LANSKAP TAKTIL SUSASTRA KALIMANTAN SELATAN

  • Whatsapp
Buku Vista Sastra KALIMANTAN SELATAN
Buku Vista Sastra KALIMANTAN SELATAN

BANAR estafet dari perjalanan kesusastraan di Kalimantan Selatan adalah puisi yang tak henti menari-nari sepanjang zaman. Para veteran sastra sebelum kemerdekaan sudah takzim dengan perjuangan lewat puisi, sebut saja Zafry Zamzam (15 September 1918 – 23 Desember 1972), Arthum Artha (20 Agustus 1920 – 28 Oktober 2002), Hassan Basry (17 Juni 1923 – 16 Juli 1984), dan Maseri Matali (15 Juni 1925 – 27 Desember 1968).

Telah banyak ditulis terkait periode, jalan usia yang telah lapang menjadi lintas sastra sepanjang 90 tahunan yang tercatat, sejak era 1930-an. Dari banyaknya lintas waktu yang luruh, sebagian besar adalah publikasi karya baik ke media massa berbasis cetak dan siaran ruang-ruang sastra lewat radio. Sangat jarang publikasi interteks yang secara khusus membahas sesuatu yang lebih substansi.

Read More

Sejalan waktu, media mengalami pergeseran seiring penemuan mutakhir. Karya bertebaran, giat sastra berbalut kenduri euforia semakin menjamur. Publikasi semakin mudah, media semakin banyak, kesempatan semakin luas. Kesusastraan yang awalnya hanya sebatas publikasi suara jiwa juga bergeser ke ranah kritik, diskusi, dan polemik yang tak dapat dielak.

1/

Membaca peta sejarah susastra di bumi Antasari barangkali Maseri Matali-lah seperti yang ditutuskan oleh Eza Thabry Husano (3 Agustus 1938 – 15 Juli 2011) orang yang pertama berani mengirimkan surat kepada Paus Sastra Indonesia , H.B Jassin bahwa puisi Chairil Anwar berjudul “Datang Dara, Hilang Dara” yang dimuat dalam Mimbar Indonesia adalah terjemahan harfiah Chairil atas puisi Hsu Chih Mo, “A Song of The Sea”. Antara tahun 1940-an dan 1950-an, Maseri Matali mendapat perhatian khusus dari Jassin di rubrik Tifa Penyair dan Daerahnya di majalah tersebut. Kemudian dialogis juga dibangun yang se-zaman saat itu seperti: Rivai Apin, Asrul Sani, M.A Kamah, Nuraini, J. Lisapalay.

Menjelang paruh akhir tahun 1940-an puisinya “Setetes Embun” telah diaransemen oleh komponis Indonesia Mochtar Embut. Bersama puisi “Krawang Bekasi”, puisinya “Tiada Peduli” dibacakan di Radio Malaya (sekarang Malaysia).

Membuka sejarah awal kepenulisan, penguatan makna sintaksis, diksi-diksi liris maka titik pijar yang mengobarkan susastra, “katarsis” sang pelopor di jagat susastra Kalimantan Selatan adalah Matali. Karya-karyanya yang bernas telah melanglang buana diperbagai media massa sebelum kemerdekaan.

2/

Eksistensi dari seluruh penyasatra di ‘banua’ ditandai dengan hadirnya ruang sastra yang senantiasa selalu ada lintas zaman baik sebelum kemerdekaan, seperti: Republik, Sinar Hulu Sungai, Piala, Purnama Raya. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya di rentang tahun 1960-an mucul majalah-majalah lokal yang menjamur dengan namanya masing-masing, beberapa kota yang pernah memiliki majalah dan ruang khusus sastra tersebut adalah: Amuntai, Kandangan, Banjarbaru, Banjarmasin, Kotabaru.

Lalu di tahun 1970-an, muncul koran harian Banjarmasin Post yang membuka ruang “Dahaga” untuk penulis memberi tanda pada zaman, kolom “Palui” yang berkhidmat di teks lokal Banjar. Di era 1990-an sampai 2000-an muncul Tabloid Wanyi, Harian Radar Banjar yang kini namanya menjadi Radar Banjarmasin, Banjarbaru Post (dua minggu sekali), Harian Sinar Kalimantan, Harian Media Kalimantan yang semuanya memberi ruang bagi penyastra. Selain itu secara khusus Banjarbaru memiliki Jurnal Cerpen Borneo, dan beberapa buletin seperti; Godong Kelor, X-pressi, Aliance Benkiltra, waTas, dan seloka Tepian yang malang usianya tidak bernapas panjang.

Sejak pandemi covid-19 menyapa dunia, dan tandang ke Kalimantan Selatan di bulan Maret 2020. Berangsur semua ruang sastra yang ada di media cetak ikut terdampak. Akhirnya tidak ada satupun yang tersisa, kini ruang pemuatan media lokal bergantung pada media daring yaitu Asyikasyik.com dan Banaranmedia.com.

3/

Sejak Banjarbaru resmi menjadi Kotamadya dan sekarang Kota di tahun 2000 hingar bingar kegiatan seni budaya dan sastra tumbuh demikian pesat. Para pendatang yang datang ke Banjarbaru menjadi orang Banjarbaru, dan dengan serta merta memiliki “sense of belonging” yang tinggi akan Banjarbaru.

Giat-giat sastra yang estafet dan nyaris tak berjeda antara komunitas satu dan komunitas lain di Banjarbaru menambah dinamika susatra yang majemuk. Lewat inilah, vista sastra lahir. Ada beberapa garis besar yang dinyatakan sebagai lanskap sastra dari penulis HE. Benyamine di sini yaitu: pertama, “polemik sastra” yang pernah ditulisnya di media cetak terkait tudingan kasus-kasus plagiat di perhelatan Aruh Sastra Kalimantan Selatan.

Kedua, percakapan diskusi terkait kekaryaan, perspektif, dan nilai dari sebuah karya yang berlangsung di Aula Perpustakaan Kota Banjarbaru.

Ketiga, catatan-catatan apresiatif atas buku-buku yang ditulis oleh penyair, cerpenis, dan novelis asal Kalimantan Selatan. Keempat, relung kenang atas beberapa sastrawan yang telah mendahului kita.

Ben, menuliskan secara apik tanpa tendensi yang memihak. Membaca esai-esai dari frame-nya yang acap luput dari penglihatan kita membuat saya agak tertegun. 33 tulisannya lewat Vista Sastra Kalimantan Selatan, merangkum elegi yang menantang sekaligus membuka keran dialog untuk resepsi. Mimesis karya-karya yang lahir bagi Ben harus mendapat ruang, dan uniknya ruang itu dibangunnya.

Saya belum bisa membaca lebih jauh dari visi yang dilancarkan Ben selain menyaksikan konsistensi dirinya memasyarakatkan sastra lewat puisi. Barangkali, inilah jalan pilih yang istiqomah dijalani Ben untuk menandai dirinya. Sudah tidak terhitung lagi, Ben mengamati Kalimantan Selatan.

Sebelumnya lewat Imagine Banjarbaru (2018) ia telah cadas menuliskan gejolak pikirnya yang berlawanan dengan pandangan yang dangkal dan terlalu cepat mengambil keputusan. Ben, tak henti-henti membaca situasi. Menghayati setiap peristiwa taktil yang kasat dalam pandangan jamak.

Demikianlah, esai-esai Ben yang sebagian besar telah dimuat di beberapa media lokal Kalimantan Selatan. Baginya yang tersirat dari nilai-nilai karya sastra adalah saksi sejarah, dan sebagai manusia kita takkan mampu melawan usia, olehnya tuliskanlah!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *