Kepada Dewi Alfianti, Tentang Kuasa Perempuanmu Itu

  • Whatsapp

Beberapa waktu lalu, saya mendapat hadiah istimewa, yakni buku tentang Kritik Sastra ditulis oleh Dewi Alfianti. Jujur, saya belum sempat mengucapkan terimakasih kepada si Penulis, karena buku berjudul “Kuasa Perempuan” terbitan zukzezexpress tersebut datang melalui ‘kurir’ cantik bersuara lantang.

Kepada Dewi Alfianti, jika di zaman serba sibuk dan ‘sakit’ sekarang ini terimakasihku tersekat jarak, maka ijinkan aku berterimakasih dengan cara lain. Anggaplah tulisan ini demi mematuhi protokol kesehatan, physical distancing tanpa jabat tangan.

Read More

Saya adalah termasuk orang yang selalu bahagia mendapat hadiah buku. Barangkali itu cukup menjelaskan tentang seorang Dewi Alfianti, sosok perempuan yang pandai membahagiakan lelaki sepertiku. Terimakasih!

Saat menulis catatan ini, aku baru sampai pada lembar daftar isi. Memeriksa tiap bagian, tentang apa yang kamu tulis dan membayangkan tentang kegelisahanmu. Kau tahu apa yang kulakukan selanjutnya? Maaf jika aku melewati isinya, justru melompat jauh ke halaman belakang, membaca daftar rujukan tulisanmu.

Membaca daftar isi dan daftar rujukan yang tercantum di sana, aku sepertinya harus berhati-hati membaca bukumu. Tidak mungkin aku asal berkomentar, tanpa menyusuri jejak pemikiran yang sudah tercantum di sana, dan itu perlu waktu, bukan?

Entah apa yang membuatmu sangat tertarik menganalisis tentang perempuan di dalam karya sastra? Adakah kekuatan di dalam hatimu ingin mengatakan, ‘ternyata para lelaki cenderung gagal berpihak kepada perempuan’ usai menganalisisnya?’

Satu lagi, aku tertarik dengan pemikiranmu, apakah penulis perempuan cenderung berhasil ketika menulis tentang perempuan?

Aku berhasrat menuntaskan bacaanku atas bukumu segera. Barangkali pertanyaanku itu bisa terjawab dengan sendirinya. Meski, kita tahu, di luar sana masih banyak karya sastra yang membicarakan tentang perempuan untuk bisa dikaji kembali. Paling tidak, kamu sudah memulai sesuatu yang luar biasa, menyediakan waktu untuk menganalisis sebagian cerita-cerita tentang perempuan yang ada di Kalimantan Selatan.

Aku sedang berpikir, mungkin kamu tak memerlukan pujian itu. Bagaimana jika kukatakan bahwa sederet kritik sastra di dalam bukumu ini patut dirayakan, dilestarikan, dan diteruskan. Sebuah kritik sastra dengan model lain. Bisa jadi bukan hal baru namun memberikan kesegaran di banua kita.

Bukumu ini, sudah sepantasnya kurawat dengan baik. Bagaimana pun, aku belum memiliki buku seperti ini, kritik sastra yang membicarakan Feminis dan Patriarki yang dilandasi keilmuan dan teoiritis yang sahih.

Akhir kata, dalam catatan pendek ini, selamat atas terbitnya bukumu. Aku bersyukur memilikinya dengan cara istimewa. []

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *