Konsumsi Ikan Perbaiki Masa Depan Anak

Gizi buruk di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang masih tergolong tinggi tingkat kematian yang disebabkan masalah gizi. Ada banyak bayi dan anak balita tak terselamatkan dari masalah gizi buruk.

Angka Kematian Bayi dan Balita Kurang Gizi

Data dari Kementerian Kesehatan Repubik Indonesia pada tahun  2013 angka kematian bayi dan anak balita akibat kurang gizi masih memprihatinkan, yakni angka gizi buruk sebesar 5,7% dan gizi kurang sebesar 13,9%. Terlebih lagi di tengah pandemi Covid-19 ini, diperkirakan akan lebih banyak lagi anak mengalami masalah gizi.

Read More

Estimasi UNICEF baru-baru ini menunjukkan bahwa dengan tidak adanya tindakan tepat waktu, jumlah anak mengalami wasting atau kekurangan gizi akut di bawah 5 tahun dapat meningkat secara global sekitar 15% tahun ini karena COVID-19. Hal ini akan sangat memprihatinkan jika terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya.Ada banyak faktor yang menjadi penyebab masalah kekurangan gizi pada bayi dan balita.

Faktor Penyebab Kekurangan Gizi

Salah satu faktor penyebab masalah kekurangan gizi yang dialami anak Indonesia yaitu kebutuhan nutrisi anak yang tidak terpenuhi dan perilaku orangtua yang tidak tepat dalam menyajikan makanan bagi bayi dan balita.

Masih banyak orangtua yang tidak begitu mengetahui komponen makanan apa saja yang harus dikonsumsi anak agar kebutuhan gizinya terpenuhi. Pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi sejak dini hingga masa tua perlu mendapatkan perhatian untuk menemukan solusi tepat.

Gizi merupakan unsur yang sangat penting dalam tubuh manusia, oleh karena itu gizi harus terpenuhi sejak anak-anak, karena gizi selain penting untuk pertumbuhan badan, juga penting untuk perkembangan otak. Salah satu sumber makanan mengandung gizi baik adalah dari ikan.

Manfaat Mengonsumsi Ikan

Ikan merupakan salah satu sumber protein yang sangat penting untuk dikonsumsi oleh semua kalangan baik anak-anak maupun orang dewasa. Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai.

Pengembangan ikan air tawar di sungai-sungai di Indonesia sangat berpotensi. Salah satunya Sumatera Selatan dengan daerah aliran sungai (DAS) seluas 5.812.303 ha. Ikan yang banyak dibudidayakan di sungai-sungai di Sumatera Selatan adalah ikan patin.

Ikan patin mempunyai potensi dalam pemanfaatan minyaknya sebagai sumber asam lemak tak jenuh Omega-3 dan dalam peningkatan pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat. Potensi ini terlihat dari analisis kandungan gizi ikan ini yaitu mengandung 16,08% protein, kandungan lemak sekitar 5,75%, karbohidrat 1,5%, abu 0,97% dan air 75,7%.

Selain itu, ada ikan lele yang juga mudah ditemukan dan sering dikonsumsi serta tidak kalah banyak manfaatnya untuk memenuhi kebutuhan gizi.

Beberapa kandungan yang terdapat pada ikan lele di antaranya yaitu protein, asam lemak omega-3, vitamin D, B12, B1, serta jenis mineral yang paling banyak terkandung dalam lele adalah fosfor, selenium, dan potasium. Kandungan nutrisi yang terdapat pada ikan patin dan lele dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi pada tubuh manusia.

Beberapa kandungan nutrisi lainnya pada ikan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan pada anak yaitu vitamin D dan B2 (riboflavin), kalsium, fosfor, dan mineral (zat besi, seng, yodium, magnesium, dan kalium). Mengonsumsi ikan secara rutin pada anak dapat membantu meningkatkan IQ.

Menurut studi dari Universitas Pennsylvania, mengonsumsi ikan bisa membuat anak-anak tidur nyenyak sekaligus meningkatkan kecerdasan intelektual (IQ). Seperti dilansir Indian Express, penelitian menunjukkan, anak-anak yang makan ikan setidaknya seminggu sekali, tidur lebih baik dan IQ-nya naik rata-rata 4 poin. Ikan mengandung asam lemak omega-3 yang memiliki banyak manfaat kesehatan seperti membantu relaksasi otot, pencernaan dan pembekuan darah.

Peneliti juga mencatat, kurang tidur berhubungan dengan perilaku antisosial dan kognisi yang buruk, ini dapat diatasi dengan mengonsumsi suplemen omega-3. Mereka juga menyarankan orangtua agar mengenalkan konsumsi ikan pada anak sejak usia dini.

Perbaikan Gizi dan Kasus Stunting

Perbaikan gizi pada seribu hari pertama kehidupan menjadi program utama dalam mencegah stunting. Menurut Direktur Gizi Masyarakat, Kemenkes RI, Doddy Izwardy mengatakan prevalensi stunting di Indonesia masih relatif tinggi.

Kasus stunting mengalami penurunan sebesar 3,6% berdasarkan data 2013-2016. Penurunan kasus dari 37,2% menjadi 33,6%. Hal ini sangat ironis karena Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai sumber protein, yakni ikan, tapi kasus stunting masih cukup tinggi.

Ada 4 strategi yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI, yaitu diversifikasi pangan (tidak terpaku pada satu jenis makanan pokok), fortifikasi (proses penambahan mikronutrien vitamin dan unsur renik esensial pada makanan), suplementasi (penambahan satu atau lebih nutrisi ke dalam produk pangan), dan pemberian pangan berbasis lokal.

Pada perbaikan gizi tersebut, mengonsumsi ikan juga termasuk salah satu cara untuk memenuhi 4 strategi yang dilakukan oleh Kemenkes RI, karena ikan merupakan sumber protein dan asam essensial yang dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat khususnya anak-anak.

Selain peran dari pemerintah dalam mengatur strategi, peran orangtua juga sangat penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya. Orangtua sebaiknya dapat mengkreasikan pembuatan ikan agar anak lebih tertarik untuk mengonsumsinya, seperti membuatnya menjadi olahan makan beku berupa nugget, sosis, baso ikan, dan yang lainnya.

Anak juga sebaiknya diedukasi baik itu melalui orangtua maupun guru tentang pentingnya mengetahui nutrisi yang terdapat pada ikan dan apa saja penyebab yang ditimbulkan jika tubuh tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut.

Dengan begitu, anak dapat lebih mudah untuk dibiasakan mengonsumsi ikan, sehingga kebutuhan gizinyaterpenuhi dan dapat menjadi generasi bangsa yang sehat, kuat, cerdas, serta membawa perubahan yang baik bagi bangsa dan negara Indonesia.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment