Kopi Brazil Terasa Nikmat, Ternyata Rahasianya Karena Semut

  • Whatsapp
Kopi Brazil Terasa Nikmat, Ternyata Rahasianya Karena Semut

Percaya atau tidak, nikmatnya seduhan kopi Brazil ternyata menyimpan kisah rahasia yang belum banyak diketahui orang. Di balik Kopi Brazil ternyata ada semut yang sangat berperan sehingga membuat rasa kopi lebih nikmat. Bagaimana ceritanya?

Read More

Cerita di Balik Kopi Luwak

Sebelum melanjutkan cerita tentang kopi Brazil, kita menengok sebentar fenomena hampir sama, peran binatang di balik kenikmatan kopi, yakni terjadi pula pada Kopi Luwak. Para pecinta kopi mungkin sudah sering mendengar cerita di balik pengolahan Kopi luwak, kan?

Luwak ternyata juga suka memakan biji kopi. Saat luwak buang air besar, biji kopi yang keras tidak hancur dan tetap utuh bercampur tinja. Biji kopi ini kemudian dipisahkan untuk proses pembersihan kemudian diolah menjadi bahan minuman kopi yang akhirnya disebut sebagai Kopi Luwak.

Antara Kopi Luwak dan Kopi Brazil

Sama-sama ada peran binatang namun berbeda prosesnya. Jika Kopi Luwak setelah buang air besar, Kopi Brazil justru dari sisa semut yang memakan daging buah kopi.

Karakter biji kopi yang keras ditinggalkan begitu saja oleh para semut setelah mengambil dagingnya untuk dibawa ke sarang.

Kopi Semut Brazil Ditemukan Tanpa Sengaja

Adalah Joao Neto seorang petani kopi yang tinggal di negara bagian Sao Paolo, Brazil. Semenjak memutuskan untuk tidak menggunakan pestisida pembasmi hama dan pupuk kimia, ladang kopinya kembali di datangi kumbang, jangkrik, dan semut. Saat ia sedang berjalan-jalan memeriksa ladang kopinya, ia menemukan para semut berkerumun di tanaman kopi.

Waktu berlalu, kemunculan semut-semut pun menarik perhatian Neto. Ia melihat biji-biji kopi berserakan di sekitar sarang semut. Ternyata para semut berkumpul di tanaman kopi untuk memetik buahnya, membawa ke sarang, mengambil daging buahnya sebagai bahan makanan.

Karena biji kopi terlalu keras untuk dicerna, semut pun membuang biji-biji kopi tersebut di luar sarang. Biji kopi tersebut kemudian ia pungut lantas mengolahnya menjadi bubuk kopi. Ia ingin tahu apakah biji kopi yang berasal dari sisa makanan semut ini memiliki perbedaan dengan biji kopi biasa.

Neto kemudian menceritakan temuannya ini kepada Katsuhiko Hasegawa, teman Neto asal Jepang yang sudah menjadi pelanggan kopinya sejak tahun 1990-an.

Singkat cerita, Hasegawa penasaran dan berminat mencicipi “kopi semut Brazil” tersebut. Maka, Hasegawa pun kemudian mengolah sendiri beberapa kilogram biji kopi yang didapatnya dari Neto dan menyeduhnya untuk diminum bersama-sama.

Usai mencoba kopinya masing-masing, tanggapan pun beragam. Ada yang berkomentar kalau kopinya terasa lebih masam. Ada pula berpendapat kalau kopinya terasa seperti kopi aroma melati. Namun mereka semua sepakat kalau dibandingkan dengan kopi-kopi yang
pernah mereka minum, ‘kopi semut Brazil’ ini memiliki rasa yang khas.

“Kopinya memiliki tingkat kemasaman berbeda tapi nikmat,” komentar Neto seperti yang dilansir oleh Atlas Obscura. “Walaupun saya bukanlah profesional dalam hal mencicipi kopi, saya pribadi menikmatinya.”

Kopi Semut Brazil ke Jepang

Hasegawa sendiri ternyata tidak puas dengan hanya sekedar meminum kopi semut ini. Untuk mencari tahu apakah kopi ini bisa laku jika dijual, ia memutuskan untuk mengambil beberapa ons biji kopi dan membawanya ke Jepang. Kebetulan Hasegawa memiliki kedai kopi bernama Cafe Paulista yang terletak di distrik Ginza, kota Tokyo Jepang.

Ketika Hasegawa tiba di Jepang dan menceritakan apa yang ia temukan di Brazil kepada para barista, mereka beramai-ramai menunjukkan ketertarikan untuk mengolah dan merasakan sendiri kopi semut ini.

Seperti halnya anggota keluarga dan teman-teman Hasegawa di Brazil, para staf di Cafe Paulista ini juga memberikan komentar yang beragam. Namun secara keseluruhan, mereka menyukai rasa kopi semut ini. Komentar positif yang ditunjukkan oleh barista di kedainya membuat Hasegawa semakin bersemangat untuk menjual kopi jenis baru ini.

Namun sayang niatnya terkendala karena kopi semut Brazil milik Neto belum bisa diproduksi dalam jumlah besar karena Neto menggunakan konsep berbasis organik dan ramah lingkungan untuk mengelola lahan kopinya. Jika ia menggunakan metode berbasis bahan kimia untuk mendongkrak jumlah produksi layaknya ladang kopi yang lain, semut-semut yang awalnya bersarang di ladangnya dikhawatirkan justru malah akan menghilang.

Neto sendiri lebih memilih untuk bersikap santai sambil memendam sikap optimis. “Siapa yang tahu jika suatu hari nanti kami bakal memiliki biji kopi (semut) dalam jumlah yang cukup untuk dijual di pasar? Jumlah semut yang ada di ladang ini semakin lama semakin banyak,” kata Neto.

Sumber: atlasobscura.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *