahuan, dan mata pencaharian.

Salah satu yang saya tertarik dari semua produk kebudayaan Minangkabau yang ada yaitu folklor. Folklor dapat berbentuk tulisan maupun lisan. Folklor sendiri merupakan suatu kebudayaan masyarakat yang disebarkan dari generasi ke generasi berikutnya. Menurut Chaer (1986:29) Folklor adalah kepercayaan legenda dan adat- istiadat suatu bangsa yang sudah ada sejak lama, yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan maupun tertulis.

Sugono (2003:169), menyatakan bahwa folklor adalah bagian kebudayaan yang tersebar dan diadatkan turun temurun dengan cara lisan atau  dalam bentuk perbuatan. Dapat  disimpulkan bahwa folklor merupakan suatu kebudayaan yang dimiliki pleh sekelompok masyarakat tertentu yang di wariskan secara turun-temurun minimal dua generasi.

Dari pengertian folklor di atas, salah satu contoh yang ada di kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau yaitu ungkapan kepercayaan. Mengapa demikian? Karena ungkapan kepercayaan rakyat Minangkabau sudah menjadi tradisi yang disebarkan secara lisan dan disebarkan secara turun-temurun. Sehingga, ungkapan kepercayaan ini termasuk ke dalam folklor. Ungkapan tersebut memuat nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakat daerah tersebut.

Kebudayaan masyarakat inilah yang masih ada dan masih saya temui di lingkungan rumah saya yang bertempat di Jalan Jati Kampung Pinang, Kecamatan Padang Timur, Sumatra Barat.  Hingga saat ini, ungkapan kepercayaan masih dipercaya oleh masyarakat sini karena tujuan dari penggunaan ungkapan kepercayaan yang dilestarikan oleh masyarakat sekitar Jati Kampung Pinang tersebut yaitu untuk mendidik.

Walaupun hanya sedikit masyarakat yang masih menggunakan ungkapan tersebut dalam kesehariannya karena yang kita tahu bahwa zaman sekarang sudah maju. Kepercayaan zaman sangat modern ini agak susah orang-orang bisa mempercayai ungkapan-ungkapan kepercayaan tersebut lagi. Seperti yang dikatakan Brunvad (dalam Danandjaja, 1984:154) bahwa betapapun modern suatu masyarakat tidak akan terlepas dari kepercayaan rakyat.

Beberapa data yang saya dapatkan di lapangan  mengenai ungkapan kepercayaan di Jalan Jati Kampung Pinang, Kecamatan Padang Timur, Sumatera Barat, sebagai berikut.

Jan manunjuak palangi, beko bengkok tangan

(Jangan menunjuk pelangi, nanti tangan akan bengkok)

Maksud dari ungkapan kepercayaan tersebut yaitu bahwa tidak ada hubungan antara pelangi dengan tangan manusia. Bengkok tangan di sini hanya sebagai jawaban sementara terhadap gejala alam yang sukar dimengerti. Ungkapan kepercayaan tersebut terdapat struktur sebab-akibat. Jan manunjuak pelangi, termasuk sebab. Beko bengkok tangan, termasuk akibat.

Jan siram kuciang, beko hujan labek turun

(Jangan siram kucing, nanti akan turun hujan lebat)

Ungkapan tersebut mempunyai struktur sebab-akibat. Dimana jan siram kuciang menjadi sebab dan beko hujan labek turun menjadi akibatnya. Maksud dari ungkapan ini adalah dimana menyiram kucing merupakan sesuatu yang menyiksa binatang. Fungsi ungkapan di sini agar dapat mendidik anak-anak supaya tidak usil terhadap binatang disekitar rumah.

Jan suko maambiak muko, beko taambiak muko baruak

(Jangan suka cari muka, nanti akan dapat muka beruk)

Maksud dari ungkapan kepercayaan tersebut adalah sifat yang mengambil muka di depan orang lain merupakan sifat yang tidak baik dan disamakan dengan wajah beruk yang buruk. Fungsi ungkapan ini juga untuk mendidik agar tidak terlalu mengambil muka di depan orang banyak. Struktur yang terdapat pada ungkapan ini yaitu sebab-akibat. Jan suko maambiak muko, menjadi sebab dan beko taambiak muko baruak, menjadi akibatnya.

Awak gadih jan duduak di muko pintu, beko taambek razaki

(Kita perempuan jangan duduk di depan pintu, nanti susah dapat rezeki)

Struktur yang terdapat dalam ungkapan tersebut terdapat sebab-akibat. Awak gadih jan duduak di muko pintu, merupakan sebab dan beko taambek razaki, merupakan menjadi akibatnya. Maksud ungkapan di sini ialah berkenaan dengan perilaku perempuan yang tidak boleh sembarangan duduk, harus duduk sesuai tempatnya yaitu kursi. Dimana jika perempuan duduk di pintu, tidak indah dilihat orang-orang. Fungsinya yaitu agar perempuan dapat menjaga sikap dan ke-ayuan dirinya. Selain itu, duduk di depan pintu tidak hanya untuk perempuan saja, juga untuklaki-laki karena dengan duduk di depan pintu bisa menghalangi orang yang ingin masuk ke rumah.

 Jan potong kuku malam-malam, beko datang harimau

(Jangan potong kuku malam-malam, nanti datang harimau)

Struktur yang terdapat pada kutipan di atas ialah adanya unsur sebab-akibat. Dimana jan potong kuku malam-malam, merupakan sebab dan beko datang harimau, merupakan akibat. Maksud dari ungkapan ini adalah zaman dulu tidak mempunyai lampu dengan cahaya yang terang hanya menggunakan lampu lilin, oleh karena itu dengan memotong kuku malam-malam takutnya terjadi cidera. Yang tadinya ingin memotong kuku tetapi cahaya yang tidak memungkinkan untuk terlihat jelas akhirnya malah luka.

Jan basiso makan, beko nangih nasi

(Jangan makan bersisa, nanti nasi menangis)

Struktur yang terdapat pada kutipan di atas ialah terdapat unsur sebab dan akibat nya. Jan basiso makan, merupakan sebab dan beko nangih nasih yang merupakan akibat. Maksud dari ungkapan ini yaitu dimana  kita tidak boleh makan bersisa atau makan tidak habis karena itu merupakan sifat mubazir.

Anak gadih ndak buliah bajalan waktu maghrib masuak, buruak cando tampak dek orang nan banyak

(Anak gadis tidak boleh berjalan pada waktu sholat maghrib, tidak baik dilihat orang banyak)

Struktur yang terdapat pada ungkapan di atas ialah terdapat unsur sebab dan akibat nya. Anak gadih tidak buliah bajalan waktu maghrib masuak merupakan sebab dan buruak cando tampak dek orang nan banyak merupakan suatu akibat dari pelanggaran sebab tersebut. Maksud dari ungkapan di atas yaitu agar anak gadis dapat mengerjakan sholat maghrib di rumah tanpa keluar rumah karena tidak baik dilihat orang banyak ketika anak gadis berkeliaran diluar rumah saat waktu maghrib masuk. Fungsi ungkapan tersebut yaitu  orang tua untuk mendidik anaknya agar pada waktu maghrib, anak berada di rumah dengan nyaman dan tidak melakukan aktivitas lain di luar rumah.

Menurut Purwadarminta (dalam Danandjaja, 1984:153) bahwa kepercayaan rakyat atau yang sering disebut “takhyul” adalah kepercayaan yang oleh orang berpendidikan barat dianggap sederhana bahkan pandir, tidak berdasarkan logika sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut Danandjaja (1984:169-170) fungsi kepercayaan rakyat terhadap kehidupan masyarakat pendukungnya, (1) sebagai penebal emosi keagamaan atau kepercayaan, (2) sebagai sistem proyeksi khayalan suatu kolektif yang berasal dari halusinasi seseorang yang mengalami gangguan jiwa dalam bentuk makhluk alam gaib, (3) sebagai alat pendidikan anak atau remaja, (4) sebagai “penjelas” yang dapat diterima akal suatu folk terhadap gejala alam yang sangat sukar dimengerti sehingga sangat menakutkan agar dapat diusahakan penanggulangannya, (5) menghibur orang yang sedang mengalami musibah.

Dapat disimpulkan bahwasannya fungsi kepercayaan rakyat adalah untuk mendidik, melarang, menghibur, menyuruh, dan mengingatkan.Begitupun juga dengan masyarakat Jati Kampung Pinang, dimana mereka menggunakan dan melestarikan ungkapan kepercayaan ini karena sebagian besar fungsi nya untuk mendidik dan lainnya. Ungkapan kepercayaan tersebut disampaikan penutur agar lawan tuturnya dapat menangkap dan mengerti apa yang hendak diinginkan atau yang diungkapkan oleh penuturnya.

Penulis, Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Khafifah Alfathannira
Latest posts by Khafifah Alfathannira (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *