Madihin Banjar; Seni Tutur Dibalut Humor

  • Whatsapp
Madihin Banjar; Pesan Moral Dibalut Humor
Madihin | warisanbudaya.kemdikbud.go.id

MADIHIN merupakan jenis kesenian tradisional yang dalam pertunjukkannya terdapat perpaduan antara seni vokal dan iringan pukulan terbang (sejenis gendang Melayu) yang dimainkan oleh pemadihinan.

Menurut Wikipedia, madihin berasal dari Bahasa Arab, Madah, yang berarti nasihat.

Read More

Maka dari itu, sesuai namanya, madihin berisi nasihat-nasihat bagi masyarakat dan tak jarang diisi dengan humor yang menggelitik. Dalam versi lamanya, madihin juga berisi kisah-kisah kerajaan Banjar zaman dahulu–madihin seperti ini dikenal dengan sebutan Madihin Pakem.

Tidak ada yang tahu kapan persisnya kesenian ini lahir, namun diperkirakan madihin sudah ada sejak Islam masuk ke Kerajaan Banjar pada tahun 1526.

Budayawan Kalsel, Tajudin Noor Ganie mendefinisikan Madihin dengan rumusan sebagai berikut;

Puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah Banjar di Kalsel.

Ia juga mengatakan, madihin merupakan pengembangan lebih lanjut dari pantun berkait. Setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah. Jumlah baris dalam satu baitnya minimal 4 baris. Pola formulaik persajakannya merujuk kepada pola sajak akhir vertikal a/a/a/a, a/a/b/b atau a/b/a/b. Semua baris dalam setiap baitnya berstatus isi (tidak ada yang berstatus sampiran sebagaimana halnya dalam pantun Banjar) dan semua baitnya saling berkaitan secara tematis.

Dalam pertunjukkannya, madihin tidak dituturkan dengan cara behapal alias sembarangan. Ada struktur baku yang harus dicermati saban kali membuat naskah madihin.

Pertama; pembukaan, dengan menyanyikan sampiran sebuah pantun yang diawali dengan pukulan tarbang yang disebut pukulan membuka. Pada sampiran ini biasanya menyangkut tema yang akan dibawakan pemadihin.

Kedua; Memasang tabi, yakni membawakan syair-syair atau pantun yang isinya menghormati penonton, memberikan pengantar, terima kasih atau permohonan maaf jika nanti ada salah kata dalam membawakan madihin.

Ketiga; Menyampaikan isi (manguran), yaitu menyampaikan syair atau pantun yang isinya sesuai dengan tema acara atau permintaan panitia. Sebelum isi dari tema madihin dikupas oleh pamadihinan, sampiran pantun di awal harus disampaikan isinya terlebih dahulu (mamacah bunga).

Keempat; Penutup, yakni menyampaikan kesimpulan, sambil menghormati penonton, mohon pamit, dan ditutup dengan pantun penutup.

 

Pertunjukkan madihin sendiri biasa dilaksanakan untuk memeringati momen-momen tertentu, baik itu pernikahan, selamatan, khitanan atau acara-acara lain yang membutuhkan hiburan.

Meski di zaman dulu madihin selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau mistis. Kini, seiring waktu, madihin hadir diiringi dengan candaan tanpa menghilangkan pesan yang ingin disampaikan.

Selipan humor di dalam madihin membuatnya menjadi media untuk menyampaikan pesan atau nasihat tanpa harus menggurui.

Jadi, selain untuk menyampaikan nasehit, madihin juga menjadi sarana hiburan. Dengan cara ini, nasihat yang ingin disampaikan justru dapat ditangkap dengan baik oleh pendengarnya.

Museum Lambung Mangkurat

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *