Lelaki Dibalik Enny Arrow

  • Whatsapp
john steinbeck
John Steinbeck foto: Steinbeck in 1940 Photograph: Granger/Rex/Shuttershock

Pada buku Seabad Pemenang Hadiah Nobel Kesusastraan  (2002) disebutlah John Ernst Steinbeck (1902-1968) yang mendapat Nobel Sastra 1962.

Pria kelahiran Salinas California ini berasal dari keluarga moderat. Ia pernah mencoba menjadi penulis lepas ke New York di tahun 1925 namun gagal, dan kembali ke California.

Read More

Setahun sebelum Steinbeck wafat, Enny Arrow mendarat di Seattle Amerika Serikat di bulan April, 1967. Pengelanaan Enny berpangkal dari peristiwa 30 September 1965, tulisannya saat itu diburu oleh atmosfer politik Indonesia yang tak menentu dan dianggap kiri. Pergilah Enny ke Filipina dan Hong Kong.

Enny Sukaesih Probowidagdo lahir di Hambalang, Bogor pada 1924 dan wafat tahun 1995. Dia adalah seorang penjahit wanita di toko Penjahit Arrow yang berlokasi di Kalimalang, Jakarta Timur.

Semenjak itu, melekatlah nama Arrow di belakang nama Enny.  Selain berprofesi sebagai penjahit, rupanya ia sangat tertarik dengan dunia kepenulisan.

Menurut Wikipedia pada masa pendudukan Jepang Enny memulai karirnya sebagai wartawan. Dia belajar stenografi di Yamataka Agency, karena kepiawaiannya direkrut menjadi salah satu propaganda Heiho dan Keibodan.

Di masa kemerdekaan dia menjadi wartawati Republikein yang khusus mengamati jalannya pertempuran seputar wilayah Bekasi. Debutan karyanya “Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta” menggunakan nama pena Enny Arrow, karena karya inilah dia berselancar ke luar negeri.

Saat di Seattle, dia sangat terkesan dengan karya-karya Steinbeck. Hampir semua karya novel Steinbeck adalah novel sosial yang berhubungan dengan masalah ekonomi buruh-buruh desa, pemujaan terhadap tanah yang berlebihan sekaligus paradoks dengan pendekatan sosiologinya.

Untuk bertahan hidup, Enny menulis dan mengirimkan karyanya ke koran-koran terkenal Amerika Serikat, dari sini lahirlah novel “Mirror Mirror”.

Tahun 1974 Enny pulang ke Jakarta, bekerja di perusahaan asing. Di masa inilah Enny sangat produktif menulis novel. Popularitas novelnya yang stensil mampu mengalahkan karya Teguh Esha pada zamannya.

Nama Enny Arrow mendapat sambutan, antusiasme masyarakat tanah air. Torilla Flat-nya Steinbeck sangat berpengaruh dalam perspektif Enny Arrow dalam berkarya, fiksi yang mengangkat humor kasar dan sederhana ini adalah kritik sosial yang acap agresif dan sangat serius.

Saat itu uang bukanlah tujuan utama Enny menulis, melainkan menyindir karya-karya sastra yang terkesan eksklusif dan normatif. Enny anti-mainstream, baginya setiap orang berhak membaca tidak terbatas jenjang pembaca, baik kelas menengah maupun kelas menengah ke bawah sekalipun.

Apa yang ditulis Enny selalu seputar kisah sepasang insan yang bercinta, yang bagi siapapun membaca akan menerbangkan imajinasi ke awan dengan desain cover yang sangat menantang dan “panas”.

Ratusan karyanya yang telah terbit saat itu diterbitkan oleh Penerbit Mawar yang sampai saya mengetik hari ini tidak jelas juntrungnya.

Pengaruh Steinbeck yang melankolis dengan kehidupan sebagai pekerja serabutan mulai pemetik buah, tukang batu, tukang kayu, sopir, pembantu pelukis, dan wartawan telah mempengaruhi jalan berpikir Enny. Ada 6 karya Steinbeck menurut Ensiklopedia Sastra Dunia (Anton Kurnia, 2006) yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yaitu:

  1. Tikus dan Manusia (1950, terjemahan Pramoedya Ananta Toer atas Of Mice and Men yang diterbitkan kembali 2002).
  2. Kena Gempur (1951, terjemahan Chairil Anwar atas Raid).
  3. Dataran Tortilla (1977, terjemahan Djokolelono atas Tortilla Flat).
  4. Mutiara (1978, terjemahan Wimanjaya Liotohe atas The Pearl).
  5. Cannery Row (2001, oleh Eka Kurniawan).
  6. Amarah (2001, terjemahan Sapardi Djoko Damono atas Grapes of Wrath).

Lalu, saya kembali teringat dengan buku Mika August yang tadi malam sempat terbaca. Buku Rendezvous Adicita Bunga yang segera rilis tersebut mengurai tentang filosofi bunga, pada bagian “Jade Vine” ia menulis “kamu membutuhkan keburukan untuk mengenal kebaikan” demikianlah saya memaknai karya-karya Enny Arrow yang karyanya tersimpan apik di rak perpustakaan Leiden, Belanda.

Selalu ada ending cerita yang menyadarkan pembaca di setiap karyanya yakni pertobatan, ganjaran-ganjaran yang setimpal, dan kebaikan-kebaikan akhir.***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *