Masjid-Masjid Tertua dan Bersejarah di Kalimantan Selatan

  • Whatsapp
Masjid-Masjid Tertua dan Bersejarah di Kalimantan Selatan
ilustrasi | disporaparkabhss.blogspot.com

AHLI sejarah memperkirakan Islam masuk ke Kalimantan Selatan sejak abad ke enam belas. Tetapi Islam baru mencapai momentumnya setelah pasukan dari kesultanan Demak di Jawa datang ke Banjarmasin untuk membantu Pangeran Samudra dalam perlawanannya dengan kalangan elit istana Daha. Setelah Pangeran Samudra memenangkan peperangan itu, ia kemudian masuk Islam dan diangkat sebagai sultan pertama di Kesultanaan Banjar.

Semenjak itu, Islam di Kalimantan Selatan mulai tumbuh dan berkembang pesat, salah satunya dengan didirikannya masjid-masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran Islam—sebab itulah masjid di Kalimantan Selatan memiliki peran besar dalam kehidupan sosial masyarakat.

Read More

Terlepas dari banyaknya simpang-siur terkait masjid mana yang lebih dulu dibangun, berikut 7 masjid tertua di Kalimantan Selatan yang penulis kumpulkan dari berbagai sumber;

 

Masjid Sultan Suriansyah, Banjarmasin

Masjid Sultan Suriansyah | gontornews.com

Masjid ini dinamai Masjid Sultan Suriansyah karena dibangun atas prakarsa dan di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550 yang merupakan Raja Banjar pemeluk Islam pertama.

Letaknya berada di Jalan Kuin Utara, Kelurahan Kuin Utara (kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama) dan berdekatan dengan komplek makam Sultan Suriansyah. Selain dikenal dengan nama Masjid Sultan Suriansyah, masjid ini juga dikenal dengan Masjid Kuin karena didirikan di tepian Sungai Kuin.

Masjid bergaya tradisional Banjar ini memiliki bentuk arsitektur berupa konstruksi bangunan panggung dan beratap tumpang dengan bagian mihrab yang beratap terpisah dari bangunan induk. Bagian dalamnya terdapat ornamen-ornamen khas Banjar yang sangat indah. Tentunya pola bangunan mesjid ini merupakan adaptasi dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke tanah Banjar.

 

Masjid Jami Banjarmasin, Banjarmasin

Masjid Jami Sungai Jingah | apahabar.com

Dikenal juga sebagai Masjid Jami’ Sungai Jingah, sebuah masjid bersejarah yang ada di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan juga merupakan salah satu masjid tertua di tanah Banjar. Masjid ini dibangun pada tahun 1777 pada saat Kesultanan Banjar dipimpin oleh Sultan Tamjidillah, dengan perpaduan gaya Banjar dan Kolonial Belanda. Warnanya didominasi oleh hijau dan coklat. Bahannya yang dari kayu ulin atau kayu besi membuat bangunan masjid ini menjadi kuat dan sangat sedikit sekali direnovasi sehingga keotentikannya pun masih sangat terasa hingga sekarang.

Tepat di belakang masjid ini berdiri Kompleks Makam Pangeran Antasari, pahlawan nasional dari Tanah Banjar.

 

Masjid Keramat Banua Halat, Kabupaten Tapin

Masjid Keramat Banua Halat | wikipedia.org

Masjid Al-Mukarromah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Keramat Banua merupakan salah satu masjid tertua di Kalimantan Selatan yang berada di desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin. Masjid ini berjarak sekitar 120 km dari ibu kota provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin.

Menurut beberapa sumber sejarah, masjid tersebut dibangun H. Syafrullah atau yang dikenal sebagai Datu Ujung. Namun, ada juga yang menyebutkan kalau masjid tersebut dibangun oleh Haji Mungani Salingnata pada tahun 1840. Datu Ujung dipercaya orang sekitar sebagai ulama yang berderajat wali.

Kekeramatan masjid ini terletak pada tiang miring yang menjadi salah satu tiang utama masjid tersebut. Konon tiang tersebut merupakan tempat lenyapnya jasad Datu Ujung. Selain itu, tiang miring tersebut dipercaya juga mengeluarkan minyak.

 

Masjid Pusaka Banua Lawas, Kabupaten Tabalong

Masjid Pusaka Banua Lawas | alif.id

Terletak di Desa Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun tahun 1625 M yang diprakarsai oleh Khatib Dayan dan saudaranya yaitu Sultan Abdurrahman dari Kesultanan Banjar yang berpusat di Kuin.

Masjid ini menjadi salah satu bukti sejarah persatuan antara masyarakat Muslim dan warga Dayak yang rata-rata menganut Kepercayaan Kaharingan.

Dalam proses pembangunannya, Khatib Dayan dan saudaranya dibantu tokoh masyarakat Dayak, juga Datu Ranggana, Datu Kartamina, Datu Saripanji, Langlang Buana, Taruntung Manau, Timba Sagara, Layar Sampit, Pambalah Batung dan Garuntung Waluh.

Masjid Pusaka Banua Lawas yang juga dikenal dengan masjid Pasar Arba ini memiliki gaya arsitektur tradisional beratap tumpang tiga.

 

Masjid Keramat Pelajau, Kabupaten Hulu Sungai Tengah

Masjid Keramat Pelajau | wikipedia.org

Berdasarkan buku yang ditulis Meldy Muzada Elfa berjudul “Sejarah Masjid Keramat Pelajau Barabai”, Masjid Keramat merupakan masjid peninggalan Kerajaan Demak tertua di Kalimantan Selatan.

Masjid yang dibangun pada abad ke-14 di Desa Palajau, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini merupakan bukti dari perjuangan melawan penjajah Belanda pada masa lalu khususnya di Kalimantan Selatan dan menjadi pusat berkembangnya peradaban Islam di Kalimantan Selatan khususnya Barabai.

Berdasarkan sejarahnya, masjid ini didirikan setelah datang utusan Raden Fatah dari Kerajaan Islam Demak bersama pangeran dari Kerajaan Banjar.

Utusan dari Pulau Jawa itu berjumlah tujuh orang, mereka datang ke Tanah Banjar dengan menyusuri Sungai Negara (Hulu Sungai Selatan), kemudian ke Sungai Buluh dan Ilir Pemangkih (Hulu Sungai Tengah) sehingga sampai ke Sungai Palayarum di Desa Pelajau untuk melakukan perluasan kekuasaan Islam.

 

Masjid Ba’angkat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Mesjid Su’ada / Mesjid Ba’angkat | disporaparkabhss.blogspot.com

Masjid ini memiliki nama resmi Masjid Su’ada, sebuah masjid tua yang terletak di Desa Wasah Hilir, Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Didirikan oleh ulama bernama Al Allamah Syekh H. Abbas dan Al Allamah Syekh H.M. Said bin Al Allamah Syekh H. Sa’dudin pada tanggal 28 Zulhijjah 1328 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1908 Masehi.

Dinamai ba’angkat (diangkat) dikarenakan lantai masjid yang ditopang tongkat kayu ulin atau menyerupai rumah panggung seperti kebanyakan rumah masyarakat Banjar masa silam. Sehingga untuk masuk ke dalam masjid menggunakan tangga.

 

Masjid Datu Abulung, Kabupaten Banjar

Masjid Datu Abulung | referensi.data.kemdikbud.go.id

 Berlokasi di Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Masjid ini dibangun oleh Raja Banjar, Sultan Tahmidullah II (1761-1801).

Masjid yang telah berusia 200 tahun lebih ini mengambil nama dari salah satu tokoh sufi yaitu Datu Abulung yang nama lengkapnya adalah Syekh Abdul Hamid Abulung.

Kala itu, Datu Abulung yang dianggap sesat hendak dieksekusi oleh pihak kerajaan, namun sebelum dieksekusi beliau sempat berucap, kalau nanti mati dan darahnya berbau busuk maka ajarannya salah dan tidak perlu diikuti lagi. Namun sebaliknya, jika darahnya berbau harum maka ajaran sang wali adalah benar.

Konon, setelah itu dilakukanlah eksekusi dengan tombak yang dilakukan oleh para algojo raja. Ternyata darah sang wali berbau harum, bahkan darah segarnya membentuk huruf Allah.

Saat itulah raja menjadi sadar dan menyesali dirinya telah berbuat salah. Untuk itu, dalam rangka menebus dosa, raja membangun sebuah masjid di Desa Sungai Batang yang saat ini dikenal sebagai Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung atau lebih dikenal sebagai Masjid Datuk Abulung.

 

SUMBER : wikipedia.org | visitkalsel.com | apahabar.com | jejakbanua.com

Museum Lambung Mangkurat

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *