LEKSIKON PENYAIR, SALUDOS ESTIMADOS POETAS!

  • Whatsapp
Buku Leksikon Penyair Kalimantan Selatan
Buku Leksikon Penyair Kalimantan Selatan

Poetas de las cinco regiones Guaranies mas representativas de esa estrategica y cultural region del continente suramericano en el Parana (04/09/2020, WFP-World Festival of Poetry)

 SEJAK akhir agustus, tepatnya 30 Agustus 2020 lewat siaran langsung yang ditayangkan fb: Eworld PoetryFest telah memasuki seri ke-100 Festival Puisi Dunia dan ini akan terus berlanjut.

Read More

 

WORLD FESTIVAL OF POETRY

Lewat lamannya Eworld PoetryFest menulis: “You would be happy to know that the World Festival of Poetry is going to complete and celebrate it’s 100th reading today, on 30 august! In last two months is rovers 5 continents, more than 100 countries! Approximately 600 important poets have been reading their poems and attended discussions!” Dalam dua bulan terakhir WFP sudah mencakup 5 benua, 100 negara. Sekitar 600 penyair penting telah membaca puisi mereka dan tentu saja terlibat diskusi.

Menyaksikan siaran WFP saya selalu menarik napas panjang. Selalu ada hikmah dibalik ujian, ketika dunia dijamah pandemi covid-19. Semua menyeru WFH (work from home) bagi kalangan tertentu dan berupaya bertahan di rumah. Tatkala internet menjadi pintu ke mana saja, manusia saling terhubung. Segalanya terasa enteng, informasi-informasi tandang seperti tsunami dan kebenarannya kembali kepada keintelektualitasan pembaca dalam menyaring dan menyikapi situasi.

WFP yang masih terus berlanjut ini telah menjangkau salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yaitu Brunei Darussalam. Seperti diketahui bersama dan dimaklumatkan lewat “Baca Bahana” yang diselenggarakan Kelab Rakis UBD dan Kumpulan Putra Seni atas dukungan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei Darussalam sudah memasuki seri keempat atau 4 bulan jalan, sejak Mei 2020.

Barangkali, hanya “Baca Bahana” yang konsisten mengundang para penyair kawasan serumpun se-Asia Tenggara untuk membaca dan diskusi dipandu Moderator Prof. Zefri Ariff. Pengemasan “Baca Bahana” yang apik lewat aplikasi zoom dan digelar hanya satu kali sebulan membuat giat tersebut matang dan ditunggu-tunggu.

WABAH WEBINAR

Vicon (video conference) yang acap awan dalam kehidupan majemuk masyarakat dunia saat ini hadir bersisian, pertemuan virtual tak dapat dihindari. Aplikasi zoom dan meet menjadi menu pilihan dan tentu saja disiarkan langsung lewat sinkronisasi antara YouTube dan Facebook.

Sejak anjuran bertahan di rumah disiarkan, seiring itulah web seminar juga mewabah. Hari ini webinar menjadi pandemi di Indonesia, ada berapa banyak webinar yang dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan.

Orang berlomba-lomba membuat acara webinar dadakan, berapa banyak poster-poster, e-flyer kegiatan yang bersliweran di beranda media sosial.

Adakah hal seperti itu mendongkrak sesuatu? Atau sekadar menjamu talian silaturahmi yang kerap mesti terjaga? Adakah indikator keberhasilan yang bisa diukur, sejauh mana umpan balik atas webinar bisa berterima kepada partispan? Tak jarang webinar kenduri tertentu juga minim peminat. Namun, kegiatan tak menyurutkan semangat para pelaksana.

Pandemi baca puisi juga demikian, berapa banyak acara bebacaan daring yang sudah terlaksana selama 6 bulan terakhir ini? Tak terhitung jumlahnya dan baca puisi menjadi wabah reaktif atas wabah covid-19.

APA KABAR LEKSIKON PENYAIR?     

Pelaku (penyair dan pembaca) puisi kerap ekpresif dalam menyikapi banyak hal.

Dunia telah lama digerakkan oleh teks-teks pendek dan hari ini kita menyaksikan puisi dari seluruh belahan dunia yang dibacakan telah mengguncang dunia. Baca puisi mewabah, lomba baca puisi silih berganti, siapapun membaca puisi, kalimat-kalimat pendek disebut puisi. Halo puisi?

Puisi yang disebut-sebut saat ini lahir dari mana saja, ditulis oleh siapa saja, dikumpulkan – diantologikan dari kalangan mana suka. Lalu jadilah kreator puisi itu penyair? Begitukah?

Dua hari yang lalu, saya menerima buku Leksikon Penyair Kalimantan Selatan (1930-2020) editor Micky Hidayat sebagai penanda 90 tahun eksistensi puisi di banua. Stigma penyair tentu akan hadir dalam benak? Alat legitimasi yang bagaimana dipakai sehingga orang bisa disebut penyair? Siapa yang berhak melegitimasi? Adakah dewan tertentu, mahkamah tertentu yang bisa membait penyair? Buku yang menguras energi dan cinta ini membuat saya takzim sekaligus haru.

Tak tanggung-tanggung 1042 entri nama masuk dalam daftar panjang yang mengalami lonjakan hampir dua kali lipat dari buku Antologi Biografi 599 Sastrawan Kalimantan Selatan yang ditulis Tajuddin Noor Ganie pada 2011. Pendekatan yang dipakai adalah biodata dari rampai puisi dan buku puisi pribadi. Lalu bagaimana dengan penulis puisi yang pernah memberi warna di majalah atau koran cetak yang luput tercatat? Bukankah menulis puisi dan dimuat media lebih sulit ketimbang masuk antologi bersama?

NOBEL PUISI

WFP yang sudah berjalan memasuki hari ke-70 mulai mendengungkan soal Nobel Puisi. Pada laman fbnya, Host Yuri menyeru negara-negara lima benua untuk menyatukan suara. Menyasar 100 negara di situasi pandemi, menjangkau jalinan yang belum pernah terjadi. Indonesia sendiri, hanya beberapa orang yang aktif mengikuti ajang tersebut. Kenapa hanya beberapa dan sedikit?

Pertama, kita sibuk dengan giat komunitas kita. Kedua, kita sibuk dengan soal-soal perdebatan di media sosial. Ketiga, terlalu asyik dengan giat webinar dan popularitas diri di media sosial. Keempat, tentu saja kita sulit mengerti apa yang mereka wicarakan dengan keterbatasan bahasa yang kita miliki.

Jangan sampai, kita tulis puisi sendiri – baca sendiri – apresiasi sendiri- baampik sendiri.

Tahniah. Saludos Estimados Poetas (Salam Penyair yang Terhormat)

 

Lokasi tak bernama, 4 September 2020

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *